Arti Berbagi Dan Menghargai Uang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 18 July 2017

Matahari memancarkan sinarnya. Sinarnya yang hangat menyinari dunia ini. Sinarnya mempunyai arti penting bagi kehidupan. Sinarnya mampu memberi warna bagi kehidupan. Aku membuka mataku. Perlahan-lahan aku beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju jendela. Kubuka jendela. Sinarnya masuk menusuk mataku. Membuat mataku silau. Aku menikmati keindahan suasana pagi hari yang begitu sejuk dan damai. Burung-burung berkicau. Yang membuat pagi ini tak begitu sepi.

Namaku Annisa Salsabilla. Biasa dipanggil Nisa. Aku berkerudung. Umurku 9 tahun. Aku masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD). Aku tinggal di Surabaya. Aku anak tunggal di keluarga ini. Aku hidup di keluarga yang serba berkecukupan. Dan mereka sangat menyayangiku.

Aku mempunyai dua orang sahabat. Mereka berdua bernama Farah Rosela dan Aliyah Ramadhani. Mereka biasa dipanggil Farah dan Aliyah. Kami sudah bersahabat sejak duduk dibangku Taman Kanak-Kanak (TK) dan persahabatan kami berlanjut sampai sekarang.

Segera kulangkahkan kakiku untuk menuju kamar mandi setelah itu bergegas menyiapkan peralatan sekolah yang akan kubawa hari ini. Aku menuruni anak tangga satu per satu untuk sarapan bersama keluarga.
“Pagi bunda” sapaku
“Pagi juga Nisa sayang” jawab bunda
“Masak apa nih? Aromanya harum banget” ucapku
“Ya masakan kesukaanmu, nasi goreng pake telur mata sapi” ucap bunda
“Bunda emang paling ngerti deh hehe” ucapku

“Ayah, bunda” panggilku
“Iya ada apa sayang?” jawab bunda dan ayah
“Nanti malam jadi ya.. jalan-jalannya” Tanyaku
“Emm gimana ya…” ucap ayah
“Ayah.. Bunda nanti jadi ya plisss” ucapku sambil memohon
“Iya Nisa, nanti kita bakalan jadi jalan-jalan kok” Ucap bunda sambil tersenyum
“Yeayyyy” ucapku dengan gembira
“Ya udah Nisa berangkat dulu ya. Assalamualaikum” Pamit Nisa sambil mencium kedua tangan orangtuanya
“Walaikumsalam. Hati-Hati ya sayang” Ucap ayah dan bunda

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Matahari tak memancarkan sinarnya. Pagi telah berganti malam.
“Bun, Nisa udah siap nih. Ayuk berangkat” ucap ku
“Iya sebentar” ucap bunda
“Nah, bunda sama ayah sudah siap. Ayo berangkat” ucap Ayah
Aku memasuki mobil dan bersiap untuk jalan-jalan.

“Yah, kita ke pusat toko jam terbesar di sini yuk” Ucapku
“Loh, Nisa mau beli jam lagi” Ucap bunda
“Iya bun. Nisa pengen beli jam kayak punyanya Aliyah. Jamnya bagus banget bun. Warnanya galaksi dan bernuansa blink-blink. Pokoknya bagus banget deh” ucapku
“Nisa kan masih punya jam. Masih bagus-bagus lagi. Udah banyak loh jam Nisa yang gak kepakai gara-gara ganti baru terus” Ucap bunda
“Iya Nisa. Kalau yang lama masih bisa kepakai, ngapain beli baru? Kan mubadzir” Ucap ayah
“Sekali aja yah, bun. Nisa janji deh gak bakal beli jam baru lagi. Ini yang terakhir” Ucapku memohon
“Nisa udah berapa kali bilang kayak gitu ke bunda? Ujung-ujungnya minta ganti baru terus bilang seperti itu lagi. Mending uangnya ditabung” Ucap bunda
Setelah aku memohon agar permintaanku dikabulkan, tetapi percuma saja. Ayah dan bunda tak ingin membelikanku jam baru. Sepanjang perjalanan aku terus menerus cemberut. Bunda berusaha membujukku untuk tersenyum kembali dan tidak cemberut. Namun itu tak kuhiraukan.

Setelah pulang dari jalan-jalan yang tak menyenangkan itu, aku langsung menuju ke kamar dan menguncinya. Aku tak ingin mengobrol dengan mereka.
“Ah kenapa sih ayah dan bunda tak membelikanku jam baru” ucapku sambil mengambek
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintuku
Tok.. tok.. tok..
“Nisa buka pintunya dong. Bunda mau bilang sesuatu nih sama Nisa” ucap bunda
“Gak mau. Nisa gak mau ngobrol sama bunda” Ucapku
“Nisa sayang.. gak boleh ngambek-ngambek gitu ah. Ntar cantik nya ilang loh. Bukain ya pintunya. Bunda mau ngomong sesuatu sama Nisa” Ucap bunda
Akhirnya aku pun membukakan pintunya

“Nisa, jam tangan kamu kan banyak. Masih bisa dipakai semua. Masih bagus-bagus pula. Kenapa kita harus membeli yang baru? Kan namanya mubadzir. Mending uangnya kita tabung untuk membeli sesuatu yang sangat kita butuhkan” ucap bunda
“Tapi kan Nisa pengen punya jam itu, bun” ucapku
“Nisa pengen jam itu? Nih ya bunda bilangin. Nisa kalau pengen jam itu, Nisa harus nabung itu supaya bisa beli jam yang Nisa inginkan. Begitu pula sama seperti barang yang Nisa pengen, Nisa harus menabungnya terlebih dahulu” Ucap bunda
“Kenapa harus menabung sih bunda?” Ucapku
“Loh kan kalau kita menginginkan sesuatu, kita harus berusaha terlebih dahulu. Dengan begitu, Nisa bisa merasakan bagaimana susahnya kita berusaha untuk mendapatkan sesuatu tersebut. Dengan begitu Nisa tidak seenaknya lagi meminta sesuatu” ucap bunda
“Tapi kan lama bun. Harus nunggu uangnya sampai cukup, baru bisa beli sesuatu” Ucapku
“Nah itulah yang bunda ajarkan kepada kamu. Untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan memanglah tidak mudah. Maka dari itu kita tidak boleh mubadzir. Nisa tau sendiri kalau harus nunggu lama untuk membeli sesuatu yang kita inginkan. Maka dari itu, kita harus membeli sesuatu yang kita perlukan, bukan yang kita inginkan” Ucap bunda
“Sekarang Nisa mengerti kan kenapa bunda tak membelikan jam yang kamu inginkan. Bukannya bunda pelit atau gimana. Nisa sudah besar. Nisa harus belajar menabung mulai sekarang. Sekarang sudah malam. Nisa sekarang harus tidur. Besok kan hari minggu, bunda mau ngajak kamu ke suatu tempat” Ucap bunda
“Ke mana bun?” Tanya ku
“Besok kamu akan tahu. Oh iya, jangan lupa besok siapkan barang-barang kamu yang sudah gak kepakai dan buku bacaan yang masih berguna tetapi kamu sudah membaca dan mengerti isinya. Inget loh jangan lupa” ucap bunda lalu mengecup kening Nisa
“Baik, bun” ucapku

Langit yang semula hitam tak ada sinar matahari yang meneranginya, sekarang berubah menjadi biru murah cerah yang disinari dengan sinar matahari yang hangat. Aku sudah bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat yang telah bunda janjikan. Aku sudah menyiapkan apa saja yang bunda katakan tadi malam.

“Bun, Nisa sudah siap nih. Jadi gak?” Tanya ku
“Iya jadi. Ayo kita berangkat” Ucap bunda
Aku dan bunda masuk ke dalam mobil. Kali ini yang menyetir mobil adalah Pak Rudi. Pak Rudi adalah supir keluarga kita. Ayah tak bisa ikut menemani kami dikarenakan ada pekerjaan penting yang harus di selesaikannya. Dan mobil pun bergerak menuju tempat yang bunda rencanakan.

“Bun, kita mau ke mana sih?” Tanya ku
“Nanti kamu bakalan tahu” Ucap bunda

“Nah, kita sudah sampai” Ucap bunda
“Di sini bun?” Tanyaku
“Iya di sini. Lihat itu. Mereka masih bisa hidup walau serba kekurangan. Mereka tak punya tempat tinggal. Bersyukurlah kamu masih punya ayah dan bunda. Bersyukurlah kamu masih punya tempat tinggal yang bersih. Bersyukur kamu masih bisa makan dan minum. Bersyukurlah kamu hidup dengan serba berkecukupan. Bersyukurlah kamu bisa bersekolah. Nisa, lihat mereka. Bandingkan dengan kamu. Kamu punya segalanya. Mereka? Mereka hidup penuh dengan serba kekurangan. Sekarang ayo kita ke sana. Bertemu dengan mereka” Ucap bunda
Aku menunduk. Aku menyadari selama ini aku selalu berlebihan. Aku selalu saja meminta sesuatu hal yang tak berguna. Aku selalu saja ingin apa yang aku ingin kan dikabulkan. Selama ini aku selalu menghabiskan uang untuk apa yang aku inginkan. Aku selalu mempedulikan apa yang aku inginkan. Bukan yang aku butuhkan.

“Nisa, ayo bantu bunda membagikan makanan ini. Setelah itu bagikan barang-barangmu yang bunda suruh bawa kemarin kepada mereka” Ucap bunda
“Baik, bun” Ucapku

Setelah membagikan makanan yang dibawa bunda dan barang-barangku, aku melihat mereka satu per satu. Betapa bahagianya mereka mendapat semua ini. Mereka berulang kali berterima kasih kepadaku dan bunda. Aku menatap langit. Merenungi apa yang bunda telah ajarkan kepada Nisa hari ini.
“Makasih, bun. Makasih udah bawa Nisa ke tempat ini. Nisa sadar sekarang. Nisa janji bakal menabung dan berhemat. Nisa gak bakal meminta sesuatu yang gak penting lagi” batinku
Setelah itu, aku dan bunda pulang. Segera balik menuju rumah

“Emmm, bun” panggilku
“Iya sayang” jawab bunda
“Sekarang Nisa tahu. Nisa terlalu boros. Nisa selalu saja merengek untuk dibelikan sesuatu yang Nisa inginkan tetapi itu gak penting. Nisa sadar bahwa Nisa harus lihat ke bawah bahwa masih banyak orang yang tidak seberuntung Nisa. Mereka hidup serba kekurangan tetapi mereka selalu bersyukur. Nisa janji bakal rajin menabung, bun” ucap Nisa dengan penuh rasa penyesalan
“Nah gitu dong. Ini baru anak bunda” ucap bunda sambil tersenyum mengelus kepala Nisa

“Bun, Nisa boleh gak minta untuk pergi ke suatu tempat?” Tanya Nisa
“Boleh. Memangnya mau ke mana?” Tanya bunda
“Ke toko yang menjual celengan. Nisa mau menabung mulai sekarang” Ucap Nisa dengan penuh keyakinan
“Oke sip” ucap bunda

Setelah membeli celengan, kami semua segera pulang menuju ke rumah. Dan tanpa disangka-sangka, bunda memberi uang 5 ribuan untuk kutabung.
“Nisa, ini bunda kasih Rp.5.000,- buat Nisa tabung. Uang ini sebagai penghargaan buat Nisa karena sudah mau menabung. Nisa mulai sekarang harus hemat. Gak boleh boros. Nisa harus tepati janji Nisa buat rajin menabung loh” ucap bunda
“Iya bunda, Nisa janji hehe” ucap Nisa
“Inget peribahasa ‘SEDIKIT DEMI SEDIKIT LAMA-LAMA MENJADI BUKIT’. Walaupun menabung itu membutuhkan proses yang cukup lama, tapi suatu saat bakalan menjadi banyak jika kita terus menabung”
“Iya bunda. Nisa bakal ingat peribahasa itu” ucap Nisa sambil tersenyum
“Jika tabungan kamu sudah mencapai jumlah yang banyak, bunda bakal membuatkan tabungan di bank untukmu”
“Bank? Apa itu bunda?” Tanya Nisa
“Bank itu adalah sebuah tempat untuk menyimpan uang kita dalam jumlah banyak dengan aman dan bisa juga sebagai lembaga untuk meminjam uang” jawab bunda
“Oh jadi begitu” ucap Nisa

Hari-hari telah berganti. Setiap hari aku menyisihkan uang jajan ku untuk ditabung. Tak lupa juga kusisihkan uang jajanku untuk bersedekah dengan memberikannya kepada mereka yang membutuhkan. Ingat, bersedekah tidak membuat kita miskin, tetapi membuat pahala dan rezeki kita berlipat ganda.

Dan kini celengan ku terasa sangat berat. Uang yang aku tabung kini sudah mencapai jumlah yang sangat banyak. Aku diajak bunda untuk pergi ke bank. Uang yang dulunya ada di celengan, kini sudah tersimpan di bank. Dan usahaku untuk menabung tidak sia-sia. Terima kasih bunda telah mengajarkanku menabung. Ayo kawan mari kita menabung dan berbagi mulai sekarang.

Cerpen Karangan: Tiara Putri Ramadhani
Facebook: Tiara P. Ramadhani
Hai..
Makasih udah baca cerita aku ya
Terus dukung karya-karya aku selanjutnya ya..
Terima Kasih^^
Mau tau aku lebih dekat? Nih sosmed aku:
ig: tiara,pr
facebook: Tiara P. Ramadhani (jarang buka)
email: tiaraputriramadhani1[-at-]gmail.com

Cerpen Arti Berbagi Dan Menghargai Uang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hidup Si Lumut

Oleh:
Di sebuah halaman belakang, di sekolah yang kecil, terdapat sepetak paving dengan lumut di atasnya. Setiap istirahat tiba, selalu ada dua anak yang mengamati lumut tersebut. Anak yang pertama

Thank You Mesin Waktu

Oleh:
Hai, Guys! Namaku Vannila, dipanggil Vanny. Aku tinggal di tahun 2595. Di dunia sekarang, terjadi perang di mana-mana. Semuanya terpecah belah. Tapi, perangnya ada jadwal, sih. Tiap bulan, ada

Aku Pulang… Kekasihku

Oleh:
Teriknya matahari siang tak menyurutkan niatku untuk bertemu dengannya, kekasihku. Dia telah menunggu berjam jam lamanya di sebuah perempatan jalan kota itu. Kini barulah aku bisa menghadap kepadanya. “Sayang

Kontes Dangdut Semilyar (Part 2)

Oleh:
Dan, starting with kunci nada. Satu minggu untuk menghafal dan menghayati dengan story lagu dari sang empunya. Setelah pembubaran kelas hari ini, aku mulai mendekati Farhan. Hanya untuk sekedar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Arti Berbagi Dan Menghargai Uang”

  1. fadillah says:

    itu temanya apa ya kak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *