Alone

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 4 October 2016

Selama dalam perjalanan, kejadian tadi selalu terulang dalam pikiranku. Entah apa yang aku mimpikan tadi malam sehingga ini harus terjadi padaku.
Perasaan bersalah selalu bernaung dan menghantuiku. Untuk yang kedua kalinya aku membuat orangtuku menangis karena perilaku bodohku.

Entah apa yang terjadi dan siapa yang memulainya. Sudah beberapa bulan aku dan adikku saling tidak menegur. Tidak peduli satu sama lain. Bertengkar. Tapi yang kutahu dia tidak menghargaiku sama sekali. Aku sangat hina di matanya. Ingin sekali aku membunuhnya, tapi hati ini yang tak tega melihatnya. Berkali-kali ia tidak menurut pada apa yang kuperintahkan padanya. Hingga pada akhirnya aku mencapai puncak emosiku. Aku sudah kehabisan kata maaf pada dirinya dan memutuskan untuk tidak menganggapnya sebagai adikku lagi.

Pagi itu, ayah menasehati kami berdua. Ia mengatakan kalau rasa sayang kakak dengan adik itu sama seperti rasa sayang ayah pada anaknya. Begitu juga rasa hormat adik pada kakaknya itu harus sama seperti rasa hormatnya pada ayahnya. Ayah juga menyuruhnya untuk meminta maaf terlebih dahulu padaku dan menjabat tanganku. Tapi aku segera menjauhkan tanganku darinya. Aku merasa kalau aku tidak akan pernah memaafkannya lagi. Lebih baik aku hidup tanpa adik daripada aku punya adik seperti dia.
Ayah melihat itu semua sangat sedih. Dia beranggapan kalau aku tak menghargainya.

“Selama ini aku selalu membangga-banggakanmu. Tapi seperti inikah kau memperlakukanku?” katanya. Bersamaan dengan perkataannya itu, kudengar juga suaranya seperti menangis. Ada rasa penyesalan dalam dirinya melihat perilakuku. Ia merasa gagal dalam mendidik. Merasa tak berguna sebagai ayah.
Tahukah? Hatiku sangat hancur melihat semua kejadian itu. Bagaikan gedung-gedung korban bom Bali, seperti itulah rasanya hati ini. Aku serasa tak mempu menahan diri. Tapi aku berusaha menyembunyikan kesedihan hatiku yang mendalam. Aku malu jika mereka tahu aku menangis. Malu jika anak laki-laki menangis.

Brraaakkk… tiba-tiba motor yang kutunggangi menabrak sebuah truk besar. Dalam sekejap darah langsung bersimbah di aspal bagaikan air yang baru tumpah dari ember. Aku tak merasakan apapun selain kesedihan hati yang tak pernah lepas dari otakku. Lama-kelamaan pandanganku semakin kabur dan akhirnya aku pingsan. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi sampai akhirnya aku tersadar.

Saat aku terjaga, seorang suster yang sedang memeriksaku langsung ke luar. Sepertinya ia akan memanggil dokter. Tak lama kemudian dokter datang. Ia menceritakan semua yang terjadi padaku. ia juga bilang kalau aku ada di ruang ICU. Tentang siapa yang membawaku ke rumah sakit. Ia juga bertanya padaku tentang keluargaku. Tapi, aku tak memberitahukannya. Aku pura-pura tak ingat.

Setelah merasa puas menanyaiku, dokter itu keluar digantikan suster yang ingin memeriksaku lagi.
“Boleh aku pinjam Hp-nya, Suster?” aku agak menggeser posisiku
“Ya, tentu. Silahkan” dia menyodorkan sebuah telepon genggam merk Samsung padaku. Aku menerimanya dan segera menelepon seseorang yang aku kasihi. Seorang yang seakan menjadi semangat hidupku selama ini. Selain aku mengucapkan selamat tinggal padanya, aku juga memintanya untuk tidak memberitahukan identitasku pada siapapun. Dia mengiyakan.

Setelah selesai, aku mengetik sebuah pesan di telepon genggam suster itu. ‘GUNAKAN TUBUHKU UNTUK KEPERLUAN PENGETAHUAN. ADA BUKU DI TASKU’ begitulah isi pesan yang kutulis pada si suster. Setelah membaca pesan itu, si suster langsung ke luar. Saat itulah aku mulai beraksi. Aku mencabut infus dan peralatan lainnya dariku. Tak lama kemudian padanganku mulai meredup. Seiring dengan itu, ada bunyi ‘tiiit… tiiiit… tiiiiiiiiit….’ melepaskanku dari dunia ini. Aku mati tanpa diketahui oleh siapapun dan tanpa bekas apapun.

Cerpen Karangan: Linggom Nababan
Selamat membaca cerpen ini. Semoga anda terhibur.
laman fb saya facebook.com/linggom.nababan.01
dan jangan lupa kunjungi blog sederhana saya linggomnababan.blogspot.com

Cerpen Alone merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku dan Diaryku

Oleh:
Aku dan diaryku sudah berteman semenjak aku duduk di kelas 1 smp. Sukaku, dukaku maupun kekesalanku aku tumpahkan di pena dan ku tulis dalam sebuah buku diary kecil kesayangan

Tempat Terakhir

Oleh:
2 sahabat, Vira dan Arya, selalu berpetualang mencari tempat-tempat yang asik dan indah buat mereka kunjungi, udah banyak tempat yang mereka kunjungi, dari dalam kota maupun luar kota, ini

Rumah Tak Bertuan

Oleh:
Ada yang berbeda kali ini Pak solihun membawa serta anaknya. Menyisir jalan kampung yang sangat sunyi. Ini masih subuh, matahari pasti belum bangun. Jalan remang-remang itu masih menyisakan suara

Bobby Yang Hilang

Oleh:
Nama ku Dinda Ayu pratiwi aku duduk dikelas 4 SD, pada hari minggu mama sangat sibuk jadi akhirnya mama menyuruh ku untuk menjaga adikku yang bernama Bobby. Adikku ini

Kucing Ku Sayang

Oleh:
Namaku Tesa, seminggu yang lalu aku menemukan kucing lucu berbulu putih halus bermata belok dan berkumis panjang. Aku merawatnya dengan baik. Ku beri nama dia Spiki. Dia pun menyukai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Alone”

  1. kariimah says:

    pyshcopat.!! Lebih bagus di gambarkan kisah problem antar adik dan kk nya deh, biar lebih mengundang perhatian pembaca.
    tapi udh bgus kok sedih campur ngeri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *