Ambisi Berakhir Lari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 February 2018

Berantakan. Semua yang ada di depanku berantakan. Diri ini tak kuasa lagi menguak kesendirian yang memilukan. Cukup! Aku tak bisa menerima kenyataan ini. Semuanya terasa mimpi. Delusi yang nyata. Aku tahu bahwa aku sudah meraih segalanya, membuktikan kepada semuanya bahwa ya … Inilah aku. Aku bisa.

Namun semuanya terlanjur terjadi. Semuanya yang kubangun runtuh, runtuh tak berdaya.

Kedua mata ini masih menatap foto itu. Foto yang terpampang nyata dan masih setia berada di peganganku. Foto yang mengguratkan senyum miris di rupaku. Foto yang mempertanyakan kelayakanku di matanya. Foto yang membuatku seharusnya terbuka pada keadaan nyata.

Formulir berlambangkan logo sekolahku ini masih terkulai lemah di mejanya. Data diri, pertanyaan politik dan tanda tanganku sudah tertera jelas di sana. Jam tidurku menjadi mundur karena berharap-harap akan ditulisnya tanda tangan itu. Ah, kenapa persetujuan harus dengan tanda tangan? Kenapa harus seperti itu? Inilah akibatnya. Aku harus menunggu penuh penantian akan kehadirannya.

Jam menunjukkan angka sembilan ketika bunyi klakson itu akhirnya berbunyi. Seperti biasa, kakiku tergerakkan untuk mengambil kunci dan mendorong pagar ini. Sambil menghembuskan napas lega, aku pun membantunya membawakan barang bawaan dan menunggu waktu yang tepat untuk berbicara. Mungkin lebih tepatnya memohon.

Teh hangat dengan asap mengepul sudah bersedia untuk diminumnya seperti biasa. Ia pun duduk, menyeruput teh, dan mengistirahatkan raganya. Ini waktu yang tepat, batinku.

“Ma,” ungkap suara pelanku.
Tunggu, kenapa aku menjadi gugup? Kenapa aku menjadi takut jika ia tidak setuju. Kenapa jiwaku menciut setelah memanggilnya. Kenapa separuh hatiku yakin bahwa aku tidak disetujuinya?

“Gimana, Mbak? Mau ngasih tahu nilai, ya? Pasti nilainya bagus.” Ujarnya antusias.
Ya, sudah kuduga itulah yang dipikirkannya. Itulah yang diucapkannya kepadaku pertama kali. Tepat sekali, sepertinya perkiraanku akan terwujud.

“Mmm… Bukan, Ma. Bukan soal itu. Aku … Aku mau daftar pengurus organisasi sekolah, Ma. Boleh, kan?” Tanyaku dengan halus dan dengan penuh doa di dalam hati.

Ekspresi antusias itu langsung menghilang tergantikan oleh kaget dan tidak percaya. Aku tau ini akan terjadi. Ia masih mengingat seorang sosok yang aktif memberi manfaat kepada orang lain lewat organisasinya. Ia kenal dekat selama hidupnya. Ia selalu berada di sampingnya. Ia selalu mendekap dan menguatkan perjuangannya. Ia selalu menuntunnya dalam kesabaran dan keikhlasan. Tapi sayang, itu yang membuat alasannya kuat untuk menolakku melanjutkan perjuangannya.

“Apa tujuanmu ikut itu? Mau kenal banyak orang? Mau diperhatikan banyak orang? Mau dekat sama semua orang agar lupa sama keluarganya? Iya?”
Sungguh, bukan itu yang kupikirkan semenjak tangan ini tulus mengambil dan mengisi formulir itu. Bukan itu yang tersirat di pikiran hingga saat ini. Bukan itu.

“Aku… Aku sudah memantapkan diri untuk meneruskan perjuangan Bapak, Ma.” Tuturku lembut.
Air mataku menjadi pertanda enggannya persetujuan itu datang menghampiriku.

Pikiranku tak karuan. Negara ini sangat membutuhkan tangan terbuka tuk merangkulnya hingga nanti malam. Sayang, Ia bilang bahwa akan sampai di rumah pukul enam dan aku tidak boleh terlambat sampai rumah. Semuanya akan berantakan jika ia tahu apa yang kulakukan selama ini, selama satu tahun.

“Kamu serius mau pulang duluan? Setengah jam lagi ada tamu yang datang untuk menilai dan kita belum selesai melaksanakan tugasnya. Kamu mau lepas tanggung jawab?” Seru temanku yang menghentikan niat kemas-kemas ini. Ah, pikiranku tak karuan! Aku harus memilih yang mana?
“Mama sudah nunggu. Aku tidak bisa melakukan apa-apa.” Jawabku singkat sambil meraih tas dan melaju pergi meninggalkannya.
Mama, aku tidak mau ketahuan.

Motorku mengeluarkan suara sesaknya ketika aku mengeremnya mendadak. Ya, aku tergesa-gesa di perjalanan. Aku tau, aku akan terlambat sampai rumah. Tuhan pun berpihak padanya. Ia sudah datang.

“Ngapain kamu baru pulang jam segini? Bukannya sekolah udah selesai dari jam 2?” tegurnya mengagetkanku.
“Emm … Ada acara sekolah, Ma. Ada tamu yang menilai sekolah.” jawabku penuh kegugupan. Kilat di matanya menohok tajam perasaanku. Aku pun sadar bahwa aku sudah membohonginya selama ini. Dia benar. Dia selalu benar di mata semua orang.
Setelah mendengar itu, ia pun menuju ke mejanya. Ia meraih kertas dan menulis di atasnya dengan cepat seperti orang kerasukan. Aku tak paham apa yang akan dia lakukan untuk tingkah sialku ini.
“Tanda tangan di sini. Bawa itu besok. Besok Mama akan menghadap ke kepala sekolah langsung.” Ujarnya singkat, padat, jelas, namun membuat pikiranku bertanya-tanya. Ia memberi kertas itu dan aku membacanya.
Ya, memang aku ditakdirkan untuk tidak akan pernah bisa melanjutkan perjalanan Bapak.

Foto itu terkulai lemah di atas meja yang kutindih. Suara itu nyata. Ya, suara itu nyata menghampiriku! Sosok itu semakin mendekat menghampiriku hingga merangkul pundakku yang tak kuasa menahan tekanan emosi ini. Tanganku membalas meraih pundaknya yang semakin ringkih dan mendekatkannya pada kepalaku.

Tunggu, sebuah tangan halus juga meraih pundakku. Ia tersenyum tulus menatap wajahku yang tak karuan. Aku melihatnya sambil bertanya-tanya. Pertanyaan yang tergambar lewat ungkapan raga pun tersampaikan kepada Bapak. Ah, iya Bapak.
Bapak yang sudah mempunyai seorang wanita yang lain.

Cerpen Karangan: Melodia Rezadhini
Blog: melodiarezadhini525.blogspot.com

Cerpen Ambisi Berakhir Lari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Untuk Satu

Oleh:
Benci, demikian yang ku rasa. Apa hal yang membuatku terjauhi? Inikah yang dilakukan oleh sang Kuasa? Tak adil rasanya. Aaah, apa daya. Orang bilang kita tak boleh menyalahi Tuhan.

Ilmu Bukan Cinta

Oleh:
Saat itu jam pulang, sekolah telah mulai sunyi. Aku memberanikan diri untuk melompat dari lantai tiga gedung sekolahku. Hal itu ku lakukan karena masalah percintaanku yang harus berakhir dengan

Terlahir Kembali

Oleh:
Kau tahu? Aku bukan tidak bersyukur, hanya saja meminta kehidupan yang sedikit lebih baik. Ah, ya. Tepatnya memang aku ini sedikit kurang bersyukur dengan apa yang kujalani selama 16

Lampu Ajaib

Oleh:
Suatu hari ada sebuah Keluarga bahagia, dan memiliki satu orang anak yang bernama Gendis. Gendis remaja pun sangat cantik namun karena suatu kecelakaan, Gendis harus merelakan kakinya di amputasi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *