Arti Penyakitku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 7 May 2014

Agustus 2005, adalah awal aku menjadi siswi baru di salah satu SMA Negeri di Jawa Tengah tepatnya di kabupaten Brebes, perkenalkan aku Dita Chintya Ramadhanti, siswi kelas X.3 waktu itu. Di awal-awal pertama masuk sekolah, ku bahagia sekali karena cepat beradaptasi dengan teman-teman sekelasku yang baru, sebut saja Maya, Ais, Anggun, Fani, mereka sangat ramah padaku dan Maya yang paling akrab karena memang dia teman sebangku ku kala itu.

Seperti biasa di awal-awal semester, sekolah kami mengadakan Perkemahan selama 1 malam, 2 hari, yang wajib diikuti seluruh warga kelas X. Alhasil aku pun wajib ikut. Tak terasa hari kemah pun tiba, aku berangkat diantar kakakku Adit pake motor Kingnya menuju sekolah yang jaraknya kira-kira 2 KM.

Sebelum berangkat tak lupa mempersiapkan sesuatu yang harus dibawa, dan pamit sama mamahku
“Mah, Dita berangkat kemah dulu ya”
“Eh, ntar dulu mamah lagi buatin kue brownis cokelat, bentar lagi matang”
Mamah ku memang selalu buatin makanan kesukaanku, buat jadi bekal di sekolah.
“Tapi mah, Dita udah telat nih, 20 menit lagi jam 2 siang” aku dengan muka manyun.
“Sayang, jangan gitu ah, mamah gak mau lihat anak perempuan mamah sakit, nih sudah matang, mamah taruh di tempat makanmu ya”
Selalu, perhatiannya membuat aku terharu, dia selalu memperhatikan kesehatanku, selalu khawatir bila anak perempuannya ini kelaparan.
“Iya deh mah.. Ya sudah Dita pamit dulu”
“Dita, inget jangan sampai lapar baru makan, tapi makanlah sebelum lapar, inget kesehatanmu nak”
“Ok deh mah, Dita tahu kok. Ya sudah mah, Dita pamit, Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam sayang, Adit hati-hati jangan ngebut”
“Beres mah” Jawab kakakku Adit

Malam pun tiba, aku 1 sangga sama Maya, Ais, Fani juga Anggun, ya aku pun ditunjuk menjadi ketua sangga sama kakak pembina waktu itu.
“Dit, wajahmu kok pucat, kamu sakit?” tanya Maya
“Enggak kok May, cuma batuk ringan saja, memang sih udah 7 hari belum reda”
“Loh, jangan dianggap remeh Dit, walau cuma batuk kamu harus cepat ke dokter sebelum terlambat”
“Yee, May gimana Dita mau ke dokter, ini sudah jam berapa, udah tutup tuh klinik, lagian hari sabtu biasanya setengah hari doang” sambung Anggun dengan gaya khasnya yang centil. Sementara aku cuma senyum lihat perhatian teman-teman ku ini. Memang batuk ku belum reda, padahal sudah minum obat batuk beli di Apotek. Oh iya, aku ini anaknya malas kalau disuruh berobat, alasannya ya karena enggak suka minum obat yang pahit dan besar-besar bentuknya.
“Dit, kalau kamu mau istirahat, istirahat saja di kelas, nanti aku ijinin ke kakak pembina”
Kita enggak buat tenda. Walhasil kelas lah yang jadi tempat tidurnya.
“Ya sudah May, aku istirahat dulu”

Dengan langkah kaki yang tidak seimbang, ku paksa berjalan, enggak mungkin aku merepotkan Maya dengan minta diantar ke kelas, mereka sedang diskusi tugas yang diberikan oleh kakak pembina.
“Aw…” Ku menabrak bahu salah satu siswa kelas X yang aku gak kenal siapa nama dan kelasnya.
“Kamu gak papa. Maaf ya ku gak lihat ada orang di sampingku” aku Angga siswa kelas X.5 dengan wajah yang cukup dibilang ganteng menurut teman sekelasnya.
“Iya gak papa. Aku yang minta maaf karena aku yang menabrakmu”
“Hmmm ya sudah kita sama-sama saling minta maaf aja ya. Oh iya kamu mau kemana?”
“Mau ke kelas. aku lagi gak enak badan, aku ke kelas dulu ya”
“Ya cepat sembuh ya” Angga dengan ramahnya.
“Senyumnya indah banget nih cowok” gumamku dalam hati.
Gak, jangan sampai ku naksir nih cowok. Gimana kata Ayahku, kalau aku harus serius sekolah, gak boleh pacaran.

Di kelas aku tiduran, tapi entah kenapa tenggorokanku terasa gatal sekali, aku batuk-batuk lagi. Ya malam yang dingin, dengan angin yang masuk ke kelas membuat ku batuk-batuk lagi. Dengan suara batuk ku yang lama dan keras hingga terdengar sampai keluar, membuat Fani teman 1 sangga ku menghampiriku ke kelas.
“Dita, batukmu kok kedengeran parah banget sih, dah berapa hari kamu batuk?” tanya Fani sambil ikut ngolesin minyak kayu putih di tenggorokanku.
“Hampir 7 hari Fan, aku malas ke dokter, bentaran juga sembuh sendiri”
“Jangan gitu Dit, kamu harus cepat berobat jangan ditunda lagi”
“Iya Fan, makasih ya, kamu balik lagi saja ke lapangan. aku mau tiduran”
“Ya sudah kalau gitu. Kalau perlu apa-apa panggilku saja”
“Iya Fan”

Mataku terasa berat, ngantuk sekali. Akhirnya ku tidur juga. Tepat pukul 04:00 kita semua dibangunin oleh kakak pembina, buat mempersiapkan shalat subuh berjamaah.
Habis shalat kita istirahat sebentar. Lalu dilanjutin senam pagi dan makan pagi.
Tak tahu kenapa tubuh ku terasa lemas, gak bertenaga sama sekali. Apa yang terjadi pada tubuhku, gak seperti biasanya seperti ini.

Akhirnya kegiatan kemah di sekolah selesai juga. Ku pulang di jemput kakakku Adit yang kece bin usil.
“Mamah… Dita pulang…”
“Gimana sih anak mamah ini, gak pake salam malah teriak-teriak, gak sopan kamu Dit” Omel mamahku
“Maaf mamah. Assalamu’alaikum mah” cium punggung tangan mamahnya.
“Waalaikumsalam, nah gitu dong, tu baru anak mamah”
“Hehe iya mah, Dita ke kamar dulu mau istirahat, Dita udah makan siang tadi di sekolah”
“Ya sudah Dita istirahat dulu saja”

Hampir saja ku berjalan ke kamar. Tiba-tiba kepalaku pusing dan tubuhku lemas. Aku pingsan. Reflek mamahku teriak memanggil kakakku. 30 menit berlalu aku lum sadar juga. Mamahku yang panik segera menelpon Ayahku yang sedang bekerja, karena khawatir Ayahku langsung pulang ke rumah dan membawa ku ke rumah sakit terdekat.

1 jam berlalu akhirnya ku sadar juga, dokter yang menanganiku memanggil Ayah ku ke ruang kerjanya.
“Pak, anak bapak yang bernama Dita sedang sakit parah”
“Apa maksud nya Dokter?”
“Begini pak, menurut hasil pemeriksaan, Dita menderita kanker paru-paru stadium 3, sesegera mungkin harus dioperasi atau kemoterapi untuk mematikkan sel kanker sebelum merambat ke organ yang lainnya pak”
“Apa, gak mungkin anakku punya penyakit kanker Dok, gak mungkin” air mata keluar dari mata Ayahku.
“Ya Allah, kenapa anakku diberikan cobaan seperti ini, apa salahnya dia”
“Sabar pak, ini cobaan Allah. Bapak harus tabah” hibur Dokter Made kepada Ayahku.

Ku tahu penyakitku ini setelah Adit kakakku memberitahu tentang penyakitku. Orangtuaku tidak memberitahuku sama sekali. Ku senang dikasih cobaan ini, tuh artinya Allah sayang sama aku.

Sudah 1 minggu aku enggak masuk sekolah, ya ku sudah mulai ikut kemoterapi, ku pilih kemoterapi dibanding operasi, kata dokternya penyakitku masih stadium 3 masih bisa sembuh dengan terapi ini, karena jujur, aku takut dengan yang namanya operasi.

1 bulan sudah kemo ini ku jalanin, 1 bulan juga ku gak masuk sekolah. Ku beruntung punya keluarga yang sayang aku dan juga teman-temanku yang tiap hari memberi ku suport. Mereka memberiku semangat buat sembuh. Teman-temanku juga hampir tiap hari sepulang sekolah selalu nyempatin buat nemenin ku kemo.

Atas inisiatifku, aku memutuskan untuk keluar sekolah saja. Syukurlah orangtuaku setuju dengan keputusanku ini. Ku mau fokus sama penyakitku dulu, kalau udah benar-benar sembuh total aku sekolah lagi, itu pun aku ingin sekolah paket C setara SMA, biar bisa lulus di tahun yang sama dengan teman-temanku.

Hari terakhir kemo ku ditemanin mama, papa, kak Adit, juga ke 4 teman-temanku. Sore ini juga hasilnya, apakah ku dah bebas dari sel kanker apa belum.
“Ya Allah, Dita ingin sembuh, gak ingin lihat mamah ku nangis lagi. Please Allah dengarkan doa Dita” pinta ku di hati. Ya semoga Allah mengabulkan doaku ini.

Tepat jam 16:00 hasil nya keluar. Cuma orangtuaku saja yang dibolehkan ke ruangan dokter. Sementara aku, kak Adit, Maya, Ais, Fani dan Anggun menunggu di luar. Dengan muka cemas, sebisa mungkin ku tepiskan setelah mendengar penuturan dokter Made setelah keluar dengan orangtuaku.
“Selamat Dita” ucap dokter Made dengan ramahnya sambil berjabat tangan denganku. Mamahku langsung memelukku, disusul ayahku, kak Adit, juga teman-temanku.

Ya aku sembuh, aku dah bebas dari sel kanker yang membuat paru-paruku rusak. Alhamdulillah, Allah mendengar doaku, doa keluargaku dan juga teman-temanku. Aku bersyukur punya mereka yang menyayangiku. Aku berjanji setelah ini, ku kan menjaga kesehatanku dengan baik.

Cerpen Karangan: Nur Fitriyani
Facebook: www.facebook.com/nany.fitryany
Aku ini sedang belajar menulis cerpen, bila ada yang kurang harap dimaklumi ya. Oh iya, follow twitter ku @Yanny_fitry atau add fb ku Yanny Fitryany ^_^ jika mau berteman denganku.

Cerpen Arti Penyakitku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bapak, Hujan dan Kakak

Oleh:
Angin berhembus kencang mengibar-ngibarkan gorden jendela kamar saya, sejenak saya melemparkan pandangan dari buku yang sejak tadi menyita waktu saya. Baru saja hendak beranjak menutup jendela, tanpa aba-aba hujan

Bahagia

Oleh:
“Kalau itu yang mau kamu, ya sudah silahkan angkat kaki dari rumah ini!!” “Maafin Kiki Pi, Tapi Kiki tidak bisa menikah dengan wanita pilihannya Papi”. “Sudahlah Ki, papi sudah

Ungkapan Cinta Pertama dan Terakhir

Oleh:
Ocha itu cantik. Kata yang kurang tepat untuk menggambarkan bagaimana tuhan bisa menciptakan makhluk dengan fisik sempurna bernama Ocha. Rambut lurus hitam panjangnya berkibar saat tertepa angin. Bukannya merusak

Women, Gossip & Reality (Part 1)

Oleh:
Apa yang ada di benak kalian tentang arti sahabat. Sahabat itu adalah suatu hubungan emosional antara dua orang atau lebih yang didasari oleh persamaan sifat dan karakter yang bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *