Ayahku Koruptor

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 22 January 2014

2 tahun ayahku menjabat sebagai Bupati di Kabupaten penghasil jeruk terbesar. Semenjak ayahku diangkat dan menjabat menjadi Bupati keluarga kami langsung kaya raya. Aku tak peduli kenapa kekayaan keluargaku menjadi berlipat-lipat. Kehidupanku pun berubah 180 derajat, mengikuti pola keluargaku yang penuh dengan kemewahan. Mobil kami ada banyak, ayah juga membangun Villa khusus untuk keluarga di Bali, rumah kami ada di mana-mana, sawah kami berhektar-hektar dan ayah juga mendirikan yayasan serta wisata anak terbesar di Kabupaten Jeruk. Aku tak pernah mengerti apakah gaji seorang Bupati sebanyak yang didapat ayah ku, yang ku tahu sebelum jadi Bupati ayah ku sudah kaya dan karena menjadi Bupati ayahku kaya raya jadi nggak ada yang bilang kalau ayahku melakukan pesugihan. Sebagai anak tunggal aku sengat bangga memiliki ayah seperti ayahku tapi Ibu ku tidak begitu suka dengan jabatan ayah tapi aku yakin ibu sangat sayang kepada ayah. Keluarga kami sangat harmonis.

Hari berganti hari keluarga kami tambah makmur, saat liburan semester satu ayah mengajakku liburan di Singapura satu minggu. Aku tak sabar ingin cepat masuk sekolah dan menceritakan liburanku kepada teman-teman. Tak lupa aku membawa banyak oleh-oleh asli dari Singapura untuk teman-teman.

Saat hari sekolah tiba aku berangkat sekolah dengan riang. Aku menyapa teman-temanku dengan senyum lebar tapi entah kenapa teman-teman di sekolah memandangku jijik. Semua terjadi begitu saja. Aku mencoba bertanya ada apa? tapi mereka seakan-akan ingin muntah ketika melihatku. Sepanjang koridor tak ada satu pun mata yang tak melototiku tapi aku tetap tenang seperti seorang princess yang berjalan di karpet merah. Aku tak menghiraukan mereka, ku anggap mereka seperti pelayan yang kagum dengan seorang putri raja.

Sesampai di kelas teman-teman tak ada yang mau ku ajak bicara. Aku segera duduk, rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri ketika kutahu ternyata di papan ada tulisan besar “NABIILA ANAK SEORANG KORUPTOR”. Air mataku menetes, aku tak terima dengan tulisan itu, tubuhku gemetar dan benar-benar tak percaya dengan tulisan itu, aku meluapkan emosiku kepada teman-teman.
“Entah siapa yang menulis dan menyebarkan gosip bodoh ini. Terus terang aku tak terima jika ayahku disebut-sebut sebagai koruptor, aku bisa menuntut kalian” Ucapku dengan penuh kemarahan.
Ceplakk.. ceplak.. ceplakk seisi kelas melempariku dengan kertas yang mungkin sudah di siapkan.
“pergi kau, jijik lihat kamu,” celetuk Dona
“Pergi aja kamu.. dasar pemakan bangkai manusia” Ucap Rino
Terjadilah keributan yang berisi caci maki untuku, aku sangat sadih aku seakan jijik dengan diriku sendiri, aku benci kepada ayah, ayah telah mempermalukan aku. Sebagai seorang siswi SMP aku benar-benar merasa terpukul dan tak memiliki harga diri, benar kata Rino aku adalah manusia pemakan bangkai manusia bahkan pemakan manusia hidup. Ayahku adalah pembunuh rakyat, ayahku perampok bahkan lebih hina. Entah apa yang akan dibicarakan seisi sekolah di Facebook, twitter maupun di BBM, makanan empuk sebagai topik ter HIT. hancurlah sehancur-hancurnya keluargaku.

Aku tertegun lama di depan kelas, air mata tanpa henti menetes dan menyesali. mataku tertuju pada satu titik yang tersirat ribuan dendam. Dendam kepada ayahku, ataupun teman-temanku. Bu Ratih masuk ruangan menyapaku yang masih tertegun di depan kelas. Tanpa fikir panjang aku lari meninggalkan kelas tak menghiraukan Bu Ratih. Aku benar-benar malu dan tak habis fikir.

Sesampainya di rumah, gerbang sudah disegel oleh KPK. Entah korupsi semacam apa yang di lakukan ayahku dan dimana ayahku sekarang. Aku bingung harus kemana. Tiba-tiba Ibu menelponku katanya ibu berada di desa nenek. Aku mencari taksi, diantarkan aku ke desa nenek. Di desa, ibu memiliki rumah pemberian almarhum nenek. Ibu sering berkunjung ke desa namun aku tak pernah ikut. Sepanjang perjalanan aku menangis tanpa henti. Bukan hanya rasa kecewa namun juga rasa dendam yang semakin membesar. Sampailah aku di depan rumah Ibu, ibu keluar dan langsung memeluku erat, kami menangis.
“Ibu aku benci ayah.. Ibu aku benci ayah.” Aku meringik dalam pelukan ibu.
“Sttt, jangan fikirkan ayahmu, ibu sudah peringatkan berkali-kali tapi ayahmu telah buta dengan harta yang sebenarnya bukan haknya. Ayahmu tidak pernah mendengarkan ibu, mulai saat ini kita tinggal disini, ibu sudah bawa barang-barang kamu dari lama-lama waktu. Ibu tahu keadaan ini pasti akan kita alami. Asal kamu tahu sayang, hidup sederhana itu lebih indah. Jangan pernah salahkan siapapun atas kejadian ini. Salahkan diri kita sendiri yang kurang bersyukur dan minta ampun kepada Allah sang maha pemberi, bersyukur apapun yang kita punya.” Ibu menghapus air mata ku yang tak henti-hentinya membasahi pipi. Aku yakin ibu lebih menderita atas kejadian ini. Hati ibu lebih sakit dari pada yang ku alami. Ibu pasti akan lebih malu dariku. Aku tak mau menceritakan kejadian di sekolah kepada ibu.
“Ibu.. gimana dengan sekolahku?”
“Billa sayang, besok ibu akan urus sekolah billa. Nggak apa kan anaku yang cantik ini pindah sekolah di desa? Kalau Billa memang pintar dimana pun Billa sekolah, Billa akan tetap pintar”
“Iya bu.. Billa sayang ibu” Ibu menciumku, memelukku dan kami pun sholat berjamaah. Berdoa semoga ayahku tetap baik-baik saja disana, walaupun aku dan ibu belum mendapat kabar tentang keberadaan ayah.

Aku dan Ibu memulai hidup dari nol di desa dengan kesederhanaan. keadaanku mulai membaik, teman-teman di desa lebih menyenangkan, mereka tetap menerimaku walaupun ayahku seorang koruptor.

Cerpen Karangan: Yulian Rahma
Facebook: yulianrachma[-at-]gmail.com

nama: Yulianingtyas Rahmawati
sekolah: SMAN 1 Gamburan
alamat: Gambiran, Banyuwangi

Cerpen Ayahku Koruptor merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kelontong

Oleh:
“Kakek belum tidur?” “Kamu tidurlah duluan, Sur… Tugas sekolah besok sudah dikerjain?” “Sudah, Kek.” “Ya sudah, tidurlah… Kakek masih beres-beres warung dulu.” Kakekku yang tua merapikan barang-barang dagangan di

Perasaan Kita (Part 1)

Oleh:
Andai yang di samping kamu adalah aku.. andai jari itu adalah milikku dan cincin itu untukku.. aku mencoba mengalihkan pandanganku saat cincin itu akan dilekatkan di jari manis seorang

Aku Berbeda

Oleh:
Sesaat kutundukkan kepalaku, duduk tidak tenang dan perasaan ragu-ragu. Bagaimana menjawabnya? Apa yang harus aku katakan? “Mbak Tania?” suara itu terdengar seperti tepat di telingaku. “Hemm… saya… saya…” sembari

Si Kembar Go To Paris

Oleh:
“kak, kira kira bisa gak ya kita ke paris?” ucap jaky “bisa kalau ada uangnya” jawab jake. “yahhh aku coba aja gratis” sambung jaky “jaky zaman sekarang itu gak

Banggakah Kau Denganku Pak?

Oleh:
Ini bakatku, ini duniaku, tolong hargai aku! Beri aku kebebasan, beri aku kesempatan, agar aku bisa menjadi ‘AKU’. “Pak, benjing jam sedoso saged tindak dateng Gedung Maharani mboten? Alhamdulillah,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *