Audieku Sayang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 4 November 2017

Kasih sayang orangtua kepada anaknya memang tidak akan pernah ada habisnya, dari anak itu masih dalam kandungan, hingga dilahirkan ke dunia, bahkan walaupun nanti anaknya sudah menikah dan tidak tinggal lagi bersama dengannya.

Aisyah Weyn menikah dengan Alfandri, lelaki campuran Jawa Madura. Mereka tinggal di rumah kontrakan di daerah Bekasi. Alfandri bekerja sebagai Supervisor di sebuah perusahaan swasta. Sedangkan Aisyah mengurus rumah.

Pada tanggal 6 September 2003, Aisyah melahirkan seorang anak perempuan, ia beri nama Audie Malachi. Audie berasal dari bahasa jerman yang artinya kuat atau tangguh, sedangkan Malachi yang artinya malaikat tuhan. Nama itu pantas disematkan pada bayi itu, Audie lahir prematur. Awalnya kandungan Aisyah memang sudah lemah, ia sering dibawa ke rumah sakit untuk mendapati pengobatan. Salah satu faktor yang membuat bayinya lahir prematur adalah karena Aisyah menderita inflamasi dan infeksi. Usia kandungan Aisyah ketika itu tujuh bulan. Seiring dengan berjalannya waktu, Audie tumbuh menjadi wanita yang bisa dikatakan berbeda dari anak-anak pada umumnya. Tangannya begitu lemah untuk digerakkan, kakinya susah untuk dijalankan, dan sedikit mengalami kesusahan, walaupun untuk sekedar berbicara.

“Ini nanti dimakan, minumnya ibu letakkan di tas. Nanti kalo laper ataupun haus Audie ambil ya bekalnya di dalam tas. Nanti jam istirahat gak usah keluar kelas, gak usah jajan. Makan bekal ini aja.” Aisyah berbicara kepada Audie sambil menggerakkan tangan dan menjelaskan vokal, memberikan semacam bahasa isyarat agar Audie paham dengan apa yang sedang dibicarakan ibunya itu.

Aisyah menyekolahkan Audie di sekolah umum. Ia sengaja tidak memasukkan anaknya ke sekolah anak berkebutuhan khusus, karena ia yakin bahwa anaknya juga bisa bergaul dengan anak normal lain. Dengan begitu proses penyembuhan anaknya bisa berlangsung cepat. Sayangnya, keputusan Aisyah memasukkan Audie ke sekolah negeri salah. Sebab, di sekolah Audie selalu mendapat cacian. Bahkan tak punya teman satu pun. Anak-anak kota memang seperti itu, sudah tampak perlakuan diskriminasi terhadap kasta. Audie bukanlah anak orang miskin, orangtuanya bisa saja memberikan apapun yang diinginkan anaknya itu. Keadaan fisik Audie lah yang membuat teman-temannya enggan dan merasa jijik bahkan untuk sekedar menyapanya saja.

“Di kakinya ada sepatu cantik sekali, nanti dia akan mengenakan gaun yang panjang berwarna seperti emas yang berkilau-kilau, nanti wajahnya juga akan berkilau seperti gaun yang yang ia pakai ini, di sampingnya akan ada ayah yang memakai jas hitam lalu ia akan melambaikan tangannya pada Audie, lalu Audie meniup lilin di atas kue raksasa itu, juga akan ada Anne, Deja, Fahmi, dan Aulia yang menemani Audie. Lalu nanti kue itu akan Audie berikan kepada ibu dan ayah. Banyak balon-balon di rumah Audie, Audie pasti bahagia.” Audie mengeja kata-katanya sambil menggambar suasana ulang tahun yang sudah lama sekali ia impikan. Punya banyak teman dan sahabat-sahabat. Ia selalu menggambarkan impiannya, ya dengan tangan lemah itu gambar yang dihasilkan persis seperti gambar anak usia empat tahun, berantakan. Hanya ada lingkaran yang tak sempurna dan garis lurus sebagai tangan dan kaki.

Setiap pagi, Aisyah selalu mengantarkan Audie ke sekolah. Ia akan mengantarkan anaknya itu sampai ke tempat duduk. Setiap akan ditinggalkan ibunya Audie selalu akan mencium kening ibunya itu. “Nanti Audie kasih ibu piala besar, nanti Audie kasih ibu gambar yang bagus sekali, nanti Ayah peluk Audie juga, di sana banyak orang, lalu Audie peluk ibu lama-lama” ucap Audie bertele-tele sambil matanya meantap liar ke mana-mana. Lalu Audie tersenyum kepada ibunya.

Di rumah Audie mendapat kasih sayang yang lengkap dari kedua orangtuanya, Aisyah tak malu memiliki anak autisme seperti Audie. Audie diajarkan membaca, menulis dan berbicara. “Audie kalau sudah besar mau jadi apa Nak?” tanya Aisyah sambil melatih Audie berkomunikasi. Audie begitu antusias menjawab pertanyaan ibunya itu. “Nanti, kalo audie sudah besar Audie mau bikin gambar bagus, Audie mau ikut lomba menggambar, nanti Audie jadi temannya Anne. Anne kan gambarnya bagus. Terus nanti Audie kasih ibu piala besar ya” Audie kembali memeluk ibunya. Dengan haru ibunya menjawab. “Iya nanti kalo Audie ikut lomba, ibu akan temenin Audie. ibu kasih hadiah juga buat Audie.” Sepulangnya dari bekerja, Alfandri ayah Audie sering membelikan peralatan menggambar untuk anaknya. Ia akan membelikan pensil gambar, buku gambar dan berbagai macam krayon. Disitulah kebahagiaan Audie memuncak.

Suatu hari, di sekolah Audie diadakan lomba menggambar untuk anak kelas satu. Hingga umurnya sembilan tahun Audie masih duduk di kelas satu sekolah dasar. Maklum saja dengan keadaan fisik seperti itu Audie akan susah menerima pelajaran dari guru-gurunya di sekolah. Tentu saja dengan mendengar kabar ini Audie menjadi sangat bergembira, ia beritahu kabar itu kepada ibunya. Demi kebahagiaan Audie, Aisyah mengikutsertakan Audie dalam perlombaan itu.

Selasa, 4 September 2012. Tepat diadakannya lomba menggambar untuk kelas satu, dengan peserta berjumlah tujuh belas orang. Waktu yang diberikan oleh juri satu jam. Penilaiannya adalah kesesuaian gambar dengan tema, serta teknik mewarnai. Dewan juri memberi pilihan tema, yaitu keindahan alam, keluarga, sekolah, dan kebun binatang.

Anak-anak mulai menggambar sesuai dengan tema yang telah dipilihnya. Tampak keseriusan dari masing-masing peserta, begitupun dengan Audie, tangannya gemetaran melawan rasa sakit ketika digerakkan. Namun wajahnya tetap saja terlihat lucu dan menggemaskan dengan rambut ikal yang dikucir, hidung mancung dan dagu yang terlihat sedikit berbelah.

Akhirnya diumumkanlah peraih juara dari hasil lomba menggambar anak-anak itu. Bu Gusti mengumumkan di atas panggung. ”Peraih juara satu dari lomba menggambar kita tahun ini adalah Mia dari kelas 1 Tulip. Peraih juara dua adalah Joan dari kelas 1 Tulip, dan peraih juara 3 adalah Aca dari kelas 1 Dahlia. Mari kita berikan tepuk tangan yang meriah kepada anak-anak kita yang berbakat ini.” Begitulah Bu Gusti membacakan peraih juara dari lomba menggambar.

Aisyah tentu saja terpukul hatinya ketika mendengar pertanyaan Audie. “ibu, Audie belum dipanggil Bu Guru ya? Kenapa Audie tidak dengar Bu Guru memanggil Bu? Sebentar lagi nama Audie dipanggil kan Bu? Nanti ibu bantu Audie buat ke atas panggung ya.” Air mata Aisyah mengalir dan jatuh ke rambut Audie yang sedang dalam dekapannya itu. “Audie, Bu Gurunya mungkin lupa panggil nama Audie. Gak papa kan? Nanti kita ikut lomba lagi yaa. Nanti nama Audie pasti dipanggil. Nah sekarang Bu Gurunya sedang lupa Nak.” Bujuk Aisyah menenangkan hati anak satu-satunya itu.

Tanpa disangka Bu Gusti kembali mengaktifkan mikrofon dan memanggil nama Audie sebagai juara favorit. “Audie Malachi, silakan naik ke atas panggung, dimohon kepada orangtuanya untuk dapat mendampingi Audie.” Begitu terkejutnya Aisyah. Audie hanya memutar-mutar matanya dengan liar melihat sekeliling ruangan. “Audie, ayo kita naik ke panggung Nak, nama Audie udah dipanggil sama Bu guru”. Sontak Audie terkejut dan raut wajahnya menjadi riang kembali. Walaupun demikian Audie terlihat sangat pucat, dengan sedikit kesusahan Aisyah membantu anaknya itu naik ke atas panggung.

“Audie, kamu terpilih sebagai juara favorit, karena gambar kamu penuh dengan makna. Audie bisa menjelaskan kepada kami semua tentang gambar yang Audie buat itu Nak?.” Tanya bu Gusti. Dengan agak kesulitan Audie menggenggam mikrofon dan mulai menjelaskan kepada semua yang hadir di ruangan itu maksud dari gambar yang dibuatnya. “Bu guru, Audie membuat gambar ibu, ayah, Anne, guru-guru Audie dan teman-teman sekolah Audie yang baik hati. Audie membuat gambar ibu di sebelah kanan yang sedang berjalan beriringan dengan Audie, ibu pegang tangan Audie. ibu selalu memasak untuk Audie, ibu selalu menyiapkan bekal untuk Audie. Katanya ia akan selalu menemani Audie sampai kapanpun, ibu selalu memeluk Audie kalau Audie sedang ketakutan, kalau Audie sedang kesakitan. Di sebelah kiri Audie ada ayah, ayah Audie selalu membelikan Audie buku gambar yang baru, katanya Audie bisa menjadi orang hebat kalau Audie sudah besar nanti. Lalu Audie membuat gambar Anne, tapi Audie menggambarnya di pojok buku gambar itu. Sekarang Anne rumahnya jauh sekali. Kata ibu, Anne sudah tidur di surga. Audie sayang sama Anne, dulu Anne suka pakai bando biru. Anne juga sering memberi Audie boneka lucu. Lalu Audie juga menggambar guru-guru yang sudah mengajar Audie di sekolah, kalau Audie tidak bisa membuka kotak bekal Audie, bu guru selalu membantu. Terus bu guru bilang sebelum makan kita harus berdoa. Audie juga menggambar Deja, Fahmi, Aulia, Rian, Deno. Itu teman-teman Audie. Mereka sangat baik kepada Audie.” Audie bercerita panjang lebar tentang makna gambar yang dibuatnya itu. Semua orang terkejut kagum atas kecerdasan Audie. Walaupun Audie bercerita dengan nada yang bertele-tele.

Audie memeluk erat Aisyah, dan piala pertama itu diberikan kepada ibunya. “ibu Audie punya piala, ibu simpan ya piala Audie. Kalau Audie yang pegang nanti pialanya bisa rusak. ibu Audie boleh tidur kan, Audie capek.” Audie tiba-tiba mengeluh capek kepada ibunya, ia terlihat begitu lelah dan pucat. “Audie kenapa? Audie sakit lagi? Kita pulang ya Nak, nanti di rumah Audie bisa tidur di kamar.” Aisyah tampak begitu khawatir terhadap kondisi anaknya itu. “Audie gak mau pulang Buk. Audie mau di sini saja sama ibu, sama Ayah, sama guru-guru Audie juga sama teman-teman Audie. Audie suka dikelilingi orang banyak Bu. Biasanya Audie gak pernah duduk bersama teman-teman. Audie mau tidur kaya gini aja ya Bu.” Jawab Audie tidur di pangkuan ibunya. Tapi kali ini Audie tidak bersuara lagi, matanya layu, tangannya dingin.

Alfandri ayah Audie masih tak percaya, anak satu-satunya tak kan bisa lagi ia lihat. Tak ada lagi gadis lucu yang biasanya berteriak-teriak menyanyikan lagu ABC, menghibur disaat lelah sepulang bekerja. Kini ia hanya bisa menatap krayon-krayon kecil yang disusun rapi di kamar Audie, melihat foto perkembangan Audie kecil, dari ia baru lahir, tak bisa melakukan apa-apa, hingga ia tumbuh menjadi putri yang membanggakan. Begitupun dengan Aisyah, kesedihan masih menyelimuti hatinya. Ia menatap piala berbetuk pensil yang menjadi piala pertama dan terakhir anaknya Audie. Piala yang menjadi kebanggan baginya, bahwa Audie anaknya yang autisme juga bisa meraih penghargaan. Penghargaan yang telah lama diimpikan Audie. Dulu Audie berjanji akan memberikan piala kepadanya, akhirnya janji itu bisa Audie tepati.

Audie meninggal di usia sembilan tahun kurang dua hari, padahal Aisyah sudah mempersiapkan pesta ulang tahun untuk Audie. Audie memang menyukai keramaian. Namun selama ini ia tak pernah mendapatkannya, di sekolah tak ada satupun teman yang membuat harinya menjadi ramai. Tetapi setiap ditanyakan kepadanya tentang teman-teman di sekolah, Audie selalu mengatakan bahwa ia punya banyak teman-teman yang baik hati. Dulu Audie punya seorang sahabat bernama.

Anne, ia adalah tetangga Audie. Anne selalu bermain bersama Audie, hingga suatu ketika Anne jatuh sakit dan meninggal. Hanya ada ibu dan ayah yang selalu setia memberikan kasih sayang dan yang selalu sabar menghadapi tingkah Audie yang terkadang diluar kendali.

Cerpen Karangan: Novia Syahri
Facebook: novia syahri
Saya Novia Syahri, mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Cerpen Audieku Sayang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Aku Tak Tahu

Oleh:
Malam ini malam Minggu, aku janjian makan malam dengan Luna di sebuah restoran di pinggir pantai yang lumayan jauh dari rumahku. Kami janjian pukul 7 malam. Aku sedang bersiap-siap.

Penyesalan

Oleh:
Malam itu ketika aku hendak memjamkan mata, terlintas di pikiranku sosok seorang Ayah. Saat itu Ayahku tak lagi seperti dulu yang mampu bekerja untuk membiayai keluarganya. Dia sudah sangat

Midnight Clown (Part 1)

Oleh:
Aku menatap dengan perasaan sedih dan iba, ketika melihat seorang wanita tua yang sudah tidak berdaya, di atas tempat tidurnya. Yaa… Tuhan, sebentar lagi pasti ia akan meninggalkan dunia

Membunuh Bayangan

Oleh:
Tutur kata yang lembut terkadang menutupi kemunafikan seseorang, tidak berbuat jahat terang-terangan melainkan menyergapmu secara diam-diam. Dia mulai merasuk ke dalam tiap urat nadimu dan membiarkanmu menikmati hangat rasukannya.

Kecuali Aku!

Oleh:
Sepertinya tak ada perempuan yang rela hati sejak kecil belajar menjadi pel*cur. Kecuali aku! Sepertinya tak ada perempuan yang saat tumbuh remaja tak ingin menikmati muda. Kecuali aku! Sepertinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *