Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 June 2020

Terlihat kerinduan dari wajah Nabil yang tengah memeluk erat tubuh ayahnya. Delapan tahun yang lalu, sejak ayah dan ibunya bercerai Nabil tidak pernah tahu bagaimana keadaan ayahnya bahkan walau hanya sebatas kabar.

“Ayah kemana saja? Nabil rindu yah..” ucap Nabil yang mulai melepas pelukannya.
“Waktu ayah tidak banyak nak.” Jawab ayahnya dengan singkat.

Sejak detik pertama pertemuan mereka hanya didominasi dengan suara Nabil. Mulai dari melontarkan pertanyaan hingga bercerita tentang neneknya yang murka ketika tahu bahwa Nabil rindu ayahnya.

“Ayah tahu? Terakhir kali aku rindu ayah adalah saat lebaran tahun lalu. Saat itu aku lebih banyak murung, aku tidak ingin bertemu dengan banyak orang karena aku hanya ingin bertemu ayah. Ibu kesal denganku yang tidak ingin diajak keluar rumah. Ibu melaporkanku ke nenek, ibu bilang aku sedang rindu ayah. Nenek menghampiriku dan menyeretku keluar rumah. Aku diseret yah, sakiiit. Lenganku sakit, belum lagi ditambah menahan malu karena aku diperlakukan seperti itu di depan banyak orang. Sejak saat itu aku tidak berani lagi untuk menunjukkan betapa aku rindu pada ayah. Karena aku takut nenek marah lagi padaku. Ngomong-ngomong ayah juga rindu padaku kan?.”

Nabil tampak kesal dengan ayahnya, karena ayahnya lebih memilih untuk bungkam bahkan pada saat Nabil telah banyak bercerita dan melontarkan pertanyaan.

“Ayah kenapa diam saja? Apakah tidak ada hal yang ingin ayah sampaikan kepadaku? Bukan satu atau dua hari kita tidak bertemu, delapan tahun yah! Delapan tahun kita tidak bertemu. Dan sekarang saat bertemu denganku ayah lebih banyak diam? Aku benci ayah!.”

Anehnya ayahnya tetap diam. Pertemuan mereka larut dalam keheningan, karena Nabil sudah kehabisan akal untuk membuat topik agar ayahnya mau bicara banyak.

Setelah lama menunggu, akhirnya ayah Nabil mau berbicara.

“Sudah satu jam lebih, nak. Ayah pamit ya. Jaga dirimu, ibu, dan adikmu. Ayah sayang kalian.”
“Ayah mau kemana? Ayah mau pergi lagi? Kapan kita akan bertemu lagi yah?”
“Kita akan bertemu setiap kali kamu rindu ayah nak”

Ayah Nabil berjalan pergi, bahkan saat Nabil tengah menangis sejadi-jadinya. Nabil meringkuk, melipat tangan dan kakinya berdekatan, sambil menyembunyikan wajahnya.

Terdengar suara langkah kaki yang mendekati Nabil dan suaranya berhenti tepat di belakangnya. Pemilik suara langkah kaki itu menepuk bahu Nabil sambil menggoyangnya. Mencoba memanggil Nabil dengan suara lembutnya, dan sepertinya Nabil mengenal dengan baik suara siapa itu.

“Nabil, bangun nak. Kenapa kamu menangis? Kamu mimpi apa sayang?.”

Cerpen Karangan: Witri Syakinah

Cerpen Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Kebiasaan

Oleh:
Sedari tadi, lelaki itu masih duduk terdiam. Rupanya, ia masih ingin berada di tempat ini. Kedua anaknya tengah berdiri di belakang menatapnya. Anak perempuannya, mendekat dan berbisik: “Pak. Aku

Heart For You

Oleh:
Hana Lisna Vanessa, nama yang indah bukan? Dia memiliki rambut ikal hitam kecokelatan, mata yang indah, postur tubuh yang langsing dan tinggi, senyum yang manis, prestasi yang tinggi, dan

Selamat Tinggal Komposer Cilik

Oleh:
Suara alunan musik piano itu membuat Mulan serasa seperti berayun di atas not-not balok yang bertebangan ke udara. Yap, siapa lagi kalau bukan Bitha yang memainkan piano dengan suara

Pahlawan Wanita Sejatiku

Oleh:
Betapa hatiku takkan pilu Telah gugur pahlawanku Betapa hatiku takkan sedih Hamba ditinggal sendiri Siapakah kini plipur lara Nan setia dan perwira Siapakah kini pahlawan hati Pembela bangsa sejati

Kasihmu Begitu Besar ya Allah

Oleh:
Ketika orang lain tengah terbuai dengan mimpi, perlahan kubuka mataku di tengah keheningan malam. Ku panjatkan doa dengan hati bergetar. Ku langkahkan kakiku untuk mengambil air wudhu. Kemudian aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *