Anak Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 23 September 2017

Sudah beberapa lama, si bungsu meringkuk di atas kertas gambarnya. Gerutu dan umpatan pelan terdengar selama ia berusaha menggambar sebuah mobil berdasarkan contoh yang diberikan gurunya. Dengan satu desahan keras, ia menyerah dan membalikkan badan. Kakak keduanya melongok, dan melihat gambar acak-adul setengah mobil yang sudah dibuat si bungsu. Karena kasihan, kakak keduanya ikut duduk, mengambil pensil yang dipegang si bungsu, dan mulai membuat garis gambar mengikuti contoh gambar. Si bungsu pun yang tadinya sudah berbaring dengan wajah cemberut, bangkit lagi dan memperhatikan kakaknya menggambar.

“Banyak garis… detilnya ribet banget” gerutu kakak keduanya, namun tangannya tidak berhenti menggambar.
“Eh, gambarnya jadi cakep.” celetuk kakak keempat “Kakak kayak aku, ya.. kita gak bisa gambar, tapi kalau mencontoh gambar jadinya bagus.”
“Iya, kok cuma aku yang gak bisa? Cuma aku yang beda sendiri?” tanya si bungsu. Si bungsu tau kalau ibu mereka bisa menggambar wajah dengan lumayan bagus, kakak tertuanya menggambar komik sejak sd, kakak ketiganya masih bekerja sebagai illustrator, kakak kedua dan keempatnya yang tidak pernah terlihat menggambar ternyata mampu meniru gambar dengan baik, sedang ia…
“Ayah gak bisa gambar.” kata kakak keduanya.
“…Pantes.”

Siang itu, ruang keluarga dipenuhi oleh empat dara yang sedang sekedar mengisi waktu. Anak pertama sedang membuat ilustrasi baru pada bukunya, anak kedua dan anak keempat sedang fokus menonton drama yang sedang ditayangkan di tv, sementara anak ketiga sedang bersandar di kursi sambil chatting dengan temannya. Drama yang sedang ditonton terpotong oleh iklan, anak kedua berdiri dan menuju ke ruang dapur untuk mengambil minum lalu…

“AAAHHHH!!! ADA TIKUS!!!”
Kalimat itu seperti menggelegar ke seluruh rumah. Kakak pertama yang sedang selonjor di atas karpet langsung terbangun seperti tersulut, anak ketiga langsung mengangkat kakinya ke atas bangku, anak keempat masuk ke kamar tidur dan menutup pintu (“woi!” seru anak pertama).
Tikus yang dilihat oleh anak kedua, yang tadinya hanya menonjolkan kepalanya dari pintu dapur, sepertinya ikut terkejut karena teriakan anak kedua, dan malah berlari ke arah ruang tengah, mencoba bersembunyi di kolong perabotan.

“AAAAAHHHHH!!!” Teriak anak kedua seraya berlari terbirit-birit.
“Ayaaahh!!!” panggil anak ketiga panik.
“Ayah dan ibu lagi pergi kondangan!” seru anak keempat dari dalam kamar.
“Pergi! Pergi! Pergi!” teriak anak kedua sambil melempari tikus dengan gantungan baju, botol lotion anti nyamuk, bantal bangku, buku gambar (“Jangan lempar barangku!” teriak anak pertama) dan remote tv (“Awas rusak, kak!” seru anak ketiga).
Hal itu justru membuat suasana semakin ricuh, karena sekarang si tikus berlarian tidak beraturan untuk menghindari serangan dari anak kedua.

“Jangan dilempari, kak! Masukin karung, terus buang ke luar! Buang yang jauh!” seru anak keempat yang rupanya mengintip dari celah pintu kamarnya.
“Kamu jangan cuma teriak, bantuin!” teriak anak pertama.
“Aku takut tikus, kak!”
“Kamu pikir kita gak takut?!”

Pat!
Semua diam seketika. Anak bungsu yang tadi sedang ada di kamarnya, menutup tikus itu dengan karung goni bekas yang diambilnya dari belakang.
“Tikus cuma satu, suaranya kayak perang..” gerutunya. Setelah beberapa saat berkutat, si anak bungsu mengangkat karung yang sudah berisi tikus, dan membawanya keluar. Masih terdengar gumamannya tentang ‘penakut’ dan ‘berisik’ seiring ia pergi.

Semua anak dalam keluarga selain si bungsu menghembuskan nafas. Anak ketiga menurunkan kakinya dari bangku, anak pertama duduk kembali di atas karpet, anak kedua duduk di sebelahnya, nafasnya seperti habis lari pagi, anak keempat membuka pintu kamarnya.
“Untunglah ada anak laki-laki di rumah ini” komentar anak ketiga.
“Untunglah ada anak yang mirip ayah di rumah ini” koreksi anak pertama.

Setelah lebih dari empat jam, akhirnya acara selesai. Si bungsu bangkit dari kursinya, badannya pegal karena duduk terlalu lama, namun hatinya merasa sangat puas. Ratusan orang lain berdiri bersamaan dengan dirinya, berjalan pelan tapi pasti menuju pintu keluar. Sesekali si bungsu berpaspasan dengan orang-orang yang ia kenal selama empat tahun terakhir yang juga sedang menuju pintu, mereka saling mengucapkan selamat sambil berjabat tangan, senyum merekah di wajah mereka. Sembari berjalan si bungsu melayangkan pandangannya, berusaha mencari wajah seorang wanita setengah baya di tengah kerumunan.

Ah, itu dia. Berdiri agak jauh di samping pintu, agar ia tidak menghalangi jalan, ibunya yang ikut mendampingi menghadiri acara pelepasan. Si bungsu menghampiri ibunya. Ibu tersenyum saat ia melihat anak bungsunya datang, matanya berkaca-kaca. Si bungsu mencium tangan ibunya, tingginya yang 20 senti melebihi ibunya tidak membuatnya sulit atau enggan untuk membungkukan punggungnya. Kemudian ibu mencium wajah si bungsu, ucapan selamat keluar dari mulut ibu.

Hari ini si bungsu resmi menjadi sarjana.
Mereka berdua berjalan keluar bersama. Di depan pintu penuh dengan keluarga yang sedang bersuka-cita untuk putra dan putri mereka. Ibu dan si bungsu berjalan ke arah pekarangan yang dipenuhi pohon-pohon rindang, tempat janjian mereka dengan anggota keluarga yang lain.

Begitu ibu dan si bungsu semakin mendekat, para kakak beserta suami dan beberapa anak mereka bersorak. Mereka memberikan selamat pada si bungsu. Kakak pertama mencium pipinya yang menimbulkan bunyi keras, membuat si bungsu protes, kakak kedua mengacak-acak rambut dan mencubit pipinya, kakak ketiga menepuk bahu dan punggungnya, kakak keempat bersama para keponakan melemparkan kertas konfeti ke arahnya. Si bungsu berusaha keluar dari ‘cengkraman’ kakak-kakaknya, sementara para ipar tertawa melihat tingkah mereka.

Akhirnya si bungsu berhasil ‘lolos’, dan ia menghampiri ayah yang sejak tadi duduk di bawah rindangnya pohon, bersama ibu yang sudah kembali mendampinginya. Ayah tersenyum, dan si bungsu ikut tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya. Si bungsu mencium tangan ayahnya, dan ayah menepuk pelan bahu si bungsu.

Si bungsu, anak laki-laki yang dulu selalu didambakan kehadirannya, anak yang dulu sering ikut dan mengamati ayahnya bekerja di bengkel, anak yang dulu sering utak-atik mobil tamia, kini sudah menyelesaikan pendidikan tingginya, yang ia ambil dengan jurusan otomotif.

“Anak ayah…” kata ayah pelan. Rasa sayang dan bangga terdengar jelas di suaranya.

Cerpen Karangan: Nina Ruliana
Facebook: ninachan_otaku[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Anak Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara Duka dan Takdir

Oleh:
Pagi pun tiba, burung berdecit ramai menghiasi istana langit. Embun masih menempel di dedaunan yang amat segar. Jendela di kamarku berjerit seakan membangunkanku. Orang-orang mulai berlalu lalang. Ramainya suasana

Jelantik

Oleh:
Bapak masih terduduk di atas dipan, wajahnya mendongak ke atas. Mencoba bertanya kepada para penghuni langit, sekedar mencari tahu dimana Jelantik berada. Sudah seharian bapak menjadi patung bernyawa disitu

Daddy O Daddy

Oleh:
Inilah rumahku, rumah yang penuh “kejutan”. Kejutan? yah, “Kejutan”. Di rumah ini aku tinggal bersama Daddy dan Mom-ku¬, ada juga beberapa penjahat kecil yang mengaku dirinya sudah dewasa yang

Hikmah Setiap Derita

Oleh:
Kata-kata Orisen Marden tentang kekuatan manusia untuk mengubah peradaban dan sukses masih terngiang di benakku, kata-kata itu pernah kubaca dari sebuah buku bernuansa ‘ilmuwan’, orang biasa mengenalku dengan Ara,

Maaf Ayah, Aku Bohong

Oleh:
Deras hujan waktu itu membuat Sandi khawatir akan keadaan ayahnya yang belum pulang dari kantor. Maklum, sejak kematian ibunya, Sandi hanya ditemani sang ayah. Sudah dua tahun ini. Entah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *