Allah Give More

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 August 2015

Aisyah Nurunnisa adalah anak yang memiliki kekurangan pada fisiknya walaupun dia memiliki kekurangan namun dia mampu menghadapi berbagai lika-liku hidup dengan yakin kepada Allah bahwa Allah sangat menyayanginya.
Dengan kursi roda, piano tersayang dan berbekal doa dia mampu menunjukkan kepada orang-orang bahwa orang cacat dapat berkarya dan perlu dianggap dan disayangi, hingga suatu hari saat Papa kandung Aisyah ingin bertemu langsung dengan Aisyah, namun sayang ajal telah menjemput nyawa Aisyah.
“Rangkailah mimpi, Percayalah pada mimpi, wujudkan mimpi dan nikmati mimpi Kalian!” Seru guru musik Aisyah, Miss Silsi yang diiringi dengan bahasa isyarat agar semua murid mengerti.
“Tapi itu terjadi bagi orang normal, tidak terjadi bagi kami!” seru Gorge dia adalah salah satu teman sekelas Aisyah di SLB, Gorge memiliki kekurangan pada matanya yang buta.
“Tidak seperti itu Gorge, itu bisa terjadi pada siapa saja termasuk kalian” ujar Miss Silsi seperti biasa diikuti dengan bahasa isyarat.
“TIDAK Miss, mimpi tidak terjadi pada kita! karena kami tidak sempurna!” cetusnya.
“Allah tidak melihat orang dari segi sempurnanya fisik atau apalah, tapi Allah melihat dari segi iman, taqwa dan kebersihan hatinya, ingat itu” jawab Miss Silsi. “Dan mimpi itu ibarat nada lembut hasil kerja kita memainkan alat musik, kenapa? karena mimpi itu diawali usaha begitu pula saat kita ingin mendengar nada dari alat musik kita harus berusaha memainkan alat musik entah mau dipetik, digesek atau dipukul. Dan juga mimpi akan diakhiri dengan kesenangan begitu pula memainkan alat musik yang diakhiri dengan kesenangan hati, mengerti Gorge?”.
Gorge hanya mengangguk.

“Oke kalau Gorge sudah mengerti, sebelum pulang, saya ingin kalian menulis atau bercerita tentang mimpi kalian, bagi yang ingin menulisnya, hasil tulisan nanti digantung di pohon mimpi di sudut kelas” ujar Miss Silsi sambil menunjuk ke arah pohon cemara di sudut kelas.
“Baik Miss”.
Aisyah memilih untuk menulis saja karena dia tidak begitu suka bercerita. Dia mengambil kertas lipat yang telah dibagi kemudian menuliskan mimpinya.

“Hey Kau mencoretnya!” seru Aisyah pada Gorge.
“Benarkah? Anak berkaca mata bundar!” Ujar Gorge seraya menarik rambut Aisyah yang panjang.
“Enak saja, bukannya kau tidak bisa melihatnya!” bela Aisyah.
“Oh, tentu saja aku bisa menebak bahwa anak minus sepertimu memakai kacamata bundar culun dan ternyata tebakanku benar!” celetuknya.
“Oh, ya?!” ujar Aisyah sambil meronta-ronta.
“Sudahlah Gorge! Lepaskan Aisyah!” tegas Miss Silsi seraya memisahkan mereka.
“Anak lumpuh, bodoh!” seru Gorge.

Aisyah hanya bisa menangis, ini pertengkaran yang sangat menyebalkan bagi Aisyah!.
“Sudah Gorge, diam jangan ganggu Aisyah, sekarang giliranmu untuk bercerita tentang mimpimu kedepan!”
Gorge tak ada reaksi apapun dia hanya bisa terdiam.
“Sudahlah kalau begitu, Aisyah sudah selesai dengan tugasmu?” tanya Miss Silsi.
“Sudah” jawab Aisyah lirih seraya menyerahkan kertas lipat yang penuh dengan coretan.
“Maaf Mis banyak coretan”
“Ya, Mis tahu ini bukan ulahmu” ujar Mis seraya berjalan ke pohon dan menggantungkan mimpi Aisyah ke salah satu dahan.

Keesokan harinya saat Aisyah kembali ke sekolah diantar oleh Mama, pagi sekali Aisyah kira dia sendirian namun ternyata dia melihat Gorge yang tengah duduk sendiri di ayunan dengan menggendong tas merahnya.
“Pagi Gorge!” Sapa Aisyah sambil menjalankan kursi rodanya menuju kelas.
“Pagi, Gadis berkacamata bundar!” Jawabnya sambil menunduk.
“Perlu bantuan untuk masuk kelas?” tawar Aisyah sambil menengok ke arahnya.
“Aku bisa sendiri tanpa bantuanmu” ujarnya ngotot seraya berusaha berjalan.
“Oke! Berhati-hatilah” ucap Aisyah.
“Jangan pandang aku tak mampu!” celetuknya sambil terus berjalan.

Namun tiba-tiba dia tersandung batu. Bruk…
“Oh, aku sudah bilang hati-hati!” ujar Aisyah seraya menjalankan kursi roda Aisyah ke arahnya untuk menolongnya berdiri.
“Maaf, nona kecil aku bisa melakukannya sendiri!” serunya sambil berdiri.
“Oke, terserah padamu saja bapak keras kepala!” celetuk Aisyah sambil membalikkan kursi roda Aisyah dan menjalannya ke kelas.

Sesampainya di kelas Aisyah segera memasukkan tas ke dalam loker kemudian dia melihat-lihat pohon mimpi yang indah.
“Semoga mimpiku terwujud! karena aku ingin buktikan kepada dunia bahwa aku bisa mewujudkan mimpi walau aku tak sempurna” gumam Aisyah sambil terus mengamati pohon cemara itu.
“Yeah aku bisa!” terdengar Gorge yang sangat senang dapat memasuki kelas.
“Aku kira kamu tidak akan bisa masuk ke kelas kecuali dengan bantuan orang lain!” ujar Aisyah pedas karena dia terlalu sebal pada temannya yang satu ini.
“Buktinya aku bisa!” ujarnya.
“Oke, aku akui kau sangat berani” puji Aisyah.
“Haha memang, oya tolong bawa aku ke bangku dan letakkan juga tasku ke loker” ujarnya.
“Oh baiklah…” ucap Aisyah sambil mendorong kursi rodanya ke arahnya.
“Pegang dorongan kursiku!” ujar Aisyah. Gorge pun meraba-raba bagian kursi Aisyah dan akhirnya menemukan pegangan kursi roda Aisyah.
“Ikuti saja aku” lanjut Aisyah sambil menjalankan kursi roda Aisyah ke bangku Gorge
“Duduklah!” ujar Aisyah singkat.
Gorge kemudian meraba-raba kursi dan mendudukinya kemudian memberikan tasnya pada Aisyah.
“Terima kasih Nona kecil” ujarnya.
Aisyah hanya terdiam sambil menjalankan kursi rodanya ke arah loker tas.

Beberapa jam kemudian telah banyak teman-teman dan guru-guru yang datang. Setelah bel masuk berbunyi bermain pun dimulai, di SLB ini tidak ada program pelajaran rutin mungkin program pelajaran diselip-selipkan di beberapa permainan dan kegiatan.
“Hari ini kita akan bermain musik menggunakan drum, miss harap kalian senang” ujar Miss membuka permainan pagi ini.
“Hore,” semua anak bersorak heboh.
“Oke Miss Retno akan membagikan drum ke kalian” ujar Miss Silsi.

Setelah semua mendapatkan drum kami pun langsung bermain, seru sekali rasanya/
Diakhir bermain Miss mengumumkan bahwa minggu depan ada penampilan dari SLB yang akan diadakan di gedung teater, dilihat langsung oleh bapak Bupati maka akan ada latihan setiap Senin sore, Rabu sore, Kamis sore, Jum’at sore dan Gladi resik dadakan diadakan Minggu sore.

Bel pulang pun berbunyi beberapa jam kemudian, Mama pun datang menjemput Aisyah bukan Papa karena Papa telah lama bercerai dengan Mama, dan sekarang Mamalah yang merawat Aisyah sampai sekarang.
“Ma, Minggu depan ada penampilan dari sekolahku aku mengambil piano!” ujarku senang. Saat Mama hendak menyupir mobil.
“Benarkah?” ujar Mama.
“Benar Ma, latihan akan dilakukan Senin sore, Rabu sore, Jum’at sore dan Gladi resik diadakan Minggu sore.” Ujar Aisyah sambil membenarkan letak kacamatanya.
“Oh… begitu ya, selamat!” Ucap Mama senang.

Aku hanya bisa tersenyum. Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di rumah Mama membantu Aisyah keluar dari mobil.
“Assalamu’alaikum” salam Aisyah saat masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikum salam” jawab Nenek, Kakek dan Bibi.
“E… cucu Nenek sudah pulang!” seru Nenek senang.
“Ya Nek” ucap Aisyah sambil menyalami tangan Nenek, Kakek dan Bibi.
“Oya, Bibi punya berita” Ujar Bibi.
“Apa Bi?” tanya Aisyah.
“Bulan depan ada lomba main piano, bagaimana?” tanya Bibi.
“Aisyah mau ikut!” seru Aisyah. “Oya Aisyah mau tampil lho!” lanjut Aisyah.
“Mau tampil dimana? Kapan?” tanya Bibi bertubi-tubi.
Aisyah menjawabnya dengan senang.

Setelah adanya jadwal latihan Aisyah jadi sibuk namun dia tetap senang menjalaninya, walaupun bukan hari latihan, Aisyah tetap berlatih tanpa lelah walaupun Mama menyuruhnya makan atau minum Aisyah tidak menanggapinya sampai-sampai Mama menyuapi Aisyah, saat dia masih sibuk dengan pianonya.

Hari H telah datang pagi ini Aisyah telah siap dengan gaun putih, sepatu kets, stoking putih dengan motif bunga, model rambut yang dibiarkan terurai dan rambut dihias bandana dengan pita pink dilengkapi dengan bros bunga. Setelah Aisyah dan Mama siap mereka pun segera berangkat ke gedung teater.

Di gedung teater telah ramai dengan murid-murid dari SLB yang sedang berlatih, ada yang melatih vocalnya, kelincahan memainkan gitar, bass dan lain-lain semuanya sibuk kecuali Aisyah, dia adalah murid yang paling tenang karena menurutnya sudah siap dengan persiapan yang matang sudah Aisyah genggam.

Jam pun berdentang sebanyak 9 kali itu berarti waktunya kami tampil. Aisyah tampil 2 kali tampilan pertama bersama-sama, tampilan yang kedua Aisyah sendiri dia pun mampu dan pede, dia tak malu walau harus memakai kursi roda selama tampil. Setelah acara selesai Aisyah langsung pulang, karena Mama masih banyak acara di kantornya.

Sehari setelah tampil, sekolah diliburkan selama dua hari, di kesempatan liburan sekolah Mama mengajak Aisyah untuk memeriksakan kakinya di rumah sakit, yah lumpuh yang menyerang kaki Aisyah dari Aisyah berumur tujuh tahun sampai dia berumur 12 tahun.

Satu bulan kemudian Aisyah sudah berada di atas panggung, tak lupa Mama merekam Aisyah, beberapa menit kemudian Aisyah telah memainkan jarinya di atas piano, banyak orang yang melihat dan terkagum-kagum atas permaninan pianonya. Setelah memainkan piano Aisyah dengan pedenya membacakan puisi yang berjudul, “Semua Orang Itu Mampu” atas karya Aisyah sendiri. Tampilan Aisyah diakhiri dengan tepuk tangan yang super keras. Bahkan ada juri dan penonton yang menangis karena haru. Mama menghapus air mata dengan tissue dan mematikan rekamannya. Mama berjanji akan segera meng-upload video Aisyah ke youtube.

Pengumuman pemenang pun tiba, rasa takut yang menyergap Aisyah yang membuat dadanya sesak, “Apakah aku menang?” itu pertanyaan dalam hati Aisyah yang terus bernyanyi dalam pikirannya. Aisyah dan puluhan peserta yang lain menunggu di belakang panggung dengan berharap-harap cemas.
“Ma, apakah aku menang?” bisik Aisyah.
“Berdoa saja ya!” jawab Mama. Aisyah pun berdoa semoga Allah memberi dia kemenangan.
“Langsung saja, kita umumkan pemenang lomba main piano, juara ketiga adalah… Fery Adinata dengan nomor urut 23! Silahkan berdiri di atas panggung” seru pembawa acara.
“Yah, juara ketiga bukan aku yang menang anak laki-laki yang lebih muda dariku permainannya juga bagus, bagus sekali. Mungkin aku tidak menang, Ma!” ceplosku.
“Jangan seperti itu” ujar Mama.
“Dan pemenang kedua adalah nomor urut 58 yaitu gadis kecil yang berturut-turut memenangkan perlombaan ini dia adalah Rista Amallia, Silahkan menaiki panggung” seluruh sudut bertepuk tangan riuh, dan itu membuat hari Aisyah terdesak dia tidak pernah merasakan rasa seperti ini sebelumnya.
“Dan yang terakhir adalah pianist kecil yang sangat cantik dan bersemangat, dia adalah Aisyah Nurunnisa!” seru pembawa acara dengan lantang sampai dia terbatuk-batuk, (memalukan). HA, nama Aisyah disebut, apa? Aisyah tak percaya, ini pasti mimpi.
“Aisyah kamu menang!” seru Mama mengagetkan Aisyah.
“Enggak mungkin, Ma!” ucap Aisyah setengah tak percaya.
“Mungkin,” Mama segera mengantarkan Aisyah ke panggung saat Aisyah dan Mama sudah berada di panggung penonton pun bersorak riang.

Kemudian seorang perempuan tua dengan kacamata plus dan syal berjalan mendekat, dia memberikan piala ke setiap pemenang, saat dia memberikan piala kepada Aisyah, wanita itu menangis dan memberikan piala setinggi 50cm pada Aisyah, dan tiba-tiba dia memeluk dan mencium Aisyah dan berbisik,
“Semoga kau tahu siapa aku? selamat gadis manis” dia melepaskan pelukan hangatnya dan berganti bersalaman dengan Mama dengan penuh senyum, Aisyah bingung sebenarnya siapa wanita itu. Saat penyerahan piala selesai. Aisyah dan Mama segera pulang dalam perjalanan pulang Aisyah bertanya siapa wanita tadi. Mama menjawab dia adalah Ibu dari Papa Aisyah dan wanita itu bernama Ressa.
“Jadi wanita itu adalah Nenekku juga ya Ma” ujarAisyah.
Mama hanya mengangguk.
“Ma, antarkan aku bertemu Ayah ya?” bujuk aisyah.
Tiba-tiba Mama tersenyum sambil menahan airmata yang hampir menetes.
“Sebenarnya kamu sudah sering bertemu dengan Papamu hanya kamu saja belum mengenalinya” jawab Mama sambil mengelus lembut rambut Aisyah.
“Benarkah?” tanya Aisyah.
“Yah, nanti kamu akan mengetahuinya” Jawab Mama.
“Ya, Ma”.

Satu bulan kemudian Aisyah bertemu dengan Mbak Nida dia adalah anak seorang guru madrasah, dia mengajari Aisyah cara berkerudung, Mbak Nida juga menerangkan syariat memakai kerudung dan segala hal mengenai kerudung. Menurut Aisyah dia harus memakai kerudung untuk mendapatkan syurga seperti salah satu cerita yang Mbak Nida ceritakan.
“Besok lagi Aisyah harus rajin-rajin menutup aurat, ya” ucap mbak Nida sambil membenarkan letak kerudung Aisyah.
“Ya, nanti Aisyah suruh Mama pakai kerudung, oya Mbak bisa antar Aisyah ke toko kerudung, Aisyah mau beli kerudung buat Mama” pinta Aisyah.
“Oke, sekarang saja ya, mumpung ada waktu” ujar Mbak Nida. “Nanti kita naik mobil Mbak aja ya”.

Aisyah pun setuju, mereka pun berangkat ke sebuah toko kerudung, Aisyah memilih kerudung kaos berwarna biru muda dengan model yang simpel.
“Oke! sudah waktunya pulang!” mereka pun pulang ke rumah Mbak Nida karena Aisyah ingin membungkusnya dengan kertas kado di rumah Mbak Nida.
“Oya nanti Mbak aja yang bungkusin ya, Aisyah enggak bisa bungkusin karena Aisyah harus berobat nanti bilang ke Mama juga kalau kerudung ini harus dipake dan nanti kalau Mama tanya ini salah siapa jawab saja bukan salah Mbak Nida” ujar Aisyah.
“Salah apa?” tanya Mbak Nida bingung.
“Pokoknya jawab begitu saja” jawabnya.

Saat mereka pulang terjadi kecelakaan, Mbak Nida tidak apa-apa tapi Aisyah harus dibawa ke rumah sakit, dia dibawa ke rumah sakit oleh seorang wanita yaitu Nenek Ressa. Mbak Nida hanya lecet-lecet dan dia langsung diantar pulang oleh bapak-bapak karena ini keinginan Mbak Nida sendiri.
“Kasihan Aisyah” gumam Mbak Nida saat dia sudah sampai di rumah.
“Iya kasihan, kenapa kok sampai terjadi musibah seperti ini to?” tanya ibu Mbak Nida.
“Tadi ada yang nabrak saat Nida mau belok padahal Nida sudah ngasih tanda, terus mobil itu nabrak mobil Nida bagian kiri yang di situ ada Aisyah” jawab Mbak Nida. “Makanya Aisyah menyuruh Nida untuk membungkuskan kerudung untuk Mamanya, mungkin dia punya firasat”. Ibu Mbak Nida hanya tersenyum sambil mengangguk.

Keesokan harinya kerudung sudah terbungkus rapi dan siap diantar, Mbak Nida sendiri yang mengantarnya dan syukurnya Mbak Nida langsung bertemu langsung dengan Mama Aisyah.
“Assalamu’alaikum, bu” salam Mbak Nida.
“Wa’alaikum salam, eh Nida ada apa?” jawab Mama ramah.
“Ini saya mau memberi titipan dari Aisyah, katanya Ibu juga harus pake” Mbak Nida memberikan kado itu kepada Mama.
“Ini dari Aisyah bukannya…”
“Dia menitipkan ini pada saya, saya kesini juga mau minta maaf atas kejadian kemarin” Mbak Nida meminta maaf.
“Enggak apa-apa, Nida nggak salah kok. Saya sudah tahu cerita langsung dari Aisyah setelah dia siuman, tapi dia tidak menceritakan tentang kado ini buat saya” ujar Mama.
“Oh, lalu bagaimana keadaan Aisyah?” tanya Mbak Nida.
“Hmm, bagaimana ya saya tidak begitu tahu banyak, ya intinya kaki Aisyah harus diamputasi, besok” jawab Mama.

Kata diamputasi amatlah pedih buat mereka, Mama dan Mbak Nida menahan tangis.
“Sabar ya bu, nanti saya dan keluarga akan segera menjenguk Aisyah” ujar Mbak Nida.
“Iya, Nida ini ujian buat saya” Ujar Mama tabah.
“Ya, maaf saya pamit dulu, Assalamu’alaikum” ujar Mbak Nida.
“Wa’alaikum salam” Jawab Mama sembari tersenyum.

Di rumah sakit Aisyah sibuk menulis sebuah tulisan. Selesai menulis dia memasukkannya ke amplop dan meletakkannya di atas meja yang dekat dengan ranjang Aisyah.
“Aisyah, nanti Papa mau datang loh!” ujar Nenek Ressa. Memang hanya Nenek Ressalah yang menemaninya di rumah sakit.
“Benarkah, nek? Aku senang sekali” tanya Aisyah. Senang.
“Iya, benar, kamu mau pesan apa?” tanya Nenek.

Aisyah tidak menjawab karena tubuhnya merasa dingin dan kepala pusing, tiba-tiba hawa dingin mencekam, apa yang terjadi? napas Aisyah sesak, dia tak bisa berkutik dan Aisyah masih dapat melihat.
“Nek, ini waktunya kita berpisah jangan sedih ya”.
“Aisyah kamu kenapa?” ujar Nenek bingung, Nenek memanggil-manggil suster dan suster pun datang bersamaan dengan seorang lelaki dan Mama mungkin lelaki itu Papa. Aisyah dapat merasakan goyangan dari tangan Mama dan mendengar teriakan Nenek. Aku mendengar Mama berbisik.
“Terimakasih sayang atas kerudungnya Mama akan terus pakai kerudung, dan Mama ikhlas kalau Aisyah pulang” bisikan Mama menenangkan sekali, kemudian pandangan Aisyah mulai kabur dan napas mulai sangat sesak dan saat itu juga terdengar suara berat seorang laki-laki yang mentalqin Aisyah dan akhirnya Aisyah dapat mengikuti suara itu dan Aisyah pun dapat tersenyum sebelum meninggalkan dunia yang selama ini menggoreskan kenangan yang indah.
“Dadah semua aku menyayangi kalian”

Kain pun telah menutupi tubuh Aisyah, Aisyah kini tinggal kenangan, di setiap sudut ruangan terdengar tangis dan doa. Papa yang kini menangis karena menyesal dan Mama pun menghibur Papa.
“Ini untuk kalian!” ujar Nenek seraya memberikan kertas yang tadi ditulis Aisyah. Meraka pun membacanya. Oh, Aisyah…

Cerpen Karangan: Zahira Lathifah
Blog: http://duniaceritaq.blogspot.com

Profil Penulis:
Zahrira Lathifah, lahir di Grobogan, 02 september 2000 mempunyai banyak hobby dan paling cocok untukku menulis cerita, kegemaran yang dapat mengasah otak dan kecerdasan, imaji yang luas selalu menemaniku untuk menciptakan cerita yang bermoral dan memotivasi banyak orang. selain itu tujuanku untuk menulis agar bisa berbagi pelajaran-pelajaran yang berharga.

Cerpen Allah Give More merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayahku, Raja Hatiku

Oleh:
Segala deritanya kini telah sirna. Penyakitnya sudah Allah angkat. Ada aura bahagia terpancar dari raut wajahnya. Perjuanganku telah berbuat manis dengan cara-Nya. Kini Ayah sembuh, Ayah sehat. — Mari

Bayangan Matahari

Oleh:
Bayangan Matahari Hitam.. Pantulan atau cerminan? Mereka bermakna dalam, Mereka bayangan.. Matahari harusnya berbayang Jadi, ‘kan kuberi satu Cukup untuk keberadaanmu Satu yang lebih darimu Aku tertegun membaca secarik

Keikhlasan Cinta

Oleh:
Cuaca yang terik ini bukan suatu alasan untukku merasakan panas yang serasa membara sampai ke lerung jiwa. Tapi keadaan ini yang membuatku terasa semakin (ingin) menyesal. Tak mau rasanya

Maaf Dari Ayah

Oleh:
Pagi ini seperti biasa aku berjalan di bawah langit biru dengan hembusan angin yang begitu sejuk. Kerja kerja dan kerja itulah pedomanku selama ini, agar aku, ibu dan adikku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *