Awan Hitam Di Atap Rumah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 13 March 2018

Awan hitam berterbangan di angkasa bersambut kabut tebal yang mencekam, terdengar bunyi glegar petir di ujung langit teduh, menandakan sore ini hujan akan turun dengan lebat, angin yang berhembus memasuki tubuhku membuat bulu kudukku merinding, seketika itu jalanan yang kutapaki menjadi gelap gulita, senja tak selamanya bersemayam di langit dunia kini telah berganti malam, aku terduduk lesu di sebuah pos kamling dekat rumah, perjalananku tak begitu jauh lagi tinggal 3 blok melewati tikungan yang curam, aku memilih berteduh di pos, dari pada menuruni jalan yang curam, awas-awas aku malah jatuh tepeleset karena arus air hujan.

Tak begitu lama aku Nampak seorang anak kecil berumur sekitar 7 tahun membawa sebuah payung di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya juga memegang payung yang masih terbungkus plastik, iya, dia adalah adikku, tepatnya adik kesayanganku dia adalah adik yang sangat perhatian kepadaku, mungkin itu yang membuatku sangat sayang kepadanya, rasa sayangnya membuatku merasakan bahwa di dunia ini masih ada yang peduli denganku, berbeda dengan ibu, ia selalu sibu dengan pekerjaannya, ia selalu pulang larut, atau bahkan tidak pulang semalaman, saat kutanya alasannya selalu saja tugas kantor, sepertinya dunia ini hanya ada kerja-kerja dan kerja gak ada hal lainnya, alhasil aku dan adikku tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ibu.

Ayahku meninggal saat adik berumur 3 tahun, ketika itu hujan sangat lebat tak ubahnya hari ini, ayah pulang dari pengajian dengan mengendarai sepeda motor supranya, tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada moge yang melaju sangat kencang, hujan yang lebat mengelabui pandangan ayah, alhasil kecelakaan maut pun tak dapat dihindari, ayah meninggal sebelum ia sampai di Rumah sakit, mungkin hal itu yang membuat adik sangat perhatian denganku apalagi saat ini tengah hujan lebat, barangkali ia teringat dengan kejadian itu.

“kak, kok malam sih pulangnya?” tanya adik.
“maaf ya dik, tadi kakak ada kelas tambahan, jadi pulang telat deh!!, kok kamu tahu kakak ada di sini?”. berusaha mencari tahu kebenaran.
“sebenarnya adik udah ada di sini dari tadi menunggu kakak, tapi kakak belum nongol-nongol juga, lalu kulihat awan mendung jadi aku pulang dulu ngambil payung, saat aku jalan ke sini kakak sudah ada di kamling” jawabnya polos tanpa ada perasaan kesal di wajahnya.
“yah.. maafin kakak ya dek, kakak gak tau kalau kamu sudah lama menunggu kakak di sini” jawabku menyesal
“ihh.. kakak, santai aja kali, kayak gak kenal sama aku aja” katanya sambil menghiasi bibirnya dengan senyuman.

Pukul 21.00 masih terdengar gemericik hujan dari atap rumah, adikku masih bertengger di atas sofa melihat cenel tv kesukaannya, aku hendak menyuruhnya tidur tapi aku urungkan niatku, matanya yang mungil mengikuti setiap adegan-adegan film yang diperankan sang aktor, terkadang ia juga menirukan gaya sang aktor yang membuatku tak kuasa membendung tawa, aku ikut duduk di samping, menemaninya melihat film. Tiba-tiba dari atap rumah terdengar suara glegar petir yang sangat dahsyat, aku dan adikku terkejut dan saling berdekapan, kulihat dari layar tv muncul cahaya sangat terang sehingga menyilaukan mata kita berdua dan seketika itu aku tak ingat apa-apa lagi.

Lantunan ayat suci al qur’an dari surau terdengar merdu, membuat hatiku menjadi damai, aku membuka mataku kulihat jam dinding menunjukkan pukul 04.00 wib, sebentar lagi muadzin akan berkumandang, aku membangunkan adikku yang sedang terleleap dalam tidurnya, mungkin ia masih ngantuk karena tadi malam ia tidur sangat larut, sampai-sampai kita berdua tertidur di sofa, gemricik hujan diatap rumah sudah tak terdengar lagi, mungkin mega hitam tengah beristirahat setelah bergadang semalaman. Namun, sepertinya aku melupakan sesuatu, aku tidak ingat apa itu tapi kurasa sesuatu yang berhubungan dengan hujan dan petir, cahaya terang!!, iya benar, tadi malam ada cahaya yang keluar dari layar tv, apa mungkin tvnya tersambar petir?, aku coba menyalakannya berharap tvnya tidak rusak karena tersambar petir, dan ternyata tv nya masih seperti semula, malah sekarang lebih jernih.

“kak, ayo sholat subuh.” ajak adik.
Ternyata ia sudah wudhu’. “iya dik, sebentar, kakak mau wudlu dulu.” jawabku.

Sehabis sholat, seperti biasa aku dan adik beres-beres rumah, aku yang menyapu dan adik yang mengepel, bagian masak adalah bibi, ia baru kembali kerja kemarin setelah ambil cuti selama 2 minggu, sedangkan ibu aku tak begitu yakin pagi ini ia ada di kamarnya karena seperti biasa ia selalu saja sibu di kantor, entahlah apa yang membuatnya betah berhari-hari di kantor, aku juga tak begitu peduli, yang kupedulikan adalah adikku karena ia selalu ada di sampingku.

Hari ini adalah hari libur kurasa sangat menyenangkan mengajak adik jalan-jalan ke taman kota, sudah lama sekali aku tak mengajaknya lari pagi, itu karena aku dan dia sama-sama sibu sekolah, apa lagi aku sudah kelas tiga, sebentar lagi aku akan mengikuti UAS, jadi aku sibu-sibunya belajar sekarang.

“adik, ayo kita lari pagi, kamu mau kan?” ajakku
“lari pagi kak, aku mau banget kapan?” kata adik antusias.
“Ya sekarang lah…!!” jawabku.
“horee… Ayo kita berangkat, let’s go!” kata adik lagi.

Senang sekali melihat adik bahagia, rasanya bebanku hilang seketika melihat senyumannya yang manis, namun senyuman itu sirna ketika ibu datang dan mengajak kami pergi, meski begitu adikku yang polos itu langsung tersenyum kembali, mungkin ia senang karena sudah lama ibu tidak mengajak kita pergi bersama, tapi kutahu pasti ini karena urusan bisnis, setelah persiapan sudah siap kami pun pergi meninggalkan rumah, di rumah tinggal bibi dan satpam yang jaga aku sebenarnya tidak mau ikut, tapi adik memaksa dan aku tak bisa menolak permintaan dari adik, lagi pula ibu sudah izin ke kepala sekolah untuk mengajak kami berlibur.

Hari senin, kami sudah sampai di villa puncak tadi malam, pagi ini pagi yang agak mendung kabut di puncak agak tebal dan hawa pegunungan terasa dingin di badan, ibu sudah menyiapkan makanan untuk kami tadi subuh kemudian ia langsung pergi untuk menemui client, adik masih pulas tidur, mungkin ia mengantuk soalnya kita sampai sudah jam 24.00 wib, tadi pagi habis sholat subuh ia tidur kembali, aku sebenarnya ingin mengajaknya jalan-jalan tapi aku gak tega banguninnya.

“kakak,”
“eh, adik!! kukira kamu masih tidur”
“iya, ini baru bangun, kak ayo kita ke luar jalan-jalan gitu, lihat pemandangan di puncak pasti indah deh!” ajak adik.
“baru kakak mau ajak kamu, eh malah udah keduluan, kamu ganti baju dulu gak?”
“enggak ah, males”
“Ya udah ayo kita keluar”
“ayo”

Kita pun pergi melihat kebun teh yang ada di puncak, memang benar kata orang pemandangan yang indah saat di puncak adalah hamparan kebun teh, kita juga ke atas bukit melihat danau dan bermain kejar-kejaran sungguh sangat menyenangkan hingga tak kami sadari matahari kian meninggi, kami pun pulang ke villa, untuk melaksanakan sholat dzuhur, tapi sebelumnya kami sarapan dulu sudah dari tadi perut kami keroncongan, apalagi ini masakan ibu pasti enak, ya meski ibu tak bersama kita lagi, tiba-tiba telepon bordering, aku mengangkat telepon itu, ternyata itu adalah bibi.

“hallo, assalamu’alaikum, iya bik ada apa?” tanyaku.
“wa’alaikumsalam den,”
“ada apa bik, bibi kangen sama kita, udah jangan khawatir besok kita udah pulang kok, kata ibu besok adalah hari terakhir ketemu client, jadi kita bisa pulang deh.”
“den, ibu den,”
“iya bik, ada apa? ibu baik-baik aja kok tadi pagi iya pergi kerja”. suara tangisan bibi terdengar kencang
“den, ibu den.., ibu kecelakaan, tadi kata polisi ibu tabrakan saat hendak pergi kerja, bibi udah telepon berkali-kali tapi gak diangkat sama aden, sekarang ibu dibawa ke rumah sakit, dan kondisinya kritis.”
“a..apa bik, ibu kritis? Bagaimana bisa, enggak mungkin bik, gak mungkin”. Tanganku gemetar mendengar berita itu, dan tak sengaja telepon terjatuh, adik yang mendengar pembicaraanku ikut menangis, aku merangkul adik dengan erat, “aku gak mau kehilangan ibu kak”. Perkataannya membuat air mata ini tak dapat berhenti mengalir, di luar pak satpam datang menjemput kami sedangkan bibi di rumah sakit menjaga ibu.

Di sepanjang jalan aku dan adik berdo’a agar tidak terjadi apa-apa dengan ibu, waktu terasa sangat lambat, berbeda dengan saat kita berangkat, kali ini perjalanan terasa sangat lama aku tak tahan, ingin rasanya terbang, agar dapat sampai di rumah sakit dengan cepat, adik masih menagis, aku mendekapnya, menenangkannya dan terus mengatakan bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan ibu, ibu orang yangsangat kuat dan ibu gak akan pergi meninggalkan kita. Tapi adik tetap saja tak berhenti menangis.

Akhirnya kita pun sampai di rumah sakit, aku dan adik langsung berlari menuju UGD, di sana bibi sedang duduk di kursi tunggu.

“bibi, gimana keadaaan ibu?”
“nyonya mengalami pendarahan di otak den, jadi harus dioperasi”

Tak lama kemudian dokter pun keluar dari ruang UGD
“gimana dok ibu saya?”
“kita sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kondisi pasien masih sangat lemah,”
“tapi ibu saya akan selamat kan dok?”
“satu-satunya cara adalah berdoa kepada allah, karena dialah yang maha kuasa atas segala sesuatu.”
Dokter pun pergi, aku dan adik masuk ke dalam menemui ibu, ibu masih belum sadar. Aku dan adik menggenggam tangan ibu dan berdoa untuk kesembuhannya.

Tiba-tiba dari tangan kita berdua memancarkan cahaya terang seperti ketika aku dan adikku menonton tv waktu itu. Lalu ibu seperti terkena sengatan listrik dan ia pun membuka matanya. Aku dan adikku tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Aku pun langsung memanggil dokter untuk memeriksa ibu, dan Alhamdulillah ibu sudah melewati masa kritisnya.

Beberapa hari kemudian ibu sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, aku dan adikku sangat gembira mendengar kabar itu, dan kita pun pulang bersama-sama. Di perjalanan pulang aku dan adikku membahas kejadian waktu itu, entah apa yang sebenarnya terjadi, aku menyuruh adikku untuk tidak memberitahukan kejadian itu kepada siapapun, cukup aku dan adik saja yang tahu, mungkin ini adalah suatu kelebihan yang diberikan oleh allah untuk kita berdua.

THE END

Cerpen Karangan: Syava’atul Basoriyah

Cerpen Awan Hitam Di Atap Rumah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


27 Menit yang Menyedihkan

Oleh:
“Aku pulang..” Kataku sembari membuka pintu dan melempar tas ke sofa ruang tamu. Lagi-lagi tak ada orang di rumah. Aku segera melepas sepatu dan berjalan ke kamar. Merebahkan diri

Nenek Sayang Qyra

Oleh:
Di rumah, Nenek Yona tampak kebingungan, dengan kursi rodanya. Ia mondar-mandir di teras rumah, perempuan tua itu tampak khawatir dengan keadaan cucunya, Qyra. Sudah larut malam begini dia belum

Kisahku di Bulan Juni

Oleh:
Namaku Lilyana Putri. Aku biasa di sapa dengan sebutan nama Riri. Aku anak keempat dari empat bersaudara. Aku baru saja LULUS dari bangku Sekolah Dasar dan sebentar lagi aku

Hadiah Terakhir

Oleh:
Sejak aku berumur 8 tahun ayahku meninggal dunia dan sejak saat itu juga aku dibesarkan oleh ibu seorang diri. Namaku Refiska Ayu biasa aku biasa dipanggil Fiska, kata ibuku

Rindu Untuk Ayahku

Oleh:
Semua bisa berkata apa saja yang mereka suka dan yang mereka mau, terkecuali aku! Aku hanya terpuruk dalam masa depan suram ku, dan masa lalu ku yang tak dapat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *