Ayah, Kau Yang Tak Tergantikan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 31 October 2017

Langit sore di pemukiman pinggiran kota Bontang kala itu cerah terbentang indah memancarkan sinar yang lembut menandakan malam mulai menjemput. Suara merdu syair sholawat memecah kesunyian sore memberi tanda bahwa sebentar lagi Suara Azan magrib bergema. Beberapa warga yang aktif dengan olahraga sore menuju rumahnya masing-masing.

Dari arah barat sore itu terlihat sosok seorang yang sangat kukagumi dengan langkah kaki dan ayunan tangannya yang sangat kukenali sambil memikul cangkul di pundaknya menghampiriku dengan menebar sebuah senyuman meskipun terlihat capek, Sosok yang selama ini kupanggil Ayah.

Tinggal di pemukiman pinggiran Kota Bontang, Ayah berprofesi sebagai Petani meskipun pada waktu itu penerimaan menjadi karyawan PT Pupuk Kaltim dan PT Badak NGL tidak sesulit sekarang. Berbeda dengan teman-temannya yang lain yang ketika itu melamar sebagai karyawan. Ayah memilih jalan sebagai petani memandang tingkat pendidikannya yang setakat SD saja, itu pun tidak tamat. Maka dengan menggenggam sebuah harapan bahwa bertani bukanlah jalan buntu, bukan pula jalan yang terpaksa harus memilih melainkan untuk membentuk sebuah kemandirian yang tertanam dalam dirinya sejak pertama kali tiba di tanah Bontang puluhan tahun yang lalu. Hidup sebagai Petani dengan penghasilan pasang surut bukanlah suatu hal yang baru baginya. Dengan menjual hasil-hasil tani inilah Ayah menghantarkan kami anak-anaknya untuk tetap mendapat pendidikan walaupun sebatas SLTA saja, karena untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi terkandas oleh faktor biaya, namun kami anak-anaknya merasa sangat bersyukur atas semua ini.

Kehidupan kami cukup sederhana namun penuh dengan kebahagiaan, walaupun berbeda dengan orang-orang kebanyakan yang setiap kebutuhannya terpenuhi dengan mudah. Dengan bermodal keramahan dan kesantunan dalam bergaul, Ayah memiliki banyak kenalan. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, itulah prinsip yang selalu dibawa ke mana-mana sebagai seorang perantau. Di pemukiman ini Ayah dipilih menjadi ketua RT karna beliau dianggap tokoh masyarakat setempat atas perjuangan dan pengorbanannya sebagai perintis awal mula terbukanya lokasi pemukiman saat ini.

Di suatu pagi, Ayah dengan baju yang sudah kelihatan lusuh dan usang yang biasa digunakan untuk bertani, aku sudah menebak bahwa Ayah lagi bersiap-siap untuk melakukan kesehariannya bekerja sebagai Petani. Bertani baginya umpama perkerjaan kontor yang menumpuk yang tak pernah ada habisnya, cangkul ibarat pena yang selalu setia menemaninya dalam setiap gerak kerjanya, dengan cangkul itulah digunakan untuk mencincang dan mengembur-gemburkan tanah hingga membentuk bedengan panjang. Menurut Ayah, bertani punya kegembiraan dan warna yang tersendiri, disaat tanaman mulai tumbuh dan dirawat dengan baik sehingga dewasa dan ketika ditiup angin daunnya berkibar seolah-olah melambai-lambai mengucapkan terima kasih kepada yang merawatnya, menjadi kepuasan yang sulit digambarkan.

Semangat yang tak pernah pudar terus berkibar tanpa mengenal arti lelah dan tiada alasan untuk mengeluh. “Kesenangan dan tetap tersenyum dalam sebuah pekerjaan membuat kesempurnaan pada hasil yang akan dicapai”, kata Ayah di suatu ketika aku membantunya. Ayah yang tak pernah alpa dengan petunjuk dan arahan yang selalu mengingatkan bahwa memperbaiki ibadah dan akhlaq adalah perkara yang wajib. ‘Dan… Ingat! jangan seperti “bagai pungguk merindukan bulan”, menghayalkan sesuatu yang tidak mungkin karena bila kau terjatuh itu akan sangat menyakitkan. Berjalanlah dengan kakimu sendiri anakku’, kata Ayah selanjutnya.

Berprofesi sebagai petani, Ayah punya banyak waktu bersama keluarga, di rumah maupun di ladang di saat membantunya. Jadi, kedekatan bersama dengannyalah beliau sering memberi pandangan tentang kehidupan. Hidup sebagai kepala keluarga bukanlah suatu beban yang harus ia hindari melainkan harus dijalaninya dengan ikhlas dan penuh tanggungjawab. Takdir bukanlah suatu hukuman baginya, bukan pula suatu nasib, melainkan hanyalah rencana Tuhan. Terkadang sering sekali kita menyalahkan takdir, namun pernahkah kita berpikir bahwa segala sesuatu yang telah Allah tetapkan itulah rencanaNYA yang paling indah. Ayah yang terus memberikan motivasi di setiap kesempatan yang ada.

Hari hari dan bulan berlalu menjemput datangnya tahun berganti. Ayah yang dulunya kekar berdiri dengan kedua kakinya menopang tubuh yang tegap kini terlihat layu tak berdaya. Pelita yang dulu terang kini mulai redup. Kenapa pelita itu redup? Akankah pelita itu terang kembali bersinar seperti dulu lagi? Namun… takdir berkata lain, Ayah yang dulu tegar kini harus dirujuk dan dirawat ke rumah sakit. Melihat Ayah yang terbaring lemas di hospital bed membuat kami sekeluarga sangat sedih.

Kutatap wajahnya yang pucat menahan sakit masih sempat menebar senyum menguatkanku untuk tidak meneteskan air mata, namun air mataku tetap mengalir. Selama di rawat di rumah sakit, ramai keluarga dan teman teman Ayah yang datang membesuk. Disaat menemani Ayah di rumah sakit, aku terus berdo’a mengharapkan sebuah keajaiban dari Yang Maha Pencipta. Akan tetapi setelah beberapa hari di rawat di RSUD kota Bontang kondisi Ayah malah semakin memburuk karna penyakit yang dideritanya sudah terlalu parah. Menurut keterangan dokter yang menangani, Ayah menderita penyakit paru paru basah (Pneumonia) dan penyakit TB paru stadium 3. Aku dan adikku yang ketika itu berada di sisinya merasa cemas dan panik. Ayah yang dulunya peramah, humoris, murah senyum kini terlihat kaku tanpa kata. Melihat kondisi Ayah yang semakin memburuk membuat aku jadi lemas dan ‘loyo’. Dengan sedikit kekuatan kubisikkan 2 kalimat syahadat berulang-ulang kali untuk mengingatkannya dan membantunya melalui jalan yang sudah ditentukan takdir.

Kamis malam atau sebutan yang paling populer malam jumat tanggal 13 November 2015 jam 00:15, Ayah menghembuskan napas terakhirnya. Ayah telah pergi untuk selamanya, pergi yang tak akan pernah kembali, pergi meninggalkan keluarga yang belum siap untuk ditinggalkan, dan pergi dengan menyisakan memori semalam, memori yang hanya tinggal kenangan. Dunia terasa gelap tanpa setitik cahaya, pelita yang dulu bersinar kini telah padam. Semangat untuk terus melanjutkan perjalanan hidup seolah-olah sirna dimakan kegelapan. Perjalanan menuju sebuah impian untuk meraih mimpi kini serasa buntu. Kaki bagai tak bertulang dan kaku tuk mengayun langkah menuju sebuah destinasi.

Kepergian Ayah merupakan kehilangan yang mengisi setiap warna warna yang berbeda di setiap sudut rumah, bagai sayur tanpa garam (hambar). “AYAH”, Panggilan kepada sosok seorang Ayah sangat dirindukan selama beliau telah tiada, dan panggilan ‘Nak’ dari seorang Ayah yang dulunya ada kini telah sirna dan terkadang membuatku meneteskan air mata bila panggilan itu tak pernah terdengar lagi…

Di atas pusara Ayah, kupanjatkan sebait Do’a, menggenggam sebuah harapan yang penuh dengan tanda tanya. Apakah aku bisa melanjutkan perjalanan ini? Apakah aku mampu menghadapi semua ini? Walau bagaimana pun aku harus kuat, aku harus bisa, aku harus optimis. Pertanyaan dan jawaban silih berganti bermain di kepalaku ‘pusing’. Kata kata Ayah terus menghadiri setiap lamunanku “jadilah cahaya dalam balutan kegelapan yang kelam, jadilah inspirasi yang mampu membuat perbedaan”, jangan seperti Ayah, umpama pelita padam dalam balutan kegelapan tanpa setitik cahaya”. Namun bagiku Ayah bukanlah pelita padam seperti yang pernah dikatakannya, tapi dialah pelita keabadian yang tak akan pernah padam, dialah Inspirasi yang tak akan pernah luput dari muka bumi. Dialah sosok yang tak akan pernah tergantikan, Dia tetap akan hadir dalam setiap langkah langkahku.

Tamat

Cerpen Karangan: Jasman Hamdan
Facebook: Jasman Hamdan Kunnu
Perkenalkan saya Jasman Kunnu. Pendatang baru dalam dunia cerpen online. Ini adalah cerpen saya yang pertama. Sebagai pembaca cerpen online yang setia, saya terinisiatif untuk coba menulis cerpen setelah sekian lama sebagai pembaca. Nah..!! Terpetik dalam fikiran saya ‘bagaimana kalau misalnya cerpen saya juga di baca oleh teman-teman di sini’, hehehe… Maka dengan sebuah tekad ku cobalah untuk mengarang cerpen sesuai pengalaman yang ada di lingkungan saya, yaitu pengalaman di rumah sendiri.

Cerpen Ayah, Kau Yang Tak Tergantikan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi, Beri Aku Warna

Oleh:
Tak selamanya benang itu selalu rapi, seringkali pintalan benang itu kusut, sulit diterjemahkan hingga berakhir kejenuhan. Begitulah keadaanku sekarang, berada di tengah tikungan tajam persahabatan yang memaksa aku memilih,

Kehendak Tuhan

Oleh:
Saya hanyalah seorang manusia biasa yang tidak sempurna dan penuh dengan kekurangan. April Tanggal 17 itu tanggal ulang tahunku, aku tak suka jika ulang tahun ku ini dirayakan atau

Sekolah Terakhir

Oleh:
Aku memandang langit yang tampak mendung pagi ini. Kebetulan, hari ini adalah awal kami masuk SMP. Aku dan Nala begitu bersemangat mempersiapkan segala keperluan murid SMP. Aku dan Nala

Mantan Sahabat

Oleh:
Nama ku reni, aku punya seorang sahabat namanya puji sama ayu. Ya umur kita gak sama dan gak jauh beda juga, aku lahiran tahun 97, puji 95 dan ayu

Air Mata Hasna (Part 1)

Oleh:
Hening yang bening. Hasna menghela napas dalam. Ditutupnya alquaran setelah sholat tahajut. Sebelum menyimpan di rak buku paling atas, hasna mencium alquran terlebih dahulu. Di luar hujan reda. Sepertiga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *