Amabel

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 29 April 2016

“Ha-hantuuu.. Ibu rumah itu ada hantunya! Rumah itu ada hantunya!!!” Lelaki kecil berusia sekitar 9 tahun berlari ketakutan ketika melewati rumah megah di ujung gang Redrose tersebut. Ia melihat sosok menyeramkan di balik jendela lantai dua. Sosok itu menatapnya tajam seolah ingin mengincar nyawanya.
“Amabel! Apa yang kau lakukan di sana!” teriak seorang pemuda di depan pintu kamar gadis bernama Amabel itu. Tak ada jawaban dari gadis bersyal ungu tersebut. Ia terlalu asyik mengamati objek di balik jendela kamarnya. Pemuda itu kehilangan kesabarannya lalu menghampiri gadis tersebut dan sreekk.. Ia menarik gorden sehingga jendela tertutup dengan sempurna. Gadis itu mundur beberapa langkah, raut wajahnya menunjukan ketakutan yang luar biasa.

“Sudah ku bilang jangan pernah membuka gorden kamarmu! Kau hanya membuat semua orang ketakutan dengan wajah monstermu!” maki pemuda itu tanpa ampun.
“Leon! Jaga ucapanmu!” seorang wanita tua tiba-tiba muncul di depan pintu. Ia berjalan ke arah Amabel dan langsung memeluknya.
“Nenek, gara-gara Nenek terlalu memanjakan dia, lihatlah apa yang ia perbuat, lihatlah!”
“Leon!” sentaknya kemudian. Matanya begitu tajam menusuk bola mata Leon. “Kau tidak merasakan merasakan perasaan Adikmu sendiri..”
“Nenek yang tidak merasakan perasaanku!” teriak Leon lalu berlari ke luar kamar.

Giselle menarik napas berat. Ia sungguh tidak mengerti dengan sikap cucu laki-lakinya tersebut. “Hiks.. Hiks..” isak tangis Amabel mulai terdengar jelas di keheningan senja. Ia menyembunyikan wajahnya di pundak neneknya.
“Sudahlah. Jangan menangis, sayang. Apa yang Kakakmu ucapkan itu semua tidak benar.” ucap nenek Giselle lembut. “Sekarang, usap air matamu dan tersenyum.” Amabel menuruti perkataan neneknya. Ia mengusap air matanya yang telah membuat pipinya basah lalu tersenyum. Nenek Giselle membalas senyumannya seraya mengecup kening Amabel.

“Berjanjilah kepada Nenek kau tidak akan bersedih lagi.”
“Semoga aku bisa.” balas Amabel.
Nenek Giselle kembali mengecup kening cucu semata wayangnya. Ia sangat menyayanginya meskipun ia tahu cucunya memiliki kekurangan di bagian fisiknya.
“Nenek akan menemui Kakakmu dulu. Kau tidak apa-apa sendiri?”
Amabel tersenyum dan mengangguk. Meskipun berat, namun nenek Giselle harus menemui Leon yang masih dikuasai amarahnya. Sepeninggal neneknya, Amabel berjalan menghampiri meja yang berada di sebelah kanan tempat tidurnya. Ia duduk dan menyalakan lampu yang terletak di meja tersebut. Tangannya yang pendek membuka setiap halaman diarynya. Sampai ia berhenti di sebuah halaman kosong. Ia mengambil pena yang tersimpan di kotak pensil sebelah diarynya. Dengan kemampuan menulis yang terbatas, ia menceritakan segala keluh kesahnya kepada kertas putih yang selalu setia menerima setia goresan pena Amabel. Walau terkadang ia terluka saking kerasnya goresan pena tersebut.

“Leon, ternyata kau di sini.” nenek Giselle berjalan menghampiri Leon yang duduk dengan tenang di kursi taman sembari menikmati taman bunga yang disuguhkan di depannya. Ia memandang sekilas ke arah wanita tua yang sekarang duduk di sampingnya, lalu kembali fokus ke depan.
“Ada perlu apa Nenek ke sini?”
“Nenek hanya ingin menemuimu.”
“Untuk apa menemuiku? Bukannya dia lebih penting dariku.” sinisnya.

“Kalian berdua sangat penting bagi Nenek.” ungkap nenek Giselle tenang. “Nenek tidak mempunyai siapa pun selain kalian berdua.” Leon terdiam. Ia begitu tersentuh oleh perkataan neneknya. Perasaan berserah seketika merayapi sanubarinya namun ia segera mengelak.
“Jika saja monster itu tidak ada, maka Ayah dan Ibu pasti masih ada di sini bersama kita.”
“Jangan bicara begitu. Amabel tidak bersalah.”

“Jelas sekali ia bersalah, Nek!” teriaknya kesal. “Gara-gara dia, Ibu meninggal saat dirinya tiba di dunia! Gara-gara dia, Ayah harus menyusul Ibu ketika dalam perjalanan mencari pengobatan! Gara-gara dia, aku selalu dipermalukan, diremehkan, dan dihina teman-temanku! Dia.. Monster itu.. Telah merusak seluruh hidupku!!!”
“Tenangkan dirimu Leon. Amabel juga tidak menginginkan semua ini terjadi.” Nenek Giselle mengusap pundak Leon yang mulai kalap. Leon menutup matanya. Setetes cairan bening jatuh dari sudut matanya. Ia benar-benar lelah. Sangat lelah.

Hitam pekat menelan keindahan langit jingga di atas sana. Seperti halnya penyakitku yang telah merenggut kehidupanku dan orang di sekitarku. Sejak pertama aku dilahirkan ke bumi, belum pernah aku melihat diriku sendiri. Tapi, aku tahu seperti apa diriku. Persis monster dan hantu! Itulah yang kakakku katakan. Ia bilang diriku tidak normal. Bentuk kepalaku kecil dengan bagian anteroposterior kepala mendatar. Di bagian wajahku, tampak sela hidungku yang datar, mulut mengecil, serta lidah yang menonjol keluar. Menggelikan! Aku begitu persis dengan orang mongoloid! Huuft.. Tanganku juga pendek dengan jarak ruas jari pertama pada tangan dan kaki yang melebar. Lapisan kulitku tampak keriput, tinggi badanku pun pendek. Terkadang, aku sering lupa dengan yang baru saja aku lakukan. Arghhh.. Menyebalkan! Sebenarnya penyakit apa ini?!

Amabel terdiam membisu. Tangannya masih memegang pena yang ia gunakan tadi. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Ahh, aku lupa memberi air untuk mawar putih!” gumamnya dan lekas pergi ke luar dari kamar. Ia berjalan mengendap-endap takut ketahuan oleh kakaknya yang garang. Saat ini kakaknya berumur 19 tahun dan tengah berkuliah di salah satu Universitas di kotanya. Sementara dirinya, empat tahun lebih muda dari usia kakaknya. Namun, entah kenapa kakaknya masih belum bisa menerima keadaan dirinya yang serba terbatas. Padahal ia sangat mendambakan kasih sayang dari seorang kakak. Amabel telah tiba di taman bunga halaman depan. Ia menghampiri kumpulan mawar putih dan berjongkok di depannya. Kedua tangannya memeluk erat tempat air yang mirip dengan sebuah teko.

“Kawanku, maafkan aku. Aku terlambat menemuimu.” ucapnya sedih. “Untuk membalas kesalahanku, aku membawa air yang sangat banyak untuk kalian semua. Aku harap kalian memaafkanku.” Amabel segera menyirami kumpulan mawar putih tersebut. Di tengah keasyikannya menyirami para mawar, seseorang berteriak dari arah belakang.
“Hei kau!!!” Amabel terlonjak kaget. Ia berusaha lari namun naas, kakinya tersandung batu sehingga membuat tubuhnya terjatuh.
“Ternyata itu kau, gadis monster..” seringai Leon. Dengan sekali hentakan ia menyeret Amabel memasuki rumah lalu memaksanya masuk ke dalam kamarnya dan ia menguncinya dari luar.

“Mulai sekarang aku tidak akan mengampunimu lagi! Diamlah di sana sampai kau membusuk!” teriak Leon dengan amarah yang meluap-luap.
“Leon, ada apa ini?” nenek Giselle terlihat bingung ketika menghampiri Leon yang telah memecah keheningan malam di depan pintu kamar Amabel. Bukannya menjawab, ia pergi begitu saja dengan napas yang menderu-deru. “Sebenarnya apa yang terjadi?” gumam nenek Giselle.

Sudah lima hari Amabel dikurung di kamarnya oleh Leon. Setiap hari yang ia lakukan hanya menangis dan melamun di pojok ruangan kamarnya. Matanya sembab oleh air mata serta lingkaran hitam di sekelilingnya. Mulutnya menganga dengan air liur yang berjatuhan. Rambutnya kusut dan ia sudah tak seperti Amabel yang dahulu. Ia terlihat mengerikan dengan tubuh kurus serta pucat seperti itu. Ckleek.. Pintu kamarnya dibuka seseorang.

“Astaga, cucuku!” pekik nenek Giselle yang langsung berlari tergopoh-gopoh dengan nampan di tangannya.
“Apa yang terjadi denganmu, Nak? Maafkan Nenek tidak bisa menjagamu.” Hening. Tak ada sahutan dari Amabel.
“Amabel kamu pasti lapar kan, Nak?” lirih nenek Giselle.
“Siapa kau?” tanya Amabel dengan suara parau.
“Ini Nenek, Nak..”

“Aku tidak punya siapa-siapa di sini! Aku tidak punya siapa-siapa!” Amabel kembali menangis. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri. Nenek Giselle segera menarik Amabel ke dalam pelukannya. Ia sungguh tidak tega melihat keadaan cucunya sendiri.
“Nenek! Sudah cukup di sananya!” sentak Leon yang muncul di depan pintu dengan tatapan penuh kebencian.
“Nenek tinggalkan makananmu di sini. Makanlah selagi hangat.” bisik nenek Giselle sebelum ia angkat kaki dari kamar Amabel. Pintu kembali terkunci. Amabel menatap makanannya. Sebenarnya ia sangat lapar, namun ia tak bernafsu memakannya.

“Nek, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”

Samar-samar telinga Amabel menangkap suara kakaknya yang berasal dari taman depan. Dengan sekuat tenaga ia bangkit dan berjalan tertatih menuju jendela kamarnya yang langsung menghadap ke sana. Kebetulan suasana pagi ini begitu sepi, sehingga Amabel dapat menguping pembicaraan antara kakaknya dengan neneknya tanpa kendala di balik jendela kamarnya.

“Ada apa, Nak?”
“Besok adalah hari ulang tahunku. Aku ingin merayakannya di taman ini. Apa boleh?”
“Tentu saja boleh, sayang.”
“Tapi..”
“Kenapa, Leon?”
“Lihatlah mawar putih itu, Nek. Ia tak secantik dulu lagi. Padahal rencananya aku ingin menjadikan mawar putih tersebut sebagai bagian dari dekorasi pestaku.”
“Jadi, Kakak menyukai mawar putih.” gumam Amabel dalam hati.

Malam telah tiba. Sang Dewi malam ke luar dari peraduannya membawa segenap para pengawalnya. Hewan malam menyanyikan sebuah lagu untuk menyambut dirinya yang bersinar dengan kesuciannya. Malam yang indah. Amabel berdiri mematung di balik jendela kamarnya. Gorden telah ia singkapkan tanpa peduli kakaknya akan naik pitam kembali. Matanya menatap kosong ke depan.

“Ini saatnya aku membalas perbuatan baik Kakak,” lirihnya.
Amabel menutup kedua matanya. Serempak angin malam menerbangkan dedaunan yang berada di tamannya.
“Tuhan.. Aku akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan Kakakku.”
Duaarrr.. Suara petir yang tiba-tiba membuat Leon kembali membuka kelopak matanya lalu menutup kembali.

Mentari pagi mengintip di sela-sela gorden kamar Leon. Ia berusaha membangunkan Leon yang masih terbuai dalam kenikmatan bunga tidur. Perlahan, Leon membuka kelopak matanya dan bangkit dari tidurnya. “Sudah pagi.. Astaga! Aku harus segera mempersiapkan pestaku!” Leon berlari menuju taman depan. Betapa kagetnya ia melihat sekumpulan mawar putih tumbuh rimbun dengan bunga yang bersinar menampakkan kesuciannya.

“Nenek.. Nenek.. Nenek..” teriak Leon tiba-tiba.
“Ada apa, Nak? Kenapa kau berteriak-teriak!” Nenek Giselle berlari tergopoh-gopoh menghampiri Leon.
“Lihatlah mawar putih ini Nek. Indah sekali, bukan?” riangnya.
Nenek Giselle tersenyum simpul. “Tunggu apalagi, cepat persiapkan pestamu.”
“Tapi, kenapa mawar ini bisa tumbuh? Bukannya kemarin ia layu dan kering?” Tanyanya dalam hati.
“Leon?”
“Baik, Nek.” Leon bergegas membuat dekorasi pesta ulang tahunnya. Sejenak semua orang begitu sibuk sehingga melupakan Amabel yang terbaring sekarat di lantai kamarnya.

Akhirnya, pesta berjalan sangat lancar sampai pukul dua malam. Leon sangat bahagia dan baru kali ini nenek Giselle melihat kembali kebahagiaan terpancar di dalam dirinya setelah sekian lama terkubur dimakan zaman. Tiba-tiba ia teringat Amabel. Seketika raut wajahnya berubah cemas. Ia segera berlari menuju lantai dua rumahnya di mana kamar Amabel berada. Tanpa sepengetahuannya, Leon mengikutinya dari belakang karena ia penasaran apa yang akan dilakukan oleh neneknya tersebut. Nenek Giselle membuka pintu kamar Amabel dengan kunci duplikat yang ia punya. Gelap. Suasana pertama yang ia temui. Ia menyalakan lampu kamar dan betapa kagetnya ia melihat Amabel terbaring lemah di lantai.

“Amabel..” Pekik nenek Giselle yang langsung menyerbu Amabel lalu memeriksa pergelangan tangannya. Dingin. Tangan Amabel sangat dingin dan Astaga!!! Denyut nadinya. Denyut nadinya berhenti. “Amabel jangan tinggalkan Nenek, sayang. Jangan tinggalkan Nenek..” Nenek Giselle menangis tersedu-sedu sambil memeluk cucu perempuannya tersebut. Leon diam mematung di depan pintu. Menyaksikan neneknya yang menangis tersedu-sedu. Ia tak mampu bergerak dan berkata-kata. Sejurus ia melihat selembar kertas terbengkalai di pinggir mayat Amabel. Kakinya tiba-tiba melangkah lalu tangannya memungut kertas tersebut.

“Untuk Kakakku tersayang. Detik-detik menuju kebahagiaan Kakak kini telah di depan mata. Semua orang begitu antusias untuk memberikan sebuah kenangan yang berharga. Namun, apa yang dapat dilakukan oleh gadis monster ini? Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan. Cuma itu! Kakak benar. Tak ada yang patut diistimewakan dalam diriku. Selamat ulang tahun, Kak Leon.”

“Amabel. Amabel. Jadi selama ini dia..”
“Amabel..” tangis Leon pecah seketika. Ia memeluk Amabel yang berada di pelukan neneknya. Kini ia sadar, Amabel telah berkorban untuk dirinya. Ia merasa menyesal. Sangat menyesal.

Satu tahun kemudian. Leon mendirikan sebuah yayasan untuk para penyandang Down Syndrome seperti adiknya. Ia melakukannya dengan sukarela. Ia tak ingin mengecewakan adiknya di sana untuk yang kedua kalinya. Ia benar-benar menyesal.

Cerpen Karangan: Yi Yufisa
Yi Yufisa merupakan nama pena dari Yuliawanti Dewi. Nama akun Facebook saya adalah Yuliawanti Dewi. Terima kasih.

Cerpen Amabel merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Worth it

Oleh:
Pagi ini mentari seperti muncul lebih awal dari biasanya, sinarnya yang menyilaukan mata membuat bumi harus memulai pekerjaannya dengan aktivitas manusia dan peradabannya. Tapi disamping itu, dari ribuan manusia

Ibu, Aku Mencintaimu

Oleh:
“Kaulah ibuku cinta kasihku, terima kasihku takkan pernah terhenti, kau bagai matahari yang selalu bersinar, sinari hidupku dengan kehangatanmu.” Aku tak sanggup lagi bersuara, lagu yang berjudul ‘Ibu’ benar-benar

Detak Jantung Aisha

Oleh:
“Aisha, kamu yang kuat yaa,” kata ibu mengkhawatirkanku. Aku tak mampu bercakap apa-apa untuk membalas ucapannya. Jantung ini terasa sangat berdebar-debar seperti ingin keluar dari tempatnya. Aku tak tahu

Rintihan Hatiku

Oleh:
Jangan tanya siapa aku. Itu tidak penting. Kalian tak perlu tahu namaku, seperti apa rupaku, alamat rumahku, dimana aku sekolah. Cukup kalian dengarkan ini saja. Ini tentang apa yang

Di Mana Kau?

Oleh:
Ketika itu aku masih SMA kelas 1, layaknya anak remaja yang mulai beranjak dewasa aku mulai jatuh cinta dengan lawan jenis ku, semuanya berjalan lancar seperti air mengalir kisah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *