Ayah Maafkan Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 August 2013

Namaku Fitria, panggil saja dengan panggilan Fitri… Kini aku duduk di bangku Sekolah menengah pertama, tepatnya aku kelas VII. Sejak kecil aku buta, aku mempunyai seorang ayah yang bernama Herman, ayahku selalu menyayangiku. Ibuku meninggal dunia saat melahirkanku. Ayahku bekerja sebagai tukang urut keliling.

Suatu hari aku bertaya kepada ayahku, “Ayah… kapan ya fitria bisa melihat indahnya dunia, bisa melihat warna seperti teman-teman fitria yang lain, kan selama ini yang fitria lihat cuman hitam dan gelap.”
Ayahpun menjawab “Sabar ya sayang, sebentar lagi kamu akan melihat indahnya dunia.”
Tersenyumlah aku mendengar ucapan ayah.

Waktu terus berjalan, haripun terus berganti, tak ku sangka-sangka akhirnya aku bisa melihat indahnya dunia, sejak itu pula aku berani jatuh cinta. Ada seorang lelaki kaya raya dia mendekatiku, meski usianya jauh lebih tua dariku, tak menutup kemungkinan ku bukakan hatiku untuk dia. aku mengenalnya ketika aku dan teman-temanku saat makan bersama. setiap hari lelaki tersebut menelfonku.

Pada suatu malam Hp berbunyi, dengan bergegas aku mengangkatnya, ternyata dari lelaki itu, sebut aja namanya Adli, ku terima panggilan masuknya, lalu kita ngobrol panjang. Ku nikmati setiap obrolan yang terjadi antara aku dan Adli, di depan teras dengan bersandar tiang yang tua, aku merasakan kenyamanan saat menerima telfon darinya.
Tiba-tiba ku dengar seorang yang berjalan di belakangku dan memanggilku,
“Fitri… ayah haus nak, tolong ambilkan ayah minum”
Aku pun tak menghiraukannya dan ku lanjutkan telfonku dengan Adli.
Lalu ayah pun berkata “Fitria sayang, kalau nggak mau nggak apa-apa, ayah berangkat kerja dulu,” ujar ayahku dan lngsung pergi dengan tongkat kayu tuanya yang digunakan sebagai petunjuk jalan.

Hingga larut malam aku pun terus mengobrol dengan Adli melalu Handphone genggamku. Tak kusangka rasa kantuk pun menyerangku hingga ku terlelap dalam tidurku dan berselimut rasa dingin di teras rumahku. tiba-taba kudengar ada yang mmemanggilku “Fitri… Ayah pulang sayang, Ketiduran ya nungguin ayah…?”
Kemudian akupun bangun dengan rasa kantuk yang menderaku dengan bisu aku berlari menuju kamar tanpa ku mendengar sapaan ayah.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya aku menikah dan mempunyai sebuah keluarga kecil bersama Adli dan dikaruniai dua anak laki-laki. Kehidupanku yang dulu sudah ku tinggalkan, kini aku hidup di sebuah perumahan mewah bersama suami dan anak-anakku.

Suatu hari anak-anakku bertanya padaku, panggil saja mereka dengan panggilan Arya dan Putra.
“Mah… Apa Arya dan Putra memiliki seorang nenek dan kakek dari mamah..?” tanya anakku dengan kepolosannya.
“Punya sayang… tapi sudah meninggal sebelum kalian lahir” jawabku dengan muka pucat.
Tiba-tiba ku dengar bel pintu rumah pun berbunyi, segera anak-anakku membuka pintu, tak lama kemudian ku dengar mereka berteriak, bergegas aku menemui anakku dan bertanya “Ada apa sayang?”
“Mama ada pengemis bermuka serem, itu mah lihat mah… Arya takut”
Dengan kaget aku melihat ayahku berdiri di depan pintu rumahku, bersandar dengan tongkat nya, akupun menyuruh anak-anakku untuk masuk ke dalam rumah, lalu kupersilahkan ayahku duduk di teras rumahku.
“Ngapain Ayah kesini… Fitri kemarin sudah kirim banyak uang buat ayah,
Ayah tau nggak apa yang terjadi jika ayah muncul disini? Anak-anakku pada takut ayah, dan fitri malu dilihat banyak tetangga kalau Fitri punya ayah yang cacat.”
Ujarku kepada ayah, tanpa berkata apa-apa ayah pun langsung pergi.

Suatu hari kami sekeluarga akan berlibur di suatu tempat, dalam perjalanan anak-anakku dan suamiku merasa senang dan begitu pula denganku, dalam perjalanan kita saling bersahut-sahutan dalam bersenandung. tiba-tiba terdengar suara hentakan, ternyata mobil kami menabrak sesuatu, tanpa kami suruh anak-anakku turun dari mobil dan melihat apa yang mobil kami tabrak, selang waktu beberapa menit anak-anakku masuk kembali ke dalam mobil dan brkata “papa… mobil kita menabrak seorang pengemis… mungkin dia meninggal papa, Arya takut…”
Suwamiku pun menjawab “Biar papa lihat dulu ya sayang…”
“nggak papa kami takut papah, ayo papah kita pergi dari sini” rengek putraku dengan muka pucat di dalam pelukanku…
Tanpa berfikir panjang suamiku pergi dari Tkp, selang beberapa jam kami sampai rumah, suamiku bertanya padaku “mah… apa nggak sebaknya kita kembaali lagi, untuk bertanggung jawab atas apa yang kita tabrak tadi?” tanpa berfikir panjang akupun meninggalkan suwamiku dengan muka yang tidak penuh dengan kecemasan.

Beberapa bulan kemudian, saya memutuskan untuk menjenguk ayah saya di desa, setibanya saya disana ku ketuk pintu rumahku… rumah masa kecilku yang lapuk dan penuh dengan debu, lama ku ketuk tak ada satupun sahutan terdengar dari dalam rumah, hanya seorang perempuan setengah baya menemuiku.
“mbak Fitria… mbak cari bapak ya…” Tanya wanita itu padaku, dan akupun menjawabnya “iya… ayah kemana ya bu… dari tadi saya ketuk pintu nggak keluar-keluar?”
“bapak sudah meninggal mbak beberapa bulan yang lalu, ketabrak mobil pas bapak jalan kaki sepulang dari kota, pada waktu itu saya bertanya pada bapak, kalau bapak ke kota mau menemui cucu-cucunya, bapak membeli banyak mainan mbak dari uang pijat urutnya, hampir bapak 2 hari nggak pulang rumah karena mencari uang tambahan buat beli mainan cucu-cucunya” cerita ibu itu padaku, dengan rasa kaget dan menyesal aku bersandar pada pintu tua yang lapuk dengan deraian air mata yang tak kunjung henti, ternyata yang kami tabrak kemarin ayahku sendiri, kakek dari anak-anakku, bahkan anak-anakku belum pernah sekalipun bertemu dengan kakek mereka, namun ayah sudah pergi, dengan penyesalan yang tiada henti aku tersipu dan kupandangi l langit-langit teras rumahku, disinilah dulu aku dibesarkan ayahku, disinilah saksi bahwa mata yang ku punya ini adalah mata ayahku, tak pernah sedikitpun aku membalasnya, ternyata aku malah membunuhnya, sungguh durhaka aku ini, apa kelak anak-anakku akan seperti aku? mendurhakaiku?
Dalam hati hanya ada penyesalan besar, gengsiku… membuatku lupa diri, lupa pada orang tuaku, ayah maafkan aku…

Cerpen Karangan: Nurma Atus S
Blog: nurmaatuss.blogspot.com

Cerpen Ayah Maafkan Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Harus Memilih

Oleh:
Selamanya selagi nafas masih dikandung badan kita akan terus dihadapkan pada suatu keadaan dimana kita harus memilih. Seperti ketika aku lebih memilih untuk menikah dengan Heru yang hanya pegawai

Biar Sementara Buatku Bahagia

Oleh:
Ini kisahku di saat aku masih duduk di bangku SMP. Dimana saat itu hati senin, aku sedang melaksanakan upacara bendera. Upara belum dimulai, seperti biasa aku dan sahabat ku

Kakek Inspirasiku

Oleh:
Kakek adalah sosok yang luar biasa bagiku. Kakek yang selama ini selalu menjadi motivator di dalam hidupku. Kakek yang selalu memberikan semangat dan inspirasi untuk cucu-cucunya. Waktu aku kecil

I Miss You

Oleh:
Ada seorang gadis yang bernama Tanita, cukup dipanggil Nita. Ia mempunyai 1 adik laki-laki yang bernama Tino. Mereka hidup bersama Neneknya selama ini. Nita yang masih duduk di bangku

Mungkinkah Kau Kembali?

Oleh:
Sahabat? Sahabat seperti apa aku ini? Masih pantaskah aku menjadi sahabatnya? Aku yang selalu membutuhkannya, dengan mudahnya aku memaksanya untuk berada di dalam genggamanku. Bagaimana jika aku tidak membutuhkannya?

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Ayah Maafkan Aku”

  1. Veren Chandra says:

    Like this story 🙂

  2. sindy alifa says:

    wow,keren cerpennya ampe merinding bacanya 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *