Arti Sebuah Kasih Sayang (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 September 2015

“Surat apa ini?” Tanya wanita itu kebingungan. Dibacanya surat itu dengan perlahan
“Maaf sebelumnya jika saya menaruh anak saya di depan Panti Asuhan Ibu, saya bingung harus menitipkan anak saya di mana. Mungkin anda berpikir jika saya ini Ibu yang tidak bertanggung jawab, namun keadaannya saya saat ini harus membuat saya tega melakukan semua ini. Jika sudah tepat waktunya, saya akan mengambil kembali anak saya. Dan sebelah surat ini ada sebuah kalung, tolong Ibu kasihkan pada anak saya. Supaya saya dapat dengan mudah mengenali anak saya. Terima kasih”
“Kasihan sekali bayi ini” Kata wanita itu yang iba kepada bayi tersebut.
“Anisa Ratih” Wanita itu membaca kalung yang ia temukan di sebelah surat.
“Mulai saat ini Bunda akan memberi namamu Anisa Ratih, seperti yang tertera di kalung ini dan Bunda janji akan merawat kamu layaknya anak Bunda sendiri” Tegas wanita itu. Yah, dia adalah Bunda, pemilik panti Asuhan.

“Sebentar Bunda ambilkan kalungnya” Ucap Bunda setelah selesai bercerita.
Anisa hanya bisa menangis setelah mendengar cerita dari Bunda tentang asal-usul dirinya.
“Ini kalungnya” Kata Bunda menyerahkan sebuah kalung pada Anisa.
“Hiks! hiks! hiks! Mamah, Papah” Gumam Anisa sambil memegang erat kalung tersebut.
“Sekarang kamu percaya kan bahwa kamu itu bukan anak haram?” Tanya Bunda pada Anisa.
Anisa mengangguk, lalu memeluk Bunda dengan erat.

Keesokan harinya.
“Pagi Nisa” Sapa Christy.
“Pagi juga Christ” Balas Anisa.
“Gimana besok? Siap?” Tanya Christy.
“Siap gak siap, harus siap” Jawab Anisa.
“Emm” Gumam Christy sambil melihat-lihat Anisa dari bawah sampai atas.
“Kenapa Christ?” Tanya Anisa yang bingung dengan kelakuan sahabatnya itu.
“Kalung baru nih” Pekik Christy.
“Yeee.. kirain apa” Jawab Anisa lalu pergi meninggalkan Christy.

“Anisa tunggu” Teriak Christy.
“Kok gue ditinggalin sih” Marah Christy yang kini telah sejajar dengan Anisa.
“Kamu jalannya lama” Balas Anisa.
“Huh, Btw lo belum jawab pertanyaan gue” Ucap Christy.
“Yang mana?” Tanya Anisa.
“Yang tentang kalung” Jawab Christy.
“Oh, kalung Ini pemberian orangtua kandungku, tadi malam Bunda memberikannya” Jelas Anisa sambil memegang kalungya.
“Oh” Jawab Christy.
“Ya udah yuk ke kelas” Ajak Anisa.
“Yuk” Balas Christy.

Ketika mereka akan memasuki kelas, mereka dihadang oleh Clara cs.
“Eh, lo anak haram! punya nyali juga lo ikut lomba” Kata Clara dengan nada menyindir.
“Masalah buat lo? Oh.. gue tahu lo takut kesaing kan sama Anisa” Jawab Christy.
“Gue gak ngomong ya sama lo ya, gue ngomong sama ini anak haram” Bentak Clara sambil menunjuk Christy.
“Guys” Panggil Clara pada Csnya.
“Siap, Ra” Balas mereka -Clara cs- yang seakan mengerti maksud dari Clara memanggil mereka.
“Eh, apa-apa nih” Pekik Christy saat kedua tangannya dipegangi oleh anak buah Clara.
“Eh lo Anak haram” Bentak Clara sambil mengangkat dagu Anisa.
“Gue saranin mending lo mundur dari lomba itu, karena anak haram kayak lo tu gak pantes ikut lomba” Ucap Clara sambil melepaskan dagu Anisa dengan kasar.
“Aku gak akan pernah mundur dari lomba itu” Jawab Anisa dengan suara lantang.
“Berani juga lo, rasain nih” Balas Clara yang ingin menampar Anisa namun Anisa menahannya.
“Selama ini aku selalu diam jika kamu mengejekku, tapi kali ini kesabaranku sudah habis” Ucap Anisa melepaskan tangan Clara.

Clara yang tidak terima dengan perlakuan Anisa, mendorong Anisa hingga kepala Anisa terbentur tembok dan berdarah.
“Ya ampun Anisa” Pekik Christy.
“Lepasin gue” Bentak Christy pada anak buah Clara dan langsung berlari ke arah Anisa.
“Anisa, Anisa lo gak apa-apa kan?” Tanya Christy khawatir.
“Aku gak apa-apa kok” jawab Anisa.
“Heh Clara! lo keterlaluan ya, lihat nih Anisa kepalanya berdarah” Bentak Christy pada Anisa.
“Udahlah Christ aku gak apa-apa kok” Ucap Anisa lirih.
“Tapi kepala kamu berdarah, mending sekarang kita ke UKS biar gue obatin luka lo” Saran Christy dan dibalas dengan anggukkan Anisa.

Setelah sampai di UKS, Christy segera mengobati luka Anisa.
“Nis lo kok gak balas sih perlakuan Clara tadi” Kata Christy memulai pembicaraan.
“Udahlah Christ, Clara kan gak sengaja ngedorong aku” Jawab Anisa.
“Gak sengaja gimana? Udah jelas-jelas dia sengaja ngedorong lo” Balas Christy dengan nada agak tinggi.
“Lagian aku gak apa-apa kok, Christy” Jawab Anisa lagi.
“lo tuh terlalu baik tahu gak” Pekik Christy yang bingung dengan jalan pikiran sahabatnya itu dan Anisa hanya membalas Christy dengan senyuman.

Hari ini adalah hari di mana Lomba Menyanyi Tingkat Nasional dimulai. Nampak dua orang gadis sedang mengobrol di backstage.

“Christ, aku takut” Ucap Anisa.
“Kenapa harus takut?” Tanya Christy.
“Aku takut, aku bakal ngecewain kamu” Balas Anisa menunduk.
“Anisa, kalau lo gak mau ngecewain gue lo harus optimis dong, lo harus tunjukin kalau lo itu bisa” Jawab Christy.
“Makasih ya Christy, aku sayang banget sama kamu” Ucap Anisa memeluk Christy sahabatnya.
“Gue juga sayang banget sama lo” Jawab Christy dan membalas pelukan Anisa.
“Aku janji aku pasti akan menang dan aku akan persembahkan piala kemenangan itu buat kamu” Batin Anisa.
“Ya udah cepet gih dandan acaranya mau dimulai loh” Kata Christy melepaskan pelukan Anisa.
“Eh iya, aku jadi lupa” Jawab Anisa.
“Ya udah aku siap-siap dulu ya” Tambah Anisa.
“Oke Anisa lophe lophe-ku” Balas Christy.

“Mari kita beri tepuk tangan yang meriah untuk Anisa Ratih dari SMA bintang” Teriak pembawa acara tersebut.
“Terima kasih” Balas Anisa.
“Lagu ini saya persembahkan untuk Bunda yang telah membesarkan saya hingga saya dapat berdiri di panggung yang mewah ini dan untuk Mamah saya yang telah melahirkan saya” Tambah Anisa.

… Kata mereka diriku
Slalu dimanja
Kata mereka diriku
Slalu ditimang
Ooo.. Bunda adadan tiada dirimu kan selalu
Ada di dalam hatiku

Prok.. prok.. prok -suara tepuk tangan penonton.
“Wow amazing, suara yang bagus” Puji pembawa acara tersebut.
“Terima kasih” Ucap Anisa.

“Anisa suara lo bagus banget, gue sampai nangis tau gak denger lo nyanyi” Puji Christy pada Anisa yang sudah turun dari panggung.
“Bisa aja kamu Christ” Jawab Anisa.

“Kini tiba saat yang paling mendebar-debarkan, siapakah yang akan menang?” Tanya pembawa acara pada penonton.
“Christy” Panggil Anisa sambil menggenggam erat tangan Christy.
“Udah lo tenang aja, Nis” Balas Christy.

“Dan… pemenangnya adalah… Anisa Ratih dari SMA BINTANG!!!” Teriak pembawa acara itu.
“Nis, lo menang Nis” Teriak Christy senang.
“Nis… Anisa” Panggil Christy, namun tak ada jawaban dari Anisa.
“Anisa!!” Pekik Christy yang melihat Anisa tergeletak di lantai dengan darah segar mengalir di hidungnya.
“Anisa lo kenapa, Nis?” Tanya Christy.
“Anisa bangun” Lanjut Christy sambil menggoyang-goyangkan tubuh mungil Anisa.
“Untuk Anisa Ratih dimohon untuk naik ke atas panggung” Pinta pembawa acara itu.

“Nis, kapan sih lo bangun? Gue kangen sama lo, gue kangen saat kita tertawa bersama, saat kita menangis bersama, saat lo ceramahin gue dengan kata-kata bijak lo. Gue kangen itu semua, Nis. Gue kangen” Tangis seorang gadis yang melihat satu-satunya sahabat yang sangat ia sayangi tergeletak di ranjang Rumah Sakit.

Gadis itu adalah Christy. Semenjak kejadian dua hari yang lalu Anisa tidak sadarkan diri. Hal ini membuat Christy bingung harus berbuat apa agar Anisa dapat terbangun.
Sementara di Panti Asuhan terlihat wanita beserta dua orang bodyguardnya sedang mengusir bunda dan anak-anak panti.

“Saya mohon Bu, berikan saya waktu dua hari lagi untuk melunasi hutang-hutang saya. Tolong Bu” Pinta Bunda pada rentenir itu sambil bersujud.
“Saya sudah beri waktu kamu lebih dari satu minggu, tapi apa buktinya kamu tetap tidak bisa melunasi hutang-hutang kamu” Jawab rentenir itu.
“Loh ada apa ini?” Tanya seorang wanita.
“Dia tidak bisa melunasi hutang-hutangnya kepada saya, maka dari itu panti asuhan ini akan saya sita” Jawab renternir itu pada wanita tersebut.
“Berapa hutang ibu ini?” Tanya wanita tersebut.
“Sepuluh juta” Jawab renternir itu.

Lalu wanita tersebut merogoh tasnya dan mengambil sebuah cek dan memberikan cek itu pada renternir tersebut.

“Cukup?” Tanya wanita tersebut.
“Ya ini sudah cukup” Jawab renternir tersebut.
“Lepaskan mereka, ayo pergi” Suruh renternir itu pada kedua bodyguardnya.
“Terima kasih ya, Bu” Ucap Bunda.
“Ya sama-sama” Balas wanita tersebut.
“Maaf anda ini sebenarnya siapa ya?” Tanya Bunda pada wanita tersebut.
“Nama saya Diana Ratih, saya yang dulu menaruh seorang bayi perempuan di depan panti asuhan Ibu” Jawab Wanita itu yang ternyata adalah Bu Diana, Ibu dari Anisa.

“Maaf Bu, saya tidak bisa menjaga Anisa dengan baik” Jawab Bunda yang mulai menitihkan air matanya.
“Maksud Ibu apa?” Tanya Bu Diana.
“Anisa saat ini ada di rumah sakit, dua hari yang lalu dokter telah memvonis Anisa jika Anisa terkena tumor otak ganas” Balas Bunda.
“Apa?” Pekik Bu Diana.
“Bu, tolong antarkan saya ke Rumah Sakit tempat di mana Anisa di rawat” Pinta Bu Diana.
“Baik” Jawab Bunda.

“Anisa” Teriak bu Diana saat sampai di ruangan tempat Anisa dirawat.
“Mamah?” Panggil Christy pada Bu Diana.
“Loh Christy, ngapain kamu di sini?” Tanya Bu Diana pada Christy.
“Harusnya Christy yang tanya sama Mamah, kenapa mamah ada di sini?” Tanya Christy balik.
“Jangan-jangan?” Tebak Christy.
“Iya, benar” Jawab Bu Diana yang seakan mengerti apa yang ada di pikiran Christy saat ini.
“Kenapa Mamah bohong sama Christy?” Tanya Christy.
“Mamah jahat!” Teriak Christy pada Bu Diana lalu pergi dari ruangan itu.
“Christy Mamah bisa jelasin” Teriak Bu Diana dan segera mengejar Christy.

“Jadi dugaan Christy selama ini benar, bahwa Anisa adik Christy masih hidup. Tapi, kenapa Mamah bohong sama Christy?” Tanya Christy dengan air mata yang mengalir di pelupuk matanya.
“Mamah terpaksa melakukan semua itu” Jawab Bu Diana.
“Tapi kenapa Mamah bohong sama Christy? Kenapa Mamah bilang kalau adik Christy itu udah meninggal?” Tanya Christy lagi.
“Maafin Mamah Christ. Mamah dan Papah mengatakan yang sebenarnya pasti kamu tidak akan setuju” Jawab Bu Diana.

“Mamah terlambat, umur Anisa sekarang tidak lama lagi, bahkan dokter mengatakan bahwa Anisa tidak akan bertahan dalam waktu 3 hari” Ucap Christy dengan air mata yang terus mengalir.
“Dokter itu bukan Tuhan. Yang menentukan hidup dan mati seseorang itu hanyalah Tuhan bukan Dokter” Balas Bu Diana dengan nada yang tinggi dan segera meninggalkan Christy di taman.
“Mah, Christy juga gak mau Anisa meninggal. Christy gak mau kehilangan Anisa, Christy gak mau kehilangan orang yang Christy sayang untuk kedua kalinya. Jika Christy tahu bahwa Anisa itu Adik Christy pasti Christy akan lebih bisa menjaga Anisa. Christy sayang sama Anisa, melebihi nyawa Christy sendiri. Tapi Christy juga gak bisa menyalahkan takdir” Ucap Christy seorang diri.

“Anisa bangun nak? Mamah mohon” Pinta Bu Diana yang kini berada di ruangan tempat Anisa terbaring.

Tiba-tiba jari-jari Anisa bergerak dan dengan perlahan mata Anisa terbuka. Bu Diana langsung memanggil dokter setelah tahu bahwa Anisa telah siuman. Dokter pun memeriksa keadaan Anisa.

“Bagaimana dok?” Tanya Bu Diana.
“Anisa memang telah siuman, Namun tetap saja tak ada perubahan” Jawab Dokter tersebut.
“Tolong dok, berikan yang terbaik untuk anak saya” Pinta Bu Diana.
“Pasti, Bu. Kalau begitu saya pamit dulu” Pamit dokter tersebut.
“Terima kasih, Dok” Balas Bu Diana.
“Tan-te Di-ana” Panggil Anisa dengan suara yang terbata-bata.
“Anisa” Panggil Bu Diana sambil memegang erat tangan Anisa dan air mata ang membasahi pipinya.

“Tan-te ke-na-pa na-ngis dan ke-na-pa tan-te a-da di-si-ni?” Tanya Anisa bertubi-tubi.
“Anisa, tante mau ngomong sesuatu sama kamu” Ucap Bu Diana.
“ma-u ngo-mong a-pa tan-te?” Tanya Anisa lagi.
“Sebenarnya tante ini adalah Ibu kandung kamu Anisa” Jawab Bu Diana.
“Tan-te I-bu kan-dung A-ni-sa?” Panggil Anisa.
“Iya sayang, tante Ibu kandung kamu. Maafkan Mamah nak” Jawab Bu Diana.
“Ma-mah gak u-sah min-ta ma-af sa-ma An-Nisa, Ma-mah gak sa-lah kok” Balas Anisa.
“Tapi jika Mamah tidak menaruh kamu di depan panti asuhan itu, kamu gak akan seperti ini” Kata Bu Diana menyalahkan dirinya sendiri.

“Anisa!” Teriak Christy dan langsung memeluk Anisa yang terbaring lemah di ranjangnya.
“Christy” Balas Anisa.
“Maafin Kakak Nis, Kakak gak bisa jagain kamu” Ucap Christy.
“I-ni bu kan salah kakak kok, i-ni cobaan da-ri Allah” Balas Anisa dengan senyuman.
“Nisa, Kakak bangga punya adik plus sahabat kayak kamu” Puji Christy.
“An-nisa juga bang-ga punya kakak ka-yak kak Christy” Balas Anisa.
“Bunda ma-na?” Tanya Anisa.
“Bunda ba-gaimana dengan Pan-ti?” Tanya Anisa.
“Anisa kamu tidak usah mempikirkan tentang Panti, yang sekarang kamu harus pikirkan adalah kesehatan kamu” Jawab Bunda.
“Gak Bun, An-nisa udah gak ku-at. An-nisa ingin nyusul pa-pah” Ucap Anisa yang keadaannya semakin lemah.
“Kamu gak boleh ngomong kayak gitu” Balas Bunda.

“Ma-mah… Christy… Bunda… terima ka-sih atas semua kasih sa-yang yang sudah ka-lian berikan untuk Annisa. Kak Christy jaga Ma-mah baik-baik ya, jangan pernah kamu menyaki-ti Mamah dan terima ka-sih karena kakak udah mengajar-kan aku tentang Arti Sebuah Kasih Sayang. Bunda terima ka-sih atas semua yang sudah bunda be-rikan untuk Annisa dan ma-af jika selama ini Anisa sudah me-repotkan Bunda. Bun, sampaikan permo-honan maaf Anisa untuk adik-adik. Ma-mah jangan menya-lahkan diri Mamah la-gi yah. Sebe-lum Anisa pergi Anisa ingin Mamah menya-nyikan lagu nina bobo bu-at An-nisa. Ma-mah mau kan?” Kata Anisa terbata-bata dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi.
Bu Diana mengangguk.

“Nina bobo ooh nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk, nina bobo ooh nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk” Lantunan lagu yang dinyanyikan oleh Bu Diana dengan air mata yang semakin deras membasahi pipinya.
“Se-lamat tinggal se-muanya, Anisa sa-yang ka-li-an” Pamit Anisa.
“Aniisaaa!!!” Teriak mereka -Bu Diana, Christy dan Bunda.

“Anisa lo jahat, dulu lo bilang kalau lo gak mau gue kecewa tapi apa? lo malah ngecewain gue dengan lo pergi dari hidup gue. Gue gak tahu apa yang harus gue lakukan tanpa lo ada di samping gue. Gue sayang sama lo, Nis” Ucap Seorang gadis pada gundukan tanah yang masih basah.
“Udahlah Christy, Anisa sudah tenang di sana” Bujuk seorang wanita pada gadis yang ia panggil Christy.
“Tapi mah” Jawab Christy.
“Christ, kamu gak boleh seperti ini. Biarkan adikmu tenang di sana, lagi pula di sana sudah ada Papah yang akan menjaga Anisa” Bujuk wanita itu lagi.
“Pah, titip Anisa yah Pah.” Ucap Christy pada kuburan Papahnya.
“Gue janji, Nis. Gue akan jaga Mamah” Batin Christy yang kini telah memalingkan tubuhnya kembali di kuburan Anisa.
“Sudah sore, kita pulang, Nak” Kata Bu Diana.
“Nis, gue pulang dulu ya. Lo baik-baik ya di sana. Gue sayang sama lo” Ucap Christy.

Dari kejauhan, terlihat seorang gadis dengan pakaian serba putih tersenyum melihat semua orang yang disayanginya telah ikhlas melepaskan dirinya. “Aku akan selalu ada di hati kalian” Ucap gadis tersebut dan lenyap.

SELESAI

Cerpen Karangan: Syarah Wardayanti
Facebook: Syarah Twibi-InsomNisa FromBruno

Cerpen Arti Sebuah Kasih Sayang (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seperti Bukan Negeriku

Oleh:
Hari itu aku ingat sekali bagaimana wajah ayahku pulang dari kantor dengan wajah yang begitu marah dan menyedihkan. Aku ingat sekali bagaimana ibu menyambut ayah dengan tangisan yang tidak

Dunia Baru Sahabatku

Oleh:
Namaku Celia, aku memiliki seorang sahabat bernama Nala, kami biasa pergi bersama berdua, menonton, jalan-jalan, bersenda gurau sambil duduk di resto pinggir jalan. Masa remaja kami begitu indah, dipenuhi

Keep Friends

Oleh:
Disebuah sekolah yang cukup megah, tepatnya Seoul Internasional High School. Terlihat Dua orang dengan senyum yang terpampang di wajahnya memasuki gerbang sekolah tersebut, sesekali keduanya tertawa dengan riangnya ditengah

Depressed

Oleh:
“Kamu itu gimana sih? Masa kamu kalah dari teman kamu si Winda itu, bagaimana bisa IP kamu tertinggal jauh sama IP dia?” omel seorang wanita paruh baya, yang sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *