Andai Mimpi Indah Itu Nyata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 23 December 2017

“Ehmm… Indah sekali pantainya..”

Kataku dalam hati sambil memandang lukisan pantai yang terpajang di dinding ruang tamu. lukisannya indah sekali..
Dari dulu aku ingin sekali ke pantai.. Aku suka pantai. Aku suka pemandangannya apa lagi saat matahari terbenam, wah, pasti indah sekali… keindahannya pasti sama seperti yang aku lihat di televisi. Hmm..

Tetapi sayangnya aku tidak pernah pergi ke pantai dan aku tidak tahu kapan aku bisa menginjakan kakiku ke sana. Karena diriku hanyalah seorang gadis yang lumpuh. Setiap hari aku hanya di rumah saja. Ya penjaga rumah. Itulah julukan yang pantas untuk diriku. Jangankan ke pantai, ke pasar saja aku tidak pernah.. Bagi orang lain itu mungkin mudah. Tetapi tidak bagiku.. Hal itu hanyalah khayalan… Yah… Khayalan!

Tetapi.. sudahlah. Seperti yang selalu kukatakan pada diriku sendiri “hidup ini bukan untuk disesali, tetapi untuk dijalani..”
“Semangat…!” Seruku sambil mengukir tersenyuman simpul pada diriku sendiri.

“Tevy… Ayo bangun!” Suara mama terdengar di antara nada lembut dan tegas. Sepertinya buru-buru. Aku tidak mempedulikan panggilannya. Kehangatan selimutku yang lembut mendukung rasa malasku. Tak peduli hari sudah pagi, Yang jelas mataku masih mengantuk.

“Ayo bangun..!” Suara mama sekali lagi terdengar di kupingku.
Kali ini terdengar dengan paksaan.

“Ma, malas ah. Masih ngantuk ni….”
Suaraku terdengar tidak bersemengat sama sekali dengan kedua kelopak mata yang masih terasa berat dan susah rasanya dibuka untuk melihat indahnya suasana pagi yang cerah.

“Kamu mau ikut apa enggak..?” Tanya mama.
“Ke mana sih? Tumben.” Ujarku ketus. Tidak percaya dengan ajakan mama barusan. Aku tetap menikmati suasana hangat di dalam selimutku.
“Kamu lupa ya?… Hari ini papamu mengajak kita ke pantai.”
“Hah?! Pantai?” Perkataan mama membuat mataku terbuka lebar.
“Beneran ma?” Aku masih tidak percaya dengan apa yang kudengar.
“Iya sayang…. Ayo cepat siap-siap!” Mama berusaha meyakinkanku.

Aku pun bangun. Untuk mempersiapkan diriku. Walaupun Rasanya sangat terpaksa meninggalkan kehangatan di kasurku yang empuk.
Namun hatiku bergejolak di antara perasaan senang, heran, dan… Entahlah. Yang pasti semuanya menumpuk di hatiku, menjadi berjuta tanya yang tidak tahu apa jawabannya.

“Tevy.. Ayo cepat! Sudah siap belum?” Suara mama memanggiku. Sepertinya mama sudah tidak sabar.
“Iya ma.. Aku sudah siap ni..”

Sebelum keluar dari pintu kamarku, aku terlebih dahulu memandang diriku di dalam cermin di kamarku yang seukuran dengan tubuhku.
Seluruh tubuhku terlihat sudah rapi. Tetapi aku masih saja memandangi diriku di cermin. Barangkali masih ada yang masih kurang. Pikirku. Tampaknya diriku di cermin sudah terlihat sempurna
“Oke.. Aku siap!” Seruku gembira.
Aku pun melangkah menemui mama dan papaku yang dari tadi sudah cukup lama menungguku.

Aku bahagia sekali.. “Aku ke pantai..!” Seruku tak mampu menahan kegembiraan di hatiku.
Dengan sebuah mobil, kami berangkat menuju pantai yang keindahannya sudah memenuhi anganku.
Sepanjang perjalanan, kusaksikan pemandangan yang indah yang belum pernah kulihat sebelumnya…

“Ya Tuhan… Indah sekali..” Aku sangat terpesona.

Beberapa saat kemudian, mobil yang membawa kami berhenti di sebuah pantai yang memang menjadi impianku sejak lama.
“Indah sekali..” Entah berapa lama aku terdiam dan tertegun memandangi keindahan pantai tersebut. Sesaat kemudian aku baru mengisi keceriaan itu dengan berlarian di atas pasir pantai yang hangat. Rasanya diriku sudah menyatu dengan suasana pantai itu. Betah sekali. Tidak mau pulang rasanya. Karena di rumah, aku tidak pernah merasa segembira hari ini.

Tidak terasa matahari pun terbenam. Aku sungguh menikmatinya. Air laut berubah warna menjadi kuning keemasan karena pantulan cahaya matahari.
“Sungguh, Luar Biasa!” Ujarku kagum.

“Tevy… Bangun…!” Sebuah suara terdengar dari kejauhan. Tiba-tiba… Suasana yang indah tadi berganti dengan suasana kamar yang masih gelap.
“Bukankah tadi aku di pantai?” Aku bingung.
Mataku mengamati-ngamati di mana tempat aku berada saat ini.

“Kamar? Ah. Cuma mimpi.” Aku pun menyadari bahwa pantai, jalan-jalan dan berlari hanya bisa kudapatkan ketika diriku sedang bermimpi.

Ketika aku menceritakan mimpiku kepada mama, entah mengapa mama menghindar dariku. Mungkin bersembunyi untuk menangis. Atau… Tidak mau mendengar tentang mimpi-mimpiku.

“Andai mimpi indah itu nyata…?”
Aku kembali memandang lukisan dinding ruang tamu itu,

“Ya… Sudahlah.” Kataku sambil tersenyum lebar.

Hm… Tujuh tahun kemudian, Tuhan membuat mimpiku menjadi nyata. Tanggal 30 maret 2015, papa dan mamaku membawaku ke pantai kubu, di Pangkalan Bun. Hatiku sangat bahagia. Dan yang membuatku terharu, saat itu papaku membawaku ke pasir pantai itu, papa dengan ngos-ngosan memegang tanganku dan membuat kakiku berdiri, agar aku bisa merasakan bagaimana rasanya berdiri di atas pasir putih yang hangat. Sungguh ketika aku mengingat hal itu hatiku sangat terharu.,. I love u pa, ma..

Cerpen Karangan: Selvy Pritawati Sudarlin
Facebook: Selvy Pritawati

Cerpen Andai Mimpi Indah Itu Nyata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cerita Dibalik Sebuah Cita-Cita

Oleh:
Bunyi kursi roda yang berderit pelan membuatku menoleh kebelakang dan tersenyum pada gadis yang duduk diatasnya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, tidak juga sakit yang mungkin sedang ia rasakan

Mawar Fadil

Oleh:
Suara teriakan itu menggetarkan hati, isak tangis pecah saat langkah kaki ayahku meninggalkan ibu yang sedang mengandungku di usia kehamilan 6 bulan, ayah pergi dengan mengucapkan talak cerai kepada

Eyang Uti

Oleh:
Aku masih mengingatnya ketika beliau mulai menyisiri rambut-rambut keriting tebalku. Beliau dengan lembutnya menyuruhku duduk di depan meja rias. Aku menurut, sambil memperhatikan setiap langkah jari lentikknya. Beliau menurunkan

Di Balik

Oleh:
Hitam menyelimuti langit kota Tanjung Pendam yang tak henti-hentinya menitikkan bulir-bulir rahmat Tuhan. Pukul tiga dini hari, dingin, sepi dan melenakan untuk mereka yang enggan menyibak selimut, bangun dan

Dirimu Apa Adanya

Oleh:
Gadis berjilbab ungu itu begitu manis, senyumnya begitu menawan, dan lesung pipinya sangat menarik hati. Gadis itu tengah bersandar pada pohon kelapa di kebun milik Pak Totok sembari membaca

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *