Arti Sebuah Kasih Sayang (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 September 2015

“Ayo bangun nak sudah siang, kamu kan harus sekolah” Bujuk seorang wanita pada seorang gadis.
“Iya, Bun” Jawab gadis itu yang masih mengumpulkan nyawanya.
“Cepat mandi, Bunda tunggu di ruang makan” Kata wanita tersebut meninggalkan sang gadis.
“Oke Bun” Jawab gadis itu dan segera berlari ke kamar mandi.

Gadis itu adalah Anisa Ratih. Seorang gadis yang memiliki paras yang cantik, ramah, pintar dan suara yang dapat membuat semua orang terpukau jika mendengarnya. Anisa bersekolah di SMA BINTANG, SMA yang terbilang besar di Jakarta. Ia dapat sekolah di sana karena beasiswa yang ia dapat. Dan yang ia panggil “Bun” adalah pemilik Panti Asuhan tempat Anisa tinggal. Ya, Anisa memang tinggal di sebuah panti asuhan sejak ia bayi.

“Pagi semua” Sapa Anisa.
“Pagi juga kak Anisa” Jawab anak-anak panti.
“Pagi benar kak yang bangun” Sindir salah satu anak panti.
“Hehehe, tadi malam Kakak ngelembur” Jawab Anisa tersipu malu.
“Bun, Anisa berangkat dulu ya” Pamit Anisa setelah selesai sarapan.
“Assalamualaikum” Ucap Anisa.
“Waalaikumsalam” Jawab Bunda.

Anisa menelusuri setiap lorong-lorong sekolahnya untuk mencari sahabatnya Christy. Namun, ketika Anisa ingin menuju kantin ada yang menyandung kakinya hingga ia terjatuh.

“Aww!!” Rintih Anisa.
“Eh, sorry gue gak sengaja” Ucap gadis tersebut.
“Gak apa-apa kok, Clar” Balas Anisa yang berusaha berdiri.
“Bagus deh kalau gitu. Gue cuma mau bilang sama lo, anak haram kayak lo tuh gak pantes sekolah di sini! ngerti” Bentak Clara dengan menekan kata “Anak Haram”.
“Iya, gue gak habis pikir kenapa ya, kepala sekolah ngizinin dia masuk sini” Celetuk gadis yang lain.
“Eh! apa-apaan nih? lo gak ada puas-puasnya ya gangguin Anisa” Bentak Christy pada Clara.
“Kenapa? Masalah buat lo? Lagian gue gak gangguin dia kok, tadi gue cuma bilang, kalau anak haram kayak dia tuh gak pantes sekolah di sini” Balas Clara.

“Eh, jaga ya omongan lo, Anisa itu bukan anak haram!” Bentak Christy yang hampir menampar gadis tersebut namun dicegah oleh Anisa.
“Udahlah Christ, aku gak apa-apa kok” Kata Anisa berusaha menenangkan Christy walau sebenarnya hati Anisa sakit mendengar perkataan Clara.
“Tapi dia udah ngehina lo, Nis” Jawab Christy.
“Eh, lo tuh dibayar berapa sih sama tuh anak haram sampai mau-maunya belain dia?” Tanya gadis tersebut pada Christy.
“Eh iya, mana mungkin si anak haram punya uang dia kan tinggal di Panti” Sambung gadis tersebut tersenyum sinis.

Kini Anisa tidak bisa menahan tangisannya. Ia berlari menuju taman belakang dengan perasaan yang kacau.

“Yah dia mewek” Ledek gadis itu.
“Awas ya lo” Ancam Christy lalu mengejar Anisa.
“Udahlah Nis omongan si Clara gak usah lo dengerin, lo tahu sendiri kan Clara kayak gimana” Kata Christy menenangkan Anisa.
“Tapi perkataan mereka mungkin benar, aku ini anak haram” Jawab Anisa.
“Huss, lo gak boleh ngomong kayak gitu” Tegas Christy.
“Kalau aku memang bukan anak haram kenapa orangtuaku buang aku di panti asuhan, kenapa mereka tidak membesarkanku sendiri? kenapa Christ? Kenapa?” Tanya Anisa bertubi-tubi.

“Anisa lihat gue” sambil mengangkat kepala Anisa yang tertunduk, “orangtua lo naruh lo di panti pasti ada sebabnya dan gue yakin mereka naruh lo di panti bukan karena lo anak haram tapi karena sebab yang lain, ayolah Nisa Positive thingking dong” Jelas Christy panjang lebar.
“Makasih ya Christ, kamu memang sahabat aku yang paling bisa ngertiin aku” Jawab Anisa memeluk Christy.
“Nis, lo itu persis kayak almarhum bokap gue” Gumam Christy saat di pelukan Anisa.
“Kamu ngomong apa Christ?” Tanya Anisa.
“Enggak kok. Gue cuma bilang, itulah gunanya sahabat” Jawab Christy.
“Oh” Balas Anisa.
“ya udah, kita masuk ke kelas udah mau bel nih” Ajak Christy dan dibalas dengan anggukan Anisa.

Pelajaran demi pelajaran mereka lewati. Setelah lama bergelut dengan angka-angka, bel pulangpun berbunyi.
Teng! Teng! Teng! suara bel.
“Yuk Christ kita pulang” Ajak Anisa.
“Ayo” Balas Christy.

Saat mereka akan pulang, mereka melihat kerumunan siswa yang sedang membaca sebuah pengumuman di mading. Karena penasaran mereka pun menuju kerumunan siswa tersebut.

“Ada apa sih?” Tanya Christy.
“Ada lomba nyanyi tingkat nasional tuh” Jawab salah seorang siswi.
“Hemm” Anisa hanya bergumam.
“Minggir-minggir gue mau lihat” Seru Christy pada kerumunan siswa.
“Woi, santai dong” Kata salah seorang siswa.
“Pengumuman, dicari penyanyi muda berbakat” Ucap Christy yang sedang membaca pengumuman tersebut.
“Anisa… Anisa” Panggil Christy sambil ke luar dari kerumunan siswa tersebut.
“Aduh mana sih Anisa” Lanjut Christy.
“Dooorr!!!” Teriak Anisa.

“Aduh Anisa lo ngagetin gue tahu gak” Seru Christy kesal.
“Hehehe, maaf” Jawab Anisa.
“lo ke mana sih gue cariin juga?” Tanya Christy.
“Tadi aku ke kantin dulu beli minum, habis kamu lama sih” Jawab Anisa.
“Oh iya, nih minum untuk kamu” Sambung Anisa.
“Makasih Nisay, kamu tahu aja kalau aku lagi haus” Ucap Christy.
“Sama-sama kici, Anisa gitu. Oh ya pengumuman apa sih?” Tanya Anisa.

“Eh iya gue sampai lupa, itu loh ada lomba nyanyi tingkat Nasional. lo ikut ya?” Saran Christy.
“Gak ah” Tolak Anisa.
“Kenapa? Suara lo kan bagus, bagus banget malah dan lo juga kan jago mainin alat musik. Gue jamin lo pasti menang” Bujuk Christy.
“Tapi aku gak PD” Jawab Anisa.
“PD aja kali Nis, demi impian lo” Seru Christy .
“Kesempatan gak datang dua kali loh Nis” Lanjut Christy.
“Iya juga sih” Jawab Anisa.

“hemm.. oke deh aku mau” Tambah Anisa.
“Nah gitu dong, itu baru Anisa Ratih” Balas Christy.
“Tapi pasti ada uang pendaftarannya kan?” Tanya Anisa.
“Masalah itu mah gampang, pake duit gue dulu aja” Tawar Christy.
“Enggak ah Christ, aku sudah banyak berhutang sama kamu” Tolak Anisa.
“Woles kali Nis, lagian nanti kalau lo menang kan lo dapet duit tuh, nah duitnya kan bisa untuk bayar utang lo ke gue” Balas Christy.
“Emm. Ya udah deh” Jawab Anisa pasrah.
“Oke, udah sore ni pulang yuk” Ajak Christy.
“Yuk” Balas Anisa.

Ketika Anisa sampai di Panti, ia mendengar suara berisik dari dalam panti.
“Kalau anda tidak sanggup membayar hutang-hutang anda, panti ini akan kami sita” Bentak seorang rentenir pada Ibu Panti.
“Tapi dari mana saya dapat uang sebanyak itu dalam waktu seminggu” Jawab Ibu Panti dengan air mata yang mengalir di pipinya.
“Saya tidak mau tahu! Pokoknya minggu depan sudah harus lunas!” Balas rentenir itu.
“Ada apa ini?” Tanya Anisa yang baru saja datang.
“Kami akan kembali lagi minggu depan dan ingat hutang anda sudah harus lunas kalau tidak panti ini kami sita” Ancam rentenir itu.
“Mereka siapa?” Tanya Anisa setelah rentenir dan bodyguardnya itu pergi.
“Mereka rentenir” Jawab Bunda sesenggukan.
“Rentenir?” Tanya Anisa.
“Bunda?” Lanjut Anisa.
“Iya, bunda berhutang kepada mereka satu bulan yang lalu” Jawab Bunda yang seakan mengerti apa yang ada dalam benak Anisa.

“Tapi kenapa bun? Kalau bunda butuh uang kan bisa bilang sama Anisa” Tanya Anisa.
“Bunda tidak mau merepotkanmu, Nak. Kamu sudah cukup menderita dengan keadaanmu sekarang” Jawab Bunda.
“Bunda, Nisa gak pernah merasa direpotkan oleh Bunda. Anisa malah senang jika Anisa bisa menolong Bunda. Memang berapa hutang bunda pada mereka?” Tanya Anisa.
“Sepuluh juta” Jawab Bunda.
“Sepuluh juta? Untuk apa Bunda, uang sebanyak itu?” Tanya Anisa kaget.
“Untuk membayar sekolah adik-adikmu, Nis. Karena donatur panti asuhan ini sudah berkurang, tak seperti dulu” Jawab Bunda.

“Bunda bingung dapat uang sebanyak itu dari mana hanya dalam waktu seminggu” Tambah Bunda dengan air mata yang terus mengalir.
“Bunda tidak usah khawatir, Allah tak pernah tidur. Dia pasti akan menolong umatnya yang kesusahan. Itu kan yang selalu Bunda ajarkan pada Anisa” Jelas Anisa sambil memegang kedua tangan Bunda.
“Makasih ya, Nak. Bunda beruntung punya anak seperti kamu” Balas Bunda.
“Iya, Anisa juga beruntung punya Ibu kayak Bunda, walaupun Bunda bukan Ibu kandung Anisa” Ucap Anisa lalu memeluk Bunda.
“Anisa janji bun, Anisa akan melunasi hutang bunda pada rentenir itu” Tekad Anisa dalam hati.

Hari ini adalah hari minggu, Anisa berniat untuk mencari pekerjaan. Ia pamit kepada Bundanya namun bukan pamit untuk mencari pekerjaan melainkan untuk belajar di rumah Christy.

“Maaf ya bun, Anisa berbohong. Tapi jika Anisa tidak berbohong pasti bunda melarang Anisa untuk bekerja. Anisa ingin membantu Bunda” Batin Anisa.
“Tapi aku cari kerja di mana ya?” Tanya Anisa pada dirinya sendiri.
“Nah itu ada resto, coba dulu deh” Kata Anisa.
“Maaf mbak, apakah di sini ada lowongan?” Tanya Anisa pada seorang pelayan.
“Maaf dek, di sini sedang tidak ada lowongan pekerjaan” Jawab pelayan resto tersebut.
“Makasih mbak” tungkas Anisa.
“Maaf mbak, apakah di sini ada lowongan pekerjaan?” Tanya Anisa di resto yang lain.
“Maaf dek, di sini sedang tidak ada lowongan pekerjaan” Jawab pelayan resto.

Matahari mulai meninggi, dilihat jam tangannya sudah menunjukan pukul 11. 00.
“Aduh aku harus cari pekerjaan di mana lagi?” Tanya Anisa pada dirinya sendiri.
“Tempat cuci mobil” Pekik Anisa yang nampak berpikir.
“Tapi kan itu pekerjaan laki-laki? Emm, biarin deh” Sambung Anisa.
“Emm… maaf Pak, apakah di sini ada lowongan pekerjaan?” Tanya Anisa pada seorang laki-laki.
“Kebetulan sekali kami sedang membutuhkan seorang karyawan, tapi apakah kamu bisa? Inikan pekerjaan laki-laki?” Tanya laki-laki itu pada Anisa.
“Saya bisa kok, Pak” Jawab Anisa tersenyum.
“Baik, kamu bisa bekerja mulai sekarang” Kata laki-laki tersebut.
“Makasih, Pak” Ucap Anisa.
“Alhamdulillah, akhirnya aku dapat pekerjaan juga. Yah walaupun seperti ini, tapi gak apa-apa deh, demi Panti dan demi Bunda” Gumam Anisa.

Sudah lima hari Anisa bekerja di tempat pencucian mobil tersebut, yang berarti lima hari pula Anisa telah membohongi Bundanya. Hingga suatu hari Bunda melihat Anisa sedang mencuci mobil milik pelanggannya.
“Gadis itu sepertinya aku kenal” Gumam Bunda dalam hati.
“Loh itu kan Anisa, ngapain dia di sana?” Tanya Bunda pada dirinya sendiri.

“Assalamualaikum” Teriak Anisa setelah sampai di Panti.
“Waalaikumsalam” Balas semua anak panti.
“Kok Kakak pulang sore terus sih?” Tanya Dinda.
“Iya Kakak ada tugas dari sekolah” Dusta Anisa sembari meninggalkan ruang tamu.
“Oh… eh iya kak, Kakak ditunggu sama Bunda tuh di taman belakang” Teriak Dinda.
“Iya” Balas Anisa yang sedikit berteriak.

“Ada apa, Bun?” Tanya Anisa lalu duduk di samping Bunda.
“Ada yang kamu sembunyikan dari Bunda?” Tanya Bunda dengan tatapan lurus ke depan.
“Maksud Bunda?” Tanya Anisa yang tidak mengerti.
“Kamu bekerja kan di tempat pencucian mobil” Jawab Bunda yang membuat Anisa kaget.
“Da.. da.. ri mana Bunda tahu?” Tanya Anisa terbata-bata.
“Tadi siang bunda lihat kamu sedang mencuci mobil di tempat itu. Kenapa kamu berbohong pada bunda?” Tanya Bunda yang kini memalingkan wajahnya ke Anisa.
“Karena kalau Anisa bilang ke bunda pasti bunda tidak mengizinkan Anisa” Jawab Anisa menunduk.
“Berapa kali bunda katakan, biarkan Bunda yang mencari uang” Balas bunda.
“Tapi bun, Anisa juga ingin membantu Bunda melunasi hutang-hutang Bunda, Anisa tidak ingin kalau sampai Panti ini disita” Jawab Anisa menitihkan air mata.

“Maafkan Bunda, ini semua salah Bunda. Kalau saja waktu itu, Bunda tidak berhutang, ini semua tak akan terjadi”
“Udahlah, Bun. Stop! Salahin diri Bunda sendiri. Ini semua adalah takdir yang telah digariskan sama Allah”
“Anisa, Bunda bangga punya kamu” Ucap Bunda sembari memeluk erat tubuh Anisa.
“Anisa juga bangga punya Bunda. Anisa sayang sama Bunda, Bunda sudah Anisa anggap sebagai Ibu kandung Anisa” Kata Anisa dalam pelukan Bunda.
“Bunda juga sayang sekali sama kamu dan Bunda juga menganggap kamu sebagai anak kandung Bunda” Jawab Bunda melepaskan pelukannya.
“Sudah, tak usah menangis” Kata Bunda menghapus air mata Anisa.
“Terima kasih, Bunda” Balas Anisa.
“Iya, kamu belum makan kan?” Tanya Bunda dan Anisa hanya menggeleng.
“Ya sudah ayo makan” Ajak Bunda. Anisa mengangguk.

Malam ini hujan turun begitu derasnya. Terlihat seorang gadis yang sedang duduk di balkon depan sebuah Panti sambil memandang setetes demi setetes air yang turun membasahi Bumi.

“Mamah, Papah Anisa kangen, Anisa ingin bertemu dengan kalian” Kata gadis itu. Ya dia adalah Anisa.
“Kenapa Mamah sama Papah buang Anisa? Apakah benar bahwa Anisa ini anak haram?” Tanya Anisa pada hujan.
“Kata siapa kamu anak haram?” Tanya seorang wanita pada Anisa.
“Bunda?!” Pekik Anisa pada seorang wanita yang ia panggil Bunda.
“Anisa, kamu itu bukan anak haram” Kata Bunda lembut yang kini duduk di samping Anisa.
“Kalau Anisa bukan anak haram, kenapa orangtua kandung Anisa membuang Anisa di Panti Asuhan ini?” Tanya Anisa.
“Mungkin sekarang saatnya kamu mengetahui semuanya” Jawab Bunda dan Anisa hanya mengerutkan dahinya.
“Dulu Bunda menemukanmu di depan Panti Asuhan ini tepat saat hujan seperti ini” Kata Bunda memulai cerita.

Eyak… eyak… eyak -suara tangisan bayi.
“Suara apa itu, seperti suara bayi?” Tanya seorang wanita pada dirinya sendiri.

Setelah ia keluar, dilihatnya seorang bayi perempuan yang tengah menangis. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri akan tetapi ia tidak menemukan seorang pun di sana. Akhirnya ia membawa bayi perempuan itu ke dalam panti Asuhan. Dilihatnya bayi mungil tanpa dosa itu, lalu ia menemukan sebuah kalung dan secarik kertas di keranjang tempat bayi itu.

Bersambung.

Cerpen Karangan: Syarah Wardayanti
Facebook: Syarah Twibi-InsomNisa FromBruno

Cerpen Arti Sebuah Kasih Sayang (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Selalu Menyayangimu

Oleh:
Berulang kali ku menghela nafas. Sudah lebih dari lima belas menit aku terkurung di dalam sekolah karena hujan deras sedang mengguyur belahan bumi tempat ku berpijak. Entahlah, meski sudah

Pengakuan

Oleh:
Malam ini malam minggu. Setelah seharian aku berkutat dengan tugas dan ketikanku di laptop, aku memutuskan untuk berbaring di ranjang dengan kegelapan memakan seluruh penjuru kamar tidurku. Aku tak

Sahabat Yang Kurindukan

Oleh:
Namaku Vania aku mempunyai seorang sahabat bernama Jihan dia baik, cantik dan juga pintar aku memang baru mengenalnya tapi dia sosok sahabat yang baik yang pernah aku kenal. Saat

Satu Cita

Oleh:
Tap… tap… tap… Azura tak berhenti memainkan kakinya. Berjalan mondar-mandir dari sudut ruangan ke sudut ruangan lainnya. Wajahnya cemas bercampur harap. Sesekali ia menggigit ujung ibu jarinya. Tak jarang

Gadis Di Tengah Hujan

Oleh:
Desy melakukan pendidikan homeschooling. Tidak pintarnya dalam bersosialisasi dan penyakit asmanya yang menyebabkan ia melakukan pendidikan homeschooling. Jam menunjukan pukul 12.00. Desy sudah selesai belajar bersama Miss Tika. Hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *