Alicia Yeoh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 10 July 2017

Malam mulai hinggap di atas kota kecilku. Warna hitam merayap, mendekor langit berlapis–lapis. Burung–burung gereja kecil, bercericit dalam kawanan, pulang ke sarang. Karyawan, buruh, tukang becak, pedagang kaki lima, bahkan pencopet pun bergegas pulang ke liangnya. Ingin segera beristirahat di rumah, setelah seharian penuh memeras keringat. Lalu–lalang mereka di depan bengkel, mempengaruhiku untuk beristirahat pula. Tapi sebuah mobil butut harus selesai diservis malam ini juga karena si empunya mobil akan mengambilnya besok pagi. Itu memaksaku melanjutkan pekerjaan kotor ini. Ini bukan dalam makna kias, memanglah benar-benar kotor pakaian dan badanku bekerja sebagai montir. Kulakukan pekerjaan ini dari pukul 6 pagi hingga 7 malam. Sampai terasa remuk badanku akibat kelelahan.

Pukul 7, aku bangkit dari pekerjaanku mengganti radiator mobil itu. Mobil yang tuanya sama seperti pemiliknya mungkin. Reyot sekali. Ketika aku bangkit, mataku berkunang–kunang. Aku kelelahan. Bengkel tutup. Aku berpamitan pada Bang Rehan, bosku, pemilik bengkel ini.

Setelah kumembersihkan diri, kutengok putri kecilku, Yeoh. Badannya yang kecil kurus itu tidur meringkuk berselimut, menghadap tembok. Kuusap lembut rambutnya yang lurus, hitam dan panjang. Untuk anak 5 tahun, dia sudah pandai merawat rambutnya sendiri, sehingga rambutnya sehat dan indah. Lama aku berada di sampingnya, kupikir dia sudah tidur. Ternyata diam–diam ia terisak lirih. Kupanggil namanya. Ia tak bergeming. Kupeluk tubuh putri kecilku ini sambil kuusap lembut pipinya yang basah karena air mata. Berada dalam dekapku, ia berangsur tenang. Ia selalu merasa aman ketika berada di dadaku.

“Tenang, sayang. Ayah di sini” ucapku.
“Mengapa Yeoh kecilku menangis?”
Putriku tak menjawab. Hanya masih terisak.
“Yeoh putri cantik, tidak boleh menangis. Ayolah sayang. Ceritakan pada ayah mengapa kau menangis” bujukku. Dia mendongak padaku.
“Ibu guru bilang besok hari Ibu. Semua anak-anak menyambut hari ibu. Nockha dan ayahnya membuat kue untuk ibunya. Lyle membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah. Orion membuat puisi untuk ibunya. Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk menyambut hari ibu? Bahkan aku tak tahu siapa ibuku, Yah” ulasnya seraya tersedu-sedu.
Tangisnya tak mampu ia bendung. Hatiku perih sekali membayangkan anak sekecil ini hidup tanpa seorang ibu, tanpa mengenal siapa wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. Aku jadi tersedu sedan. Aku diliputi perasaan bingung tiada tara. Bagaimana aku menjelaskan semua kapada Yeoh kecilku. Dia pasti tidak akan mengerti. Dan mungkin dia akan tenggelam dalam kesedihan berkepanjangan.

“Nak…” panggilku. Dia menatapku penuh arti.
“Tak usahlah kau pusingkan tentang hari ibu. Hari ibu ditetapkan untuk mengingat jasa–jasa ibu dan seluruh pengorbanan ibu. Sebagai seorang anak, kita memang wajib menghormati dan menyayangi kedua orangtua, terutama ibu. Tuhan menyuruh kita untuk menghormati dan menyayanginya, serta tidak boleh berlaku kasar padanya. Dosa, Nak. Kau mengerti?”
“Lalu bagaimana aku dapat menyayangi dan menghormati ibu? Aku tak pernah bertemu dengan ibu. Aku ingin bertemu dengan ibu, Yah”
“Ibumu… Mmmm… Dia… sudah meninggal, Nak. Saat melahirkanmu. Ya, begitu lah.” Ucapku gugup. Dia menatapku seolah tak percaya.
“Kini kau sudah tahu tentang ibu, kan? Sudahlah sayang, tak usah kau risaukan lagi. Jadi, kau harus selalu mendoakan ibumu agar tenang di sisi Tuhan dan diampunkan segala dosa-dosanya.”
“Ibu bisa melihatmu meski dia sudah tiada. Dia pasti gembira melihat Yeoh tumbuh menjadi anak yang cantik dan pintar. Ibu juga akan sedih bila melihatmu menangis.” Tambahku.
“Benarkah itu, Ayah?”
“Benar. Nah, sekarang kau harus tidur ya. Besok kau harus berangkat sekolah. Kau tak ingin terlambat, kan?” bujukku. Yeoh tersenyum. Aku lega dia sudah baik.

Yeoh menarik selimut menutupi tubuh mungilnya. Aku mengecup keningnya sebelum dia tidur. Tak dapat kubayangkan jika aku menjadi Yeoh yang seumur hidup takkan bertemu ibu kandungnya sendiri. Aku jadi sangat terharu akan ketabahan bocah malang itu selama ini. Aku berjanji akan menjaga dan merawat Yeoh sampai kapanpun. Aku akan membesarkan Yeoh, seorang diri, apapun pengorbanannya.

Suatu sore yang hangat, Yeoh mengajakku pergi ke taman yang letaknya agak jauh dari tempat tinggal kami. Setiap sabtu sore, aku minta izin pada bosku untuk pulang lebih awal karena aku ada jadwal jalan–jalan bersama Yeoh ke taman. Biasanya kami berangkat pukul 3 sore, lalu pulang sebelum maghrib. Aku tak punya banyak uang untuk naik angkutan umum, jadi aku dan putriku berjalan kaki dari rumah hingga taman. Terkadang Yeoh kecil mengeluh kelelahan berjalan dan meminta naik bus atau taksi. Tapi setiap dia mengeluh, kugendong Yeoh ke bahuku. Lalu kuajak berlari-lari seakan sedang menunggang kuda, hingga dia tertawa penuh keriangan dan melupakan lelahnya.
Orang–orang yang berpapasan dengan kami selalu menyangka kalau Yeoh adalah keponakanku. Namun Yeoh-ku yang pintar itu menimpali sangkaan mereka.

“Ini ayah Yeoh. Ayah juara satu di seluruh dunia!” ucapnya sambil memeluk kakiku, atau terkadang ia berputar kecil ketika mengucapkan ‘Ayah juara satu di seluruh dunia!’. Orang itu biasanya terkekeh karena kepolosan Yeoh. Sangka mereka memang ada benarnya. Usiaku 25 tahun, masih terlihat seperti anak kuliahan yang hobi nongkrong dan jarang berangkat kuliah. Mereka juga menyangka aku manikah dini. Yah, menikah selepas SMA begitu. Aku belum punya keriput wajah. Aku masih muda, tahu! Tapi seorang pemuda yang disangka anak kuliahan itu, sudah menggendong anak lima tahun dan ibunya tak tahu ke mana.

Sampai di taman, mata Yeoh membulat berbinar-binar. Ia langsung berlari ke sana kemari kegirangan. Kuawasi Yeoh yang bermain perosotan dari jauh. Putriku amat gembira bermain bersama teman-teman seumurannya di taman itu. Jiwanya seakan merdeka dari kepedihan nasibnya. Anak sekecil itu, dengan senyum dan tawanya menguatkanku untuk semakin berusaha menjadi ayah yang lebih baik.

Sepasang muda-mudi yang seumuran denganku duduk di bangku taman panjang sampingku. Aku tak mempedulikan keberadaan mereka. Yang kupedulikan hanyalah putriku yang gembira bermain 50 meter di depanku. Mulanya mereka juga tak mempedulikanku. Sampai si pemuda menggeser duduknya mendekat padaku seraya memperhatikanku dari atas sampai bawah ke atas lagi dan berhenti di wajahku. Aku tahu aku sedang diperhatikan, aku menoleh padanya. Dia dan si pemudi terkejut, mata mereka melotot tak percaya ketika melihatku.
“Fion?!” pekik mereka hampir bersamaan. Aku juga agak terkejut ketika kumenyadari bahwa mereka adalah teman kuliahku dulu.
“Marv?! Ash? Kalian? Kalian?” tanyaku terbata. Marv menyalamiku dan langsung memelukku. Si perempuan, Ash, tersenyum sekaligus tertawa haru, aku tak tahu maknanya. Dia tertawa tapi menangis. Mata jernihnya berkaca-kaca. Sementara Marv memelukku erat sekali.
“Fion, apa kabarmu? Ke mana saja kau selama ini? Banyak isu kalau kau drop out, benarkah?” tanya Marv memberondongku.
“Aku baik. Ya, itu benar. Aku memang drop out dari kampus karena tak ada biaya lagi. Orangtuaku tak mau membiayaiku lagi. Sekarang aku menetap di Bandung.” Jawabku.
“Kudengar kau drop out karena kau menghamili seorang wanita dan dia melahirkan, lalu kau membunuh wanita itu…” Ujar Ash.
“Hei, hati-hati bicaramu Ash!” spontan Marv.
“Maaf” kata Ash kemudian.
“Aku juga mendengar isu seperti itu tentang diriku. Aku memang sengaja tak menanggapi isu miring itu. Percuma! Orang-orang takkan percaya. Awalnya aku masih ingin bertahan untuk kuliah di tengah terpaan isu ini, tapi kemudian uangku tak lagi cukup untuk membayar kuliah.”
“Lalu tentang wanita yang tewas di jalanan itu..?” tanya Ash lagi.
Akhirnya kuceritakan tentang rahasiaku kepada kedua sahabat karibku.

Bogor, pukul 2 dini hari, 5 tahun silam. Aku dan Ern, temanku, pulang dari klub malam di sudut Bogor. Ern dalam keadaan mabuk saat kami memutuskan untuk pulang ke kost kami. Aku memboncengkannya mengendarai sepeda motor barunya. Melewati sebuah jalan raya yang agak gelap, aku merinding melihat dari jauh sesosok wanita berjalan gontai. Aku pikir dia hantu, jadi kupacu sepeda motor di atas kecepatan normal. Saat kumenyalip wanita itu, kulirik spion kiriku. Wanita muda itu berjalan gontai, acak-acakkan, membawa kotak kardus di tangannya. Kuberbalik ke arah wanita itu. dia masih ada di sana.

Aku amat panik kala itu. Ern benar-benar tak sadar. Dia kusandarkan di bawah pohon di kiri trotoar. Aku bingung, takut, cemas dan rasa lain yang tak dapat kujelaskan dalam kondisi itu. wanita itu limbung bersama bayinya yang berada dalam kotak. Aku berusaha menolongnya dengan memapahnya ke bawah pohon di mana Ern berada. Kucuran darah di kaki-kakinya membuatku panik. Dan bayi yang masih bersimbah darah itu pun mulai menangis. Dalam lemahnya, wanita itu berusaha menenangkan bayinya. Aku yakin wanita ini baru saja melahirkan bayinya beberapa saat yang lalu. Pikiranku blank seketika. Tak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku berlari kian kemari berusaha mencari bantuan. Tapi orang lewat saja pun tak ada. Dini hari yang sepi, gelap, basah dan mencekam. Aku harus menolong dua nyawa itu. berkali-kali aku membangunkan Ern, tapi ia masih tak sadar. Aku putus asa dalam situasi gila ini. Harusnya aku tak usah lewat jalan ini! Lagi pula aku tak pernah lewat sini sebelumnya. Harusnya aku tak usah melhat wanita itu! harusnya aku tak usah berbalik untuk menolongnya. Entah mengapa, aku merasakan bahwa aku masih manusia waras.

Aku yang hampir putus asa, mengendara ke kantor polisi terdekat. Ah, sampai hati kutinggalkan temanku yang mabuk di pinggir jalan dan kubawa sepeda motornya, seperti begal motor. Kantor polisi terdekat jaraknya 4 kilometer dari lokasi. Aku kebut-kebutan di jalanan seperti orang kesetanan. Aku sangat takut wanita itu mati. Sampai di kantor polisi, aku tak mampu berkata banyak karena aku gugup ketakutan. Awalnya, polisi-polisi itu tak percaya dan menganggapku bercanda. Lalu, di luar sadarku, aku menangis seperti bocah melihat dedemit.
“Pak… tolonglah percaya pak! Sungguh, bapak-bapak polisi harus menolong wanita itu. dia sekarat di pinggir jalan pak!” pekikku sambil menangis ketakutan. Akhirnya, 6 orang polisi mengekor di belakangku dengan mobil patroli.
Semua bekerja serempak. Wanita itu dinaikkan ke mobil patroli. Demikian pula Ern yang belum sadar. Tak satu pun polisi yang mau menggendong bayi mungil malang ini. Akhirnya, aku juga yang mengalah.

Sementara wanita dan bayinya ditangani di rumah sakit, aku dan Ern menghadap polisi di sarangnya seperti tersangka. Sekarang saksi kuncinya hanyalah aku. Ern sama sekali tak dapat kuandalkan. Bahkan setengah sadar pun tidak.
Aku diperiksa dua jam lamanya. Polisi yang menginterogasiku berkali-kali menuduh kalau aku adalah pacar wanita muda itu, lalu menghamilinya. Kemudiaan, karena aku masih berstatus mahasiswa dan belum bekerja, maka aku menyuruhnya melahirkan diam-diam tanpa tenaga medis. Sinting kukira polisi itu.

“Aku sama sekali tak mengenal wanita itu pak. Dari tadi sudah aku katakan kalau aku melihatnya berjalan membawa bayinya, jadi aku berniat menolongnya. Sudah. Itu saja” belaku.
“Jangan bohong! Di zaman edan begini banyak pemuda-pemudi bergaul lupa diri. Sampai bikin bayi. Sudah hamil ditinggal pergi.” Sanggah polisi itu lagi. Aku jadi semakin gila, seperti dirinya.
“Pak, perempuan tak pernah ada yang mau denganku. Jelek, ceking, aku ini kere. seumur hidup aku belum pernah pacaran. Sudahlah, aku lelah, mengantuk. Aku mau pulang!” aku berdiri dari kursiku.
“Tidak sopan kau, ya!” bentaknya.

Seorang polisi datang dari luar, melaporkan pada komandannya bahwa wanita tadi sudah meninggal. Aku terkejut dan merinding hebat. Tulang-belulangku rasanya dilolosi satu-satu. Lemas, membeku. Aku menyalahkan diriku karena tak mampu menolongnya. Aku memaksa ikut ke rumah sakit di mana wanita dan bayinya berada. Dan lagi-lagi, polisi yang tadi menginterogasiku menuduh aku sedih kehilangan pacarku. Dia semakin gila! Ingin kutampar mulut busuknya itu.

Wanita itu terbaring di kamar jenazah. Putih pucat, kaku, bibirnya membiru. Ada air mata tersisa di sudut matanya. Wajahnya telah melepas segala kesakitan. Ragu, kugenggam tangan kanannya yang dingin. Air mataku berlinangan.
“Maafkan aku. Maafkan aku tak mampu menolongmu. Mohon, maafkan aku yang lemah ini, membuatmu tak sempat diselamatkan. Semoga kau tenang di sana” Ucapku terisak-isak.

Keluar dari ruangan itu, aku dan dua polisi menengok si bayi. Bayi perempuan itu sangat lemah kondisinya. Tubuh kecilnya harus selalu dalam inkubator. Kukira dia lahir prematur.
“Kurasa proses kelahiran bayi ini tidak didampingi tenaga medis. Kondisi ibunya sangat parah. Dia kehilangan banyak darah. Dan dia terlalu muda untuk melahirkan normal, tapi dia memaksakan kelahiran ini. Beruntung bayinya masih dapat bertahan. Mungkin sekitar dua minggu dalam inkubator, agar fisiknya kuat.” Jelas seorang dokter perempuan yang menangani mereka, pada kami.
“Oh ya, apakah anda ayah bayi ini?” tanya dokter itu padaku. Aku melotot terkejut.
“Bukan. Sama sekali bukan. Aku hanya menemukan mereka di jalan saat aku berkendara. Kurasa wanita muda itu ingin membuang bayinya.” Ungkapku. Dua polisi yang bersamaku dan dokter itu mendengarkanku serius.
“Kulihat dia membawa bayinya dalam kardus. Berniat membuang bayinya, tapi kemudian kupanggil bapak-bapak polisi ini untuk menyelamatkan wanita bersimbah darah itu dan bayinya.” Ujarku.
“Mungkin dia ‘berhubungan’ di luar nikah sehingga hamil. Karena tidak mau menanggung aib, perempuan ini berniat menggugurkan bayinya. Bayi ini harusnya baru tujuh bulan dalam kandungan. Tapi, ini baru dugaanku. Masih banyak kemungkinan lain yang terjadi di balik perempuan ini” dokter menambahi.
“Hanya pemuda ini saksinya. Kasus ini akan sulit dipecahkan, wanita ini tanpa identitas. Dia tak sempat kami interogasi karena kondisinya saat ditemukan sangat tak memungkinkan untuk melakukannya.” Kata polisi berkumis.
“Tapi pihak kepolisian akan terus mengusut kasus ini.” Tambahnya.
Aku mengaduk-aduk rambutku, rasanya dalam sekali aku terlibat dalam kasus ini.

“Fion?!”
Ern terkejut saat aku membawa bayi perempuan itu ke kost. Wajahnya terlihat sangat tidak setuju.
“Aku akan merawatnya. Dia akan tinggal bersama kita di sini” kataku. Ern langsung menolak.
“Tidak! Aku tidak mau bayi itu ada di sini. Polisi-polisi itu akan menyangka kita menculik bayi. Kita tidak tahu asal-usul bayi itu, Fion!” tolak Ern, marah.
“Semua bayi asal-usulnya ya dari sel telur yang dibuahi sel sperma. Mudah, kan?”
“Hei! Aku sedang tidak bercanda, ya! Serahkan saja bayi itu ke panti asuhan, atau keluarga kaya yang tak punya anak, atau biar polisi yang merawat bayi itu! selama ini dia sudah menyusahkan kita. Aku tidak mau semakin susah karena dia! Tujuanku ke sini untuk kuliah, tahu! K U L I A H! Kau dengar itu?!” teriaknya tepat di depan wajahku. Dia marah sekali padaku.
“Tapi…”
“Apa?! Tapi apa?! Kita tidak pernah tahu tentang dia. Bisa saja dia mengidap AIDS, atau penyakit lainnya yang diturunkan dari orangtuanya. Pikirkan kuliahmu. Orangtuamu. Cita–citamu. Dan dari mana kau bisa merawat bayi itu, memenuhi segala kebutuhannya sedangkan kau sendiri pengangguran muda yang masih minta uang dari orangtua.” Ern menekan setiap kata-kata yang diucapkannya. Tapi apa yang dia katakan memang ada benarnya. Mami pasti akan marah padaku begitu mengetahui kuliahku hancur gara-gara seorang bayi yang tak tahu siapa keluarganya.

Aku banyak belajar merawat bayi dari Mosses, seorang ibu muda yang juga punya bayi, dia tetanggaku. Setiap hari aku datang ke rumah Mosses, dan meminta izin pada suaminya untuk mengajariku merawat bayiku. Hanya keluarga Mosses yang percaya pada ceritaku. Aku bersikeras mempertahankan bayi itu yang kini kunamai Alicia Yeoh di kost kami. Sebenarnya, Ern juga percaya, tapi ia amat terganggu dengan keberadaan Yeoh di kost kami. Itu membuat hubungan persahabatanku dengan Ern memburuk. Sampai–sampai Ern memutuskan untuk hengkang dari sini. Jujur, aku merasa bersalah pada Ern karena telah membuatnya marah dan tidak nyaman berada di sini. Tapi, di sudut hatiku yang lain, aku telah berjanji pada ibu Yeoh bahwa aku akan merawat Yeoh apapun pengorbanannya, apapun resikonya. Ern pindah. Tak tahu ke mana. Yang tersisa hanya aku, mahasiswa yang sudah tidak pernah lagi pergi kuliah karena punya bayi yang harus selalu dijaga.

Suatu sore, tak kusangka Mami dan Derryl, adik laki-lakiku datang ke kostku. Saat mereka tiba, aku sedang memandikan Yeoh. Benar saja, Mami terkejut melihat pemandangan serba–serbi bayi di kamarku. Popok, baju bayi, minyak telon, bedak bayi. Mami histeris.
“Apa–apaan kau, ha? Telah menikahkah kau?! Anak macam apa kau? Disuruh kuliah malah menikah. Maminya sendiri tak dikabari. Tiba-tiba sudah punya bayi?!” Mami megap–megap karena terlalu marah.
“Tidak, Mami. Fion belum menikah…” jawabku ketakutan. Derryl melotot.
“Jadi, hubungan apa yang kau jalin sampai ada bayi begini, Kak?!” Derryl ikut emosi.
“Belum menikah, ha?! Lalu bayi ini datang dari mana? Jatuh dari langit?! Jangan-jangan kau menghamili perempuan di luar nikah, ya?! Gila kau! Pacaran tidak pernah, malah langsung membuat hamil. Sampai lahir lagih!” mami sama cerewetnya dengan komandan polisi itu. Derryl dan Mami bersahut–sahutan memberondongku, sama sekali tak memberikan aku kesempatan unutuk menjelaskan yang sebenarnya.
“Bagaimana kau menyembunyikan semua ini, Kak? Tak kusangka kau sebobrok itu…” ucap Derryl prihatin. Baru aku mau angkat bicara, mami menyambar.
“Mulai sekarang, mami dan kakakmu tak mau lagi memberimu uang untuk bayar kuliah. Terserah kau mau apa. Kurang ajar betul, mami dan kakakmu susah payah bekerja, untuk kuliahmu, kau malah menghamili perempuan orang! Mami kecewa padamu, Fion! Lihat nanti kalau kakakmu tahu, kau bisa dibuang ke laut!” Mami betul-betul marah. Wajah cantiknya merah padam. Derryl membuang muka.
“Mami, Derryl, dengarkan aku dulu. Ini bukan seperti yang kalian pikirkan. Sama sekali aku tak pernah menghamili perempuan. Bayi ini kurawat karena ibunya meninggal dunia. Aku kasihan padanya. Ibunya meninggal saat melahirkan, dia perempuan tanpa identitas. Jadi, aku ingin menolong bayi ini… percayalah Mami…” jelasku mengiba. Aku berlutut di depan mami dan Derryl. Yeoh telah kutidurkan di ranjang kecilnya.
“Lantas mau jadi apa kau sekarang? Di kamar saja merawat bayi? Aku yakin kau sudah tak pernah berangkat kuliah. Sibuk saja mengurusi bayi orang. Lalu, uang dari Mami dan kakak, pasti untuk memenuhi kebutuhan bayi ini. Fion, kau menghancurkan masa depanmu sendiri. Tidak kuliah, mau jadi apa kau? Mami kecewa…” tak pernah kulihat Mami sebegitu kecewa. Ia berusaha menahan gemuruh di dadanya. Matanya berkaca–kaca. Aku merasa sangat berdosa karena telah membuat mami marah. Itu kata-kata terakhir mami padaku. Setelah mengatakan itu, mami dan Derryl pergi dari kamarku. Tak pernah datang lagi. Aku pun sudah tak berani lagi pulang ke rumah. malu. Dan takut dihajar kakakku yang tentara. Aku memutuskan untuk pindah ke Bogor bersama Yeoh. Ini lebih aman, dia takkan menemukanku. Takkan dibunuh dan dibuang ke laut.

Dengan uang yang amat minim, aku dan Yeoh menyewa sebuah kamar kost kecil. Untuk bertahan hidup, mau tidak mau aku harus mencari pekerjaan. Tuhan memberiku jalan. Aku diterima bekerja sebagai montir di bengkel motor dan mobil milik seorang haji muda bernama Haji Rehan. Dan lebih beruntung lagi, Bang Reha sangat baik hati. Aku diizinkan untuk membawa Yeoh ke bengkel karena tidak ada yang menjaga di kost. Terkadang, jika aku sibuk, istri Bang Reha mau menyuapi Yeoh atau sekedar menenangkannya ketika ia menangis.

“Pagi hingga malam aku jadi montir. Malam hingga pagi lagi, aku membuat tempe untuk dijual ke pasar. Demi Yeoh, Marv, aku rela lakukan apapun demi dia. Agar dia selalu bahagia. Kasihan anak itu, tak tahu siapa ayah ibunya…” tutupku mengakhiri kisahku tentang Yeoh.
“Kau telah jadi ayah yang hebat, kawan.” Kata Marv bangga. Ash berlinang-linang air matanya.
Ufuk barat menelan matahari. Hari semakin senja. Yeoh berlari ke arahku, langsung memelukku.
“Ayaahhh” pekiknya. Aku memeluk Yeoh penuh kasih. Kukecup pipi-pipinya. Dia kegirangan. Aku sangat menyayanginya. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjaga, merawat dan melindunginya. Takkan kubiarkan seekor makhluk pun menyakiti putriku. Bahkan jika ada yang meminta nyawanya, aku relakan nyawaku saja. Yeoh belahan hatiku, penentram jiwaku, nyawaku dan nafasku.

Cerita Pendek ini kupersembahkan untuk semua ayah di seluruh dunia.

Cerpen Karangan: Amalia Aris Saraswati
Blog / Facebook: Apapun Yang Terjadi Harus Tetap Berkarya / amalia Aris Saraswati

Cerpen Alicia Yeoh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tears Of Melody

Oleh:
Ketika sang rembulan malu menampakan wujudnya dikala itu, disaat seorang anak manusia tengah menangis dan berdoa di sebuah istana kecil di tengah malam yang teramat mencekat dalam aungan binatang

Pergi Tuk Selamanya

Oleh:
Pada hari itu adalah hari dimana umat muslim merayakan idul Fitri, saya merasa senang bisa berkumpul sama keluarga di kampung karena saya kuliah yang jauh dari kampung, maka itulah

Ada Yang Pergi dan Kembali

Oleh:
“Mereka selalu berjuang demi beberapa lembar rupiah yang halal. Dengan cara apa pun asalkan halal. Setiap harinya berjuang demi menafkahi keluarga. Mereka bukan kepala atau Ibu rumah tangga, tapi

Supercake

Oleh:
Lelah. Hanya itu yang dapat ku ungkapkan selama sehari penuh. Noda bekas cream cake, air, mentega, tepung, tumpahan telur, dan berbagai karya seni hari ini yang dapat ku buat

Jilbab Ummi

Oleh:
“An, sudah sampai.” Kata kakakku membangunkanku. “Oh, udah sampai rumah?” Tanyaku kebingungan. “Iya adikku.” Jawabnya. Ku turun dari mobil berwarna merah milik kakaku itu. Terlihat di depanku istana penuh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Alicia Yeoh”

  1. Vira D Ace says:

    i like this storyyyyyyyy!!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *