Always You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 6 April 2018

“Dion!!” panggil ibuku dengan sentakannya, seperti biasa, aku segera datang ke arah suara itu.
“Ada apa ibu?” tanya diriku dengan rasa takut.
“Apa kau yang menggambar ayah dan ibu di kertas ini?!” sentakan ibu semakin keras, seakan ada yang salah dengan gambar penuh harapan di kertas itu.
“Iya, ibu” aku berusaha menahan tangisanku.

Lalu ibu menyobek gambar itu, seakan harapanku sudah dirobek olehnya.
“Kau tau?! selama ini ayahmu sudah pergi! dia sudah meninggalkan kita, kau tak punya harapan! jangan bermimpi!, karena sampai kapanpun, dia tak akan pernah kembali, kau harus mengerti kenyataan!!” ibu meninggalkan aku dengan kertas yang sudah rusak itu.
Tetesan air mata yang sudah tidak bisa kutahan pun mengalir bagai sungai, membuatku menyadari bahwa apa yang kutunggu, yang kunantikan, tidak akan terjadi, detik ini, esok hari dan selamanya.
‘kenyataan’, apapun itu kenyataan yang menyedihkan atau menyenangkan adalah kata-kata yang selalu kuingat.

Umurku terus bertambah, artinya aku sudah melewati hari-hariku, sekarang umurku 20 tahun, aku mengambil jurusan IPA, dimana semuanya berhubungan dengan fakta, realita dan kenyataan.
Aku menikmatinya karena itu sesuai dengan didikanku yang selalu apa adanya dengan yang ada.

“Haah… capek sekali rasanya..” aku duduk di bangku taman yang berhadapan dengan pantai yang indah, aku mengambil sebuah buku dari tas, buku yang berisi ilmu tetap untuk masuk kedokteran.

Saat aku fokus membaca, aku melihat seorang wanita seumuranku, duduk di sebelahku, dia membaca sebuah buku juga, karena penasaran aku bertanya padanya,
“Apa yang sedang kau baca, nona?” tanyaku dengan senyuman
“Buku fiksi yang selalu aku sukai” jawab wanita itu tersenyum manis padaku.
“fiksi? apa itu?” tanyaku karena itu terasa asing bagiku. Wanita itu malah tertawa ke arahku, seakan ada yang salah dengan otakku.
“Fiksi itu hanyalah sebuah cerita, yang berlawanan dengan dunia nyata, isinya adalah tentang harapan dan mimpi”
Saat mengetahui itu, betapa bencinya aku terhadap jawabannya.
“Jika itu hanyalah cerita, mengapa masih diharapkan?” tanyaku.
“karena jika suatu hari harapan itu akan terwujud, di sanalah terjadi kenyataan” Jawab wanita itu.
Aku terdiam, memikirkan kembali yang terjadi waktu itu.
“Tapi kenapa? kenyataan itu tak akan terwujud, kenapa? selama ini harapanku tak pernah datang?!” tanyaku terlanjur emosi.
Wanita itu, tiba-tiba mulai berkaca-kaca

“Kalau begitu, impianku selama ini, adalah sembuh dari penyakit kankerku, sisa hidupku sudah terhitung, bagaikan detik-detik yang semakin berkurang, jika bukan impian sembuhlah yang aku tunggu, apakah aku akan menantikan kematian sebagai kenyataanku?”
Setelah itu..
Aku mengerti..
Aku mulai menyadari sesuatu, perasaanku mulai tercampur aduk, sampai aku juga ikut menangis.

“Maaf, aku tak bermaksud begitu, aku hanya, aku sangat bodoh, maaf, namaku Dion.” aku meminta maaf dan memperkenalkan diri pada wanita itu.
“Tak apa, namaku Nada” ia tersenyum kembali.
“Baiklah Nada aku pulang dulu, terimakasih” aku langsung berlari, pulang ke rumah, dan melihat ibu yang duduk di atas kursi rodanya menghadap ke jendela.

“Ibu..?” panggilku.
Ibu segera menatapku dan ia menangis.
“Ibu ada apa?” tanyaku.
“Tadi ayahmu datang, dia membawakanmu hadiah ulang tahun, dia bilang…
“maafkan ayah, Dion, betapa kejam ayah meninggalkanmu nak, tapi ayah adalah ayah yang gagal, ayah tak pantas menjadi pahlawanmu lagi, ayahlah yang membuat ibu menjadi lumpuh, karena kelalaian dalan membawa mobil, ayah merasa bersalah nak, lalu ayah pergi dengan alasan membelikan hadiah ulang tahunmu, dan tak pernah kembali, terimalah hadiah dari ayah nak, ini hadiah yang ayah janjikan waktu itu.”

Aku membuka kotak yang lusuh itu, terlihat sudah lama, isinya adalah foto-foto keluarga di dalam sebuah album yang dibuat oleh ayah sendiri.
Aku dan ibu pun menangis, dan bersumpah akan mencari ayah, karena kami merindukannya, kami mencari ayah ke mana-mana, dan akhirnya, kami menemukannya, dia adalah seorang penjual di sebuah toko mainan, aku dan ibu akhirnya kembali dengan ayah, impian itu jadi nyata.

Cerpen Karangan: Grace Ezra

Cerpen Always You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Ingin Melakukan Hobiku, Mama

Oleh:
Aku Dina. Aku feminim dan mempunyai hobi berdandan. Aku selalu menonton video di YouTube tentang makeup. Dan aku juga suka browsing di Google tentang hal-hal yang berbau makeup. Aku

Unfair (Part 1)

Oleh:
Entah kenapa Gue butuh keadilan di antara setiap lekuk kebahagiaan dalam hidup yang selalu terasa hampa dan tak pernah teradili. Semuanya terasa tak seimbang. Gue ngerasa jenuh akan semuanya,

Kita Saling Sayang

Oleh:
“Bang difiiiin… keluarin nggak tikusnya!” teriak seorang gadis. Ia sekarang sedang terduduk lemas sembari memeluk kedua kakinya di pojokan kamar. Di dalam tasnya terdapat seekor tikus, salah satu hewan

Sang Proklamator

Oleh:
Memang, dia bukan laki-laki gagah tampan nan rupawan, bukanlah laki-laki berotot besi seperti gajah mada, dia bukanlah sangkuriang yang dapat memindah bendungan air dalam waktu semalam sebelum matahari terbit,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *