Ayah, Aku Rindu Padamu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Rohani, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 August 2014

Pagi yang cerah, aku masih terbaring malas di kasur tepatnya di kamarku. Entah mengapa hari ini aku merasa sangat malas untuk bangun dan masih saja mengantuk. Mungkin karena semalam aku harus mengerjakan tugas hingga larut. Tapi aku harus memaksakan diri untuk masuk. Aku harus bersiap siap mandi karena hari ini ada penilaian sikap diri.
“Ouuhhhh..” teriakku sambil menguap.

Hay sobat, perkenalkan namaku Senja. Aku anak pertama dari 2 bersaudara. Aku punya adik laki-laki namanya Fajar dia baru berumur 13 tahun, sedangkan aku menginjak 17 tahun. Aku hanya tinggal bersama adik dan ibuku, Ayahku sudah meninggal sejak 3 tahun yang lalu. Beliau meninggal Karena terserang penyakit jantung.

Hmm… sebelum aku berangkat sekolah akan ku ceritakan sedikit tentang bagian dari istana kami termasuk hobbyku. Sejak kecil aku mempunyai cita-cita sebagai penulis, dan itu juga termasuk hobby ku. Aku termasuk wanita yang ceria dan riang, walaupun terkadang aku menangisi ayahku. Aku dekat sekali dengan ayah, apapun yang aku lakukan hari ini pasti akan aku adukan ke Ayah. Beda dengan Fajar, justru ia dekat dengan ibu. Terkadang aku merasakan kerinduan akan kehangatan keluargaku. Biasanya, di keluarga ini ada seorang lelaki yang gagah berani melindungi keluarganya tetapi sekarang kami telah kehilangan sesosok lelaki itu.
Sudah ya ceritanya, kalau ku teruskan bisa-bisa aku aku terlambat sekolah..

“lama banget neng” berkata sopir pribadiku
“iya pak tadi kesiangan sedikit..

Teman-temanku sudah memasuki ruang kelas. Dan aku datang terlambat. Untung saja aku telat semenit sebelum bel.
Vita melihat tingkahku yang berhamburan ke tempat dudukku dengannya. Dia memasang wajah yang aneh ketika melihatku duduk di sampingnya sambil tergopoh-gopoh.
“Tumben lo telat?”
“capek..” ucapku tak menghiraukan pertanyaan Vita dan masih ngos-ngosan.
“lo abis lari jarak jauh ya?”
Lagi-lagi aku tak menghiraukan pertanyaan gadis itu. Oh ya, Dia adalah sahabatku satu-satunya di sekolah. Vita adalah gadis yang populer di sekolah ini, tadinya dia adalah team cheers di sekolah ini dan menjadi populer di sekolah, aku dan dia pun bermusuhan. Tetapi karena dia mengundurkan diri dari cheersnya, dia jadi dimusuhi oleh kelompoknya yang populer itu. Hmm.. tadinya juga dia ragu akan berteman denganku, tapi karena aku sering menolong dan membantunya. Akhirnya kita berteman, bahkan sampai sekarang pun kita bersahabat. Dia juga siswa terpintar di kelas, bila aku kesulitan mengerjakan tugas dia selalu mengajariku dengan sabar.

Bel kelas pun berbunyi menandakan kelas segera masuk.
Jam pertama adalah Bahasa Inggris. pak Diro pun mulai memasuki ruangan kelas kami.
“Good morning..!!” salam pak Diro yang agak tegas itu.
Pak Diro adalah guru bahasa inggris yang super duper galak. Banyak siswa yang takut kepadanya termasuk aku. Kumisnya yang tebal dan kepalanya yang gundul itu lah yang meyakinkan siswa-siswi di sekolah ini jadi takut kepadanya. Kelas pun menjadi hening jika ia masuk.
Kembali ke kelas. Ternyata Pak Diro masuk hanya sekedar untuk memberikan tugas mengerjakan soal. Dia bilang hari ini ada rapat guru. Dan itu artinya kita dipulangkan lebih awal! Yeay! Itulah yang aku inginkan.

Tiba di rumah aku menyalin pakaian dengan baju kaos berwarna biru laut dengan celana jeans pendek. Aku langsung lari ke meja makan tempat aku menghilangkan rasa lapar dan bosan itu, Fajar adikku datang dan berkata..
“kakak! Kalau mau makan ajak aku dong.. aku kan mau makan bareng kakak..!!” dengan wajah polos dan cemberutnya itu, membuat hati kecilku sedikit menahan tertawa..
“hmm.. iya deh iya.. sini sini duduk kita makan bareng. Hmm.. ibu mana? Biar kita sekalian makan bareng ibu.”
“itu dia” ujar adikku sambil menunjuk ke arah ibuku yang baru saja datang.
“hayoo.. pada ngomongin ibu yaa?” candanya.
“hehehe.. sini, Bu. Makan bareng kita. Kita baru aja mulai.” Ajakku pada ibuku.

Kami bertiga pun makan dengan lauk seadanya. Karena memang porsi makan kami hanya sedikit.
Ketika aku selesai menyantap makanan, tiba-tiba handphoneku bergetar. Ternyata ada satu bbm dari Ricky. Dia adalah pacarku. Dia bilang dia ingin mengajakku jalan-jalan sebentar.
“lama juga gak papa kok, Rik” batinku cengengesan.
Ternyata ibu tahu kalau aku sedang tertawa sendirian, hahaha tak apalah. Namanya juga anak muda. Ia telah menyetujui hubunganku dengan Ricky. Ricky memang lelaki yang baik hati dan setia kepadaku, buktinya saja kita sudah hampir 2 tahun berpacaran. Meskipun sering kali ia marah kepadaku, itu juga karena aku yang terlalu cemburuan. Hehe.
“mau kemana?” Tanya ibuku.
“mau jalan sama Ricky”
Segera ku merias diri menuju kamar, meninggalkan ruang makan serta adikku..

Usai berdandan, Fajar berteriak dari luar kamarku, dan ia bilang bahwa Ricky sudah berada di ruang tamu menungguku. Ha? Cepat sekali dia datang. Meskipun ia sudah datang, aku masih saja sibuk dengan baju yang akan ku kenakan. Mungkin yang ini, ah tidak terlalu mewah. Mungkin yang ini, ah jelek. Atau yang ini, ih gak banget… aku baru teringat akan baju yang ia berikan saat ultah ku 3 bulan yang lalu. Ya, aku pun memakai baju itu. Sekali lagi aku berdiri di depan kaca untuk memastikan keadaan ku sudah baik atau belum. Fix! Selesai.
Aku berjalan ke ruang tamu dengan menarik nafas panjang.
“Hay, Rik. Maaf jadi nunggu lama.” Ujarku.
“iya gak apa-apa, yuk langsung aja” ujarnya.
Dia pun berpamitan kepada ibuku dan mencubit pipi adikku. Kemudian adikku menonjok perut Ricky. Begitulah memang mereka selalu bercanda.

Aku dan Ricky pun menuju mobil dan menuju ke tempat tujuan, dan ternyata Ricky membawaku ke restaurant yang cukup mewah. Di sini kami disapa oleh para pelayan yang ramah..
“Selamat malam, silahkan masuk.” Ujar pelayan wanita yang ramah dan mengembangkan senyumannya.
Kami hanya menangguk dan membalas senyum manis kepada pelayan wanita itu.
Kami mencari tempat duduk yang cocok untuk kami berdua, setelah menemukannya lagi-lagi kami disapa oleh pelayan, dan kali ini adalah pelayan laki laki yang membawa sebuah daftar menu, dan sebuah catatan kecil untuk menuliskan makanan apa yang akan dipesan oleh kami..
“selamat malam mau pesan apa?”
Kami pun memesan makanan.

15 menit lamanya kami menunggu santapan kami, akhirnya santapan itu ada di depan mata kami.
“ini dia pesanan anda selamat menikmati…” ujar pelayan
Kami segera menyantap makanan dan hidangan tersebut. sejenak kami hilangkan rasa penat yang melanda kami sambil tertawa dan membahas kejadian-kejadian lucu di sekolah kami masing-masing, tak terasa waktu sudah semakin larut.
Segera kami bergegas untuk pulang. Seakan aku tak rela harus berpisah dengannya.
Saat aku berada di rumah, Ricky langsung berpamitan pulang kepadaku. Aku langsung bergegas berganti pakaian tidur dan bersiap untuk tidur…

(keesokan harinya…)
Lagi-lagi matahari dan burung-burung kompak membangunkanku dari tidur, aku tak mau telat itu terjadi lagi padaku. Tapi, sepertinya mataku tidak mendukungku untuk bangun saat itu. Seakan mataku sulit untuk terbuka, mungkin karena semalam aku tertidur terlalu larut, dan kurang istirahat. Aku berusaha bangun dari tidurku, dan akhirnya aku pun bangun.

Sebelum aku mandi, sejenak aku menampakkan diriku ke cermin yang tertempel di lemari ku, aku melihat ada sedikit perubahan di wajahku, hidungku terlihat memerah, dan seakan sulit untuk bernafas, kantung mataku berubah menjadi warna hijau kehitaman, aku merasa sedikit sakit di kepalaku. Tetapi aku memaksakan diriku untuk segera mandi dan bersiap-siap untuk sekolah.
Selesai mandi, aku terus menerus bersin dan batuk-batuk. Dan sekali lagi aku menampakan diriku ke cermin, aku terlihat pucat, mataku semakin lesu dan hidungku makin sulit untuk bernafas. Tapi, aku tetap menghiraukannya dan segera pergi ke sekolah. Saat aku sarapan pagi bersama mama dan adikku, mama telihat heran dengan ku karena aku terus bersin-bersin dan aku menutupi wajahku dengan buku yang ku bawa.
Tiba tiba…
“kamu kenapa Senja? Kenapa wajahmu di tutup begitu? Kamu sakit?” Tanya mamaku heran
“oh enggak kok, Bu. Cuma gak enak badan. Nanti juga baikkan”
“ooh, syukurlah tapi kamu nggak boleh nutup nutupin begitu lho! Kalau kamu sakit ngomong sama Ibu, nanti kita ke dokter..”
“iya, Bu” jawabku singkat

Bibi langsung memberikanku obat tablet entah apa itu merknya, obat tersebut diberikan setelah habis makan dan di sekolah nanti.
Setelah itu aku langsung menuju mobil untuk berangkat sekolah.
Dengan kondisi seperti ini, aku paksakan diriku untuk sekolah. Mudah-mudahan saja di sekolah nanti tidak terjadi apa-apa padaku. Aku berfikir keras untuk menutupi segala yang terjadi padaku, mungkin masker ini dapat menolongku untuk menutupi rahasia ini pada teman-teman.

Akhirnya aku tiba di sekolah. Saat memasukki kelas, semua langsung memperhatikanku. Dan aku langsung mempercepat langkahku ke tempat duduk. Vita sahabatku pun juga memperhatikanku.
“napa lo? Tumben pake begituan? Tadi abis naik motor?” Tanya Vita.
Aku pun hanya menggeleng.
“nah terus?” Tanya nya lagi.
“enggak, gue Cuma lagi flu. Takut nyebar ke kelas” bisikku pelan.
“ih, lebay lo. Haha” ujarnya sambil menertawaiku.
“bodo” ujarku sekenanya.
Tiba tiba Nasya dan Jenny wanita populer tetapi sombong melewati mejaku, dia melihatku dengan sedikit aneh dan duduk di depan tepat pada barisan mejaku.
“waah… kayanya kelas kita bakalan ada penyebar virus nih” Sindir Nasya kepadaku.
“HAHAHA. iya nih! Kayaknya kita musti beli obat Virus deh! Biar gak menyebar satu sekolah!” Ujar Jenny seakan-akan dia juga menjawab ocehan Nasya yang menyindirku, sambil tertawa dan disambut oleh tertawanya Nasya.
“heh! Diem lo semua!! Ini bukan buat bahan tertawaan! Orang sakit malah diketawain!” bentak Vita seraya berdiri dari tempat duduknya.
“Vita! Udah jangan dengerin!” sambil menarik tangan Vita untuk segera duduk kembali.
Vita pun duduk kembali dan Nasya beserta gengnya ikut duduk di tempatnya masing-masing. Kenapa aku musti sekelas dengan wanita sombong seperti mereka, Tuhan?

Aku menarik nafas panjang walau sedikit tersumbat. Dan mempersiapkan diri untuk belajar jam pertama. Karena guru Bahasa Indonesia kami yaitu bu Zakiah sudah datang. Dan pelajaran di kelas pun mulai dan berjalan seperti biasanya.
Selama kurang lebih sepuluh menit Bu Zakiah menerangkan pelajaran, selama itu pula aku menahan rasa sakit di kepalaku. Tangan dan kakiku seketika lemas dan sulit untuk digerakkan, aku tak mau sampai semua orang tau kalau diriku tergeletak lemas di meja terutama Vita, sahabatku sendiri. Aku sedikit berusaha untuk memulai menulis kembali perlahan-lahan, aku gerakkan tanganku untuk menggapai pulpen meski sulit untuk dilakukan. Aku melirik ke arah Vita, sepertinya ia juga melihatku.
“eh Senja! ke UKS aja yuk!” ujarnya
“enggak, gak papa. Cuma lemes doang” alasanku.
“ih, nanti lo tambah parah!” bentak Vita saking keras suaranya, seluruh kelas pun spontan menghadap ke kami berdua. Termasuk Bu Zakiah.
“ada apa ini ribut-ribut?” Tanya Bu Zakiah.
“itu, Bu.. si Senja alesan sakit. Bilang aja gak mau ngikut belajar. Yegak?” celoteh Nasya seraya mengajak teman-temannya untuk menyetujui omongannya.
“diam kamu, Nasya! Ini bukan urusanmu!” bentak bu Zakiah.
“Wuuuuu…” sorak teman sekelasku kecuali Nasya dan geng nya.
Nasya pun membuat wajah kesal dan cemberutnya.
“baiklah, kalau Senja sakit silahkan ke uks. Vita, kamu temenin Senja ya disana” ujar Bu Zakiah melanjutkan.

Sampai di uks, Vita menuntunku untuk berbaring di tempat tidur.
“eh Vita! sana gih balik ke kelas. Nanti jadi ketinggalan pelajaran lho!” ujarku.
“gak apa apa tenang aja.. gampang!! Tinggal minjem catetan aja sama Oktavia” balasnya tenang.
Tiba tiba aku merasakan kepala ku sangat sakit dan perutku mual rasanya ingin muntah. Dan aku mencoba untuk merahasiakan hal ini dengan Vita. Aku berfikir untuk mencari alasan agar tidak terlihat sakit di depannya.
“emmm.. Vit. Tolong ambilin obat dong di tas gue. Mau gak?” tanyaku sekaligus alasanku agar Vita keluar dari sini sebentar.
“okeee” ujarnya mantap seraya keluar dari ruangan berbau obat ini.
Aku langsung pergi ke toilet, untung saja toilet dengan uks jaraknya hanya beberapa langkah saja. Aku berjalan sambil menahan beban badanku di tembok, sambil memegang perutku yang mual ini.
Setelah sampai di toilet, aku buang segala kemualan ku disana. Ternyata yang kubuang adalah darah, darah segar yang berasal dari tubuhku. Begitu banyak darah yang keluar sehingga aku tak dapat menahan beban di tubuhku, lututku semakin lemas dan aku terjatuh di toilet tak sadarkan diri.

Cerpen Karangan: Dilla Rahmawati
Facebook: dillaok_rahmawati[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Ayah, Aku Rindu Padamu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tuhan, Aku Ingin Hidup Lebih Lama Lagi

Oleh:
Nama gue Henny. Gue punya seorang temen, namanya nina. Dia punya penyakit leukimia, harapan buat dia hidup tipis banget. Kata dokter sih sisa waktu dia cuman tinggal 1 bulan

Adik

Oleh:
“kenapa? apakah mama tidak lagi menyayangi Lina? tidak membutuhkan Lina?” isak gadis itu di balik rerumputan. Lina adalah anak tunggal, umurnya 9 tahun. Ya dia anak tunggal hingga hari

Gerhana Matahari Total

Oleh:
Sekitar satu minggu lagi akan terjadi gerhana matahari total, dan banyak provinsi di indonesia menjadi lintasan gerhana matahari termasuk provinsi sumsel di kota palembang tak jauh dari kediaman rumah

Gadis Kecil Tunawisma

Oleh:
Ia hidup namun ia mati Ia bernapas namun sesak yang ia dapat Ia benyanyi hanya dengan melodi perih Ia tersenyum hanya pada maut yang mendengung Tiada kasih, tiada sayang

Mungkin Ini Saatnya

Oleh:
“Malam ini sungguh sunyi, aku hanya termenung dikamar dengan memegang sebuah pensil untuk mengisi Dairyku. Dairy yang berisi sebuah tulisan yang berarti bagiku. Situasi ini membuatku mengantuk dan aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *