Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 9 December 2016

Hanya satu hal yang kutahu. Orangtua pasti menyayangi anaknya. Baik itu ibu maupun ayah. Mungkin hanya cara mereka menunjukan kasih sayangnya saja yang berbeda. Seperti ayah yang mencari uang untuk membeli beras. Seperti ibu yang memasak untuk makan anaknya. Apa yang anak lihat? Ibu lebih perhatian daripada ayah. Seperti ayah melarang anaknya pergi malam. Seperti ibu yang menyuruh anaknya istirahat saat malam. Apa yang anak lihat? Ibu lebih penuh dengan kasih sayang.

Saat toga ini membalut tubuh sang anak, orangtua melihat dengan senyuman indah di wajahnya. Saat acara berakhir sang anak berlari menuju orangtuanya. Ia menangis haru sambil memeluk ibunya. Ayahnya tersenyum simpul memendam rasa cemburu.

“Ibu.. Aku lulus.. Ini semua karena do’a ibu. Terima kasih, bu sudah mendo’akanku” Ucap sang anak.
“Ibu dan ayah senang kamu bisa lulus lebih awal. Ibu akan selalu mendo’akanmu” Sahut sang ibu.

Saat sang anak mulai mengalami indahnya jatuh cinta, ia mulai sering ke luar rumah untuk pergi bersama sang kekasih. Sesekali ayah melarangnya pergi.
“Ini sudah malam. Hanya perempuan nakal yang keluar selarut ini. Cepat masuk ke kamar dan tidur” Teriak ayah.
Sang anak berlari menuju kamar dan membanting pintu. Saat melihat itu, sang ayah menahan tangis. Dia hanya tidak ingin anaknya dipandang buruk oleh orang orang di luar sana.

Saat itu sang ibu ke kamar menghampiri anaknya. Mengelus lembut rambut sang anak. Memeluk sang anak untuk menenangkan hatinya.
“Lebih baik kamu tidur.. Ini sudah larut. Besok pagi kamu harus bangun awal karena kamu harus bekerja. Jangan sampai kamu kelelahan.” Ucap sang ibu lembut.
Di balik pintu, sang ayah mendengarkan apa yang istri dan anaknya bicarakan. Ia tersenyum bahagia saat ia mendengar bahwa sang anak mau menurut dan tidak ke luar.

Saat pagi tiba, keluarga itu berkumpul untuk sarapan pagi. Sang anak memasang wajah masam saat ayah menatapnya. Hati ayah lirih. Jiwanya menjerit. Ia mennahan diri agar tidak menangis.

“Aku berangkat dulu ya, bu. Assalamu’alaikum..” Ucap sang anak sambil mencium tangan sang ibu.

Ayah memejamkan mata menahan rasa sakit dalam hatinya. Saat sang anak bahkan tak menoleh ke arahnya. Ia mengehentikan sarapannya dengan alasan ia sudah telat berangkat bekerja. Ia tidak mungkin bisa makan saat sang anak sedang bersedih.

Seminggu setelahnya sang anak membawa seorang pria ke rumahnya.
“Ibu.. Kenalin ini kekasihku. Kami mau minta restumu untuk menikah.” Ucap sang anak.
Ayah menatap tajam pria itu mencoba mengenali pria itu. Apa dia pria yang tepat untuk menggantikan posisinya.
“Ibu sih terserah kamu saja. Kalau kamu merasa cocok, ibu sih setuju saja” Jawab sang ibu.

Sebulan setelahnya, sang anak menikah dengan pria pilihannya. Ayah berdo’a pada sang Tuhan anaknya tidak salah memilih penggantinya.

“Ayah.. Ibu.. Setelah menikah, aku akan pindah dari rumah dan ikut dengan suamiku” Ucap sang anak.
Ayah tersenyum lirih tak kuat berpisah dengan sang buah hati. Saat sang anak pamit, ayah tak lagi sanggup menahan tangisnya. Ia memeluk erat anaknya. Seakan takkan bisa bertemu lagi.
“Ayah harap kamu bisa selalu bahagia bersamanya.. Dan kamu.. Saya mohon jaga baik baik anak saya. Jangan pernah menyakitinya” Ucap sang ayah pada anak dan menantunya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Dwi Wulandari
Blog: dwiwulandari369.blogspot.com
Hahay.. Aku kembali.. Dan bawa cerpen baruku.. Cerpen yang bikin aku nangis pas ngetiknya T.T

Cerpen Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dulu

Oleh:
“Hey kak, bagaimana kabarmu? Belakangan ini jarang sekali mengirim pesan. Kenapa? Oh aku tau, kakak lagi ingin sendirian kan? Okey, tapi buat saat ini aku ingin bicara denganmu. Aku

Waktu Yang Berharga

Oleh:
Kosong. Kutatap nanar apa yang ada di hadapanku saat ini. Tak kuhiraukan rasa dingin yang mulai menelusup sampai ke tulangku. Duniaku seakan terpusat pada satu titik saat ini, yaitu

Kehidupan Diluar Alam Sadarku

Oleh:
Banyak yang bilang bahwa mimpi adalah sebagai bunga tidur. Mimpi terkadang indah namun ada yang pahit. Mimpi terkadang nyata namun, mimpi ada juga yang aku harapkan itu menjadi nyata,

Cahaya Lilin Natal

Oleh:
Kegetiran hidup menyelimuti diriku ketika aku menatap hampa ke layar televisi. Sebuah film hitam putih, “It’s a Wonderful Life” sedang ditayangkan. Film ini adalah salah satu film favoritku sepanjang

Kue Buat Mama

Oleh:
“yaaannn…” teriak seorang wanita berusia 25 tahun yang sedang mencari anaknya di sekitar halaman rumah “oh ternyata kamu di sini sayang… ayo ikut mama!! Kamu itu udah waktunya tidur”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *