Anak yang Tak Tahu Balas Budi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 12 May 2013

Gadis itu Oeral, selalu berpenampilan mewah kalung melingkar di lehernya bertumpuk-tumpuk, memakai pakaian seksi serta cincin melingkar di jari manisnya bahkan Oeral juga mengenakan binggel kaki. Walaupun usianya masih 13 tahun dan masih duduk di kelas 6 tapi Oeral sudah seperti gadis berusia 17 tahun. Gayanya sangat terlihat elegant, pure, innocent tapi itu menurutnya kalau menurut temannya apa lagi yang perempuan Oeral itu menor, lebay, narsis, plus alay. Semua itu karena ayah dan ibu Oeral selalu memanjakannya padahal Oeral bukan anak tunggal, Oeral memiliki adik laki-laki bernama Charlie yang baru berusia 10 tahun. Dan kedua orang tua Oeral bernama pak Santa dan bu Keke.

Tet… tet… tet… bel masuk berbunyi segera saja semua siswa dari kelas 1 sampai kelas 6 masuk ke kelas. “Siap gerak” perintah sang ketua kelas dengan didampingi pak xero, “lencang gerak” kemudian “maju jalan” setelah seluruh siswa memasuki kelas dan duduk mereka berdoa dalam hati. Dan pelajaran pertama adalah matematika. “ayo anak-anak buka buku paket hal 156” perintah pak xero, tiba-tiba Oeral berlari tanpa mengucapkan salam ataupun salim dengan pak xero, tapi Oeral langsung duduk di bangkunya dan langsung memake up mukanya. “Oeral, buka buku kok malah make up” marah pak xero, tapi tanpa di duga Oeral malah menjawab “by the way, gak usah lebay donk pak, aku tuh gak suka matematika, emang masalah buat bapak?”. Dengan marah pak xero berkata “kamu saya skors lari putar lapangan 200 kali sama bersihin taman depan, CEPATTT”. “iya pak” jawab Oeral

Tapi di luar dugaan Oeral malah pulang dan gak kembali lagi, keesokan harinya adalah Ujian Nasional tapi Oeral tidak belajar sedikitpun. Oeral yang tidak belajar tapi ia tetap tenang bahkan ia memasuki ruang ujian nasional dengan bergaya dan megal–megol, sebenarnya teman-teman Oeral marah tapi mereka takut bakalan di omelin dan di maki-maki oleh Oeral.

Hari pertama Ujian Nasional adalah Bahasa Indonesia karena tidak belajar Oeral tidak bisa sedikitpun, untung tepat di belakang bangku Oeral adalah Marie, gadis yang menjadi bintang kelas/pintar. Segera saja Oeral meminta jawaban semua soal jika Marie tidak memberikannya Oeral akan mengganggu Marie setiap hari, namun Marie tetap tidak mau memberikannya. Setelah lama berdebat “anak-anak waktu telah habis, di mohon semua untuk meninggalkan ruang ujian” seru pengawas ujian. “awas kau Marie” ancam Oeral, sambil meninggalkan ruang ujian.

“mama Oeral pulang” sambut Oeral tapi di rumah sepi sekali. Tiba-tiba mata Oeral tertuju pada makanan yang berada di atas meja makan tertutup tudung saji. Lalu Oeral membukannya ternyata sebuah makanan yaitu pete dan jengkol “iyuuh, makanan apa sih ini” tiba-tiba datang 5 orang laki-laki membawa tulisan bertuliskan “rumah ini di segel” lalu kelima orang laki-laki itu menempelkannya ke pagar rumah Oeral segera saja Oeral keluar dari rumah lalu protes dan mengomel kepada kelima orang laki-laki tersebut “pak, inikan rumah saya kenapa bapak segel, apa hak bapak?” omel Oeral dengan tenang salah satu dari kelima orang itu berkata “dik, mama kamu punya hutang berlipat-lipat pada bapak dan karena mama kamu tidak bisa membayarnya maka rumah mama kamu saya segel”

Dengan wajah sedih campur bingung dengan apa yang terjadi Oeral berdiri di depan pagar sambil menangis dengan menunggu orang tua dan adiknya pulang, namun sampai petang orang tua dan adik Oeral tidak pulang. Tiba-tiba ada miscall dari ibu Oeral “Oeral mama sedang di rumah eyang maaf belum kabarin kamu kalau rumah sedang di segel”, “tapi ma aku kesananya gimana?”, “nanti anak paman sean yaitu leno bakalan nyusul kamu. tunggu di depan pagar ya mungkin sekitar 10 menit leno bakalan datang”, “ya udah Oeral tunggu, bye”, “bye” jawab mama singkat. Lalu Oeral mematikan hp dan menunggu leno, namun setelah 1 jam leno tidak datang karena sudah terlalu malam sekitaran jam 23.30 Oeral tertidur di depan pagar. Kemudian leno datang kemudian leno membangunkan Oeral “ral, ral ayo bangun ayo aku antar ke rumah eyang”, “hoam, hahh, ehm” uap Oeral. Dengan mata sedikit linglung karena double ngantuk Oeral berkata “leno kok lama banget sich Oeral udah tunggu 2 jam kok gak datang-datang gimana sih kan kata mama 10 menit leno udah datang, emangnya leno berangkat jam berapa? Sich” omel Oeral, “ehm leno berangkat pukul 20.30” jawab leno terus terang, “hah emang leno naik apa? Kok lama banget sampai 2 jam padahal kan rumah eyang Cuma berjarak 3 km”, leno naik bus ral”. “ya udah Oeral gak mau tau ayo buruan pulang” kata Oeral, “ayo, tapi ke halte dulu yuk”. “ya” jawab Oeral singkat.

Setelah sampai di rumah eyang sekitaran pukul 24.00. Oeral terbelalak kaget tak habis pikir padahal dulu eyang adalah seorang hartawan namun sekarang telah bangkrut karena di tipu orang. Lalu aku mencari mama, papa, dan Charlie adik Oeral. Setelah mereka bertiga datang Oeral bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Dan mama Oeral menceritakannya “sebenarnya Oeral bukan anak mama, mama menemukan Oeral di tempat halte bus berbungkuskan kardus aqua Oeral menangis keras dan itu membuat mama iba dan kasihan melihat Oeral lantas mama membawa Oeral pulang ke rumah eyang. Dan eyang menyambut Oeral dengan penuh kasih sayang, namun ketika Oeral semakin besar Oeral sangat manja sekali dan ingin meminta semuanya sedangkan eyang dan mama tidak memiliki uang, tiba-tiba seorang renternir memberi pinjaman pada eyang dan mama untuk bisa mencukupi kebutuhan dan keinginan Oeral renternir itu memberikan pinjaman asal perbulan berbunga 5% eyang dan mama menyanggupinya lalu uang itu mama belikan rumah untuk kita sekeluarga. Tapi mama pikir kamu bakalan berhenti untuk meminta sesuatu kepada mama tapi kamu malah lebih manja dan semakin menjadi-jadi manjanya bahkan kamu sombong dan karena uang mama semakin menipis dan akhirnya habis mama tidak bisa membayar hutang dan rumah kita di segel” cerita mama panjang lebar dengan beruraian air mata

Oeral baru menyadarinya ternyata ia bukan anak kandung mamanya ia hanya anak angkat/anak temuan kemudian Oeral berniat mencari orang tua kandungnya ketika di tengah jalan Oeral di tabrak oleh seorang laki-laki dan anaknya, segera saja laki-laki itu panik dan membawa Oeral ke rumah sakit untuk di obati ternyata Oeral terkena gagar otak karena benturan keras dikepalanya kemudian salah satu tetangga yang melihat memberi tahukan kepada eyang dan mama keke bahwa Oeral kecelakaan dan terkena gagar otak kedua orang tua itupun panik dan langsung menuju kerumah sakit mereka tak lupa membawa surat yang ia temukan saat menemuka Oeral di halte bus. Setelah sampai di rumah sakit mereka melihat Oeral kritis kemudian mama keke membacakan beberapa ayat suci al qur’an kepada Oeral tak lama Oeral siuman kemudian seorang dokter datang dengan mengatakan bahwa Oeral kekurangan darah dan segera membutuhkan donor darah, mama keke langsung menawarkan dirinya kepada dokter untuk di ambil darah namun darah Oeral dan mama keke tidak sama lalu laki-laki yang menabrak Oeral menawarkan diri kepada dokter untuk memberikan darahnya ternyata sama akhirnya darah laki-laki itu yang digunakan, kemudian karena heran mama keke mencoba bertanya tentang laki-laki itu dan menyodorkan surat ketika ia menemukan Oeral “maaf pak, apakah bapak mengetahui tentang isi surat ini?” Tanya mama keke. Laki-laki itupun membacanya sambil beruraian air mata “ternyata anak perempuan yang aku tabrak adalah anakku sendiri” kemudian orang tersebut menjemput istrinya untuk menuju ke rumah sakit

Kemudian mama keke menuju ke musholla untuk melaksanakan sholat dhuha kemudian segera kembali ke ruang inap Oeral namun Oeral belum juga siuman lalu ia bacakan ayat suci al qur’an lagi tak lama kemudian mata Oeral membuka sedikt demi sedikit kemudian mama keke memanggil dokter untuk memeriksa Oeral ternyata dengan sadarnya Oeral bukan berarti Oeral membaik malah keaadan semakin bahaya tak lama kemudian orang tua kandung Oeral datang dengan panik. Kemudian mama keke berkata “Oeral ini orang tua kandungmu”. Setelah Oeral melihat dan mengucapkan dua kalimat syahadat Oeral menutup mata untuk selama-lamanya. Semua yang ada di situ menangis sekeras-kerasnya. Dengan kepedihan yang mendalam mama keke bertanya kenapa pak vinnec dan bu timmy membuang Oeral di halte bus. Mereka menjawab “sebenarnya Oeral di culik seseorang dan meninggalkannya di halte bus” kata mereka sambil terisak. Namun apa daya Oeral telah tiada.

Cerpen Karangan: Adhelia Nanda Rieska R
Facebook: adhelia rieska angelous

Nama : Adhelia Nanda Rieska Rahmadita
kelas : VI
sekolah : SDN Balongsari VI
alamat : JLn Empunala 287 mojokerto,jawa timur
no hp : 085748708760

Cerpen Anak yang Tak Tahu Balas Budi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tersadarnya Aku

Oleh:
Aku masih tak mengerti tentang kehidupan yang saat ini aku jalani, aku merasa bagaikan hiasan dalam dunia, bagaikan barang yang tiada gunanya, aku tak dibutuhkan dalam kehidupanku. Aku hidup

Tunjukan Keadilanmu Tuhan!

Oleh:
Iowa. Itulah kampung kelahiranku. Sebuah kampung kecil dengan beberapa rumah di dalamnya, termasuk rumahku yang hanya berukuran empat kali empat meter persegi, atau sebut saja dengan gubuk. Dinding yang

Be I

Oleh:
“Aku akan terus tertawa sampai aku tak bisa tertawa lagi”. “Sampai kapan kau akan tersenyum bahkan tertawa di atas masalah yang benar-benar berat untukmu Yan?” “Haha.. aku akan tertawa

Janji Yang Tak Dapat Ditepati

Oleh:
Di sebuah rumah sakit besar di Tokyo, seorang Ibu sedang menjalani proses persalinan. Hingga akhirnya sang buah hatinya pun lahir ke dunia ini. Suara tangisan pertama sang bayi membuat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *