Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 11 September 2017

Hujan dan bulan.
Rumah selalu jadi tempat untuk menepi.
Namun kini hanya ada atap dan ruang yang sunyi. Tempat yang mengerikan.
Aku hanya tau sedikit kebahagiaan di dunia ini dan karenanya aku tercekik nelangsa.
Satu hal yang kupahami hanya aku yang tidak terpahat sempurna untuk bersamamu.
Aku mendapatkannya dari terpaan angin dan kamu.
Aku berbentuk seperti kelambu. Kamu harus melihat lebih teliti untuk tau apa yang bersemayam di dalamnya.
Untuk itu pintuku selalu terbuka.
Sampai akhirnya hujan tidak lagi menggenangkan lirih, aku akan tetap kosong.

Begitu kiranya aku menantikanmu. Sampai aku tak menikmati keceriaan dari pantulan pijar di penghujung tahun. Harus ada kamu. hal yang selalu kupaksakan. Aku bukan hidup untuk terus berlayar, maka jangan menghindar. Jangan habiskan aku untuk egomu karena aku takut hilang.

Sudah pukul berapa ini. jangan biarkan aku untuk tidak memiliki hari yang baru karena waktuku terhenti saat kamu pergi. baik, satu cangkir lagi. Aku rasa ini akan jadi cangkir terakhir karena tubuhku sudah mulai lelah. Saat ini aku memikirkanmu. Bagaimana telah kuberikan seluruhnya untuk kamu. cintaku yang kukorbankan karena percaya akan ada cinta yang lebih besar darimu. Memang aku menangis. Menangis karena aku tidak bisa menggantikan dia yang bertaruh untuk kamu. Aku tidak lagi bisa lari dengan apa yang ada di cangkir ini. Tubuhku sudah tidak kuat. Jadi kembalilah. Ambil bagianmu dalam yang telah diberikannya.

Aku mendengar deru mobil yang terhenti. Aku segera bergegas menelisik dari sudur jendela. Setelah 15 menit kamu turun. 15 menit yang sangat menyiksa. Melenggang dalam hujan dengan gaun merah yang menawan. Kamu cantik mengenakannya. Sayang aku tidak bisa melihatnya untuk waktu yang lama. Sesekali kamu berbalik dan melambaikan tangan kemudian kamu sadar sudah saatnya kembali

“aku pulang pa.”
“cepat mandi. Nanti sakit.”
“iya ini mandi kok.”

Aku kembali meneguk. Menghela nafas yang menghilangkan kecemasanku. Aku selalu cemburu pada setiap laki-laki yang bisa menghabiskan banyak waktu denganmu. Kamu saja yang tidak tau. Atau tidak mau tau. Meski aku hanya bayangan yang usang dalam pikiranmu tapi aku selalu mengharapkanmu. Jika ada sedikit waktumu nak, Bapak juga ingin seperti lelaki tadi karena Bapak hanya punya kamu.

Cerpen Karangan: Luthfi

Cerpen Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Belajar Lebih Baik

Oleh:
Seorang gadis yang sangat cantik, tinggi dan berkulit putih, dia bernama Amalia Widiastuti. Dia tinggal sebuah kota di Jawa Timur yaitu Surabaya. Dia tinggal bersama bapak dan ibunya, bapaknya

Pertemuan Terakhir

Oleh:
Suatu hari hiduplah seorang gadis yang cantik, soleh, pandai dan kreatif bernama ulia. Dia hidup bersama ibunya yang seorang buruh pabrik dan seorang adik perempuan yang duduk di kelas

Bodohnya Diriku

Oleh:
Hari itu, aku sangat bahagia karena akhirnya orangtuaku mengizinkan aku untuk pergi bersama teman terdekatku ke luar negeri. Mamaku membolehkan aku pergi, walaupun ia sangat khawatir. Andai aku tahu

Mamah

Oleh:
Semua Orang, anak-anak baik besar atau yang kecil pasti memiliki orangtua, yang biasa disebut Ayah dan Mamah, akan sangat melengkapi jika salam satu atap memiliki keduanya, tapi tidak dengan

Kasih Seorang Mama

Oleh:
Aku dilahirkan untuk mempunyai mama dengan satu mata. Dia sangat memalukan bagiku. Dia bekerja di tempat aku bersekolah. Dia berjualan di sana. Di suatu hari dia sempat menyapa di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *