Anggap Aku Adikmu Kak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 1 May 2018

Namaku adalah Fatimah, aku tinggal bersama kedua kakakku di sebuah kota. Kakak pertamaku bernama Adam dan kakak keduaku bernama Ibrahim. Kami bertiga bisa dibilang hidup berkecukupan karena jika memerlukan sesuatu kami masih bisa memenuhinya. Kak Adam sangat menyayangiku begitu juga dengan aku, aku sangat menyayangi kak Adam. Tapi, Sifat kak Baim begitu dingin kepadaku. Bahkan kak Baim sering memarahiku hanya hal kecil. Namun itu semua tak membuatku jadi benci kepada kak Baim, Justru aku sangat menyayanginya.

Hari ini seperti biasa, aku bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk aku, kak Adam, dan kak Baim.
“Fatimah,” kak Adam memanggilku.
“Iya kak, ada apa?” tanyaku.
“Gak apa apa kok, cuma mau manggil aja,” jawab kak Adam.
“Owh, kak Baim belum bangun?” tanyaku.
“Udah, dia lagi shalat,” jawab kak Adam.

Setelah sarapan matang, kami pun menyantapnya di ruang makan bersama sama.
“Kak Baim, nanti kak Baim gak ada kegiatan kan?” tanyaku.
“Gak,” jawabnya jutek.
“Kakak bisa gak, anterin aku ke toko buku?” tanyaku lagi.
“Aku gak bisa, lagian kamu itu udah punya banyak buku jadi buat apa beli lagi. Itu cuma hamburin uang,” kak Baim membentakku lalu pergi ke kamarnya tanpa menghabiskan sarapan dulu.

Melihat aku menangis karena dimarahi kak Baim, kak Adam langsung memelukku.
“Udah sayang, jangan nangis. Kak Adam di sini buat kamu. Lagian kenapa kamu minta ditemenin kak Baim, kan bisa minta tolong kak Adam,” ucap kak Adam mengelus elus kepalaku.
“Aku gak mau repotin kak Adam, kak Adam kan harus jaga toko,” ucapku sembari menghapus air mata.
“Buat kamu pasti semua bakal kakak lakuin kok, itu karena kakak sayang sama kamu,” ucap kak Adam.
“Iya kak,” ucapku lalu tersenyum.
“Ya udah, besok kakak temenin. Oh iya, kakak mau temuin kak Baim dulu ya,” ucap kak Adam.
“Iya kak,” ucapku.

Suatu hari, aku akan mencuci baju milik kakak kakakku. Namun saat mencuci baju milik kak Baim.
“Fatimah, kamu cuci baju kakak?” tany kak Baim ketus.
“Iya kak, baju kakak udah numpuk soalnya,” jawabku lalu tersenyum.
“Mana coba,” ucap kak Baim lalu mengacak acak baju yang sudah dicuci.
“Fatimah, kamu kalau mau cuci baju aku bilang dulu dong. Ini baju mau kakak pakai kenapa kamu cuci hah,” bentak kak Baim.
“Maaf kak, aku gak tahu,” ucapku mulai nangis.
“Makanya kamu tanya dulu kalau mau cuci,” ucapku kak Baim mau pergi namun aku cegat.

“Kak, kenapa kakak sering marahin aku? Aku salah apa sama kakak?” tanyaku teeus menangis.
“Salah kamu, kamu yang buat ibu meninggal. Gara gara ibu ngelahirin kamu, ibu jadi meninggal. Makanya kakak benci sama kamu,”
“Kalau emang itu, aku minta maaf kak aku minta maaf. Tolong anggap aku adikmu kak. Tolong,” ucapku bersujud di kaki kak Baim.
“Percuma kamu minta maaf, maaf kamu gak bisa balikin ibu. Dan sampai kapanpun, aku gak bakal anggap kamu adikku,” ucap kak Baim lalu mendorongku.

“Astagfirullah, Fatimah,” ucap kak Adam yang tiba tiba datang lalu memelukku.
“Kamu apa apaan sih Baim. Dia itu adik kamu, kamu masih punya nurani kan. Tentang ibu, ibu meninggal bukan karena Fatimah. Tapi ibu meninggal karena takdir Allah Baim. Jadi kamu gak boleh benci sama adikmu sendiri. Anggap Fatimah adikmu Baim,” ucap kak Adam menasehati kak Baim.
“Gak, aku gak mau anggap dia Adik. Aku gak sudi kak Adam. Aku mau pergi aja dari sini, aku benci lihat muka dia,” ucap kak Baim pergi.
Aku lalu mengejar kak Baim.

Saat kak Baim menyebrang jalan, kak Baim akan tertabrak mobil. Aku langsung berlari melindungi kakakku.
BRUKKK… aku tertabrak mobil karena menyelamatkan kak Baim.
“Fatimah,” ucap kak Baim.
“Fatimah,” ucap kak Adam.
“Baim, ayo kita bawa Fatimah ke rumah sakit,” ajak kak Adam
“Ayo kak,” kak Baim setuju.

Di rumah sakit, aku dipasangi alat bantu nafas.
“Kak Baim,” aku langsung memanggil kak Baim saat sadar.
Kak Baim langsung mendekatiku saat aku memanggilnya.
“Kamu kenapa korbanin diri kamu buat selamatin aku hah?” tanya kak Baim ketus.
“Aku sayang kakak, aku gak mau kakak luka,” jawabku lemas.
“Lihat, kamu lihat Baim. Fatimah rela korbanin dirinya buat kamu karena dia sayang kamu,” bentak kak Adam.
“Kak Baim aku mohon maafin aku, aku mohon. Anggap aku adikmu kak,” ucapku menangis.

Melihat kondisiku saat ini, kak Baim menangis.
“Fatimah,” ucap kak Baim lalu memelukku.
“Fatimah, harusnya kakak yang minta maaf. Kakak udah jahat sama kamu, kakak gak anggap kamu adik. Kakak yang salah,” lanjutnya terus menangis dan memelukku.
“Iya kak, Fatimah udah maafin kakak sebelum kakak minta maaf. Kakak mau anggap aku adik kan?” ucapku lalu bertanya.
“Pasti, pasti Fatimah. Kamu adalah adik terhebat yang kak Baim dan kak Adam punya,” ucap kak Baim.
“Nah, kalau kaya gini kan kak Adam suka lihatnya,”
Kita bertiga akhirnya berpelukan.

Kakakku merawatku hingga sembuh dan semenjak itu, kami jadi hidup rukun juga bahagia.

Cerpen Karangan: Selda Arifani
Facebook: Selda Arifani
Hai Readers….
Aku lahir di Purbalingga (Jawa Tengah), 30 Maret 2003.
ig: @selda_arifani30
Fb: Selda Arifani & Selda Ran
Maaf Ya, Kalau Cerpennya Jelek. Masih Penulis Baru Soalnya.

Cerpen Anggap Aku Adikmu Kak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Harus Pulang

Oleh:
Sepasang kaki mungil itu berjalan mendekatiku. Aku merentangkan tanganku lebar, bersiap menangkap bocah yang menyambutku dengan senyuman, menghadirkan lesung pipit di wajah polosnya. Aku berjongkok mensejajarkan tinggiku dengan tubuhnya.

Hati Seorang Ayah

Oleh:
Tengah tersandar dari lelah yang menguras semua tenaganya, juga tetesan peluh rela ia buang, bersama hari-hari yang dipenuhi sandaran doa di setiap langkahnya.. Begitulah ratapan hidup seorang lelaki tua

Kado Terakhir Ibuku

Oleh:
Namaku Aini, aku terlahir dalam keluarga miskin, aku adalah anak pertama Dari 3 saudara. Aku Sudah ditinggalkan Ayahku sejak aku berusia 2 tahun, tetapi aku tidak merasa kesepian karena

Hadiah Buat Ibu

Oleh:
Tatapan matanya begitu menenangkan hati. Ucapannya seperti sebuah tuntunan bagiku. Senyumannya adalah semangat dan motivasi untukku. Ingin sekali rasanya agar aku bisa setiap saat mengukir senyum di wajah cantiknya.

Hujan Pengantar Tidur

Oleh:
Rintik hujan malam ini begitu sendu. Airnya jatuh menghempas genting tua rapuh yang masih terpampang perkasa di atas rumah. Mengguyur seluruh hamparan tanah di sekitar dinding tinggi yang entah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *