Ayah, Aku ini Anakmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 August 2017

Di pagi hari yang cerah, aku seperti biasa melakukan aktivitas yang mungkin tidak pantas untuk anak seusiaku.
Aku Zakri, umurku masih 5 tahun. Setiap hari aku selalu bangun pagi-pagi dan bekerja menjadi seorang kuli di pasar untuk memenuhi kebutuhan keluargaku. Walaupun aku masih kecil, tapi aku mempunyai tenaga dan semangat kerja yang besar. Aku mempunyai seorang ibu dan ayah tiri serta adik perempuan.

Ibuku seorang pengrajin bakul, pagi-pagi dia selalu pergi ke kebun untuk mengambil bambu, karena bambu merupakan bahan untuk menghasilkan kerajinan bakul. Setiap 2 minggu sekali, ibu selalu menjualnya ke pasar. Dan hasilnya pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Sedangkan ayah tiriku, dia tidak bisa melihat. Tapi walupun dia tidak bisa melihat, dia masih bisa membantu ibuku yang bekerja sebagai pengrajin bakul. Karena itulah aku memutuskan untuk menjadi seorang kuli di pasar. Dan adikku, dia masih sangat kecil.

Aku juga masih punya ayah kandung, tapi dia meninggalkan aku dan ibu ketika aku masih sangat kecil, karena dia terpikat oleh seorang perempuan yang merupakan kembang desa di desaku. Sudah lama aku tidak pernah bertemu dengan ayah, rasanya rindu sekali padanya. Kalau misalkan nanti aku bertemu dengan ayah, aku ingin sekali memeluknya.

Suatu hari, ketika aku sedang berada di pasar, aku melihat seorang lelaki yang sedang duduk di warung kopi. Dan aku pun menghampirinya. Ternyata dia adalah ayahku. Aku sangat senang sekali karena akhirnya aku bisa bertemu dengan ayah. Aku pun sontak berteriak “Ayaaaaahhh…!!!”, dan aku langsung berlari dan langsung kupeluk tubuhnya. Tapi aku terkejut, ketika aku memeluk ayah, ayah malah melepaskan pelukanku lalu mendorongku sampai aku terjatuh. Dan dia berkata “Siapa kamu, tiba-tiba memelukku dan memanggilku dengan sebutan ayah?, aku tidak punya anak sepertimu yang cuma seorang kuli pasar yang dekil, bau lagi”, dengan nada membentak dan menjenggut kepalaku.

Aku hanya terdiam dan menangis dalam hati. Betapa teganya ayah berbicara seperti itu, “aku ini anakmu yah”, ucapku dalam hati. Kemudian dengan tidak berkata apa-apa kepadanya aku pun langsung lari meninggalkan warung kopi itu sambil menggerutu dalam hati, “Kenapa ayah berkata seperti itu, apa ayah tidak kenal lagi denganku, dan apa salahku kepadanya sehingga aku begitu dibencinya. Atau mungkin dia sudah tak mau mengakuiku sebagai anaknya. Kenapa… kenapa… Ayah sangat jahat, bertahun-tahun aku merindukannya dan berkeinginan untuk memeluknya, tapi setelah aku bertemu dengannya dan aku memeluknya dia malah mendorong aku dan mencelaku. Ya allah, aku hanya bisa berharap semoga suatu saat nanti ayah bisa mengenali aku dan menganggap aku sebagai anaknya. Amiin”.

Dengan hati yang sangat begitu kecewa, aku pun kembali ke pekerjaanku dan aku juga berjanji bahwa celaan yang ayah berikan tadi itu bisa menjadi motivasi bagiku untuk bekerja lebih giat lagi, sehingga kelak aku menjadi orang sukses dan bisa membahagiakan keluargaku dan menunjukan kepada ayah bahwa aku bisa.

End

Cerpen Karangan: Siti Maryani
Facebook: Siti Maryani (SM)
Siti Maryani, adalah seorang gadis kelahiran Majalengka, 29 Juli 2000. Dia bersekolah di MA Siti Khadijah. Dia senang sekali menulis.

Cerpen Ayah, Aku ini Anakmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Abdiku Untukmu Keluarga Kecilku

Oleh:
Seraya bulan mengitari bumi, malam itu aku dan adikku aliyah sedang menonton televisi. Oh ya, perkenalkan, namaku ika, aku anak sma kartika rinaf bangsa, aku kelas x. A, kelasku

Kota Mati

Oleh:
Udara ini berubah di kota mati Seperti kisah masa lalu Kini membisu Sialan. Sebuah lagu terputar di handphone kunoku. Lagu yang sudah setahun belakangan ini kuhindari. Iya, lebih baik

Hanya Untuk Mama

Oleh:
Ku hela napas panjang dan ku pejamkan mata, “Aku Pasti Bisa!” ucapku sambil membentangkan senyum selebar mungkin. Ku tatap wajah juri yang tak dapat ku artikan, raut wajah penonton

Untuk Kesempatan Terakhir

Oleh:
Membuka buku *Hanya memandang langit bagaikan melihat wajahmu, Karena setiap lekukan wajahmu semakin berarti dalam hidupku. Walau kau jauh di sana tetapi aku selalu merasa kau ada di sampingku*.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *