All About Dad

Cerpen Karangan: ,
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 8 January 2019

25 desember 2014 tidak pernah terbayangkan bagiku menjadi goresan sejarah yang sangat perih bercampur pedih untuk keluargaku terutama aku…

Pernahkahkau merasa bumi berhenti berputar…
Tapi kau tetap harus bernafas…

Pernahkah kau tidak dimana mana…
Sekaligus berada dimana-mana…

Hari itu aku kehilangan seseorang yang sangat berperan dalam hidupku, sesosok yang sangat penting, insan yang sangat aku hargai dalam dunia ini. Tidak ada orang yang bisa menggantikan perannya dalam kehidupanku. Goresan luka ini adalah keadaan yang paling perih dari semua kesedihan yang aku alami, aku selalu bertanya kenapa, mengapa? Hal ini bisa terjadi dalam hidupku. Sengang. Dan langit tetap tak berujung.

Belum pernah terbersit di benakku untuk mengalami hal yang seperti ini bahkan sampai detik aku masih mencari kata yang tepat untuk protes terhadap sang waktu.

Yaaa, inilah kenyataan yang masih aku pertanyakan, aku kehilangan ayahku, ayah yang sangat aku kagumi, cintai, aku sayangi, kini telah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Sangat perih bahwa aku mengetahui kalau semua ini adalah kenyataan. Kutatap kelamnya langit, dan kucoba hitung barisan bintang di sana dan sayu terasa dalam hatiku yang masih mengharu biru karena tak kutemukan apa yang aku cari. Lantas apakah yang aku cari? karena kutemukan hanyalah linangan air mata, dan semua akan tahu karena aliran cairan bening dipipiku bisa menjelaskan lebih dari semua kata yang bisa diungkapkan.

Setiap aku menceritakan kisah ini, air mata ini selalu mengalir dengan alasan mendasar yakni ‘aku kehilangan’. Aku belum bisa menerima semua ini, aku kehilangan ayahku, sosok ayah yang masih aku butuhkan dalam hidupku, aku masih membutuhkan kasih sayangnya, aku tidak mau dia pergi, aku mau dia selalu ada.

Lintasan ini terlalu berat bagiku…
Batuan jalanan ini terlalu tajam bagi kaki lemahku…
Haruskah… Haruskah aku masih meraih… ‘dengan lengan kecilku’…

Kuhitung Ulang Semua Jemariku…

Aku ingin ini hanya mimpi dan aku ingin segera terbangun dari mimpi buruk ini. Aku belum bisa menerima semua ini, dalam sengang tak sedikitpun aku lupakan caranya bercanda, kerutan alisnya ketika bertutur sapa dalam kasih sayangnya, bahkan aku ingat persis bagaimana caranya meyakinkanku ketika menghadapi sekelumit tantangan hidup ini. Entahlah… bagaimana cara aku melupakannya… dan haruskah ada yang dilupakan..? TIDAK.

Sebegitu cepatkah ayah pergi? kenapa ayah pergi? aku sayang ayah, Tuhan kenapa ambil ayahku? kembalikan ayahku Tuhan.

Aku kecewa dengan Tuhan, bahkan dalam gejolak jiwa rapuh ini aku mempersalahkan Tuhan. Kenapa Putihnya awan belum berganti, kenapa hembusan angin masih saja tidak terlihat dan kenapa langit yang tatap selalu biru. Dan kenapa ini semua adalah kenyataan dan bukanlah mimpi.

Dalam gejolak yang terus memberontak, ingin segera aku tersadar dari tidur panjang yang tidak akan pernah terjadi. Aku muak mengitari angkasa menjelah langit tanpa arah. Kembali aku tertunduk dalam kenyataan. Sampai waktu menyadarkan aku, iyaa.. waktu menyadarkanku bahwa aku tak pernah bermimpi.

Bukan setiap hari adalah sama…
Dimulai pagi, beranjak siang, dan meredup di sore hari…
Dan ditutup oleh kekelaman malam…
Begitu seterusnya hingga kiamat menjelang…

Waktu telah menuntunku pada kebenaran yang hakiki, waktu pula telah menyadarkan aku bahwa semua hanyalah retorika kehidupan yang pasti akan dijalani oleh setiap umat manusia. Waktu pula perlahan menyadarkan aku. Aku sadar Tuhan punya rencana yang indah di balik semua ini. Bukankah iya… selalu ada pelangi disetiap badai.
Meski perlahan, saat menorehkan goresan ini aku mulai percaya ada rencana yang besar telah Tuhan siapkan untuk aku dan keluargaku, aku mencoba mengikhlaskan walau belum sepenuhnya.

Tuhan tahu meski sering menunggu…
Dan sampai kapanpun Tuhan tetaplah yang paling tahu…
Kapan waktu… untuk mengizinkan langit tak lagi biru…

Ayah… Engkau hanya satu dan satu-satunya…
Ayah begitu kuat, dia mencoba bertahan dengan penyakitnya selama ini, selama bertahun tahun dia menderita penyakit jantung, hanya sedikit waktu dia berada di rumah, kadang tidak sampai setengah jam dia dilarikan ke rumah sakit lagi.

Ayah orang yang paling sabar, sampai usiaku 17 tahun tidak pernah sekalipun ayah memukuliku, apalagi bertindak kasar terhadap ibuku, ayah selalu mengalah dan tidak pernah memaksa kehendaknya, dalam hidupnya dia selalu mempunyai komitmen, dalam keadaan apapun harus tetap melayani Tuhan, itu telah aku buktikan sendiri, saat sakit parahpun ayah tetap bersikeras untuk ibadah.

Aku mulai menyadari Tuhan tidak mau ayah lebih menderita di dunia, aku yakin saat ini ayah sudah bersama Tuhan di surga.

Selamat jalan ayah, selamat natal, Tuhan jaga ayahku dan buatlah dia selalu tersenyum di surga.
Aku selalu merindukan ayah… aku berharap suatu saat nanti bisa bersama sama dengan ayah selamanya.
Di dunia ini memang tidak ada yang abadi semua akan kembali kepada sang pencipta. Dari tanah akan kembali menjadi tanah. Terimakasih atas pengorbanan ayah selama ini, terimakasih sudah membesarkan aku selama ini dengan penuh kasih sayang.

R.I.P AYAH

Cerpen Karangan: Anthoni Bogensia dan Ella Miati
Blog / Facebook: Anthoni Bogensia

Cerpen All About Dad merupakan cerita pendek karangan , , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


A Big Dream

Oleh:
Rumah terkadang menjadi taman terindah bagi sebagian orang. Tapi tidak denganku, yang selalu ingin menutup mata dan telingaku saat di rumah. Rumah bagai panasnya api bagiku. Yang selalu saja

Kakek

Oleh:
Malam ini terasa sepi, sunyi. Hanya terdengar jangkrik bernyanyi. Semuanya terasa hampa. Seorang gadis sedang duduk di dekat jendela kamarnya. Lia nama gadis tersebut. Ia sedang memandang ke arah

Positif Kecanduan

Oleh:
“An, dicari Alwi tuch. Ditungguin di perpustakaan.” “Kok dia engga sms aja, Ly?” “I don’t know..” “Ya udah. Makasih ya, Lely.” Aku mengikuti langkahnya ke perpustakaan. Karena jujur saja

Bapak Pinjami Aku Hatimu

Oleh:
Suara burung terdengar seperti irama pengiring tidur, ditemani suara ombak kecil, berdenting sangat lembut alunannya. Daun pohon yang tertiup angin terlihat melambai-lambai, dan matahari mulai meredupkan sinarnya, sebab senja

Forgetting All

Oleh:
“Assalamualaikum,” ucap Felly saat ia tengah membuka pintu rumahnya. “Waalaikumussalam,” jawab Anjani. Mama Felly yang masih terduduk di ruang tamu. “Mama! Tumben belum tidur, Ma? Biasanya, setiap Felly pulang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *