Arina Mana Sikana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 5 June 2017

“Ibu berwajah bulat, sama sepertimu Rin. Tapi kadang terlihat lonjong. Ah, mungkin wajah ibu sedikit oval dan sedikit lonjong. Akak tak pernah memperhatikan secara detail, tapi karena setiap hari bisa memandang wajah ibu serasa sudah hafal betul akak ini tentang kerangka wajah ibu. Hahaha”, tangannya menyenggol Arin yang duduk di samping kanannya.
“Ibu, seperti apa wajah ibu? Akak selalu saja begitu. Tertawa saja sepuasnya”, wajah murungnya mulai tergambar.
“Hahaha, akak hanya menggodamu saja Rin. Hah, kamu memang tidak berubah. Sama saja dengan bayi kecil yang menggemaskan tapi juga menyebalkan. Kalau akak boleh bilang, wajahmu yang demikian itu makin jauh dari ibunda. Semakin terlihat tidak mirip. Hahaha”, Doni tertawa geli sambil mengerutkan baju yang menempel di perutnya.
“Akak! Arin bertanya betul-betul. Akak selalu saja menertawakan Arin. Akak yang menyebalkan! bukan Arin!”, Arin segera berdiri dan hendak beranjak dari posisi duduknya saat ini.

Air mata Arin sedikit tak terbendung, ia nampak sangat kecewa dengan jawaban kakaknya. Sebelum sempat Arin menambah langkahnya, tangan kirinya sudah berada dalam cengkraman kakaknya. Kakaknya yang semula tertawa, tiba-tiba saja diam dan memeluk adiknya erat.

“Kamu benar-benar marah Rin? sebenarnya akak pun tidak sedang bercanda dengan jawaban akak tadi. Akak tertawa hanya karena ekspresimu dengan mulut yang kamu manyun-manyunkan. Itu saja, lagi pula supaya kamu tak terlalu serius dalam menanyakan masalah ibu pada akak”, katanya, meredupkan isakan Arin.
Arin tetap tak bersuara.
“Duduklah kalau kamu ingin mendengarkan cerita tentang ibu lebih banyak lagi. Duduklah, akak janji tak akan menertawaimu lagi. Arin bersedia?”, bujuknya pada Arin. Arin tetap tak merespon perkataan kakaknya. Ia lebih memilih langsung duduk, mungkin tandanya ia mengiyakan sebagai bentuk respon dari bujukan kakaknya.

“Dengarlah Arin, kita beruntung terlahir dari rahim seorang wanita yang sangat mulia. Ibu jarang sekali menasihati akak dengan nada tinggi, dia juga sangat jarang memukul. Setiap sabtu malam, akak membantu ibu untuk jamuan tamu. Biasanya tiap minggu pagi, banyak yang berkunjung kemari Rin. Apalagi sejak kamu hadir di dunia!…”, omongannya terhenti.
“Maksud akak?”,
“Hem, memang rada susah kalau berkalimat dengan anak seusia kamu Rin. Umur kamu memang masih 9 tahun, tapi pemikiranmu sudah melangit. Yaa intinya ibu orang yang baik sehingga disegani oleh banyak orang apalagi semenjak ibu melahirkanmu, banyak sekali tetangga dan teman-teman karib ibu yang datang menjenguk. Kadang kala ada yang senang membantu ibu, jagain kamu kalau ayah lagi kerja. Ah, sudah yaa Rin, dicukupkan dulu. Ini sudah cukup malam. Segera tidur!”
“Baik kak, tapi akak harus janji akan menyambung cerita akak besok yaa?”, pintanya dengan tulus.
Doni tak merespon lagi ucaran adiknya itu. Ia hanya tersenyum tetapi tidak mengiyakan. Mengenai arti senyumannya itu, hanya dirinya yang tahu. Bisa jadi ia tersenyum hanya untuk menghibur adiknya atau kata “iya” sesuai dengan jawaban yang diinginkan oleh Arina.

Usia Doni terpaut 10 tahun dengan Arin. Ibunya sudah mengalami keguguran sebanyak dua kali, sebelum melahirkan Arin. Ibunya meninggal ketika usianya masih 9 tahun. Saat itu Doni masih sekecil Arin, sedangkan usia Arin masih belum genap sebulan. Ayahnya bekerja di kota lain, sejak 2 tahun yang lalu. Jadi sedikit sekali waktu mereka dengan ayahnya. Paling cepat mungkin 6 bulan sekali ayahnya akan datang. Mereka tinggal bersama kakek dan nenek dari ibunya, juga 2 orang saudara ibunya yang juga tinggal seatap di sana. Setiap hari ada saja keributan di rumah itu, terutama sikap Arina yang sangat sensitif dan mudah marah selalu mengundang keusilan Doni.

Hari itu masih pagi, Ayam-ayam belum berkokok tetapi Arin sudah berlarian dan bergegas mengetuk pelan pintu kamar Doni. Doni ternyata sudah terbangun, hanya saja ia biarkan pintu kamarnya tetap tertutup rapat. Tepat pada panggilan yang ke 3, Pintu kamar Doni terbuka. Tentu bukan Arin yang membuka paksa dengan cara yang tidak sopan, tetapi memang karena Doni sudah berdiri di sana. Rambut Arin masih acak-acakan dan baju tidurnya sedikit kusut. Doni memperhatikan adiknya mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dilakukannya hal tersebut berulang-ulang hingga Arin mendesak untuk masuk ke dalam kamar Doni.

“Ada apa Rin? Kalau sudah subuh pasti akak bangunkan kok. Ya sudah kamu tidur dulu di sana, kamu terlihat masih mengantuk sekali”, ujar Doni.
“Tak ada salahnya Arin bangun pagi, meskipun terlalu pagi karena Arin harus menagih janji. Akak sudah janji! lagi pula ini hari libur, nenek tidak akan marah”, sahut Arin dengan mata menyipit.
“Mana ada orang yang akan marah-marah hanya karena seorang cucunya bangun pagi? ah kamu. Hem, kemarilah!”, Doni memangku kepala Arin di sofa panjang dekat meja belajarnya.
“Andai saja ada sebuah foto, sudah pasti kamu tidak akan bertanya sampai seperti ini Rin. Kalau ayah sudah pulang, kamu boleh minta ke Ayah. Kita ada banyak foto ibu Rin, tapi hanya ayah yang menyimpannya. Akak pun sebenarnya juga tidak mau menyimpannya, karena khawatir terkalahkan akan rindu. Kamu mau cerita yang bagaimana Rin? apakah masih ada pertanyaan lain? Kamu tak henti-henti bertanya setiap hari”, seketika kepalanya dijatuhkan ke sofa, sedangkan Arin masih tidur di pangkuannya.
“Arin, yaa Arin hanya penasaran saja kak. Akak ceritakan saja, bukankah akak lebih lama tinggal bersama ibu daripada Arin?”, wajahnya mendongak, menatap Doni yang terpejam sesaat.
“Kalau ayah sudah pulang, bolehlah kita pergi ke rumah lama. Kamu memang belum pernah diajak ke sana, karena biasanya ayah pulang sebelum hari libur. Rin, kamu harusnya sudah tidak perlu bertanya panjang lebar. Ketika kamu bercermin, perhatikan wajahmu, perhatikan bagaimana kamu berdiri, tersenyum, merengut dan tertawa. Apa yang kamu lihat? Saat itu lah kamu melihat bagian dari ibu yang masih hidup. Arin paham maksud akak?”
“Arin bingung!”, singkatnya.
“Kalau bingung cukup diingat saja. Nanti kalau sudah waktunya kamu akan paham. Tapi satu yang harus dipercaya Rin. Ibu tidak pemarah, sepertimu! Hahaha. Jangan marah!. Ibu memiliki rambut indah, rambut yang hitam, panjang dan terurai. Tiap helainya dirawat dan dibiarkan tumbuh alami, ibu tidak pernah mewarnai rambutnya. Walaupun demikian, akak belum pernah melihat sehelai rambutpun yang berwarna lain di kepala ibu. Ibu mempunyai banyak selendang yang panjang dan lebar. Warnanya beragam sesuai dengan baju yang ibu kenakan. Ibu sangat anggun, dan kamupun demikian jika mau belajar agar tidak mudah marah Rin. Hahahaha”, Doni berkata-kata dengan senyuman yang menggoda adiknya.
Mereka terus bercakap-cakap hingga Doni tersadar bahwa tak ada lagi yang mendengar perkatannya. Arin sudah terlelap di pangkuannya. Ia sadar betul, keadaan Arin sangat dipaksakan. Kemudian ia hanya tersenyum menatap wajah adiknya yang polos itu. Ada Rindu dihati Doni. Rindu yang datang dalam setiap pertanyaan yang Arina tanyakan padanya. Tapi ia berusaha membuat segala suasana menjadi berterima dihati adiknya dan ia berhasil melakukannya.

Pukul 3 sore nanti, Doni berniat akan keluar rumah untuk menghadiri pekan seni di kampusnya. Sedari pagi ia mencari cara supaya adiknya berhenti bertanya dan iapun dapat dengan tenang berpamitan untuk berpindah pada rutinitas lainnya. Tetapi tak sesempurna yang ada dalam rencananya. Seperti biasa ia selalu menganggap tak terjadi sesuatu. Doni tak ingin terlambat, akhirnya ia juga membawa serta adiknya ke pekan seni. Mengingat Doni akan tampil minggu depan, jadi ia tak merasa kerepotan jika membawa adiknya langsung ke panggung acara. Kali ini masih terbilang aman dan Arin terlihat senang karena ini pertama kalinya Doni mengajak Arin.
Mereka mengenakan baju yang senada, mengikuti tema yang sudah ditentukan. Ada balutan dan kolaborasi warna hitam dan ungu yang berpadu di badannya. Beberapa teman Doni yang pernah berkunjung ke rumahnya sudah tidak merasa aneh dengan kehadiran anak kecil itu. Arin disambut baik, ia terlihat ceria sore itu. Aksi mulai diluncurkan pukul 15.30. Beruntung mereka bisa datang tepat waktu. Kali ini pertanyaan Arin sedikit berubah, semuanya bergelut tentang pertunjukan musik, Doni pun sedikit lega. Ada grup musik dan solo vocal yang menjadi pembuka acara. Perhatian Doni tetap berpusat pada anak kecil di sampingnya itu, manis sekali dengan gamisnya. Ketika yang lain bersorak dengan tepukan, Arin mengikutinya. Ia sangat gembira. Beragam seni sudah ditampilkan, kali ini adalah tari tunggal. Pada sesi inilah Arin mendadak merubah sikap. Ia terlihat sedih, dan hanya menggelengkan kepala ketika Doni bertanya sesuatu padanya hingga tak lama setelahnya Arin menangis dan meminta pulang. Doni kebingungan, padahal baru 2 jam ia menikmati pertunjukan. Jika ia mau menunggu, sebenarnya sebentar lagi akan ada jeda sholat tetapi Arin menolak. Doni hanya berfikir bahwa Adiknya tidak ingin berlama-lama karena kelelahan. Mereka akhirnya pulang, ditengah acara dengan berat hati Doni kembali ke rumah neneknya.

“Rin? Apa sudah selesai acaranya nak?”, nenek yang sedang duduk santai agak terkejut menyambut kedatangannya.
“Sudah Nek, Arin sudah lihat pertunjukannya tapi memang baru setengah acara”, Doni mengambil alih pembicaraan.
Arin tidak menjawab, tapi tangisannya semakin keras terdengar. Doni semakin bingung. Belum lagi pertanyaan dari neneknya yang belum bisa ia jelaskan sepenuhnya karena Doni belum tau penyebab sebenarnya.
Seharian ini, Arin tidak mengganggu Doni. Melegakan memang bagi Doni, akan tetapi tetap saja semua terasa aneh. Tidak ada lagi pertanyaan tentang ibu, dan itu terjadi pada 2 hari setelahnya. Doni akhinya mendekati Arin dengan lembut karena ia ingin tau alasan dan kejadian sebenarnya.

“Arin sudah belajar?”, Bertanya dengan hati-hati.
Arin mengangguk.
“Arin mau makan sama akak?”
Arin menggeleng.
“Arin, ada apa sebenarnya? sini cerita sama kakak. Apa ada teman kakak yang mengganggumu selama pertunjukan?”.
Arin menggeleng dan matanya mulai berkaca-kaca. Doni semakin bingung dan lebih berhati dengan kalimatnya.
“Arin jangan nangis, akak tidak akan marah”, sambungnya lagi.
Arin kemudian menangis tanpa bersuara. Doni diam sesaat membiarkan adiknya menangis. Lalu kemudian tak disangka Arin bersuara. Doni mendengarkannya dengan cermat, tak ingin melewatkan sedetikpun.
“Ibu berambut panjang terurai… Rambutnya hitam..”, katanya dengan suara lirih menahan tangis.
“Pipi ibu kemerahan… Ibu… Ibuuu punya banyak selendang. Apa ibu yang menari di depan?”, Arin menyambung perkataannya.
Pertanyaan yang tak terduga keluar dari mulut adiknya. Doni semakin bingung, ia memutar otak untuk menetapkan kata-kata yang hendak dikeluarkannya. Sementara itu tangisan Arin semakin pecah, sungguh Doni tidak pernah berfikir akan sejauh ini dan berakibat separah ini. Kebingungan Doni bertambah-tambah ketika Arin tiba-tiba menangis di lengan kanan Doni.

“Arin.. akak tidak pernah menyampaikan bahwa ibu adalah seorang penari, akak minta maaf Arin..”.
“Akak bohong!”.
“Arin tenang, akak jelaskan apa yang Arin kurang Fahami dari perkataan akak selama ini? Arin tenang, akak jelaskan satu-persatu. Katakanlah dik”, merangkul Arin.
“Ibu, Rambutnya panjang… Ibu punya banyak selendang… Ibu disukai banyak orang… Ibu yang wajahnya kemerahan… Ibuuu…”, suaranya serak.
“Arin, maafkan akak, Arin harus mengingat perkataan akak seluruhnya, tidak boleh setengah-setengah. Ingat, Selendang Ibu panjang dan Lebar. Rambut ibu memang panjang terurai, beberapa helai rambutnya mungkin ada yang berwarna lain seperti rambut nenek yang beruban tapi mungkin hanya beberapa helai saja. Semua karena proses yang alamiah, karena ibu tidak pernah merubah warna rambutnya. Meskipun demikian, akak jarang sekali melihat uban yang ada di kepala ibu dengan rambutnya yang panjang karena ibu selalu membungkus rapi kepalanya dengan selendang panjang dan lebar itu. Ibu pandai merias diri dengan hijabnya. Waktu kecil, akak seringkali melihat wajah ibu memerah karena sering berpanas-panasan. Ibu mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, mulai mencuci baju, memasak sampai mengurus tanaman. Berhentilah menangis Arin.. adakah perkataan akak ada yang menyinggungmu?”.
“Jadi ibuuuu?”
“Iya Arin, Ibuu”, meyakinkan Arin.
“Aku sedih melihat ibu. Apa artinya dulu ketika ibu menari banyak orang yang berteriak memanggil ibu? kalau ibu anggun seperti kata akak, maka teman-teman ibu akan memuji bukan berteriak”, tangisannya merendah.
“Kamu benar Arin, dalam hal ini mungkin akak yang salah. Maafkan akak. Tapi akak tidak berbohong mengenai jawaban akak kemarin-kemarin. Ibu sangat anggun, dialah bidadari yang kita miliki di dunia ini. Ibu juga mempunyai banyak teman, tetapi bukan begitu cara ibu bergaul. Ibu adalah wanita yang spesial, seistimewa dirimu, sehebat kakek dan nenek. Akak pun rindu dengan ibu”, memeluk Arin dan membiarkan airmatanya menetes.
“Ibuuu… “, kata Arin.
“Tenanglah Arin.. Ibu tidak seperti yang kau bayangkan. Ngomong-ngomong ayah akan pulang minggu depan, kita bisa bertemu ibu di rumah lama. Disana kamu akan menemukan apa yang kamu cari, dan bagaimana Arina Mana Sikana sangat diharapkan dalam sebuah keluarga. Kamu bisa leluasa bertanya pada ayah Rin”, sembari mengusap air matanya.
“Siapa yang memberitahu akak?”
“Ayah yang menelpon semalam”, tersenyum.
Semua menjadi hening dan tangisan berubah menjadi senyuman.

Cerpen Karangan: Fitria Anggraeni
Facebook: facebook.com/phiphit.anggaraanii
penulis adalah seorang putri bungsu dari 2 bersaudara. tinggal di kota kecil dan saat ini sedang menempuh kuliah semester 3 di luar kota. berpisah dari keluarga untuk melanjutkan mimpinya.

Cerpen Arina Mana Sikana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayo Sabar!

Oleh:
Rika, dia adalah gadis kecil berusia 10 tahun. Dia mempunyai adik. Adiknya bernama Riko. Usianya baru 3 tahun. Riko anak yang lucu. Tetapi, Rika tidak senang mempunyai adik yang

Mengubur Mimpi

Oleh:
“Alhamdulillah Ujian Nasional selesai,” aku tersenyum puas. Mata ini mulai berani menatap matahari kembali dengan sunggingan senyum kepuasan. Aku merasa belajarku tidak sia-sia karena soal-soal ujian nasional dapat diselesaikan

Ku Kehilangan Sosok Penyemangat

Oleh:
Dulu aku memiliki seseorang yang mampu membuat aku tertawa lepas, seakan dunia ini hanya milikku saja! Disaat aku kehilangan arah, dia mencoba membuatku tersenyum seakan lupa akan sebuah masalah

Surat Untuk Kakak

Oleh:
25 Januari, jam 00.00 Asa masih terjaga di depan meja belajar dengan sebuah pulpen di tangannya dan sebuah kertas di hadapannya. Asa sedang menulis surat untuk seseorang yang sangat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *