Api Yang Padam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 March 2016

“Seperti itukah caramu menciptakan sebuah kebahagiaan? Seperti itukah ikatan yang kalian maksudkan? Lalu bagaimana denganku?”

Suara itu kembali terdengar, teriakan, bentakan, semuanya bagai benderang yang dengan mudah menghantam telingaku. Suara pecahan terkadang mewarnai kehebohan itu, otakku langsung dibuat pening olehnya, benda-benda tajam terasa langsung menghantam hatiku. “Berhenti, ku mohon hentikan! Sudah cukup!” Batinku berontak. Sesaat air mata mulai membasahi tulang pipiku, ku rapatkan erat kedua tangan untuk menutupi telingaku, berharap suara itu tak ku dengar sedikit pun, tapi ternyata percuma saja, percuma. Di balik isak tangis, ku coba menahan gejolak jiwa yang mulai memuncak di dada, ingin segera ku muntahkan.

“Kenapa harus selalu bertengkar? Tak bisakah kalian hidup rukun seperti yang lainnya?” Aku semakin merintih.

Aku berlari ke luar menghampiri arah suara itu, ingin ku muntahkan segala kesalku, tapi aku tak mampu. Aku hanya menatap mereka dengan mata sendu, berharap mereka melirikku dan menghentikan aktivitas gila itu. “Ayah, Ibu, aku mohon hentikan! Hentikan!” suaraku ke luar begitu saja, isakku makin jelas terdengar. Tapi mereka tak menggubrisku, aku malah menjadi salah satu topik perdebatan mereka.

“Yang ku sayangi. Ayah dan Ibu. Masa kecil adalah masa terindah yang pernah dimiliki setiap anak, dengan banyak cerita dan ragam permainan kecil mereka. Berjuta kasih sayang dapat mereka rasakan di sana. Ayah, Ibu… terkadang aku merindukan masa-masa itu, masa di mana aku hanya tahu, Ayah dan Ibu benar-benar menyayangiku, memperhatikanku dan selalu mengkhawatirkanku. Seiring berjalannya waktu, dan seiring bertambahnya usiaku, kenapa kalian menjadi tidak bisa realistis memandang kehidupan? Seperti inikah cara kalian menciptakan sebuah keluarga? Menciptakan sebuah kebahagiaan untukku?”

“Tahukah kalian… aku mulai merasa jenuh, aku jenuh mendengar suara teriakan, bentakan, dan kegaduhan yang ada di rumah ini. Dulu, aku selalu merasakan kehangatan saat singgah di sini, selalu dapat ku rasakan api kehangatan yang tak pernah padam singgah di rumah ini. Aku juga mulai bosan, bosan mendengar perkataan kalian yang membicarakan hal-hal yang hanya membawa pertengkaran, tak bisakah kalian bersikap lebih dewasa? Mengertilah, aku bosan!”

“Seandainya bisa ku ulang kembali waktu, ingin aku kembali ke masa-masa dulu, agar aku dapat kembali merasakan api kehangatan itu, api kehangatan yang telah lama padam, telah lama kalian padamkan. Dingin terasa menusuk hingga bagian tulang terdalamku saat aku singgah di rumah ini. Ayah, Ibu maafkan! Tapi, aku bosan, aku bosan mencoba mengembalikan api kehangatan itu, yang nyatanya api itu telah benar-benar padam. Salam hangat, Putrimu.”

Ku biarkan selembar kertas itu tergeletak di atas ranjangku. Ku harap dengan selembar kertas itu mereka bisa mengerti maksudku, yang selama ini tak pernah sanggup aku ucapkan pada mereka. Di malam yang dingin, ku biarkan kaki ini terus melangkah tanpa arah pasti, jalanan yang sepi yang terkadang hanya disinggahi semilir angin yang menyentuh kulitku. Suara gonggongan anjing terdengar begitu menggema di malam yang sunyi itu. “Angin bisakah kalian membawa luka kepedihan dalam hidupku, dan membawakanku sayup-sayup kebahagiaan? Bodoh, bicara apa kau ini!” Batinku semakin tak karuan.

Hingga akhirnya langkahku terhenti di ujung jalan, di dekat sebuah rumah sederhana dengan lampu merah yang masih menyala. Di sana tampak sang anak terlihat sedang bersuka cita dengan sepotong kue yang kemudian ia suapkan kepada ayah dan ibunya, canda tawa terdengar begitu menggema di antaranya. Sang ibu tampak memeluknya dengan hangat, sementara sang ayah masih pasrah dalam senyuman kebahagiaannya. Ku lihat pandangan anak itu beralih menatapku. “Ku rasa usia kita sama.” bisikku menatapnya.

Tapi kemudian pandangannya kembali beralih karena gurauan sang ayah. Aku benar-benar terhanyut dalam kebahagiaan yang keluarga itu rasakan, tanpa terasa air mataku mulai meleleh membasahi tulang pipiku. “Hai siapa pun namamu, kau adalah gadis beruntung, memiliki orangtua yang benar-benar menyayangimu, hidup dalam kehangatan, dan ku lihat api di rumahmu tak pernah padam. Tahukah kau? Ku rasa umur kita sama, hanya saja aku tak mendapat kebahagiaan yang sama seperti apa yang kau dapatkan. Dan apakah kau tahu? Hari ini adalah hari ulang tahunku juga.” Ucap batinku.

Kembali ku langkahkan kaki dalam ketidakpastian. “Ayah, Ibu, aku merindukan kehangatan seperti mereka, aku sangat merindukannya! Aku mohon, jangan pernah biarkan api kehangatan di rumah kita padam! Karena aku akan sangat merindukannya.”

Cerpen Karangan: Margareta Wila
Facebook: Margareta Wila

Cerpen Api Yang Padam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Rindu Kamu Sahabat

Oleh:
Aku Adinda, aku punya sahabat yang namanya Ami. Aku dan Ami bersahabat sudah sejak kelas 4 SD, tapi semenjak kelas 1 SMP aku dan dia semakin jauh. Kami jauh

Mengikhlaskan Kehilangan

Oleh:
Kematian tidak menyelesaikan masalah. Bahkan setelah mati pun masalah tetap ada dalam dirimu. Tidak ada yang abadi di dunia ini ataupun di dunia yang lainnya, karena yang abadi adalah

Unlimited Ikhwan

Oleh:
Dua buku pelajaran sastra dan dua pulpen berwarna merah dan hitam, juga penghapus karet yang tidak lagi utuh karena tugasnya. Mengahapus kesalahan menulis. Aku yang masih betah di meja

Senandung Untuk Ibuku

Oleh:
Masih ingatkah kau dongeng tentang Malin Kundang, sang anak durhaka itu? Tentu kau masih ingat bukan, tak mungkin kau tak tahu karena cerita, itu rutin dijadikan dongeng pengantar tidur

Denyut Kehidupan Vallen

Oleh:
“Aduh, pelan-pelan Bu!” “Sakit ya Nak?” Gemetar, bibir ibu yang mulai membuka percakapan kepada buah hatinya ini, air mata yang mengalir lembab di pipi anaknya seakan memberi perintah agar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *