Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 October 2017

Aku masih terduduk di atas tempat tidur yang beralaskan tilam kusut dan lecet. Sebuah ruangan kecil dan sempit hanya berisikan lemari baju dan tempat tidurku. Dengan sebuah daun jendela yang mengarah ke pelataran sawah.

Kembali terngiang di telingaku tangisan dan erangan yang memilukan. Setiap saat selalu saja menghampiri pikiranku. Suara pilu seorang yang begitu berarti buat keluargaku. Ayah. Penyakit yang begitu aneh, namun nyata kulihat. Tega merenggut sosok seorang ayah dari hidupku. Penyakit itu menghancurkan semuanya. Kesenangan, kebahagiaan, kebersamaan, canda tawa sudah hilang kini.

Aku masih ingat betul, saat malam itu Ayah mengerang kesakitan, tangisannya tak sanggup kudengar. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Berdoa meminta MuzijatNya, semoga penyakit itu hilang tak berbekas dari tubuh Ayahku. Dan semua bisa kembali seperti dulu. Ohh, aku begitu merindukan masa-masa itu.

Tapi semua harapanku hanya tinggal mimpi yang tidak akan pernah bisa tercapai. Semua berakhir sudah. Tubuhnya yang dulu tegap dan kekar kini terbaring tak bernyawa di atas tilam. Penyakit itu telah berhasil merenggut nyawa Ayahku. Ahh tidak aku masih belum percaya ini semua. Ini mungkin hanya mimpi burukku. Aku coba memastikan kembali. Aku mendekati tubuh itu, memandangnya dengan seksama. Ternyata Beliau sudah tak bernapas lagi. Beliau benar-benar sudah pergi jauh.

“Ayahhhh… jangan tinggalkan aku. Ayahhh…”
“Sudahlah, nak. Ikhlaskan kepergian Ayahmu. Biarkan beliau tenang di sisiNya.”
“Tapi kenapa secepat ini, Bu. Oh.. Ayahh.”

Hari pemakaman berlangsung beberapa hari kemudian. Hari dimana kami dan Beliau benar-benar berpisah. Aku hanya bisa menatap tanah makam Ayah yang sudah menutupi jasadnya di bawah sana. Hanya sepucuk Doa yang bisa kupanjatkan untuk kebahagiaan Ayah di alam sana. Semoga selalu tenang di sisiNya.

Cerpen Karangan: Dera Warnita
Facebook: Dera Warnita

Cerpen Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hanya Untuk Mama

Oleh:
Ku hela napas panjang dan ku pejamkan mata, “Aku Pasti Bisa!” ucapku sambil membentangkan senyum selebar mungkin. Ku tatap wajah juri yang tak dapat ku artikan, raut wajah penonton

Kupu Kupu Taman

Oleh:
Feby duduk melamun di bangku taman, dia memandang kupu-kupu taman yang terbang tinggi, kadang kala kupu-kupu itu hinggap di atas bunga yang bermekaran. Suara teguran seseorang mengagetkan Feby. “Feby,

Jogja dan Asmaralokanya

Oleh:
Petang membuana, mengarah pada pijakan jingga di ujung kota. Nafasnya bergelung remuk pada ramainya motor tua yang melewati aspal kasar. Sesosok istimewa di kota istimewa, eloknya suasana serta candunya

Ketika Kau Tak Lagi Menemaniku

Oleh:
“Aku diam bukan berarti aku marah. Aku sayang kalian, aku sayang kamu. Aku ingin kalian lebih baik dari kalian yang sekarang. Tapi maaf kalau caraku ini salah. Maaf kalau

Harta Warisan Ayah

Oleh:
“Nulis lagi kamu Iz?” “Ngak Ma, aku nggak nulis” “Jangan bohong kamu! Itu apa buku sama pulpen” Bu Anisa merampas paksa buku tulis dan pulpen Faiz. “Harus berapa kali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *