Apakah ini Mimpi?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 December 2017

Malam itu terasa sangat mencekam. Saat hujan turun, kudengar suara tangisan Adly, adik sepupuku. Dia terus menangis tanpa henti, saat itu ia berumur dua bulan, ia hanyalah seorang bayi yang terkadang memang tak kita pahami apa inginnya. Tetapi, kali ini rasanya berbeda bahkan ibunya pun tak dapat menenangkannya.

Malam itu aku bersama ibuku berkunjung ke rumah sepupunya, kami memilih untuk menginap dengan alasan karena kami telah lama tidak berkunjung. Aku yang baru saja pulang dari perjalanan tiga hari berkemah merasa sangat lelah. Mendengar tangisan Adly pun aku mendesah mengeluh karena terasa sangat lelah. Waktu menujukkan pukul dua tetapi aku tidak dapat beristirahat sama sekali karena suara tangisan Adly yang sangat mengganggu.

Hari itu, aku sangat mengingatnya, tepatnya tanggal 2 Januari 2008 dini hari. Aku pun merasa badanku sangat letih, sedikit lelah dengan perkemahan yang telah kulalui selama tiga hari. Suhu tubuhku pun mulai naik karena masih terjaga hingga pukul tiga subuh, perasaanku mendadak gelisah dan tidak bisa tidur. Aku pun berusaha untuk tetap tertidur karena kurasa tubuhku tak sanggup lagi menahan lelah, apapun kondisinya kurasa aku harus mengistirahatkan tubuhku. Kupejamkan mataku perlahan kurasakan aku sudah mulai terlelap.

Kemudian, kudengar telepon berbunyi, kubuka mataku perlahan, samar kulihat mentari telah terbit, kutengok jam yang terpajang di dinding, jam itu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Aku telah tertidur selama tiga jam setengah, aku merasa waktu tidurku masih belum cukup. Namun, kudengar kegaduhan terjadi, itu adalah suara ibuku yang sedang menerima telepon dari rumah kakek, kembali ku merasa gelisah, perasaanku mulai tidak enak. Aku merasakan seperti sesuatu telah terjadi.

Saat itu, ibuku berbicara dengan nenek melalui telepon, dikatakan bahwa kakekku tidak sadarkan diri. Aku menganggap itu berlebihan, pikirku kakekku masih tidur karena waktu saja masih menunjukkan pukul 06.30 pagi. Tetapi, sejenak aku berpikir lagi, kakekku adalah tipe orang yang tidak pernah tidur setelah sholat subuh. Kudengar ia sakit, dari telepon mengatakan ia pingsan, tanteku pun mengira ia kelelahan karena setelah sholat subuh adalah kebiasaanya membersihkan halaman rumah. Namun rasanya semakin berbeda, suara nenek dibalik telepon sudah mulai serak kacau tanda ia sedang menahan tangis. Kami mendengarkannya dengan jelas, karena telepon itu berada dalam mode speaker. Kemudian, perlahan kuliat ibuku meneteskan air mata, dengan sigap ia mengemasi barangnya, membasuh wajahnya, lalu menyuruhku bergegas berganti pakaian, kami pun menuju rumah kakek.

Ketika kami tiba, rumah pun telah ramai oleh tetangga. Apakah ini? Saat itu usiaku masih 10 tahun, aku belum banyak mengerti tentang keadaan yang terjadi saat itu. Kulihat ibuku masuk dengan tergesa-gesa, kulihat nenekku berlinang air mata, kulihat kakekku tidur dengan damai, lalu aku pun menghampiri ibuku, samar kudengar ia meminta maaf sambil mencium tangan kakek. Kudengar seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter mengatakan bahwa kakekku telah tiada sejak pukul 6 subuh tadi. Dalam benak aku bertanya apa maksud semua ini. Apakah ini mimpi buruk? Jika iya, aku ingin terbangun dari mimpi ini karena kurasa aku terlalu lelah untuk berduka.

RAR

Cerpen Karangan: Rizka A. Ramadani
Facebook: facebook.com/rrizkaaa

Cerpen Apakah ini Mimpi? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Titania’s Life (Part 3)

Oleh:
Daffa yang kesal diacuhkan oleh Titan segera menarik tangan Titan, sekarang mereka saling berhadapan. Tapi pandangan Titan tertunduk. “Kamu kenapa?” Tanya Daffa. Titan tak menjawab pertanyaan Daffa. Wajah Titan

Untukmu

Oleh:
Rumah Cahaya, sebuah rumah dan juga rumah sakit yang berisi anak-anak dengan penyakit mereka, yang tidak mempunyai rumah dan orangtua. Di sini mereka tertawa, bermain dan belajar. Berjuang dan

Bad Days

Oleh:
Lembar putih berisi angka-angka ini menatapku dengan sinis dan mengejek. Sementara diriku terpaku tak berkutik di depan lembar yang sudah menanti untuk aku isi. Entah mengapa semua rumus dan

Kutanya Ayah Lewat Mimpi

Oleh:
Setelah sekian lama aku tumbuh tanpa didikan seorang ayah dan pada akhirnya aku mulai bermimpi dan bertanya padanya. Walaupun aku sudah mencoba untuk berpikir positif dan mengerti bahwa dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *