Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 March 2013

Seperti biasa ketika liburan sudah mulai tiba aku selalu menginap di rumah nenekku, kebetulan ketika itu aku sedang kesal kepada ayahku karena ayah tidak mengizinkanku pergi ke dunia fantasi bersama teman-teman. Malam itu aku dijemput oleh pamanku untuk menginap di rumah nenekku tidak ada firasat apapun dan ayahku pun mengizinkannya, aku tidak menyangka sama sekali bahwa pamit ku kepada ayahku itu akan menjadi percakapan terakhirku dengan ayah.

Seminggu telah berlalu hari Selasa itu aku berniat untuk pulang ke rumah, tetapi ketika aku sedang tidur nyenyak HPku berbunyi karena aku masih nyenyak tidur nenekku yang mengangkat telfon itu, aku tidak menghiraukannya dan aku kembali dalam tidurku. Aku pun dibangunkan oleh saudaraku sebenarnya aku sangat tidak ingin bangun tetapi neneku berbicara padaku pean-pelan “ayahmu, masuk rumah sakit sa.” disitu aku tidak bisa lagi berkata-kata air mataku pun jatuh aku segera bergegas keluar kamar mengambil handuk dan mandi.

Aku diantar nenekku ke rumah sakit menggunakan angkutan umum aku menangis sepanjang perjalanan sambil berharap keadaan ayahku masih baik-baik saja. Tetapi sesampainya di rumah sakit aku lihat ibuku adik-adikku tanteku dan nenekku menangis menunggu kepastian dokter yang memeriksa ayahku di ruang ICU aku pun terus menangis aku tidak mengerti ayahku yang sehat tiba-tiba terbaring lemah.

Ibuku pun mulai menceritakan kronologis ceritanya. Ayahku semalam tidak pulang ibuku masih sempat menelepon ayahku dan beliau bilang akan pulang secepatnya tetapi setelah telepon terakhir itu ternyata tidak bisa dihubungi lagi, ibuku dan adikku mencarinya di perpustakaan mesjid depan rumah tempat biasa ayahku dan teman-temannya kumpul. Tetapi ibuku tidak menemukan tanda-tanda masih ada orang disana ibuku pun kembali pulang dan masih terus menunggunya. Setelah shalat subuh ibuku pun mencoba mencari lagi dan ternyata ibuku pun melihat ayahku sudah terbaring lemah dan dari mulutnya mengeluarkan busa ibuku pun meminta tolong kepada orang-orang sekitar ayahku diisitu masih sedikit tersadar dan masih bisa minum tetapi kakinya memang sudah tidak bisa digerakkan ayahku pun akhirnya dibawa ke rumah sakit.

Aku sangat tidak bisa menahan air mataku aku memeluk ibuku dan dokter pun memanggil kami “dok, apa yang terjadi dengan suami saya?” tanya ibuku sambil mengeluarkan air mata. “maaf bu peralatan di rumah sakit kami tidak memadai sebaiknya suami ibu dipindahkan saja ke rumah sakit yang lebih baik” dokter pun mempersilahkan kami memasuki ruang ICU untuk melihat kondisi ayahku.

Ruangan yang dingin, bersih dan udara pada ruang ICU itu disesaki dengan bau obat-obatan higenis, membuatku merasa tidak nyaman. Ruangan yang biasa aku lihat di film-film ini ada di depan mataku ruangan yang dipenuhi alat-alat medis kulihat sosok yang sangat aku sayangi terbaring lemah dengan oksigen yang membantunya bernafas dan alat-alat lain yang aku sendiri tak mengerti fungsinya untuk apa.

Aku berdiri di sampingnya aku melihat seluruh tubuhnya aku melihat memandang wajahnya aku memegang erat tangannya dan ayahku tak kunjung sadar sudah dua jam ayahku di rumah sakit ini tetapi tidak kunjung ada perubahan. Keluargaku memutuskan untuk memindahkan ayahku ke rumah sakit lain. Setibanya di salah satu rumah sakit yang cukup terkenal di Bogor ini ayahku dibawa masuk ke ruang UGD dan dibawa ke ruang scan.

setelah beberapa jam menunggu, hasil scan yang kami tunggu-tunggu tersebut keluar juga. bukannya membuatku lebih lega tetapi malah sebaliknya. dokter memvonis bahwa hidup ayahku tidak lama lagi karena pembuluh darahnya dinyatakan pecah dan menyebabkannya terserang stroke. Disekak dengan pernyataan seperti itu membuatku hampa. entah apa maksudnya semua ini, keterkejutanku, sudah tak mampu disyairkan lagi. Tetapi aku dan keluarga besarku masih terus berusaha agar ayahku bisa pulih kembali. Ayahku kembai dipindah ke rumah sakit yang ruang ICU nya masih kosong disana ayahku di rawat dua hari akupun menemani ibuku menginap di rumah sakit. Di rawat si ruang ICU itu membuat kita tidak bisa bebas masuk untuk melihat keadaan ayahku terus, harus menaati aturan jam besuk.

Keesokan harinya aku dan ibuku di panggil dokter karena ayahku anfal ayahku kehabisan nafas yang membuatnya harus memakai alat pernafasan yang lebih baik. Ayahku pun dalam keadaan sangat kritis aku tidak sanggup melihatnya dan akupun keluar dari ruangan tersebut, aku menangis histeris dan akupun pingsan. Aku sangat menyesali kekesalanku pada ayah andai saja aku seminggu terakhir tersebut berada di rumah.

Karena tak kunjung ada perubahan, keluarga besarku berencana untuk melepas semua alat yang ada pada tubuh ayahku karena menurut mereka ayahku hanya hidup karena alat, mendengar hal itu aku sangat kesal pada keluarga ayahku karena menurutku yahku tidak diberi kesempatan hidup yang lebih panjang tetapi ibuku menasehatiku.

Aku hanya berharap ketika semua alat tersebut dilepas ada mukjizat datang dan membuat ayahku sadar dari koma nya. Ketika alat tersebut dilepas detak jantung ayahku pun berhenti nafasnya pun sudah tidak ada, ayahku telah tiada.
Semua menangis melepas kepergian ayahku tapi aku yakin dibalik semua ini ada hikmah yang tersembunyi. Aku tidak tahu bagaimana hidup ini terus berjalan tanpa seorang ayah yang membimbingku dan kedua adikku.

Cerpen Karangan: Salsabilla
Facebook: salsa degel

Cerpen Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Menyerah

Oleh:
Walau dunia tak seindah surga tapi inilah duniaku, tak tau harus senang atau sedih, semua yang kualami adalah pelajaran berharga sepanjang hidup. Manusia tak bisa memilih dari rahim siapa

Oppa, Mianhae

Oleh:
Jingga matahari terbit seakan tak nampak tertutup gumpalan awan yang redup. Gemuruh guntur di langit terdengar samar dari kejauhan Kota Seoul. Udara sekitar menghembus gigil beku, menghempas tubuh seorang

Teman Tak Berwujud

Oleh:
Mentari pagi menyelinap menembus celah-celah jendela kaca rumahku. Embun-embun masih menempel di dedaunan. Mungkin bagi sebagian anak sedang sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah. Tapi tidak denganku. Kubuka kedua

Love is Family

Oleh:
“selamat pagi sayang, ayo bangun!” Kata mama sambil membelai rambutku, aku hanya tersenyum sambil berusaha untuk bangun. Mama mengangkatku dan mendudukanya di kursi roda, memang selama ini aku lumpuh.

Air Mata Hasna (Part 2)

Oleh:
Sesampai di rumah sakit, suster juga langsung membawakan adiknya ke dalam ruang ugd. Hasna juga ikut berlari sambil berdoa dalam hati. Agar apa yang dialami adiknya itu tidak membahayakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *