Angin Tidak Akan Pernah Menggoyahkan Pijakan Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 20 January 2016

“Oper kali, opeer dong, jangan rakussss!!!” teriak Maman ketika melihat tayangan televisinya.

Suasana malam sarat dengan emosi, kegelisahan dan sedikit kemarahan. Saat ini Maman sedang menonton pertandingan liga Inggris antara Manchester City dengan Manchester United dengan begitu seriusnya. Jersey berwarna biru bertuliskan Aguero pada bagian pundak dikenakan Maman, ditemani secangkir kopi hitam tanpa gula dan 4 buah pisang goreng di sebelahnya, Maman duduk bersila di lantai dengan sesekali meloncat ketika terjadi kemelut di mulut gawang Manchester United.

Skor pertandingan menunjukan 2-1 untuk keunggulan Manchester United dan waktu pertandingan normal sudah hampir selesai. Maman semakin gelisah dan frustasi melihat performa dari tim kesayangannya tersebut. “Sedikit lagi Nak, kamu tahan ya sedikit lagi selesai kok pertandingannya,” seru Maman sembari menoleh ke arah loteng rumahnya. Rumah Maman tidak terlalu besar dengan luas tanah 60 meter persegi. Maman menempati rumahnya bersama dengan istri serta satu anaknya yang bernama Somin.

Somin adalah anak laki-laki berusia 6 tahun, berambut tipis berwarna cokelat kekuning-kuningan, berkulit hitam. Somin mudah sekali terserang rasa letih dan lesu terutama di pagi hari khususnya pada hari minggu ataupun hari Senin. Tidak seperti anak kecil pada umumnya. Somin mempunyai lengan kanan yang cukup kekar dan berotot serta paha yang berbentuk layaknya atlit sepeda profesional.

Pagi harinya Maman mengajak Somin dan Isma istrinya untuk mencari sarapan bubur di tempat langganan mereka. “Tin, tinn, tinnnn..” suara klakson motor matik Maman dengan maksud mengajak Isma dan Somin bergerak lebih cepat. “Cepetan dong tong, etdah bujug lama banget dah geraknya!!” seru Maman yang semakin tidak sabar menunggu Isma dan Somin. “Somin, ayo biasa elo duduknye di tengah ye, jadi Emak lo yang di belakang duduknye!” pinta Maman kepada Somin anak kesayangannya.

Motor Maman bergerak menuju tukang bubur langganan mereka. Untuk dapat sampai ke tukang bubur tersebut, Maman harus menempuh jarak sekitar 460 meter. Dimulai dari ke luar kampung menuju jalan besar sekitar 60 meter dan 400 meter jalur lurus dari jalan besar menuju tukang bubur tersebut. “Pulangnya aja ya Nak, kita isi tenaga dulu lagi pula Babeh udah laper banget nih Min,” kata Maman kepada Somin. Somin mengangguk kepada permintaan Bapaknya tersebut.

Singkat cerita, Maman beserta keluarga telah selesai menyantap bubur mereka dan hendak kembali ke rumah mereka. “Somin, kamu siap-siap ya,” pinta Isma sang Ibunda kepada Somin. Somin kembali duduk di tengah dari jok motor matik Maman. Sekarang Maman mulai menyalakan dan mengarahkan motornya ke arah jalan raya besar tersebut. Maman memacu motornya dengan cukup kencang. Angka kecepatan di speedometer menunjukan angka 80km/jam. Sesekali Maman menganggukkan kepalanya sebagai tanda puas akan situasi yang didapatnya.

“Sekarang Min..!!” teriak Maman kepada Somin.

Segera Somin yang duduk di tengah jok motor langsung berdiri tegap melawan kuat dan kencangnya tiupan angin yang datang dari arah berlawanan. Rambut tipis kuning Somin mulai tertiup angin dan menjadi tidak beraturan. Somin mulai memicingkan matanya menghindari debu ataupun kotoran yang dapat masuk ke dalam matanya. Isma pun tidak kalah sibuk, tangannya memegang erat pinggul Somin dengan maksud agar Somin dapat terus berdiri tegak di motor yang berjalan dengan kecepatan kencang tersebut.

Senyum puas merekah pada wajah Maman melihat kemampuan Somin yang meningkat. Isma pun demikian bangganya akan keberanian Somin menyelesaikan tantangan Maman tersebut. Akhirnya tibalah mereka di rumah Maman. Wajah Somin tebal dengan debu, mata Somin mulai memerah dan rambut Somin tertata ke arah belakang seperti rambut model tahun 1980-an yang disisir ke belakang menggunakan hair spray botol berwarna merah muda.

“Somin, ayo siap-siap waktunya sebentar lagi!!!” seru Maman kepada Somin yang saat ini sedang asyik membaca tabloid sepak bola yang pagi tadi dibeli oleh Maman.

Maman mulai menyalakan televisinya. Televisi tersebut masih berbentuk model tabung, berwarna hitam dan berukuran sekitar 20 inch. Tayangan pada televisi tersebut terlihat samar-samar dan bergelombang layaknya ombak di pantai Carita. Somin mengambil botol minumnya dan diletakkannya ke dalam kantung celana pendeknya. Tatapan mata Somin dipenuhi dengan tingkat determinasi yang tinggi dan rasa percaya diri yang besar. Layaknya seorang Gladiator memasuki arena colloseum dimana hanya ada cerita hidup atau mati setelah itu.

“Belom Min, lo geser lagi Min, dikit lagi Min, nah pas udah Min, udah bagusss!!!” teriak Maman kepada Somin yang saat ini tidak terlihat berada di lantai yang sama dengan Maman. Hari Sabtu itu Maman kembali menghabiskan waktu malamnya untuk berada di rumah saja tanpa berencana ke luar rumah dan menggunakan keuntungan berjualan pisang goreng demi kesenangan sementara.

Hembusan angin begitu kuat di malam itu. Bintang bercahaya indahnya menemani bulan yang setia menyinari bumi. Malam itu suasana terasa begitu sendu dan bisu. Berdiri tegar Somin seorang diri di sana, matanya memandang bintang di angkasa, kakinya membentuk posisi kuda-kuda layaknya petarung yang hendak melancarkan pukulan andalannya. Tangan kanan Somin terangkat tinggi seperti menunjuk angkasa, sepi sendiri Somin hanya ditemani kesunyian dan keacuhan malam.

“Ahh, si Toure ini egois banget sih jadi pemain, kosong itu Bonynya kenapa gak dioper sih bolanya!” gerutu Maman.

Lelah sudah hampir 40 menit Somin berdiri sendiri hanya ditemani sunyinya malam. Somin ingin sekali menyembunyikan wajahnya dari serbuan hembusan angin yang semakin kencang dan agresif, lelah dirasa Somin yang terus mengangkat tangan kanannya. Setiap kali Somin merasa lelah dan hendak menyerah terhadap keadaan tersebut, Somin teringat perjalanan naik motor menuju tukang bubur langganan mereka.

“Tidak, aku pasti kuat!!” guman Somin. “Aku dilatih keras oleh Babeh dan Emak untuk tugas ini, aku tidak akan pernah menyerah!!!” Teriak Somin sembari memegang erat antena televisi pada tangan kanannya.

Cerpen Karangan: Timotius Harry
Facebook: Timotius. Harry

Cerpen Angin Tidak Akan Pernah Menggoyahkan Pijakan Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teddy Bear dari Kak Rehan

Oleh:
Di suatu pagi, di sebuah kamar yang tak begitu besar telah sesak karena dipenuhi oleh segerombolan orang. Masing-masing orang memegang 1 kotak hadiah untuk diberikan kepada seorang gadis yang

Bayang Bayang

Oleh:
TIN-TIIINNN!!! Ckiiiittt BRUAGH!! Disinilah aku. Berdiri di samping sesosok gadis yang tergolek lemas di tengah jalan. Dengan darah segar yang terus mengalir dari kepala dan tulang-tulangnya yang patah. Setelah

Gula Jawa Buatan Eyang Indah

Oleh:
Aroma kolak pisang memenuhi ruangan. Aroma yang berasal dari dapur tersebut menyeruak membuat siapa saja berselera untuk mencicipi kolak pisang buatan ibu. “hore ibu membuat kolak pisang…” Seli setengah

Avatar the Legend of Human

Oleh:
Air Api Bumi Udara Dahulu semua negara hidup dengan damai. Namun semua berubah ketika negara api menyerang. Hanya avatar yang dapat mengembalikkan perdamaian dunia. Namun saat semua membutuhkannya, dia

Maafkan Aku Ayah

Oleh:
Perlahan kuarahkan badan yang dari tadi memintaku ke tempat ini. Tempat dimana terdapat sepetak ruangan yang terhiasi foto sesosok perempuan berhijab putih. Senyumnya yang menawan terlihat begitu mempesona dibaluti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Angin Tidak Akan Pernah Menggoyahkan Pijakan Ku”

  1. Nuri says:

    ajegile,anak kecil di suruh megangin antena biar babehnya bisa nonton bola -_-…(malang sekali si somin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *