Ayah, Aku Rindu Padamu (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Rohani, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 August 2014

Entah mengapa kini aku telah berada di ruangan dingin dan terang, aku membuka mataku perlahan. Ini dimana?
“Senja, kamu udah bangun?” ujar ibuku yang seketika berada di sampingku bersama Fajar dan Vita.
“Ibu? Fajar? Vita? Ke.. kenapa aku disini? Bukannya tadi aku lagi di sekolah?” tanyaku
“tadi lo pingsan di toilet pas gue lagi ngambilin obat di tas lo. Yang ngabarin lo pingsan itu Dea anak Ipa.” Jelas Vita.
Pingsan? Aku pingsan? Aku benar-benar bodoh!
“ka! Jangan bengong!” tegur Fajar.
“eh iya iya”
“ya udah, Senja istirahat dulu aja. Nanti ibu bangunin kalau udah waktunya minum obat.” Jelas ibuku.
Tanpa berfikir panjang aku segera memejamkan mata dan tertidur pulas.

“Ayaaaahhh” akupun berteriak kepada ayahku yang ada di seberang jalan raya.
“hay, Nak” balas ayahku seraya melambaikan tangannya ke arahku, dengan senyum nya yang disunggingkan membuatku merasa sangat ingin bersamanya.
Aku ingin sekali memeluk dirinya, tapi jalanan begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang. Aku takut sekali, mengambil langkah selangkah saja ada motor dan mobil yang melaju kencang di hadapanku.
“jangan menyebrang, Nak! Banyak kendaraan” teriaknya.
“tapi aku rindu dengan Ayah..” balasku.
“jangan, Nak! Kembalillah bersama ibumu! Ibumu menunggumu disana, cepat pulang!” ujar Ayahku.
“Tapi, Yah..” kataku menggantung dan tertunduk sedih.
“Senja! Senja! Ayo kita pulang! Senjaaa!! Senjaaaaaa!!” panggil ibuku.

“Senjaaa.. hey! Bangun, Nak. Senjaaaa…” ucap Ibuku sambil menggoyangkan tubuhku dan membangunkanku.
“ibu? Ayah mana, Bu?” tanyaku pada ibu.
Ibuku terdiam dan heran mengapa aku bertanya seperti itu, tiba-tiba ibuku memotong pembicaraan.
“eh, ayo, Nak. Waktunya minum obat.” Ujarnya seraya memberiku segala macam obat-obatan.
Obatnya banyak sekali, sebenarnya aku mempunyai penyakit apa? Bukannya aku hanya flu? Tapi… kenapa segini beratnya, kepalaku juga sangat sakit. Mengapa ini Tuhan?
“kenapa diliatin? Ayok diminum, Nak” ujar ibuku.
Aku hanya mengangguk, dan mulai meminum satu persatu obat tersebut. Tak ada satu pun obat yang enak! Semuanya pahit. Aku sebal!
Usai meneguk semua obat itu, aku penasaran apa penyakit yang aku derita ini sebenarnya.
“bu, aku sakit apa?” tanyaku pada ibuku yang sedang duduk di sampingku.
“emm.. anu.. kamu Cuma sakit mual-mual aja kok. Besok juga sembuh, makanya kamu musti makan yang banyak biar cepet sembuh.” Ujar ibuku.
Aku tahu mata ibu jika berbohong, aku tahu wajahnya jika ia menyembunyikan sesuatu dariku.
“bu, aku sudah besar. Pasti aku bisa mengerti dan paham apa yang baik dan yang buruk untukku. Aku sudah paham yang bakal terjadi nanti padaku, Bu.” Aku terdiam sejenak.
“apa penyakit yang aku derita bu?” sambungku.
“emm.. tadi ibu bicara pada dokter.. dia bilang…” ujar ibuku menggantung.

“penyakit apa yang diderita Senja, Dok?” Tanya Ibu.
“apa sebelumnya anak ibu pernah mengalami penyakit hepatitis?” Tanya dokter.
“tidak, Dok. Anak saya sehat wal’afiat baru kali ini saya melihat anak saya sakit seperti ini.” Jelas ibu.
“hmm… saya rasa anak ibu menderita penyakit Karsinoma hepatoseluler atau kanker hati bisa timbul pada penderita sirosis hati ini atau akibat infeksi virus hepatitis B. Kanker hati bisa juga akibat aflatoksin, sejenis racun yang dihasilkan jamur-jamur tertentu. Keadaan ini dapat menimbulkan komplikasi berupa gangguan cairan di rongga perut serta muntah darah yang dapat berakibat fatal. Kalau diobati dan dirawat baik, fungsi hati bisa berangsur normal meski tidak bisa sembuh sempurna karena organ hati telanjur mengkerut.” Jelas dokter.
“tapi, sebelumnya anak saya tidak pernah menderita penyakit dalam, Dok.” Ujar Ibu.
“Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, terutama pada usia dewasa, remaja, bahkan anak-anak.” Jelas dokter sekali lagi.

“Aku baru mengerti, dan aku sadar. Betapa bodonya diriku, mengapa tidak mencegah penyakit itu? Aku adalah wanita kuat! Aku tak pernah sakit! Aku harus bisa melawan kanker ini, tak akan kubiarkan kanker itu menggerogoti hatiku!” batinku seraya memotivasi diriku sendiri.

Aku mengerti bahwa wajah ibu sekarang adalah menahan tangis, aku tak mau melihatnya menangis. Dengan seluruh tekad ku, aku yakin aku akan sembuh. Aku harus sembuh agar ibu bisa senang seperti dulu.
“bu, di kamar sebelahku ada siapa?” tanyaku.
“hmm.. dia anak kecil, dia juga punya kanker.” Jelas ibuku.
“oh ya? Aku ingin melihatnya, Bu”
Aku pun bangun dan menurunkan kaki ku dari tempat tidur, perlahan-lahan. Ternyata aku masih bisa bangun dan berdiri tegak, senangnya…
Tiba di kamar sebelah, aku melihat anak kecil yang sedang disuapi oleh ibunya. Dia perempuan, kepalanya telah digunduli mungkin karena kanker itu sudah menggerogoti otaknya sehingga rambutnya rontok. Wajahnya pucat, matanya seperti orang mengantuk.
“hay adik manis” sapaku tersenyum.
“hay kaa..” balasnya juga tersenyum.
“aku boleh main sama kamu gak?” tanyaku.
Gadis itu melirik ke arah ibunya, seakan-akan meminta izin untuk aku dapat bermain bersamanya. Aku mengerti,
“boleh ya tanteee.” Rengek ku seraya memuji ibunya gadis kecil ini.
Ibunya mengangguk dan mempersilahkan aku untuk duduk di samping tempat tidur si gadis kecil berkanker otak tersebut.
“hay, namaku Senja. Nama kamu siapa?” tanyaku.
“namaku Amelia..” katanya sembaring menyunggingkan senyumannya yang manis meski dihiasi dengan wajah yang pucat.
“waaah.. nama yang bagus. Eh iya, aku punya temen namanya Amelia juga.. dia orangnya genduuut banget, dia suka banget jajan. Kalo aku beli jajanan di kantin nih, pasti dia rebut. Tau nggak? Dia itu gampang marah, tapi gampang juga nangis. Lucu deh, dia kalo nangis pasti bawa-bawa ibunya, kayak gini… mamaaaa… aku diledekkin sama merekaaa… huhuhu. Hahaha” candaku seraya mengikuti adegan Amelia yang sedang ngambek, dia teman sekelas ku.
“beneran, Ka?” Tanya nya sambil ikut tertawa cekikikan.
“iya, beneran! aku gak bohong. Untung Amelia yang ini cantik. Gak kayak Amelia yang di sekolahan aku. Hahaha” candaku padanya.
Ia tertawa, tertawa lepas. Seakan sembuh dari penyakitnya. Tiba-tiba ia berhenti tertawa dan menatapku.
“ka, rasanya punya temen itu enak ya?” ujarnya.
DEG! Pertanyaannya membuat hatiku sesak. Apa ia belum pernah berteman dengan orang lain? Apa yang ia lakukan selama hidupnya? Gadis belia seperti dia seharusnya sedang mengalami masa kecilnya yang bahagia disana.
“ka, kenapa diem? Jawab dong. Rasanya punya temen itu kayak gimana?” Tanyanya penasaran.
“rasanya punya temen ituuu, enaaaak banget. Temen itu orang yang menemani kita selama kita hidup selain orangtua dan keluarga. Mereka yang bikin kita ketawa, kadang juga mereka bikin kita sedih.” Jelasku.
“aku ingin punya teman…” ucapnya menunduk.
“aku bisa jadi temanmu, mulai sekarang kita berteman yaa..” ucapku mengacungkan jari kelingking ku.
“kakak mau jadi teman ku?” katanya.
Aku hanya mengangguk, dan ia mengaitkan jarinya. Aku memeluk tubuhnya yang dingin, ingin rasanya aku menangis. “Berarti aku adalah teman pertamanya?” batinku.
“kaa..” ucapnya lagi seraya melepas pelukannya.
“apa?”
“aku mau tanya sesuatu, kalau hidup aku Cuma untuk merasakan rasa sakit ini, buat apa aku hidup?” Tanyanya dengan wajahnya yang sedih.
Aku menarik nafas panjang untuk mempersiapkan jawaban si gadis kecil ini.
“Itu artinya, Allah sedang memberi ujian kepada kamu dan keluarga kamu. Bahwa, di dunia ini bukan hanya untuk bersenang-senang. Ada manusia yang mendapatkan kesenangan di dunia tetapi menderita di akhirat. Ada juga manusia yang mendapatkan penderitaan di dunia, dan berakhir bahagia di akhirat. Karena, kesenangan dan penderitaan di dunia adalah sandiwara Allah kepada kita. Dia adalah makhluk yang mampu memberikan apa saja kepada ciptaannya. Kamu gak usah sedih dengan keadaan mu yang sekarang, Allah itu kan maha mengabulkan segalanya.. coba kamu memohon dan berdoa untuk cepat lekas sembuh. InsyaAllah, ia akan mengabulkannya.” Jelasku menggenggam kedua tangan Amelia.
“tapi, Ka. Aku ingin bermain seperti teman-teman di luar sana. Aku ingin berlari, loncat-loncat, berputar, menari, menyanyi.. seperti layaknya teman-teman diluar sana” ucapnya gemetar.
Aku diam sejenak. Mengapa anak sebelia ini dapat mengerti kehidupan? Fikirannya begitu dewasa.
“Amelia, aku mengerti keadaanmu. Aku tahu kamu membutuhkan hiburan. Tapi.. ini adalah hidup kamu sayang. Coba deh kamu tarik nafas panjang, terus keluarin dari mulut perlahan-lahan. Rasanya lega kan? Anggap saja itu seperti kamu sedang bermain bersama teman mu.” Jelasku telah habis kata-kata.

“aku gak ngerti kenapa hidup ini terlalu menyulit kan aku” ucapnya gemetar.
Aku terdiam…

Seminggu kemudian, penyakitku bertambah parah. Aku merasakan sangat sakit terlebih di bagian hulu hati ku. Kepala hingga organ tubuhku terasa sakit semua, aku tak bisa mengendalikan tubuhku. Lagi-lagi aku mual, aku batuk-batuk dan semuanya mengeluarkan darah. Aku merasa sangat lemah dan tidak berdaya. Tepat jam 12 malam aku melihat ibuku setia menemaniku dan tidur bersamaku. Aku tak tega untuk membangunkan nya yang sedang tertidur pulas di kasurnya.
“Apa ini jalan terakhir ku menuju kematianku? Kalau iya, izinkan aku untuk sembuh sementara dan melihat mereka yang menunggu kesembuhan ku sementara. Aku ingin melihat mereka walau sebentar saja. Tuhan, kabulkan lah…” rintihku.

Paginya, aku terbangun dari tidurku. Entah kapan aku tidur, intinya sekarang sudah bangun dan pagi lagi. Aku bosan dengan kehidupan ku yang sekarang, kerjaannya hanya tidur, makan, minum obat. Aku mau main sama temen-temen aku lagi.
“Ha? Kenapa ini? Kenapa badanku menjadi sangat segar sekali? Apa aku sembuh? Apa aku telah dinyatakan sembuh dari penyakitku?” batinku seraya melihat kedua pergelangan tanganku tidak pucat dan menyentuh kedua pipiku yang terasa segar kembali.
“Ibu, Ibu! Aku sembuuh!!” ucapku pada ibuku yang tengah menyiapkan sarapan untukku.
“iiisss.. apa sih kamu ah, ngawur. Iya, iya nanti kamu juga sembuh kok” ucap ibuku tak memercayai ku.
“lihat, Bu. Aku sudah segar dan semangat lagi. Lihat, tanganku sudah enggak pucat lagi. Aku juga udah seger, Bu. Ayo kita pulang”
Ibu terdiam sejenak. Dan melanjutkan “tunggu, biar ibu panggil dokter.”

Akhirnya… aku telah sembuh dan dinyatakan bersih dari kanker itu. Aku yakin, Ricky dan Vita pasti akan senang melihat ku kembali. Seminggu berada disini sudah cukup untuk aku merasakan penderitaan. Tetapi, aku melihat Amelia si gadis kecil itu seperti menangis.. sepertinya ia iri terhadap ku.
“Ameliaaa.. maaf ya kakak pulang duluan. Kamu jangan patah semangat ya sayang, aku yakin Amelia kuat dan sembuh total seperti kakak. Amelia pernah bilang sendiri kan sama kakak, kalau Amelia kuat? Ayo tunjukkin kekuatan kamu, kalau ada kesempatan. Kakak akan kesini lagi nengokin kamu. Oke?” ujarku memeluk tubuh Amelia yang kurus itu seraya mengeluarkan sebuah gantungan kunci dengan dihias boneka teddy bear kecil kesayanganku.
Mungkin barang ini bisa menenangkan dan menjadikan kenangan untuknya.
“ini gantungan kunci buat kamu, kenangan dari aku. Di simpen yaaa..” ujarku seraya menyerahkan gantungan kunci itu padanya.
Ia menerimanya dengan senang hati meskipun hanya gantungan kunci, mungkin itu bisa buatnya lebih tenang di setiap tidurnya.
“aku juga punya sesuatu buat kakak.” Ujarnya seraya mengambil sesuatu didalam tas kecilnya.
“apa dek?”,
Dia menyerahkan sebuah gelang kepadaku.
“ini kak, gelang ini aku buat sendiri saat aku masih sehat. Aku janji pada diriku sendiri untuk memberi gelang itu kepada sahabat pertamaku. Ini ka, terima ya.. meskipun jelek, tapi aku buatkan dengan penuh cinta. Dipakai ya kaaa” ujarnya.
Ya, aku menangis. Aku menangis di hadapannya, dipakaikannya gelang itu pada pergelangan tangan kananku. Setelah itu, aku segera memeluknya. Aku menangis dan terus menangis. Baru kali ini ada sesorang yang mampu membuat air mataku meluncur deras tak kunjung henti.
“makasih Amelia, kamu sahabat aku” kataku mencium jidatnya.
Perpisahan ini membuatku merasa sangat sedih. Masih ada seseorang yang lebih menderita dibanding dengan diriku sendiri. Meskipun aku tahu, penderitaan ku tidak sebanding dengan apa yang dibandingkan penderitaannya.

Meskipun aku telah sembuh, aku tidak dibolehkan untuk beraktivitas terlalu keras dulu, terutama masuk ke sekolah. Meski begitu, aku tetap senang karena sudah berada di rumahku yang indah ini.
Pada jam empat sore, Vita dan Ricky datang membawa sekantung buah jeruk untukku. Mereka berkunjung untuk menjengukku.
“Ih, nyusahin banget sih lo pake sakit segala!” canda Vita.
Vita memang sahabatku yang cerewet, dia sebenarnya perhatian denganku tapi dia gengsi. Haha. Begitulah yang aku suka dari sifatnya.
“biarin, biar lo bawain gue jeruk” balasku bercanda.
“ih, siapa bilang jeruk ini buat lo.”
“nah terus buat siapa?” tanyaku menahan tawa.
“buat… nyokap lo. Wleee” ledeknya.
Aku, Vita, dan Ricky pun tertawa.
“lo ngapain kesini?” candaku pada Ricky.
“yaudah gue balik” ucapnya seraya berdiri dari tempat duduknya, dia juga bercanda.
“eh, iya iya.. hehehe” ujarku mencegatnya untuk pergi.

(Sebulan kemudian)
Aku duduk di sebuah bangku taman belakang halaman sekolah sendirian, kemudian aku ambil sebuah gelang pemberian Amelia waktu itu, aku rasa.. aku rindu dengan gadis kecil itu. Apa ia masih dirawat di rumah sakit, atau sudah di bolehkan pulang?
Entah mengapa aku rasakan penyakit itu datang kembali. Kepalaku sakit sekali, sesekali aku batuk mengeluarkan darah lagi. Mengapa ini.. tidak-tidak, aku tidak boleh sakit lagi.
Tiba-tiba, ada seseorang gadis kecil berdiri sekitar 5 langkah dariku. Dia menatapku, aku menyipitkan kedua mataku seolah-olah untuk memperjelas penglihatanku. Gadis itu tak asing bagiku, seperti aku mengenalinya… ha? Amelia? Dia terlihat begitu bahagia, seperti sudah sembuh dan terbebas dari penyakitnya.
“hay kaaa..” sapanya.
“Amelia, kenapa kamu disini?” tanyaku menghampirinya.
“aku kangen sama kakak. Kita main yuk, Kak.” Ajaknya seraya memegang pergelangan tanganku.
“tapi, aku sedang sekolah..” cegatku.
“ayok, Kak. Ikut aku, kita main sama-sama disana, disana pemandangannya bagus sekali. Kakak gak nyesel kalo udah kesitu. Ayok kak, ayok” rengeknya sambil menunjuk ke arah sebuah cahaya terang di depan kami.
“tapi.. aku gak bisa, De. Aku masih ingin sekolah” ujarku.
Dia terdiam dan melepaskan genggaman tangannya.
“tapi janji, setelah pulang sekolah kakak harus main denganku! Aku tunggu kakak disini.” Ucapnya.
“iya aku janji”

Entah mengapa kini aku sudah berada di sebuah ruangan menyilaukan, berbau obat, dan bersuhu dingin. Mataku masih sayup-sayup memandang daerah sekitar. Badanku sulit untuk digerakkan, terlebih mulutku yang susah untuk berbicara. Aku melihat sebuah benda seperti tirai hijau kecil yang menutupi perutku. Dan yang aku dengar hanyalah suara detak jantung, entah detak jantung siapa. Aku tak merasakan apa-apa, aku tak berdaya, aku lemas sekali.

Lagi-lagi aku bangun dari tidurku, aku memuntahkan seluruh cairan pahit yang ada di perutku. Apa itu? Pahit sekali. Lagi-lagi aku batuk, aku muntah, aku batuk, aku muntah.. begitu seterusnya, sehingga badanku lemas. Karena seluruh darah dan cairan yang ada di tubuhku aku keluarkan. Aku sangat tak berdaya.
Aku baru menyadari, di sana ada Ibu, Vita, Fajar, dan Ricky. Merekalah orang-orang yang teramat aku cintai. Entah mengapa aku menangis melihat mereka menatapku iba.
“kalian kenapa?” ucapku yang hampir tak terdengar.
“nak, istirahatlah…” ucap ibuku.
Aku tak mengerti apa yang ibu ucapkan.
“sayang.. tidurlah yang nyenyak..” Ricky juga mengucapkan kalimat yang tidak aku pahami.
Mereka menatapku dengan iba, ibuku memeluk Fajar sambil menangis. Fajar pun juga menangis dan memeluk erat ibuku. Sedangkan Vita dan Ricky berdiri sambil mengusap airmatanya. Aku tidur, tidur yang sangat nyenyak yang belum pernah aku rasakan.

“kak Senjaaaa…” panggil Amelia.
Aku melihat ke arah seberang, disana telah ada ayahku dan Amelia. Mereka terlihat seperti menungguku untuk menyeberangi jalan raya. Aneh, jalan raya itu kini telah sepi dari kendaraan yang berlalu lalang. Tak banyak berfikir, aku langsung berlari dan memeluk Ayah juga Amelia yang sedari tadi sudah menungguku.
“akhirnya kamu pulang juga, Nak” ucap ayahku sambil mengecup dahiku.
“ayok kak, kita maaaiiinnn” ajak Amelia menarik tanganku.
Ternyata benar ucapan Amelia, disini begitu indah dan sejuk sekali…

The End

Cerpen Karangan: Dilla Rahmawati
Facebook: dillaok_rahmawati[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Ayah, Aku Rindu Padamu (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perpisahan Menjadi Jalan Terakhir

Oleh:
Matahari pagi bersinar dengan indahnya. Secerca sinarnya menembus kegelapan kamar milik seorang gadis. Ya… seorang gadis yang tengah menari-nari dalam alam mimpinya. Mimpi yang ia kendalikan sendiri seperti seorang

Dear Friend

Oleh:
Seorang remaja berlari menuju gerbang sekolah yang sudah ditutup 30 menit yang lalu. Ebenhaezar Raturandang, remaja umur 16 tahun. Remaja yang lugu dan manis keturunan China-Makassar. Ia kebingungan dan

Keikhlasan Orang Tua

Oleh:
Namaku luffy umur 25, sekarang aku bekerja di daerah kota, aku masih selalu ingat saat pertama dulu aku bekerja saat itu umurku masih 20 tahun, saya bekerja di sebuah

Senyum Kenangan

Oleh:
Hari ini tepat satu tahun Zahra tidak berbicara kami. Dan kami bersyukur karena itu. Setidaknya kami tidak harus kehilangan gadis cantik penuh semangat itu karena operasi gangguan otak yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *