Arrrggghhh!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 October 2013

Di pagi hari yang cerah, aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Kurapihkan pakaianku dan ku periksa kembali buku-buku yang akan aku bawa. Dari lantai bawah terdengar suara wanita sekitar berumur 40 tahun memanggilku, tak lain itu adalah Ibuku.
“Din, cepat sarapan dulu, biar enggak telat ke sekolahnya”, sahut ibuku.
“Iya bu, ini udah beres”, jawabku.

Setelah semua selesai, aku turun ke bawah menghampiri meja makan yang sudah tersedia makanan yang telah dibuatkan ibuku. Ku habiskan nasi goreng yang ada di depanku. Setelah selesai aku segera memakai sepatu dan pergi sekolah bersama ayahku.
“Bu, Dini pergi dulu ya”, pamitku kepada ibuku. Di ikuti dengan mencium tangan ibu
“Iya hati-hati nak, langsung pulang ya”, pesan ibuku.
“Siap bu, oh iya hampir lupa, itu obat Ibu udah Dini siapin, ada di kotak obat, jangan lupa Ibu minum ya”, ujarku seperti menasehati.
“Iya nak, ayo cepat Ayahmu sudah nunggu di depan”.
Dini: “Assalamu’alaikum”, salamku.
“Walaikum’salam”, jawabnya. Dengan senyum mengembang di bibirnya

Aku pergi dengan senyuman ibuku yang dia perlihatkan padaku, bukti penyemangat untukku meraih cita-citaku. Aku di antar oleh ayahku memakai kendaraan motor. Ada sekitar 20 menit aku sampai di sekolahku. Aku turun dari motor.
“Yah dini masuk dulu ya”, kataku.
“Iya, yang rajin belajarnya”, pesan ayah.
“Siap ayah, Assalamu’alaikum”, salamku. Sambil ku cium tangan ayahku
“Walaikum’salam”, jawabnya.

Ayahku pergi bekerja dan aku pun harus segera masuk karena bel sekolah tanda masuk pun telah berbunyi. Aku sekolah di SMP Negeri 35 Bandung kelas 7F. Aku segera masuk ke kelas dan duduk di bangkuku seperti biasa di temani sahabatku.
“Hai ver, tumben enggak kesiangan”, godaku karena sahabatku ini sering datang kesiangan.
“Enggak dong, kan udah coba bangun pagi”, jawabnya.

Berhubung ini hari jumat, hanya ada 3 pelajaran, tetapi pelajaran pertama dan kedua gurunya tidak masuk di karenakan izin, bel istirahat pun berbunyi, aku dan sahabatku pergi keluar kelas menuju kantin.

Tiba di kantin dan kita langsung memesan makanan favorit yaitu nasi kuning di tambah dengan teh manis. Kita duduk di pojok kantin.
“Din, udah ini pelajaran BK ya?”, tanyanya.
“Iya, kenapa gitu ver?”, tanyaku kembali.
“Kata Bu Nina, dia mau ceritain tentang pentingnya Ibu di hidup kita, pasti seru deh ceritanya”, jawabnya dengan semangat.

Tak lama makanan pun datang dan langsung saja memakannya. 15 menit kemudian bel masuk pun berbunyi, tepat dengan selesainya kami makan. Lalu kami segera kembali ke kelas, dan ternyata Ibu Nina sudah ada, kami pun di persilahkan duduk.
“Ibu minggu lalu pernah bilang sama Vera kalau hari ini kita mau bahas tentang pentingnya Ibu di kehidupan kita”.
“Ada yang tahu kenapa Ibu sangat penting di kehidupan kita?”, tanyanya.
Taufik mengacungkan tangan “Karena Ibu adalah orang yang melahirkan kita”, jawabnya.
Laras pun mengacungkan tangan “Karena Ibu adalah orang yang paling berjasa di hidup kita, Ibu yang sudah mengandung kita selama 9 bulan 10 hari dan itu butuh perjuangan yang sangat besar”, jawabnya panjang.
“Iya jawaban kalian benar, Ibu tambahkan ya, jadi Ibu itu seseorang yang patut kita sayangi, kita hargai, kita rawat, kita cintai, karena begitu besar jasanya, jangan pernah membuat Ibu kalian menangis karena kalian, jaga dia, dan jika Ibu kalian meninggalkan kalian, hidup kalian akan begitu hampa tanpanya, maka dari itu jaga Ibu kalian, bila perlu minta maaf dari sekarang sebelum Ibu kalian meninggalkan kalian selama-lamanya”, ujarnya panjang.
Aku termenung dengan apa yang diucapkan oleh Bu Nina, apalagi saat bagian jika Ibu meninggalkanku, seketika aku takut dan aku tak ingin kehilangan Ibuku.

Bel selesai sekolah pun berbunyi dan aku pulang dengan berjalan kaki sambil masih memikirkan perkataan dari Bu Nina.
Sekitar 30 menit ku berjalan, aku sampai di rumah.
“Assalamu’alaikum”, salamku.
“Walaikum’salam”, jawabnya dengan senyuman yang membuatku tenang.

Aku segera ke kamar mengganti pakaianku dan membantu Ibuku yang sedang memasak di dapur.
“Din, bantu Ibu ya siapin makanan, sebentar lagi Ayahmu pulang”, suruhnya.
“Siap Ibuku”.

Aku membantu Ibuku memasak ikan goreng. Aku melihat gelas plastik berwarna pink yang sedang di pegang Ibuku yang berisi air yang sedang ia minum. Gelas itu di simpan dan aku melihat isi gelas itu, ternyata air putih. Lega rasanya.
“Bu, udah di minum obatnya?”, tanyaku.
“Udah kok nak”, jawabnya.

Aku sangat merasa haus, lalu aku mengambil minuman kaleng di dalam kulkas, karena kemarin aku dapat bingkisan makanan dan minuman kaleng. Di kulkas banyak minuman soda, tapi aku pilih minuman teh. Ku hampiri Ibuku yang sedang duduk di lantai ruang keluarga.
“Din, Ibu mau dong minumannya!”, pintanya.
“Jangan Bu, ini dingin minumannya”, larangku.
“Itu kan teh bukan minuman soda, enggak apa-apa kan?”, mohonnya.

Aku berpikir sejenak, benar juga apa kata Ibuku, mungkin tidak apa-apa karena ini teh, tidak berbahaya. Jadi ku izinkan Ibuku meminum minumanku.
“Tapi jangan banyak-banyak, bu!”, kataku.
“Iya”, jawabnya pendek.

Ibuku meminum minumanku, aku segera menahan Ibuku untuk tidak banyak-banyak meminum minumanku.
Setelah Ibuku minum, aku pergi ke kamarku untuk mengerjakan tugas. Baru ku melangkah sampai tangga, terdengar suara benturan, seperti orang terbentur ke tembok, seketika ku ingat Ibuku. Aku kembali ke ruang keluarga dan ternyata Ibuku sudah terbaring tak sadarkan diri tergeletak di lantai.
“Bu, bangun bu, bangun!”, teriakku panik sembari ku goyangkan badan Ibuku.

Tapi Ibuku tak kunjung bangun, tiba-tiba keluar busa berdarah dari mulutnya dan itu membuatku semakin panik. Dalam keadaan panik, aku mencoba menelpon Ayahku, dengan gemetar ku tekan angka demi angka, dan “pulsa Anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini”. Sial! Lalu aku tinggalkan Ibuku sebentar dan aku berlari keluar ke warung telepon untuk menghubungi Kakak pertamaku, Kak Tia.

Aku berlari secepat-cepatnya menuju warung telepon dengan mata bercucuran air mata. Para tetangga memanggilku, tapi tidak aku hiraukan. Sesampainya di warung telepon, ku tekan nomer telepon rumah Kakakku, dan ternyata terhubung.
“Kak, Ibu Kak, Ibu pingsan, di mulutnya keluar busa berdarah, Ayah belum pulang, Dini panik Kak enggak tahu mesti ngapain”, ujarku dengan suara gemetar.

Tidak ada jawaban dari Kakakku, tapi terdengar suara dari belakang yang menyerukan “Bangun Tia, bangun”, aku berpikir Kakakku pingsan. Lalu ku matikan teleponku dan kembali berlari menuju rumahku.

Sesampainya di rumah, ternyata di rumahku sudah ramai oleh para tetanggaku yang sedang mencoba menyadarkan Ibuku. Salah satu tetanggaku bertanya padaku.
“Din, kenapa Ibumu bisa pingsan?”, tanyanya.
“Dini juga enggak tahu bu, tiba-tiba saja Ibu udah pingsan”, jawabku.
“Ayahmu mana? Dia sudah tahu?”, tanyanya kembali.
“Belum pulang dan belum tahu juga, bu”, jawabku.
“Nomer Ayahmu berapa, biar Ibu telepon suruh bawa ambulan”, sarannya.
“08157097418”, ujarku.

Di teleponlah Ayahku oleh Bu Yayah untuk menyuruh memanggil ambulan. Sekitar 30 menit, Ayahku datang dengan membawa ambulan panggilannya. Ibuku di angkat menuju mobil ambulan, aku berdua di dalam ambulan bersama suster yang mengecek keadaan Ibuku. Ayahku memakai motor pergi terlebih dahulu ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, paramedis dengan sigap membawa Ibuku ke UGD dan dokter pun menyuruhku tunggu di luar.

Aku menunggu di ruang tunggu berdua dengan Ayahku, berharap kabar baik tentang keadaan Ibuku. Sekitar 45 menit dokter menangani Ibuku, dia keluar dengan raut wajah bertanda tidak baik.
“Dok, bagaimana keadaan istri saya?”, tanya ayahku cemas.
“Maaf pak, istri bapak tidak bisa tertolong”, jawabnya dengan penuh penyesalan.

Ayahku seperti terdorong ke belakang, tak percaya dengan apa yang di katakan dokter. Ayahku tak mampu menemui Ibuku, dia pergi keluar ruang UGD, dan aku perlahan membuka pintu ruang 05 itu.

Ku lihat sesosok wanita, pucat, lemah, terbaring tanpa nyawa, yaitu Ibuku sendiri. Ku hampiri dia dan ku peluk Ibuku.
Dini: “Ibu, kenapa Ibu pergi ninggalin Dini? Dini enggak rela Ibu pergi, Dini enggak sanggup di tinggalkan oleh Ibu, Dini belum sempat mengucap kata maaf sama Ibu, Dini gagal jagain Ibu, Ibu bangun!”, teriakku dan air mata terus mengalir di pipiku.
“Arrrggghhh…”, teriakku.

Bodohnya aku, aku tak bisa menjaga Ibuku, aku kehilangan orang terpenting dalam hidupku. Aku tak sanggup kehilangan Ibuku, takkan ada lagi senyuman yang menjadi penyemangat hari-hariku. Bodoh, bodoh, bodoh!

Tak lama kemudian Kakakku yang sempat aku telepon datang ke rumah sakit, dia kaget melihat Ibunya sudah tak bernyawa lagi.
“Ibu…”, teriaknya.
Kakakku langsung memeluk Ibuku.
“Kenapa semua ini bisa terjadi? Bilang sama kakak. Semua ini salah kamu, kenapa kamu enggak bisa jaga Ibu dengan baik, dokter udah bilang berapa kali perhatikan kondisi, makanan, minuman yang masuk ke perut Ibu, kakak benci sama kamu!”, dengan nada tinggi.
“keluar kamu! Kakak enggak mau lihat kamu!” dengan tangan menunjuk ke pintu keluar

Aku keluar dengan langkah pelan, semua yang dikatakan kakakku benar. Aku tak bisa menjaga Ibu dengan baik, penyakit yang dia derita menyerangnya dan melumpuhkan nyawanya.

Aku menemui dokter untuk mengetahui penyebabnya. Di ruang dokter.
“Dok, kenapa Ibuku bisa meninggal?”, tanyaku.
“Penyakit jantung Ibumu sudah parah, di tambah paru-paru Ibumu terendam”, jawabnya.
“Kenapa bisa terendam, dok? Ibuku kan tidak punya penyakit paru-paru?”, tanyaku heran.
“Sepertinya Ibumu meminum minuman soda”, jawabnya singkat.

Aku terdiam sejenak, setiap hari aku selalu memperhatikan apa saja yang ibuku makan dan minum. Tak lama aku teringat minuman yang di tuangkan dalam gelas plastik berwarna pink itu. Sepertinya Ibuku meminum minuman soda dan dia memindahkan minumannya ke dalam gelas plastik berwarna pink itu.

“terimakasih, dok”.

Aku keluar dan menemui Ayahku yang sedang duduk lemas di ruang tunggu. Ayahku meminta pihak rumah sakit mengantarkan jasad Ibuku ke rumah duka.

Sesampainya di rumah, para tetangga membantu mengurusi jasad Ibuku. Pertama kali aku sampai di rumah, aku segera ke dapur mencari gelas plastik pink itu. Untung saja gelas itu belum di cuci, dan ku cium aroma dari gelas itu, ternyata aku mengenali aroma itu, minuman bersoda.

Rasa penyesalanku semakin besar, karena aku sangat teramat lalai dengan kejadian ini. Aku tak bisa berhenti untuk menangis. Aku membuat keluargaku menangis kehilangan orang yang terpenting dalam hidup mereka.

Jasad ibuku sekarang akan di mandikan, aku ikut untuk memandikannya. Begitu putih, bersih tubuh ibuku seperti tak ada beban dalam dirinya, tak seperti awalnya penyakit yang dia derita begitu sangat lama dia tanggung.

Selesai memandikan, ibuku di pakaikan kain kafan. Aku tak sanggup untuk melihat itu. Tak lama kakak keduaku, Yuli datang, dia telat mendapatkan informasi. Dia bingung sebenarnya apa yang terjadi.
Di depan pintu
“ada apa ini?itu siapa yang sedang di kain kafani?”, tanyanya dengan wajah kebingungan.
“yang sabar ya nak, itu Ibumu”, jawabnya pelan. mengelus pundak kakakku

“tidaaakkk…”, teriak kakakku dan langsung memeluk Ibu.
“ibu jangan tinggalin yuli!”, pintanya sembari menangis.

Kakakku melihat ke arahku yang tepat di sebelah jasad ibuku.
Paaakkk…! tampar kakakku padaku.
“Semua ini salahmu, kamu enggak becus urus ibu, kakak percaya sama kamu untuk jagain ibu, karena kamu yang setiap hari bersama ibu, kenapa hal ini bisa terjadi din, kenapa?”, dengan nada tinggi.

Aku hanya bisa diam, tak bisa ku ucapkan apa penyebab awalnya, aku memang lalai, tapi itu semua bukan aku yang salah, aku sudah berusaha menjaga ibuku dengan baik.

“yuli, kamu enggak boleh tampar adikmu!”, tegurnya
“semua bukan salah Dini, ini sudah takdir dari yang Maha Kuasa”, katanya.
“maafin kakak din”
“maafin kakak juga din”

Keadaan sempat hening sejenak, lalu ayah memelukku dan kakak pertama dan kakak keduaku ikut memeluk kami berdua. Suasana penuh sedih harus berubah menjadi sebuah ketegaran dalam kehidupan kami kedepannya.

Jasad ibuku langsung di makamkan di TPU terdekat. Saat ibuku akan di masukan ke liang lahat, aku mengucapkan kata terakhir untuknya “Bu, maafkan semua kesalahanku, sampai kapan pun aku takkan pernah bisa lupakanmu, semua yang telah engkau berikan takkan pernah ku lupakan, semua jasamu takkan pernah bisa ku gantikan, hanya doa yang bisa aku berikan untukmu menerangi alam kuburmu, ragamu pergi tapi hatimu tetap menyatu dengan hatiku, kau tetap orang terpenting dalam hidupku, selamat jalan bu”.

Jasad ibuku sudah tertimbun tanah, tapi cintanya takkan pernah tertimbun dunia lain, cinta kita mengalir selalu, sampai ku menutup mata.

Cerpen Karangan: Dini Anggraeni
Facebook: dinie_cheerful[-at-]yahoo.com

Cerpen Arrrggghhh! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Dia Tak Sama

Oleh:
Dentingan piano lagu Für Elise karangan Ludwig van Beethoven selalu ku dengar setiap ku memasuki rumah sepulang sekolah. Ya gadis anggun yang tengah melentikkan jarinya ke material putih hitam

Halusinasi

Oleh:
Sebagian besar orang bilang aku adalah anak yang aneh, Aku duduk di tempat paling belakang karena dipindahin sama wali kelasku. Dulunya duduk agak ke depan atau bisa dibilang tengah-tengah,

Demi Sebuah Asa

Oleh:
Hari berganti hari waktu kini terasa cepat berlalu namun aku masih tetap di sini bersama keluarga kecilku di istana yang jauh dari kemewahan dan kegelimangan harta. Bukan berarti aku

My Brother (Part 2)

Oleh:
“Uhuk, uhuk!” Suara batuk Raffa yang membuatku terbangun dari tidurku lagi dan lagi terdengar. Sudah tiga hari ini ia batuk-batuk. Setelah pulang dari penjara seminggu yang lalu, ia terlihat

3 La

Oleh:
Kenalin nih, namaku Bela. Aku tinggal di Semarang. Aku punya sahabat namanya Vela dan Mela. Dari kecil, kami udah sering main bareng karena kami bertetangga satu jalan. Aku, Vela

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Arrrggghhh!”

  1. layra2013 says:

    Mengharukan….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *