Ambilkan Sisir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 3 May 2018

Lembayung senja memeluk batin-batin berkemilauan sendu. Cahaya terang memang, namun sejenak kabut gulana membekap ruang mega, redup kehidupan yang ada. Senyum riang tenggelam pada ufuk barat yang meninggalkan makna buta. Kicau burung didengarkan telinga yang kian menuli. Kini, bertengger rindu pada temali kenangan yang menggelantung manja di setiap petikan gitar kenangan. Penyesalan membulirkan peluh di pipi, menaburi racun di denyut nadi. Terakhir, jika menoleh ke belakang maka lampau tak akan lagi memaknai masa lalu. Ia pasrah pada komentar waktu yang akan mengabadikan.

“Kenapa harus aku? Kenapa harus langkahku yang menderita? Bukankah aku adalah pemuda yang selalu ingin memberikan manfaat kepada orang banyak? Mengapa Tuhan menghukumku?” Ia berteriak. Meremas selimut rumah sakit. Airmata berceceran di pipi. Wajah pucatnya bertambah menyedihkan, saat ratapannya mengamuk dinding-dinding sewarna awan. Detak jarum jam yang terpasang menggerung iba. Kadang hendak melambat, juga lebih sering ingin berlari menjauh dari ruangan yang plafonnya mewah. Meski status VIP, dengan embusan AC menyejukkan. Tetap saja jika mampu, waktu ingin mengubur detiknya pada denting pilu. Ia tak sanggup menatap kursi yang selalu diduduki makhluk-makhluk pengeluar airmata. Kesedihan yang memantul di bingkai jendela itu serupa kabut yang selalu diharapkannya lenyap.

“Kau tidak pernah mendengarkan apa yang aku katakan, Nak! Ibu selalu menasehatimu agar berhati-hati! Namun kau selalu berlalu begitu saja, mengejar waktu yang seharusnya tak perlu dikejar. Sekarang kau harus menerima sesuatu yang sudah menjadi keputusan Tuhan di waktu mendatang!”

Rina, tergugu memalingkan wajah pada selembar bingkai jendela. Tiang infus bergoyang sedikit tertarik karena tangannya kini memeluk lutut. Rambut terurai maju. Ia tak mampu membayangkan rupa wajahnya yang dijahit. Kening dan pipi ditempeli perban. Lehernya sedikit kaku digerakkan, namun ia memaksa diri terlungkup di atas tumpuan lutut. Ada bayangan yang berkelebat. Nuansa rasa di jiwanya sedang menggugurkan puing-puing penyesalan. Ruh yang dulu selalu bahagia dengan tarian impian, mendadak terkulai lemas di ranjang kesengsaraan. Ia hendak bangkit. Lupa cara berdiri. Tersenyum pun rasanya sudah tak sanggup. Ngilu dan kelu. Hari ini seharusnya ia berdiri di hadapan publik. Diskusi bersama rekan seperjuangan di bangku universitas. Kacau, jarum infus tak mengizinkannya hambur di pusar keramaian.

“Ah, wajahku, tanganku, tubuhku, rasanya sakit semua,” keluhnya untuk kesekian kalinya beriringan dengan buliran yang bermuara di dagu.
“Istirahatlah, Ibu akan menunggu di luar.” Ia tak menoleh menatap Ibunya. Ia tahu bahwa wanita yang telah melahirkannya sangat kecewa dengan dirinya. Bibir mulia yang selalu menasehatinya tak pernah digagas. Setiap saat ia membiarkan suaranya serak di meja makan lantas memandang layu di ambang pintu. Berdiri dengan wajah kusut masai. Rambut berubannya dilambaikan angin. Sosok renta itu tak terluka, ia hanya mengandung khawatir terdalam. Usia rentanya mencemaskan masa depan ruh yang pernah dilahirkan dari dalam rahimnya.
“Hati-hati!”
“Kamu itu terbiasa melakukan hal yang kurang baik, Nak!” Kalimat itu terngiang. Cermin masalalu memantul di hadapannya. Ada lembaran lampau yang terpampang di hadapan wajahnya. Ia mengenang lalu yang seharusnya tak diharapkan terkenang. Menggigit bibir bawahnya getir.

“Rambutmu itu indah, sayang. Namun kau tidak bisa merawatnya!”
“Ibu ini bicara apa sih?”
“Berikan sisirnya pada Ibu!” Ia membalik tubuhnya menghadap Ibu. Memunggungi cermin yang memotret dua wajah jelita wanita. Ruangan temaram, kabut menyusup lancang dari jendela yang menganga. Lampu telah dimatikan. Seprai dan selimut tertata rapi. Bantal ditinggalkan sendirian berkawan gigil pagi. Meja belajar ditumpuki buku yang berserakan. Almari pakaian memandang lesu, tak bergairah melepas keberangkatan majikan untuk kuliah, sebab ada handuk lembab yang digantungkan sembarang. “Sisirlah rambutmu dengan tenang,” Ibu menyisirkan rambut nya. Membantu menguraikan dengan jemari keriputnya. “Biarlah ia tergerai sebelum kau ikat, Nak!”
“Ibu, aku sudah tidak punya banyak waktu, aku takut terlambat, dosen sudah menungguku di kampus!” Bantahnya.
“Selalu saja seperti itu! Alasan yang kurang rasional. Kau terburu-buru, sama seperti tanganmu menyisir rambut. Banyak yang rontok bukan? Lihatlah!” Ibu menunjuk lantai kamar Rina. Beberapa helai rambut terkulai. Satu menyelip dijemari Ibu. Lantas jatuh. “Ibu sering menyapu rambut-rambut rontokmu!”
“Apa hubungannya dengan perbuatanku sehari-hari, Ibu? Lagipula wajar kan jika rambut kita rontok satu sampai lima atau sepuluh,”
“Rina! Kamu itu keras kepala sekali! Apa yang kamu lakukan itu menggambarkan kebiasaanmu sehari-hari!”
“Aku berangkat kuliah dulu,” ia memotong kalimat ibu yang masih belum terselesaikan.
“Sarapan!”
Buru-buru ia mengecup tangan Ibu. Menuruni anak tangga dengan gesit. Melambaikan tangan. “Di kantin kampus banyak makanan!” Ia melupakan keringat Ibu bangun sebelum fajar melenyapkan embun. Ia abai dengan perhatian yang diberikan setiap detik. Maka hanya waktu yang memotret keadaan ruang makan. Meja tanpa tuan. Sendok dan garpu yang bersih mengharap berciuman dengan lidah. Sayur sop dengan lauknya terlihat menelan sunyi yang menyakitkan. Ibu mengejar langkahnya sampai ambang pintu. Gas sepeda motor meraung. Ia menatap ransel putrinya bergoyang-goyang mengatur keseimbangan.
“Rina, cobalah dengarkan perkataan Ibu. Buru-buru itu perbuatan yang tidak baik, Ibu menerangkan dengan analogi rambutmu. Coba sekarang kau sisir perlahan rambut-rambutmu!” Ungkap Ibu pada hari selanjutnya. Begitulah Ibu yang setia. Ia membangunkan lelap. Menyiapkan sarapan lezat. Usainya, menunggu putri merapikan diri.

Seperti biasa Rina sedang mematut di depan cermin. Menyisir helai-helai rambutnya kasar. Meja belajar kini rapi. Ranjang tidur berserakan kacau. Selimutnya belum terlipat, guling bahkan terpelanting di atas lantai. Pagi tadi, ia terkejut mendengar lolongan alarm, langsung bangkit melempar guling tak bersalah, lompat ke kamar mandi.
“Jika kamu hati-hati dan sabar, tentu rambutmu tidak akan rontok sebanyak itu!” Ibu mengurai penjelasan. Bibirnya tersenyum. Jemarinya sedang melipat selimut. Menjadi pahlawan mengembalikan guling ke ranjang. Rina mengikat rambut.
“Hmmm, Ibu, Rina bukannya terburu-buru, Rina hanya ingin berangkat tepat waktu! Sekarang sudah jam tujuh lebih, Rina kuliahnya jam delapan.” Kalimatnya terurai manja.
“Ibu sudah membangunkanmu lebih awal namun kau tidak bangun!”
“Ibu, Rina lelah!”
“Kenapa kau tidak pulang awal untuk istirahat? Selalu saja pulang sore setiap hari,”
Rina mendengus. Ia menghampiri Ibu, meraih tangan keriputnya. Selimut tergeletak begitu saja, Ibu sempat terkesiap, buru-buru ia mengatur napas. “RINA! Selalu saja,”
“Aku berangkat, Bu!” Lari menuruni anak tangga. Lompat dua tangga. Rambutnya yang diikat melambai-lambai. Ransel menggelantung membentur pantat. Ibu menatap gerak tubuhnya dari ambang pintu kamar. Rina berjalan dengan memoles layar ponsel. “Nanti sore aku ingin jalan-jalan dengan teman kampus dulu!”
“Rina, sar…”
“Aku sudah tidak punya banyak waktu untuk sarapan, Ibu!” Gadis dengan wajah manis itu menoleh. Ia tak memperhatikan anak tangga yang diloncatinya. Terjungkal. Ponselnya terjerembab, bergemeletak, di lantai bawah batrainya lepas.
“RINA!” Ibu tersentak. Ia menuruni tangga. “Hati-hati, kau tidak pernah mendengarkan kata-kata Ibu!” Wajahnya pias. Ia khawatir jika tangga mencelakakan putri semata wayangnya.
Rina menselonjorkan kakinya, ia mengurut sejenak. “Sakit,” meringis.
“Ayo bangun, biar ibu pijitin.”

Ia bangkit, memungut ponselnya. Memasang batrainya kembali, berusaha menghidupkan, terpincang-pincang melangkah keluar. “Rina tidak papa, Ibu. Rina berangkat ke kampus dulu!” Berlalu dengan langkah yang tak seimbang. Ibu pasrah, menggeleng layu. Menatapnya di ambang pintu. “Jangan khawatir, Bu!” Yang membalas tatapannya hanyalah sepoi angin pagi, membelai pipi keriputnya. Embun yang bersandar di kelopak-kelopak mawar mengeryit kecewa dengan sikap Rina. Pot-pot tanaman hias mersakan perih kekhawatiran di dada Ibu. Namun ia tak mampu bertindak apa-apa.
“Hati-hati mengendarai sepeda motornya, jangan terburu-buru!”
Ibu selalu menasehati, ia trauma dengan kata kehilangan. Tujuh tahun mundur ruh suami tercinta lenyap. Kembali pada pangkuan alam dengan lelap. Terkubur dalam fana gelap. Tanah menelannya di pembaringan. Bunga kemboja meratap di atas pusar. Ia hendak menyalahkan takdir, namun sembilu tak berkutik. Andaikan saja beratus-ratus hari yang lalu suaminya tidak terburu-buru berangkat ke kantor. Jelas, ia tak akan lupa menerabas lampu merah. Mobil yang dikendarai menabrak bus kota. Oleng. Kepala berlumuran darah. Dilarikan ke rumah sakit. Koma satu minggu. Sadar satu hari dengan meninggalkan pesan.
“Jangan pernah terburu-buru.” Lantas pamit pulang ke sandaran Tuhan. Ia menjerit tragis. Melolong dengan tangis yang mengiris. Berusaha mengubur kenangan bercumbu di bawah gerimis. Mengusir kejadian-kejadian romantis. Menjaga lelap, mengecup kening. Mengejutkan dengan sekuntum mawar kado ulang tahun. Menghanyutkan kenangan bangun malam membuang permasalahan dengan sujud. Meninggalkan tawa garpu di meja makan. Menerbangkan gelisah di penungguan waktu pulang. Menjadikan memori indah saat suami memeluk dari belakang, membisikkan kata rindu manja. ‘Aku merindukanmu, Sayang. Seminggu ini aku sibuk di luar kota, maafkan aku, Sayang! Semua ini aku lakukan untuk kebahagiaanmu dan kebahagiaan Rina,’ kalimat itu terdengar sahdu. Membuat jantung bergetar-getar. Sukses menciptakan pelangi di bibirnya yang baru saja dipoles lipstik tipis.

Ibu menyeka airmata di pipi. Ia hapus rindu yang sudah meninggalkan makna. Berharap Rina baik-baik saja. Ponsel gengam di sakunya berdering. RINA memanggil. Pelan ia mengangkat. Suara kemerosek. Lantas riuh. Kendaraan berdengung berantakan.

‘Halo!’ Bukan Rina! Bukan suara lembut putrinya. Lain. Orang lain lancang memegang ponselnya. Jantungnya seperti disambar petir. Bibirnya menjawab gemetar. Baru saja purtinya jatuh dari tangga. Apalagi sekarang?
“Iya, ini siapa?”
‘Benarkah ini dengan Ibu pemilik ponsel seorang perempuan?’
“Ya. Rina! Rina anak saya!”
‘Putri Anda kecelakaan, dia ngebut di jalan menabrak pembatas jalan, saya langsung memanggil ambulan dan menghubungi nomor Anda, kebetulan di kontak hape ada kata Ibu,’
Airmata luruh. Ponsel bergemeletak. Ia memandang kosong. Nyaris limbung kehilangan keseimbangan. Jantung laksana diremas malaikat maut. Berharap apa yang didengar hanyalah mimpi buruk. Secepatnya mengambil ponselnya kembali.
‘Ibu, halo, halo! HALO!’
“Ya halo,” suaranya lirih.
“Anak Ibu dilarikan ke rumah sakit Lestari, segera datang!”
Nyata! Sunguh nyata.

Ia memandang jendela hampa. Kabut mengendap di luar. Senja bersembunyi. Mega malu-malu menampakkan diri. Barat dibalut dengan awan hitam. Hujan turun. Rina terisak. Bahunya berguncang. Ia menyesal tidak mendengarkan nasihat Ibu. Kini, tubuhnya rusak. Sakit sekujur badan. Jiwanya lunak dengan kecelakaan yang dialami. Ia tidak tega melihat Ibu terus mengalirkan peluh. Ia tahu Ibu keluar dari ruang bukan untuk membiarkannya beristirahat, namun menangis tersedu-sedu mengingat kecelakaan Ayah tujuh tahun lalu. Kejadian yang menimpanya membuka kenangan pahit yang selalu dikubur Ibu setiap malam.

“Ibu!” Ia menjerit.
“IBU!” Kepalanya mendongak. Ia tahu, Ibu mendengar namun tidak menjawab. Ibu sedang menangis di balik pintu. Sedih melihat keadaan putrinya. Sakit mengingat kejadian waktu mundur. Semuanya seperti kembali mengerikan.
“IBU! Masuk! Jika tidak aku akan melepas jarum infus dan turun ranjang! Aku tahu kau sedang menangis di luar!”
Hening. Hujan berjatuhan. Langit menangis.
“IBU! Masuk, aku ingin kau masuk!”
Tetap tak ada jawaban. Ibu terisak mengalahkan rintikan hujan. Bingkai jendela rumah sakit mengandung embun. Dingin masuk melalui celahnya. Tirai dihempas angin, melambai masuk. “Ibu!”
Wanita itu semakin tergugu. Raut wajahnya amat mendung. Airmata tak mampu terbendung!
“Ibu! AMBILKAN AKU SISIR! Ajari aku menyisir rambut dengan hati-hati!” Waktu kalap. Detik pun ikut menangis. “Aku tidak ingin kau bersedih!” Ibu terharu.

Ibu masuk. Langkah buru-buru. Meraih kepalanya perlahan. Memeluk, mendekatkan pada dadanya. Hangat pelukan Ibu. Airmatanya jatuh di atas ubun Rina. “Maafkan aku Ibu, aku menyayangimu.”
“Iya, Sayang. Lain kali hati-hati jangan membuat Ibu takut!”
“Ajari aku menyisir rambutku, Bu!”
Ibu mengangguk. Senja sempurna tertutup kabut hitam. Malam menggeser persinggahan alam.

Cerpen Karangan: Darah Mimpi
Blog: darahmimpi.com

Cerpen Ambilkan Sisir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Terakhir Untuk Bunda

Oleh:
Jam weker usangku masih menunjukkan pukul tiga pagi. Namun seperti biasa aku terbangun untuk salat tahajud. Aku segera bangkit dari tempat tidur untuk mengambil air wudu. Seusai salat aku

Amabel

Oleh:
“Ha-hantuuu.. Ibu rumah itu ada hantunya! Rumah itu ada hantunya!!!” Lelaki kecil berusia sekitar 9 tahun berlari ketakutan ketika melewati rumah megah di ujung gang Redrose tersebut. Ia melihat

You’re The Only Pride Sister!

Oleh:
“Putriii!!” suara mama memanggil. “Ya ma sebentar”. Putri segera turun ke bawah untuk menemui mama, papa, serta kakaknya di meja makan. “Hari ini apa menunya Ma?” ujar Kakaknya Gigih.

Harus Ku Akhiri

Oleh:
Aku belajar arti sebuah kesetiaan dari pengkhianatanmu. Aku belajar arti kejujuran dari kebohonganmu. Aku belajar arti kasih sayang tulus dari fatamorgana cintamu. Aku belajar arti sebuah senyum dari luka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *