Ayah, Maafkanlah Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 28 December 2015

Hari itu merupakan hari yang sangat penting bagiku, sekian tahun lamanya jerih payahku akan terbayar. Bersama teman-teman seangkatanku, itu adalah hari yang paling kami nantikan. Kami akan segera menyandang gelar sarjana dan tentulah betapa bangganya hati kami kala itu, karena kami telah mampu melalui beberapa tahun duduk di bangku pendidikan dengan hasil yang memuaskan. Terlebih lagi bagiku, betapa tidak, ayahku telah berjanji akan membelikan sebuah mobil jika aku telah diwisuda dan mendapat gelar sarjana. Bahkan beberapa bulan sebelumnya ayah telah mengajakku untuk melihat-lihat mobil di salah satu showroom milik sahabatnya. Betapa senangnya hatiku, dengan tak sabar aku pun menceritakan hal itu kepada beberapa sahabatku, dan rencananya aku akan mengajak mereka bersenang-senang dengan mengendarai mobil tersebut.

Akhirnya acara wisuda pun selasai, aku tersenyum bangga melihat ayah sangat bersukacita dengan prestasiku. Aku melangkah dengan pasti ke arah ayah dan sangat yakin ayah akan memberikanku kejutan berupa kunci mobil idamanku itu. Lalu ayah merangkulku, terlihat ia tersenyum dengan berlinang air mata karena terharu, ia mengungkapkan betapa ia bangga terhadapku, serta mengatakan bahwa ia sangat mengasihi dan mencintaiku. Lalu ku lihat ayah mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, ia memberikanku sebuah bingkisan, “oh hanya sebuah bingkisan, mengapa bukan sebuah anak kunci!?” protesku dalam hati.

Dengan perasaan hancur aku pun mengambil bingkisan tersebut, dengan kecewa aku membukanya. Ku lihat beberapa temanku memperhatikan kami, dan itu membuatku jadi malu karena mereka tahu bahwa aku seharusnya mendapatkan sebuah kunci mobil seperti yang ku ceritakan sebelumnya. Di balik kertas kado berwarna biru itu aku menemukan sebuah Alkitab bersampulkan kulit berwana cokelat dan bertuliskan namaku dengan tulisan bertinta emas. Aku kecewa dan marah, ayah telah mempermalukan aku di hadapan semua orang. Dengan perasaan kecewa ku banting bingkisana itu, aku berlari meninggalkan tempat itu dan itulah hari dimana aku meninggalkan ayahku untuk selamanya.

Bertahun-tahun telah berlalu, aku akhirnya bisa menjadi seorang pemuda yang sukses, bermodalkan otakku yang cemerlang aku bisa meraih segala impianku. Rumah mewah nan megah, istri yang cantik, serta anak-anak yang manis juga telah melengkapi hidupku. Sementara semenjak kejadian 7 tahun yang lalu, aku sama sekali tidak pernah menjumpai ayah lagi, walaupun terkadang istriku selalu membujukku untuk menemuinya. Aku tahu perasaan ayahku pasti sangat kecewa terhadapku, namun aku juga bisa merasakan betapa dia sangat merindukan aku, karena sebenarnya aku pun terkadang sangat merindukan ayah, tapi jika aku mengingat kejadian saat wisuda itu, kembali hatiku merasa sakit.

Pada suatu hari, datanglah surat dari kantor notaris yang memberitahukan bahwa ayahku telah meninggal empat bulan yang lalu. Betapa sedih hatiku, belum sempat aku berdamai, ayah telah meninggalkanku. Sebelum ia meninggal, ia mewariskan semuanya hartanya kepadaku, karena aku adalah anak tunggalnya. Setelah beberapa hari kemudian pihak notaris mengajakku bersama-sama ke rumah ayah untuk mengurus semua harta peninggalannya yang telah diwariskan padaku. Saat memasuki rumah itu, hatiku merasa gelisah, semua kenanganku bersama ayah di rumah itu membuatku merasa sedih, aku sangat menyesal terhadap sikapku yang buruk terhadap ayah yang begitu mencintaiku.

Dengan bayang-bayang masa lalu yang menari-nari di mataku ku telusuri semua barang peninggalan ayah. Ketika aku membuka brankas milik ayah, aku menemukan bingkisan yang dahulu diberikan ayah padaku saat aku diwisuda, sebuah Kitab suci, masih terbungkus dengan bungkusan yang sama dari beberapa tahun yang lalu. Tak tahan, air mataku pun berlinang, dengan tangan bergetar ku ambil Alkiitab itu dan mulai membuka halamannya. Di halaman pertama aku membaca sebuah tulisan, tulisan tangan ayah sendiri, di sana bertuliskan:

“MANUSIA YANG BAIK ADALAH MEREKA YANG DAPAT MEMBERI MANFAAT BAGI ORANG LAIN. SESUNGGUHNYA ORANG AKAN MERASA KAYA KETIKA IA TAHU CARA MENGASIHI DAN MEMBAGI KASIHNYA PADA SESAMANYA, SEHINGGA DALAM SEGALA KEADAAN IA AKAN MENJADI PRIBADI YANG SELALU BERSYUKUR DAN HIDUP BERSAHAJA.”

Selesai membaca tulisan tersebut, ada sesuatu yang jatuh dari bagian belakang Kitab suci tersebut, lalu aku memungutnya, oh sebuah kunci mobil! Lalu ku buka halaman terakhir Kitab tersebut dan menemukan di situ terselip BPKB, STNK dan surat-surat lainnya, dan namaku tercetak jelas di situ. Lalu ku lihat sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisudaku. Aku pun berlari menuju garasi, dan di sana aku menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu, ya itu mobil yang ku idamkan dulu, itu mobil yang membuatku membenci ayah dan meninggalkan ayahku.

Dengan terburu-buru aku buka pintu mobil itu dan melongok ke dalam, bagian dalam mobil itu masih baru dan interiornya masih terbungkus plastik dengan rapi. Lalu ku lihat di atas dashboardnya, di sana ada sebuah foto, ya, foto ayahku yang sedang tersenyum bangga. Mendadak kedua lututku menjadi lemas, aku ambruk lalu terduduk di samping mobil itu, air mataku terus mengalir tak terhentikan, mengalir terus mengiriingi rasa penyesalanku yang tak akan pernah dapat terobati.

“Ayah maafkan aku.”

Cerpen Karangan: Boma Damar
Blog: bomadamar.blogdetik.com
Sahabat yang budiman sering kali sebuah pemberian yang sederhana dianggap tak bermakna, padahal di setiap pemberian pastilah memiliki makna khusus dari sang pemberi kepada orang yang diberikannya. Sekecil apapun sebuah pemberian janganlah dinilai dari angkanya, tapi nilailah itu dari ketulusannya. Dan akhir kata semoga kisah di atas dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Cerpen Ayah, Maafkanlah Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menyesal

Oleh:
Aku mengingat kembali ucapan gadis itu yang benar-benar memutuskan untuk meninggalkanku di tengah keramaian. Menyesal? Jangan tanyakan itu lagi apakah aku menyesal atau tidak yang pasti aku sangat menyesal

Dan Biarkanlah

Oleh:
“Kenapa semua ini terjadi padanya? Kenapa dia bisa seperti ini? Siapa yang tega melakukan ini padanya?” “Aku tau kok apa yang kau rasakan.” Rena mencoba menenangkan Davin yang tak

The Gift of Love

Oleh:
Seorang ibu yang baru melahirkan dengan penuh kebahagiaan ingin melihat bayinya. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu,

Anak Laki-laki Ibu

Oleh:
Bu, kutamsilkan sosok itu layaknya dunia. Dunia yang sama sekali tak ingin kau hadiahkan padaku namun mesti ada sebagai suatu akibat. Meski pernah kucoba bercermin diri—melihat adakah bayangku di

Seluas Langit, Seluas Bukit

Oleh:
Bu Ida , Seorang ibu yang begitu menyayangi anaknya. Tapi apa? Kebaikannya dibalas dengan rasa pahit yang begitu dalam. Hingga datang dua malaikat dalam hidupnya. Dua malaikat itu pun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *