Anugerah Terindah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 26 April 2016

Matahari sedikit demi sedikit menenggelamkan diri dan digantikan oleh cahaya bulan dan juga bintang, ku pandangi indahnya langit, perpaduan warna yang sungguh menakjubkan. Terbesit di hatiku, apakah menyenangkan bila tinggal di sana? Hingga ayahku selalu mengatakan bahwa ibu bahagia berada di sana. Ayah yang selalu berkata bahwa ibu sedang bahagia di atas sana bila ku tanya keberadaannya waktu aku masih kecil. Dan saat ini usiaku sudah beranjak remaja, dan aku mengerti maksud dari perkataan ayahku. Segera ku angkat tubuhku dan segera menemui ayah, banyak sekali kata yang ingin ku sampaikan padanya. Ku langkahkan kakiku menuju ruang kerjanya, sedikit terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Ada apa Nara? Mengapa tidak mengetuk?” tanya ayahku. Ku pandangi wajah ayahku yang tak muda lagi, keriput-keriput tercetak jelas di wajahnya. Tapi senyumnya tak pernah hilang, senyum yang menghangatkan.
“Ayah, ada yang ingin aku sampaikan,” ayah terlihat sedikit kaget, biasanya aku menyampaikan apa yang aku pikirkan.
“Apa Nara? Biasanya kamu langsung nyerocos saja seperti kereta api.” canda ayahku sambil tersenyum.

Ah senyum itu, senyum yang senantiasa menemaniku selama 17 tahun ini, senyum yang menghangatkan hatiku, senyum yang menenangkan jiwaku. Ku langkahkan kaki ini untuk mendekatnya, ayah sepertinya menyadari dan akhirnya dia bangkit berdiri dan menghampiriku. “Ayo katakan apa yang ada di kepalamu, Ayah penasaran.” kata ayah yang tidak sabaran menungguku untuk berbicara.

“Ayah, apa Ayah ingat? Sewaktu aku kecil, aku sering bertanya tentang keberadaan Ibu, dan Ayah selalu menjawab bahwa Ibu sedang bahagia di atas sana. Dan saat ini aku baru paham, ya Ibu sedang bahagia di atas sana. Bahagia melihat Ayah yang tanpa lelah merawatku dari bayi, mengajariku berjalan, bermain sepeda, menulis, dan semuanya, hingga aku tumbuh menjadi gadis remaja. Aku yakin sampai saat ini Ibu pasti sangat bahagia. Ayah, aku sungguh kagum dengan Ayah, Ayah adalah Ayah dan juga Ibu bagiku, kasih sayang yang Ayah berikan selalu penuh tak pernah setengah, senyum Ayah selalu tulus dan menenangkan, Ayah aku sungguh beruntung memiliki Ayah, aku sangat sayang dengan Ayah. Dan aku yakin Ibu di sana pasti bangga memiliki Ayah, dan aku pun begitu, sangat bangga memiliki Ayah.”

Ku lihat ada genangan di mata ayah, yang siap akhirnya tumpah membanjiri pipinya. Ayah langsung memelukku, pelukan yang begitu hangat selalu sama dari dulu. Ia mengusap rambutku, dan mencium puncuk kepalaku. “Nara, sungguh Ayah tak tahu harus berkata apa lagi. Kamu adalah titipan yang paling berharga dari Ibumu, kamu adalah malaikat kecil yang sekarang sudah beranjak dewasa. Tak terasa sudah 17 tahun Ayah merawatmu, yang dulu kamu hanyalah gadis ingusan, dan selalu mengekori Ayah. Terima kasih Nak, Ayah juga sangat bangga memiliki gadis pintar sepertimu, Ibumu di sana juga pasti bangga memiliki gadis yang sangat cantik dan juga pintar. Ayah sangat sangat sayang padamu.”

Ku peluk erat ayahku, tak terasa air mata membanjiri pipiku juga, dan sepertinya baju ayah telah basah oleh air mataku. Tuhan aku sungguh mengucap syukur atas apa yang kau berikan padaku, terima kasih engkau memberikanku seorang ayah yang sangat menyayangiku. Ayah yang juga menjadi ibuku. Aku tak pernah merasa kekurangan kasih sayang walau tak ada sosok ibu yang mendampingiku, karena ada ayah yang menurutku sudah menjadi paket lengkap dalam hidupku. Dan Tuhan aku mohon, berikanlah kesehatan dan umur yang panjang untuk ayah, berikanlah kebahagiaan untuk ayah. Tidak lupa juga ku sisipkan doa untuk ibu yang saat ini sedang bersama-Mu, kiranya kau jaga ibuku, dan sampaikan kata sayang dariku dan ayah yang selalu mendoakannya.

“Krukkk…. Krukk…. Krukkk.” ayah menatap geli ke arahku, dan akhirnya tawanya pun pecah melihat ekspresiku yang menahan malu. “Ayah.. jangan ketawa, ihh ayo mending kita urus cacing-cacing di perutku yang sudah berdemo untuk diberi makan.” ku tarik tangan ayah ke dapur, dan ayah masih saja ketawa begitu senangnya. Ah Tuhan, melihatnya tertawa bahagia begitu, hati ini rasanya tenteram. Akhirnya ayah dengan cekatan membuatkan pasta kesukaanku, dengan sesekali menjahiliku untuk menahan lapar sedikit lagi. Terima kasih Tuhan untuk semua anugerah yang kau limpahkan padaku.

Tamat

Cerpen Karangan: Maria Marlina Putri Utami
Facebook: Putri Utami
Mencoba merambah ke dalam dunia nulis menulis, diharap menyukai tulisan pertamaku ini. 🙂 Ig: Mariaputri_

Cerpen Anugerah Terindah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Molly, Kisah Sahabat Sejati

Oleh:
Memang tempat yang tak layak untuk binatang lahir, berteman sepi, dan dingin tanpa ibu di siang hari saat perut waktunya diisi dan malam hari saat badan terjaga di pelukannya.

Sampai Jumpa

Oleh:
Suasana jenkel dan penuh kebencian melandaku berat rasanya ketika Mamah dan Papa menyuruh aku pindah sekolah dari California terus pindah ke jakarata sedangkan aku tak tinggal dengan mereka, melaikan

Panutan Sampai Akhir Hayat

Oleh:
Ayahku adalah seorang yang pekerja keras, dia berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan keluarganya, karena sebab itu ibu selalu mengajarkan kepada kami, agar kami tidak menjadi anak yang sering berfoya-foya.

Puisi Untuk Bunda

Oleh:
Nama ku sesil, aku ber umur 6 tahun sekarang aku sekolah kelas 1, kata ayah sejak aku lahir Bunda ku udah meninggal, aku sama sekali ga pernah liat wajah

Dulu

Oleh:
“Hey kak, bagaimana kabarmu? Belakangan ini jarang sekali mengirim pesan. Kenapa? Oh aku tau, kakak lagi ingin sendirian kan? Okey, tapi buat saat ini aku ingin bicara denganmu. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *