Antara Safa dan Marwah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 17 June 2017

Safa dan Marwah adalah dua gadis kakak beradik yang hanya terpaut usia 2 tahun. Walau demikian, mereka berdua terlihat jauh berbeda. Ada yang bilang, bagai langit dan bumi.
Safa cantik, berkulit lembut putih lobak, berambut lurus hitam panjang. Bola matanya indah berwarna coklat keemasan. Senyumnya manis lengkap dengan lesung pipit.
Sementara Marwah… kulitnya sawo matang. rambutnya ikal kasar hingga harus sering disisir. Wajahnya biasa saja bahkan kadang sering timbul jerawat jika hormonnya sedang meningkat. Senyumnya, giginya sama sekali jauh dari kesan menawan seperti Safa. Bahkan Marwah lebih pendek ketimbang Safa. Betisnya pun mengkal seperti pepaya bangkok.
Safa pintar menari, main musik, bersuara merdu bila menyanyi. Sedangkan Marwah biasa saja. Tidak punya keahlian khusus selain memanjat pohon jambu bu RT tetangganya.
Mama bilang, Marwah adalah buatannya yang gatot, alias gagal total.
Ya. Itu yang kadang membuat Marwah sedih. Mamanya sendiri tidak menyukainya. Kadang cenderung mendiskriminasinya. Sering membandingkan ketimpangan anak-anaknya. Untunglah papanya tidak begitu. Papanya cukup adil membagi kasih antara Safa dan Marwah.

Mama selalu menomorsatukan Safa. Dari les balet, kursus bahasa Inggris, sampai ikutan lomba segala rupa, pasti mama menyetujui bahkan menyokong segalanya untuk Safa.
Kalau Marwah, untuk izin ekskul basket saja mama harus memusuhi Marwah hingga berhari-hari.
“Kamu memang kurang kesadaran, Marwah? Kulit kamu mau lebih gosong kalau ikutan ekskul basket? Apa ga’ ada kegiatan yang lebih baik buat perubahan diri kamu?” kata mama menyakitkan sekali.
Tapi Marwah sadar dan mengakui bahwa perkataan mama memang benar. Tapi apa boleh buat, hanya basket yang membuatnya percaya diri dan satu-satunya ekskul yang ia sukai. Untung papanya yang bijaksana memberinya izin asal tidak mengganggu sekolahnya.

Marwah tidak pernah marah akan kata-kata mamanya. Karena itu semua memang benar. Bahwa ia anak ‘gagal’, bahwa ia anak standar cenderung minus, bahwa ia diciptakan Tuhan dengan segitu adanya. Ya. Marwah menyadari semua itu. Kakaknya memang nyaris sempurna. Marwah tidak bisa mengabaikan kenyataan yang ada. Ia menjadi anak yang pendiam, tertutup dan semakin minder dengan dirinya. Baginya sekarang yang utama adalah menjadi anak baik. menuruti semua nasehat kedua orangtuanya. Belajar dan belajar. Walaupun dengan nilai yang pas-pasan.
Teman sejatinya hanyalah laptop kecil hadiah dari papa ketika ultahnya yang ke-15.
Dengan laptop itu ia merasa bisa menumpahkan kesedihan dan perasaannya lewat curahan hati ketikannya.
Marwah tidak ingin menjadi anak yang durhaka dengan melawan kata-kata Mamanya yang terkadang menyakitkan hatinya walaupun di muka umum sekalipun.

Hingga suatu hari mama sakit. Dokter memvonisnya terkena cancer.
Seketika semua berubah. Wajah papa yang dulunya ceria dan penuh tawa kini muram terbalut duka. Kehidupan mereka pun berubah drastis. Safa berhenti les piano, balet, dan semua yang menurut papa tidak begitu penting. Marwah juga terpaksa menon-aktifkan kursus berenangnya yang cukup mahal biaya perbulannya.
Satu persatu barang-barang luks di rumah mereka berganti menjadi barang biasa yang penting punya. TV di kamar mereka masing-masing telah dilelang untuk biaya tambahan berobat mama. Piano, drum, keyboard papa yang tadinya berdiri kokoh di ruang studio mini mereka telah berpindah tempat ke rumah yang membelinya.
Mama perlu kemo, perlu endoskopi, cek-up setiap 2 minggu sekali walau hanya sekedar konsultasi. Tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan papa.
Bahkan Safa menangis, berteriak ketika papa memintanya untuk menghentikan kegiatan rutinnya ke salon demi untuk menghemat pengeluaran.

“Aku ga’ pernah marah, papa menjual semua barang kesayangan aku demi berobat mama. Aku ga’ pernah komplain papa menghentikan semua kegiatan favorit aku. Tapi plis… aku ga’ bisa nurutin papa untuk ga’ pergi ke salon. Aku cuma minta uang 300 sampe 500 saja per bulan buat pergi ke salon. Dulu mama ga’ pernah komplain. Justru mama nyuruh aku tampil semakin cantik dan wajib merawat diri!” kata Safa sambil menangis membuat suasana hening.
Mama menangis di dalam kamar seorang diri. Suara teriakan Safa rupanya terdengar juga hingga kamarnya.
Papa dan Marwah yang di luar bersama Safa hanya diam termangu.

Semua ini memang tidak terprediksi papa sebelumnya. Bahkan dengan dibantu asuransi pun biaya mama masih keteteran. Apa mau dikata, semua ujian ini Tuhan yang beri. Papa dan Marwah berusaha ikhlas menerima asal mama sembuh seperti sedia kala.
Marwah teringat tulisan-tulisannya yang tersimpan rapi di file laptop miliknya. Ia berinisiatif mengirimkan salah satu karangannya ke majalah remaja yang dulu ia sering beli tiap bulannya. Hanya sekedar menghibur diri dari kesedihan hatinya yang bertambah parah. Ia coba mengirimi karangan-karangannya yang lumayan banyak ke beberapa redaksi majalah.
Disela waktu sekolah dan mengurus rumah yang kini jadi tanggung jawabnya, Marwah semakin rajin menulis.
Hingga suatu ketika, tukang pos datang dan menyerahkan secarik kertas dan amplop pada Marwah.
“Wesel, mba'”
“Darimana, Pak?”
“Majalah remaja…” jawaban pak Pos membuat Marwah terkejut.

Setelah menandatangani surat bukti penerimaan, Marwah membaca tulisan yang tertera di depan amplop berisi uang itu. Sekali lagi, lagi dan lagi, dibacanya. Khawatir tukang pos salah kirim dan itu bukan untuknya.
Tapi tetap tulisan itu tidak berubah. Untuknya, MARWAH. Alamatnya jelas dengan nomor rumah yang sama dengan rumahnya.
Dibukanya kertas keterangan dari redaksi majalah tersebut. Isinya, menanyakan alasan kenapa ia tidak datang ke alamat redaksi untuk mengambil sendiri honorarium dari cerpennya yang sudah jatuh tempo bahkan kini lewat 1 bulan. Lalu juga tertulis bahwa ada beberapa cerpennya lagi yang lulus seleksi untuk siap diterbitkan di edisi majalah remaja tersebut selanjutnya. Dan Marwah diminta untuk datang minggu depan ke kantor redaksi majalah itu pada jam kerja.
Waw…. bukan main bahagianya hati Marwah. Hampir dia hilang kendali dan ingin berteriak kegirangan kalau tak ingat mamanya yang tengah istirahat di kamar.

Marwah berlari ke kamarnya. Dibukanya isi amplop tersebut. Ada 800 ribu rupiah setelah dia menghitungnya. Marwah sujud syukur atas hasil tulisannya itu.
Ia urungkan niat memberikan amplop itu ke mama. Ia ingat tulisan dari redaktur majalah tersebut yang menyuruhnya untuk datang minggu depan karena ada beberapa tulisannya yang layak terbit. Mungkin masih akan bertambah pundi-pundi rupiahnya bila nanti digabungkan.

Lama sekali terasa bagi Marwah menunggu hari yang dijanjikan tiba. Ia berusaha menahan diri untuk tidak menceritakan semuanya pada papa dan mamanya lebih awal.
Hingga tiba waktunya, selepas jam sekolah, Marwah pergi ke kantor redaksi majalah remaja tersebut. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana.
Kantornya besar dan nyaman. Semua orang sibuk di depan meja kerja dan komputernya. Hampir ia urungkan niatnya bertanya pada mba’ resepsionis yang cantik itu bila tidak ada yang menegurnya.

“Marwah? Marwah Ibrahim penulis cerpen ANDAI AKU PUNYA SAYAP itu kan?”
Marwah mengangguk pelan.
“Ayo, kamu sudah ditunggu Pak Derajat di kantornya.”
Marwah mengikuti mas itu dari belakang. mereka masuk lift dan naik 5 lantai.
“Oya, aku Soni. Staf redaktur di sini. Pak Derajat itu kepala redaktur. Dia sering nanyain kamu. Kapan anak itu datang? katanya. Hehehe… rupanya tulisan kamu itu memeletnya sampe terus nanyain anak yang bernama Marwah Ibrahim itu sudah datang? hehehe…!”
“Maaf, mas Soni. Saya ga’ tahu kalau pak Derajat menunggu saya.” ujar Marwah menunduk.
“Memang kamu ga’ baca yang edisi bulan kemarin? Cerpen kamu sudah ditayangin disitu. Wah, banyak responden masuk. Dari yang memuji, sekedar komen sampai yang bertanya macam-macam juga.”
“Maaf mas…! BULan kemaren saya ga’ beli majalahnya.”

Marwah dan mas Soni tiba di suatu ruangan yang rapi bersih dengan orang-orang sibuk semua.
“Kamu bener Marwah Ibrahim? Kartu pengenal? Bukti surat pos? Mana?”
Dengan gugup Marwah mengeluarkan semuanya itu.
“Kartu pengenalnya kartu Pelajar ya, Pak? Saya baru 16 tahun, belum punya KTP.” Pak Derajat mengangguk tegas.
“Begini Marwah Ibrahim!… Saya pribadi tertarik dengan tulisan-tulisan kamu. Singkat, padat, tapi nyampai pesannya kepada pembaca. DAn satu lagi jujur dan polos, mengingat usia kamu yang masih muda. Sesuai dengan motto majalah kami, Yang Muda Yang Berprestasi.”
Marwah tertunduk grogi.
“Ada 4 tulisanmu yang masuk redaksi kami. Semuanya, lulus verifikasi tanpa ada yang dirubah kecuali sedikit kesalahan ketik saja.”
“Dan saya, punya tawaran buat kamu, Marwah Ibrahim…. Boleh kamu pertimbangkan dulu. Bilang orantua buat minta pendapatnya. Begini… mengingat usia kamu yang masih belia tapi cukup mumpuni dalam hal menulis…, saya menawarkan kerja part time sebagai penulis muda di redaksi kami ini. Kamu bisa bergabung bersama kami sehabis jam sekolah. Jam kerja di kantor ini hingga jam 4 sore kecuali waktu-waktu tertentu seperti deadline terbit atau lemburan. Atau kamu juga bisa tidak harus setiap hari ke kantor dengan catatan kamu mengirimkan tulisan kamu setiap hari lewat email. Kecuali diwaktu-waktu dibutuhkan.” tutur Pak Derajat. Hampir Marwah tak mempercayainya. Bagai mimpi dirinya seperti mendapat sanjungan sedemikian rupa.
“Marwah Ibrahim? Kamu dengar kata-kata saya khan?”
“O iya pak, maaf… saya melamun!”
“Hahaha….k enapa ngelamun?…. Ya sudah, ini uang honor kamu yang 3 total 2 juta 400 rupiah. Eit, tapi kamu jangan girang dulu! Nanti gaji kamu bukan pertulisan ya,… tapi perbulan 3 juta masih masa percobaan. Honorarium ini hanya untuk penulis lepas yang tulisannya lulus sensor dan masuk edisi tayang. Sesuai dengan perjanjian, penulis mendapat honorarium 800 ribu bagi yang tulisannya lulus, pajak ditanggung redaksi.”
Marwah terisak bahagia. Diciumnya tangan Pak Derajat.
“Ini hadiah terindah saya buat mama, Pak!”
“Memang mamahmu ultah?”
“BUkan. Mama sakit kanker rahim, Pak! Sekarang lagi berjuang buat kesembuhannya.”
“Bagus! Kasih semangat terus mamamu ya, Marwah Ibrahim. Yang tabah juga ya, dan jangan lupa fokus!”
Marwah pulang bagaikan terbang. Ia ingin cepat sampai rumah dan menceritakan semuanya.
Mama dan papa pasti senang mendengarnya.

Setibanya di rumah, keluarganya kumpul. Bahkan Safa pun ada di samping mama.
“Dari mana saja sih kamu? Dasar anak ga’ tahu diri, gini hari baru pulang. Mama anfal kamu sampai ga’ tahu!” gerutu Safa. Andai papa tidak menatapnya tajam, pasti akan panjang ceramah Safa.
Marwah duduk di samping mama. Airmatanya mengalir deras. tangannya meremas lembut jemari mama yang lemah.
“Mama yang kuat ya,… jangan tinggalin Marwah! Marwah ga’ mau hidup tanpa mama!” tangisnya pecah di pelukan mama yang berurai airmata.
“Maafkan mama ya, Marwah! Mama suka jahat sama kamu, tapi hati kecil mama sayang sama kamu. Mama ingin membuat kamu seperti Safa. Tapi mama ga’ bisa, dan itu bikin mama kecewa pada diri mama sendiri. Akhirnya mama melampiaskan kekesalan mama sama kamu. Kamu ga’ salah apa-apa, tapi mama yang sudah salah. Mama bikin kamu jadi semakin sedih, ya..?!?”
“Mama! Mama ga’ salah. Semua yang pernah mama ucapin tentang Marwah benar adanya. Marwah juga ga’ marah sama Tuhan. Karena begini adanyalah Tuhan menciptakan Marwah berbeda dengan kak Safa. Tapi mama harus kuat. Kami butuh mama! Mama harus sembuh dan berjuang sekuat tenaga melawan penyakit mama. Marwah yakin, dengan kasih sayang papa, mama pasti sembuh dan sehat seperti dulu!” Marwah memeluk mama erat. Kedua ibu dan anak itu menangis lepas dari beban yang selama ini menghimpit dada mereka.

“Pa, Ma,…. Ini ada uang 3 juta 200 ribu. Semoga bisa untuk tambahan pegangan papa.” Marwah memberikan amplop berisi uang pada papanya.
“Uang apa ini Marwah? Darimana kamu dapat uang ini?” tanya papa penuh selidik. Tangannya gemetar menerima amplop tersebut. Dadanya bergemuruh penuh tanda tanya.
“Pa… Mohon doanya ya, Marwah sekarang kerja part time diredaksi majalah remaja. Nanti kapan-kapan Marwah bawa papa kesana biar papa bisa kenalan sama Pak Derajat ketua redaksinya. Itu honor lepas Marwah untuk 4 naskah cerpen yang Marwah tulis.” cerita Marwah membuat tangis papa meledak. Dipeluknya Marwah. Ia bangga dengan kerja keras dan keteguhan hati Marwah. Mama ikut menangis terharu, begitu juga Safa yang malu akan keberhasilan Marwah.
Keluarga itu terhanyut dalam tangisan gembira. Dibalik duka pasti Tuhan selipkan bahagia. Di antara kekurangan Tuhan pun pasti memberikan kelebihan. Semua telah Dia atur sesuai porsinya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Fitriah Suganda
Facebook: Fitriah Suganda

Cerpen Antara Safa dan Marwah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Berkicau

Oleh:
“Pak Arka, ada?,” tanya Felly kepada resepsionis kantor. “Pak Arka sedang meeting dengan pihak luar negeri. Apakah ada yang bisa saya bantu?” “Saya mau bertemu dengannya sekarang juga.” “Maaf,

Uang Marjo

Oleh:
Matahari bersinar garang. Menguras keringat dari kulitnya yang tampak legam. Marjo berjalan dengan pikiran mengawang. Kejadian tadi siang masih lekat dalam ingatannya. Sesekali kaos oblong kumalnya disapukan ke muka

Rumah Tak Berdinding

Oleh:
Malam minggu itu, bulan bersinar terang, cahaya di bawah pohon rimbun tampak remang-remang. Suara jangkrik seakan ikut bernyanyi menikmati suasana malam itu. Di atas bale-bale depan rumah, aku, ayah,

Kejutan

Oleh:
Namaku Dena. Setiap hari minggu aku selalu bangun pagi. Walaupun aku masih duduk di bangku SD mamaku sudah mengajarkanku untuk bangun lebih awal dan membantu bersih-bersih rumah. Setelah semua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Antara Safa dan Marwah”

  1. Fatimah Halilintar says:

    ya allah… aq Terharu bacanya

  2. Fatimah Az-Zahra Mauliani says:

    aku ingin seperti marwah…
    Selalu baik dalam keadaan apapun, menerima penderitaan, bukan menolak dan membalaskan dendam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *