Allah Itu Adil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 2 April 2016

Terdengar suara riuh rendah di lokal Aqira, yaitu IV-D. Pak guru sedang membagikan hasil ulangan Matematika. Semuanya takut dan agak deg-degan sambil menelan ludah. Menurut mereka, matematika adalah mata pelajaran yang tersulit.

“Hugh.” Aqira berdengus kesal, berkali-kali ia menatap tajam Hanny, gadis lugu yang mendapat juara kelas di kelas IV-D. “9 lagi 9 lagi. Kenapa sih anak itu dapat nilai 10 terus. Sekali aja aku bisa ngalahin dia.”
“Sudah Aqira ayo ke kantin daripada marah melulu, entar mukanya jadi jelek loh..” Farah mencoba menenangkan Aqira, ia menarik lengan Aqira. Saat melewati meja Hanny, Aqira menatap tajam kepada Hanny, Hanny kebingungan ia pun membalasnya dengan tatapan tajam pula. Aqira yang sudah geregetan menarik jilbab Hanny, untung saja da Farah, kalau tidak mereka bisa perang jilbab.

Farah membolak-balikkan majalah anaknya tiba di kantin. Matanya tertuju kepada halaman yang satu ini, yaitu halaman lomba, ada lomba kreativitas yang diadakan minggu depan. Ia rasa, Aqira pasti tertarik, “Hei Aqira lihat ini! Ada lomba kreativitas yang akan diadakan minggu depan. Mungkin kamu bisa ikut dan mendapatkan juara 1.”
“Wah iya juga ya, aku akan mengikutinya, di mana pendaftarannya?”
“Kamu lihat saja sendiri,” Farah menyodorkan majalah anaknya kepada Aqira. Aqira hanya diam melihat lomba itu. Farah tersenyum melihat sahabatnya bahagia, namun kini matanya tertuju kepada seorang gadis berjilbab yang sedang membaca majalah yang sama. Sepertinya itu Hanny.

Farah tidak ingin menyakiti hati Aqira, jadi ia diam saja, namun matanya tetap mengawasi Hanny yang sedang membaca majalah yang sama. “Farah, kamu kenapa sih. Lihat apa? Kayak ada maling aja.” Aqira tertawa jenaka, lalu ia diam sejenak setelah melihat Hanny sedang membaca majalah yang sama. Aqira menatap sinis Hanny, perasaannya bercampur aduk. “Jangan-jangan, ia juga ikut lomba itu.” Tiba-tiba Farah berbicara dengan tatapan kosong. Aqira terkaget-kaget mendengar itu, ia bertekad mengalahkan Hanny.

Bongkar sana, bongkar sini. Kamar Aqira menjadi berantakan, mencari bahan untuk membuat sesuatu. Ia berpikir keras untuk membuat apa, tiba-tiba terlintas ide di pikirannya, ia akan membuat kapal dari kancing. Aqira tersenyum puas, ia yakin kali ini ia pasti akan mengalahkan Hanny. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, hari ini adalah hari Minggu yaitu hari perlombaan kreativitas. Aqira berniat membuat kejutan kepada ibu dan ayahnya, jadi hari ini ia ditemani oleh sahabatnya, Farah. Saat perlombaan dimulai, ia tersenyum dan merangkai sebuah kapal dari kancing dan mengumpulkannya kepada panitia. Ia tersenyum puas dan yakin bisa mendapatkan juara 1.

“Juara pertama diraih oleh istana mewah dari koran, plastik, dan kardus memperoleh nilai 615..”
“Hah.. Bukan kapal dari kancing? Jangan bilang kalau itu adalah..” belum selesai Aqira berbicara, sang MC melanjutkan pembicaraan.
“Yaitu.. Hannyfah Erimaspribadi. Berikan selamat padanyaa!! Juara kedua diraih oleh kapal dari kancing memperoleh nilai 610 yaitu Aqira Setyaningsih. Beri selamat padanya.. Juara ketiga.. Harapan 1.. Bla bla..” Aqira sangat kesal, wajahnya merah mengangkat piala yang tingginya lebih rendah 1 inci dari piala Hanny, lagi-lagi Aqira kalah dari Hanny. Aqira kecewa tidak dapat memberi kejutan juara 1 kepada ibu dan ayahnya.

“Ibu, maafkan Qira, Qira gak bisa dapat juara 1 untuk Ibu..” Aqira menangis tersedu-sedu di rumah. Ibunya tersenyum. “Aqira ibu sudah bangga kamu mendapatkan juara 2, itu pun sudah Alhamdulillah. Ibu senang, kamu mempunyai kreativitas yang tinggi.” Aqira mengusap air matanya, ia berjalan menuju kamar yang serba hijau, karena memang Aqira penggemar warna hijau nomor 1.
“Pialaku sekarang berjumlah 20, tapi.. JUARA DUA SEMUA.. Hiks..” Aqira kembali menangis, menurutnya hidup itu kejam. Selalu saja nomor 2 terus, dan nomor satunya pasti Hanny. “Hanny itu pasti punya kelemahan, aku harus tahu itu.” Aqira bertekad mengetahui kelemahan Hanny.

Aqira membuntuti Hanny saat istirahat. Setiap istirahat, Hanny selalu pergi menuju perpustakaan, ia memang kutu buku. “Hanny kamu kenapa murung begitu?” Tanya Mbak Gisell, penjaga perpustakaan yang ramah kepada semua orang.
“Aku sedih mbak, aku kesepian Ayahku sudah meninggal, Ibuku pulang seminggu sekali ia bekerja di pabrik itu pun malam nya sudah pergi lagi. Adikku memiliki keterbelakangan mental, tidak bisa diajak main. Ia saja buang air selalu sembarangan, padahal sudah sering sekali diingatkan. Kakak Romi, Kakak keduaku sulit mendapat pekerjaan, ia sering ke luar mencari pekerjaan namun selalu tak dapat lowongan. Dan Kakak pertamaku, hiks ia masuk penjara..” Omongan Hanny terhenti ia menangis tersedu-sedu. Terisak-isak ia berbicara membayangkan betapa kejam hidupnya.

“Kok bisa?” Tanya Mbak Gisell.
“Pada waktu itu, Kak Devi disuruh bosnya untuk mengantar barang ke tempat temannya. Namun, di perjalanan, motor Kak Devi itu agak bermasalah dan macet apalagi lampu merah. Sedangkan, waktu yang bosnya suruh sudah lewat beberapa menit. Karena Kak Devi ingin cepat, ia ingin ngebut tapi motornya agak bermasalah padahal bensin sudah penuh. Kak Devi hanya pasrah kena marah bosnya, jadi ia bertekad mendorong motornya, namun sebelum Kak Devi turun motornya berjalan sendiri, helm Kak Devi pun terjatuh ditindas mobil, Kak Devi takut, ia tak bisa mengendalikan motornya, beberapa anak jalanan pun terseret jauh.”

“Barang yang disuruh bosnya untuk diantar hilang entah ke mana. Motor Kak Devi juga sempat menabrak bagian belakang mobil seseorang. Motor Kak Devi semakin tak terkendali, Kak Devi terjatuh, ia pun pingsan. Saat bangun, ia sudah harus berhadapan dengan polisi, karena anak jalanan yang ditindasnya secara tak sengaja itu meninggal. Walaupun tak sengaja ia dibawa polisi ke kantor polisi, terakhir kali ia berkata padaku ‘Jaga dirimu baik-baik..'” Tangis Hanny pecah. “Yang sabar ya Hanny, mbak akan selalu mendoakanmu, sekarang ayo masuk sebentar lagi masuk.”
“Iya mbak terima kasih..”

Aqira tersenyum puas, namun ia akan tetap membuntuti Hanny sampai ia dapat banyak kekurangan Hanny yang lain. Ia belum menceritakan semua kekurangan Hanny, setelah mendapat banyak baru ia akan menceritakannya. Namun, ia kembali benci dengan Hanny teringat ia selalu memenangkan perlombaan. Hanny berjalan kaki menuju rumah yang jaraknya 8 KM, keringat basah mengalir di dahinya. Aqira tersenyum, ia sengaja menyuruh ibunya tidak menjemput karena mau melakukan pengintaian. Gubuk kecil yang banyak sampah, itu adalah rumah Hanny. “Ck.. ck.. ck.. Jelek sekali rumahnya, tapi kenapa dia bisa kreatif, oh iya ya kan rumahnya banyak sampah. Jadi bau sekali istana yang dibuatnya, hahaha pasti ia memakai parfum bekas yang dibuang oleh ibunya yang mirip dengan nenek itu. Jalan kaki pulang ke rumah, 8 KM lagi kacihan.. Uhh bau, mendingan aku pergi dari sini.”

“Hiks.. Hiks..” Aqira menangis lagi, ia tidak suka melihat Hanny mendapat juara 1 lomba menyanyi sedangkan ia kembali mendapat juara 2. Ia marah, kesal, sedih, benci kepada Hanny. Benci sekali, maka dari itu ia ingin Hanny tidak mempunyai teman lagi, Aqira akan membongkar rahasia Hanny selama ini.

Pagi-pagi, Hanny belum datang. Aqira mulai menyebarkan rahasia Hanny, “Eh teman-teman aku dengar Kakak pertama Hanny masuk penjara, yang kedua gak punya pekerjaan, sedangkan adiknya mempunyai keterbelakangan mental. Kalau kalian gak percaya lihat ke rumahnya. Terus ya, aku kasih tahu Ayahnya tuh sudah meninggal, Ibunya hanya pulang sekali, terus.. rumahnya itu gubuk tua, reok, kecil, bau, banyak sampah aku baru ke rumahnya. Lomba kemarin, ia itu pakai sampah bau yang ada di rumahnya itu loh, terus dia pakai parfum bekas ibunya yang kayak nenek tua, bau, bongkok. Gak selevel kan dengan kita.” Aqira berbicara panjang lebar, Hanny yang sedari tadi mengintip sakit hati, kini semua sudah tahu yang dialaminya apa.

“Ihh.. berarti Kakaknya itu jahat kan?” Tanya Rio.
“Iya aku dengar, Kakaknya itu nah tak anak jalanan dan merusak bagian belakang mobil orang. Belum lagi, helmnya yang terlindas mobil. Kakaknya itu gak bisa jaga barang, terus barang yang dititip bosnya hilang lagi.”
“Ck.. ck.. ck.. Nanti dia juga jadi calon penjahat tuh.” Rere tersenyum sinis.
Hanny yang tidak tahan, masuk dan berteriak, “KAKAKKU GAK JAHAT.”
“Memang gak punya sopan santun.” Rere mengolok-olok Hanny. Hanny menangis, semua tertawa sinis dan senang melihat Hanny terpuruk, kini Hanny tak mempunyai teman. Setiap Hanny datang melewati teman Aqira, pasti mereka mengejek Hanny.

“Hai calon penjahat..”
“Hai kakak autis..”
“Hai adik pemulung..”
“Hai anak nenek tua..”
Dan lain-lain..

Hanny berjalan ke perpustakaan wajahnya murung dan mendung menandakan tidak bersahabat. “Nak bangun, bel sudah bunyi, nanti lagi tidurnya.” Ternyata, Hanny tertidur hanyut dalam kesenangan di mimpinya. Hanny hanya mengangguk dan segera menuju kelas, ia yang paling terakhir masuk kelas, sehingga dihukum oleh pak guru, “Hanny kamu terlambat sekarang push up 100 kali di luar.” Pak guru yang biasanya baik sekarang jadi galak, ia berteriak menyuruh Hanny ke luar. Semua di kelas tertawa jenaka.

“Aqira.. Hanny, kalian dipanggil Mr. Charlie.” Ucap Farah yang sedang sibuk mengatur kelompok dramanya.
“Ya.” Hanny berkata pelan.
“Oke, thank you my best friend.”
Farah tersenyum manis.

“Hanny, Aqira kalian akan mewakili sekolah untuk pidato bahasa Inggris, karena nilai bahasa Inggris kalian yang paling tinggi di sekolah. Di Hotel Grand Inna besok, maaf jika mendadak. Good Luck.”
“Iya Pak, saya yakin pasti aku bisa menang.” Aqira tersenyum sinis kepada Hanny, ia sangat yakin.
“Insya Allah Pak.” Hanny berkata pelan kepada Mr. Charlie, entahlah tapi mereka berdua memanggil Mr. Charlie dengan sebutan bapak. Aqira berlatih keras semalaman, ia bertekad kuat agar bisa juara 1 mengalahkan Hanny. Ia bersenandung saat mandi malam-malam, berharap bisa menang esok.

“Dan pemenang lomba pidato bahasa Inggris adalah.. Hannyfah Erimaspribadi..” Belum sempat mendengarkan pengumuman selanjutnya, Aqira berlari menuju toilet, ia menangis dengan keras, ia terisak, dan berteriak, “Allah itu tidak adil, Tidak adill .. Aku benci hidup ini, dunia memang tidak adil. Dulu, kata Ibu Allah maha adil tapi malah sebaliknya hiks hiks hiks..”

“Aqira..” Hanny berkata lirih, ia duduk di sebelah Aqira.
“Untuk apa kau di sini hah? Kau membuat duniaku bertambah kejam..”
“Jangan pernah kau bilang Allah itu tidak adil, dengan piala ini kau bilang Allah tidak adil. Huft jika aku mengasih piala ini, apakah kau akan bilang Allah itu adil? Hidupku lebih kejam dari hidupmu..” Mata Hanny berkunang-kunang, mengingat betapa lebih kejamnya dia.

Seketika, Aqira merasa iba. Ia baru menyimak keadaan keluarga Hanny yang kacau. Seharusnya ia bersyukur karena diberikan juara walaupun selalu berangka 2. Akhirnya, keluarga Aqira pun membantu Hanny, dengan memanggilkan pengacara, agar hukuman Kak Devi berkurang, dan banyak lagi. Akhirnya, Aqira dan Hanny menjadi sahabat selamanya. Dan Aqira tidak pernah berpikir bahwa Allah itu tidak adil.

TAMAT

Cerpen Karangan: Tita Larasati Tjoa
Facebook: Tita Larasati

Cerpen Allah Itu Adil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lampion tanggal 4 Februari

Oleh:
“1, 2, 3!” Bang Hanif memberi aba-aba dan kami mulai berlari. Ya, setiap akhir pekan keluarga kami selalu menyempatkan waktu untuk jogging bersama. Kali ini pantai adalah destinasi kami

Rembulan di Kolong Langit

Oleh:
Gadis muda itu menatap dinding penyangga rel kereta antara stasiun Juanda dan stasiun Mangga Besar. Dinding yang bergambarkan anak-anak yang sedang belajar. Sederet kalimat tertulis di atasnya. ‘Dengan membaca

Teruntuk Bapak

Oleh:
Bangunannya hampir roboh, cat yang menempel pada permukaan mulai mengelupas, warnanya pun memudar, daun kering berserakan, tiang penyangga tak sekuat dulu lapuk termakan usia, rumah yang dulu sangat indah

Pesan Yang Kurang

Oleh:
Sepi. Berat. Itulah yang setidaknya ku rasakan saat ini. Semua indraku belum berfungsi dengan baik. Telingaku, tengah berusaha menyempurnakan pendengarannya. Aku menarik nafas kembali. Mataku, masih terpejam dan seluruh

Belajar Sambil Berkebun

Oleh:
Liburan semester sudah tiba, aku berlibur di kampung halaman nenekku. Rencana libur itu sudah saya rencanakan jauh-jauh hari sebelum liburan semester. Aku memutuskan liburan ke sana karena suasana desa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *