Ayah


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 7 September 2013

“Kamu jadi anak lelaki tidak boleh cengeng,” perkataan itu yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang di telingaku dan selalu ke luar dari mulut ayah di saat aku kecil meminta sesuatu barang atau ketika aku kalah dalam berkelahi dengan temanku.
“Kamu nanti akan jadi ‘pagar’ keluarga,” kata-kata itu juga sering dilontarkan ketika aku beranjak dewasa sampai berumah tangga.
Saat itu aku pun bertanya “pagar” yang dimaksudnya itu, kemudian dia menjelaskan tradisi Minangkabau bahwa pagar itu melindungi kaum wanita di keluargaku yang satu sepersukuan.
“Kaum wanita itu harus engkau jaga, memang engkau sebagai lelaki tidak akan mendapatkan tanah pusako, tapi peranannya adalah menjaga,” kalimat itu ke luar dari mulutnya di saat aku mengeluh.

Perkataan ayah memang sangat menyentuh hati, dirinya tidak perlu memarahi dengan kata-kata kasar, tapi cukup dengan beberapa patah kata yang sarat makna filosofisnya. Sampai aku berumah tangga pun, ayah masih selalu memberikan wejangan-wejangan agar aku tidak tergelincir dalam kehidupan dan kuat dalam menghadapi berbagai prahara kehidupan.

Dari raut mukanya yang sarat dengan perjalanan hidupnya itu, selalu menjadi teman di saat aku berduka. Meski cukup bertelepon untuk menanyakan keadaan aku di tanah rantau, tapi engkau akan selalu merasakannya baik di tengah suka dan duka.

“Papa tidak meminta engkau banyak-banyak, hanya satu engkau jangan tinggalkan shalat lima waktu,” perkataan itu kembali muncul.
Karena dari shalat itulah kamu akan mendapatkan petunjuknya dengan tetap berikhtiar meminta kepada Allah SWT hingga berputar kembali ke masa awal kuliah ketika aku diterima di perguruan tinggi negeri, di saat itu keadaan ekonomi keluarga tengah menurun hingga dalam kondisi terpepet untuk membayar uang pendaftaran ulang yang tinggal hanya menyisakan dua hari lagi.
“Engkau Shalat Tahajud meminta tolong kepada Allah SWT,” katanya.
Ayah juga merelakan diri harus meminjam ke kanan kiri berangkat ke Jakarta dari Bandung dini hari, hingga pada keesokan harinya dia sudah tiba kembali di rumah dengan wajah tersenyum. “Alhamdulillah, besok kamu bisa daftar ulang,” ungkapnya dengan penuh makna.

Entah karena takut kehilangan yang sedemikian besar, membuat aku selalu terjaga dari tidur dan menengok ke kamarnya setiap aku tengah pulang kampung di Lubuk Alung, Pariaman. Dia tidur begitu tenang di samping Ibu, wajah yang sudah dipenuhi dengan keriput terutama di bagian giginya seiring banyaknya gigi yang sudah tanggal dan rambutnya yang sudah menipis hingga kulit kepalanya terlihat jelas terkena sorotan lampu kamar, sesekali mengeluarkan dengkuran halus karena keletihan seharian bekerja di ladang.

Sesekali jari telunjukku diletakkan di bawah hidungnya untuk merasakan hembusan nafasnya, dia pun terjaga sesaat kemudian melanjutkan mimpinya.
Ya… ya aku benar-benar takut akan kehilangan seorang sosok ayah yang menjadi tumpuan kaki ketika melangkah, dirinya bisa menjadi teman bisa menjadi sosok sebagai pelindung di kala tengah menghadapi kesusahan dalam menjalani hidup.
“Yah, bagaimana kabarnya, sehat kan,” hampir dua hari sekali aku mencoba bertelepon.
“Beginilah kalau sudah tua? Ada saja masalah gak enak badan. Maklum umur udah 74 tahun lebih,” ujarnya dengan nada suaranya yang parau.
Meski usianya sudah tua, namun Ayah selalu tetap energik dan tidak mau diam selalu saja ada yang dikerjakan dari mengurus kandang ayam sampai memetik kopra dan kopi yang bisa menambah uang asap dapur di samping mendapatkan kiriman dari kami anak-anaknya yang berada jauh di rantau.

Kekhawatiran yang berlebihan itu membuat istriku cemburu karena perhatian hanya diarahkan dari pihak laki saja sedangkan dari pihak keluarganya dinilai tidak diperhatikan.
Ada saja yang dipermasalahkan dari saat aku mengirim uang, istriku langsung mengeluarkan wajah cemberut bahkan tega tidak mau menegur hampir satu hari penuh. “Kalau mau berbagi harus adil juga, kasih dong orangtua saya juga,” ketusnya saat aku meminta pertimbangan jika berencana menyisihkan uang untuk orang tua di Padang.
Saat aku menyela, “Ibu… tidak salahnya kita menyisihkan uang untuk orang tua, tokh aku juga mengirim uang untuk keluargamu,”
“Pokoknya harus adil, titik…,” tandasnya kembali memotong pembicaraan saat menjelaskan rencana itu mengirim uang.
Ada saja yang selalu dipermasalahkan dari perhatian yang berlebihan terhadap ayah dan ibuku itu.

Sebenarnya aku juga mencoba untuk bersikap adil seperti setiap Lebaran sudah dipastikan membeli barang dari sandal sampai baju koko maupun baju muslim untuk ibuku, seragam dengan kedua orang tua istriku.
Terkadang kalau berbelanja untuk Lebaran, aku sengaja mengajak istriku untuk turut memilih-milih pakaian mana yang layak untuk dibelikan untuk kedua orang tua.

Sebenarnya aku tetap yakin istriku tetap menyayangi kedua orang tuaku, maupun sebaliknya aku juga sayang kepada kedua orang tua istriku. Mungkin hanya faktor komunikasi saja yang membuat kecemburuan itu tetap berjalan.
Salah satunya saat dirinya pernah mendapatkan tugas ke Padang, dirinya rutin menengok ayah dan ibuku serta selalu memberikan perhatian lebih dari membelikan kebutuhan sehari-hari sampai terkadang membelikan pakaian.
Kembali aku teringat kembali akan nasehat ayah yang saat ini wajahnya yang semakin dipenuhi dengan keriput dan pandangan mata yang sudah mulai kabur itu. “Jadi laki-laki kamu jangan cengeng dan hadapi semua rintangan. Jangan sekali-kali kau mengeluh. Engkau adalah imam keluarga,” katanya dari balik telepon.

Awal April 2010
Suasana di sudut perkantoran kawasan Blok M, Jakarta Selatan, sore itu memang agak berbeda, entah saat itu perasaan saja atau memang suasananya yang kurang baik dengan angin yang cukup kencang hingga pepohonan palem yang memayungi jalan di perkantoran itu bergoyang-goyang bak penari yang mengikuti alunan gending sedih.

Suasana pun semakin syahdu dengan langit yang menghitam bercampur abu-abu, namun hujan sedari siang tidak turun juga.
Trrrttt.. ttrrrttt… trrrttt… nada getar handphone ku berbunyi terlihat nama ibu di monitor hp.
“Ayah sakit, udah tiga hari susah nafas, kalau jalan pun harus terbungkuk-bungkuk,” suara ibu seperti nada panik mengabari kondisi ayah.
“Sudah dibawa ke dokter hari kemarin, sudah dikasih obat tapi tidak ada perubahan. Sekarang mau dibawa ke rumah sakit di Padang. Minta doanya aja ya,” sambung ibu.
Entah terbawa suasana khawatir atau tanda-tanda akan terjadi sesuatu hal, di tengah perjalanan pulang melewati kemacetan jalan di Pancoran. Tiba-tiba saja motorku ditabrak motor dari belakang.

Tepat pukul 00.00 WIB, ibu menelepon kembali yang mengabarkan kondisi ayah yang sudah kritis. “Minta doanya saja ya, sudah susah nafas,” katanya.
Dari handphone lamat-lamat terdengar suara ayah yang meminta tolong untuk diambilkan pispot. “ma… ma… tolong pispot,”.

Pukul 04.30 WIB atau tepat Adzan subuh Jumat dini hari, dering handphone berbunyi di saat di tengah kekhawatiran. “Ayah sudah meninggal barusan, ayah sudah meninggal,” suara ibu yang mencoba menahan tangis.

Pukul 13.00 WIB, hujan gerimis memayungi Lubuk Alung mengiringi saat keranda jenazah dibawa oleh warga dari masjid kampung yang berjarak sekitar 100 meter ke tanah makam.
Tanah masih merah, aku berdoa di samping makam bersama anakku si Guevarra. Aku pun memberikan nasehat “Kamu anak lelaki jangan cengeng, kamu adalah pagar keluarga. Kamu harus berani dalam menghadapi rintangan apapun,”.

Bekasi, 8 Mei 2013
Riza Fahriza (penikmat karya sastra)

Cerpen Karangan: Riza Fahriza

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Budaya Cerpen Keluarga Cerpen Nasihat

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply