Ayahku Prajurit Untuk Negara dan Komandan Bijak Keluarga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasionalisme, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 25 July 2015

Terlahir menjadi anak seorang prajurit itu bukan pilihan tapi sebuah kepastian dari takdir Illahi. Dibesarkan dalam didikan yang keras dan disiplin membawa karakter dalam diri saya menjadi wanita yang tidak mudah menyerah akan sebuah kegagalan. Masa kecil tak banyak waktuku untuk bisa merasakan berkumpul dengan ayah tercinta seperti layaknya anak anak yang lainnya, namun semua itu tak membuatku berkecil hati, karena ayah dan bunda sudah kompak untuk membesarkan hati anak anaknya ketika ayah harus berada di medan tugas.

Karena terlalu seringnya ayah ditugaskan, saya pun tidak familiar dengan keberadaan ayah saya, bahkan ketika teman teman bertanya dimana ayah kamu? saya hanya bisa menjawab ayah tugas, ketika saya sudah berusia 7 tahun, saya baru merasakan kedekatan dengan seorang ayah, namun itu tidak bertahan lama karena ayah harus dikirim kembali tugas ke sampit. Pada saat itu kedatangan Pak. pos sangatlah ditunggu oleh keluarga kami karena hanya melalui suratlah kami bisa tahu kabar ayah di sana, rindu yang begitu dalam pastilah saya rasakan namun ayah selalu tahu bagaimana cara menghibur belahan jiwanya, ayah tidak pernah lupa mengirim oleh-oleh untuk saya, adik dan ibunda bersama secarik kertas yang isinya nasehat dan kabar untuk kami.

Bulan demi bulan pun berlalu tiba saatnya ayahanda pulang, sungguh luar biasa kerinduan kami akan sosok yang begitu kami hormati ini, dengan rasa rindunya kepada anak, ayah pun memeluk anak anaknya tercinta, kupandangi sosok yang berdiri ini dengan linangan airmata bahagia.

Waktu pun terus begulir, ketenangan dalam didikan ayah dan rangkulan kasih sayangnya benar-benar saya rasakan, lama ayah tidak tugas ke luar jawa, namun kebahagiaan itu tersita sementara ketika ayah mendapat surat tugas ke banda aceh. Khawatir bahkan sangat khawatir karena maut adalah taruannya. Saat itu ibunda yang membesarkan hati saya, setiap tengah malam kami bangun untuk mendo’akan ayahanda tercinta agar selalu diberi lindungan oleh Allah SWT ketika harus melakukan operasi melawan Gerakan Aceh Merdeka. Sungguh sebuah ujian yang sangat besar namun mampu kita lewati dengan tegar yaitu ketika Bencana Tsunami menimpa Nangroe Aceh Darussalam, kita sekeluarga kehilangan kabar dari ayahanda, hingga beberapa hari, inilah sosok ketegaran bunda saya akui luar biasa, bunda mampu menenangkan dan membesarkan hati keluarganya, bahkan bunda selalu yakin bahwa ayah di sana dalam keadaan baik baik saja dan dalam lindungan Allah SWT, kabar dari media elektronik saat itu hanya membuat hati kami semakin miris saja, dan pada saat itu teman ayah yang sudah seperti keluargalah yang berusaha mencarikan informasi keberadaan ayah di sana melalui batalyon yang ada di banda aceh, sungguh kekeluargaan satu korps itu benar benar terjalin kuat dan erat, satu minggu sudah kejadian Tsunami ini menimpa dan di bawah keheningan malam kabar dari ayahanda tercinta sudah terdengar, walau hanya sebentar kami bisa mendengar suara ayah namun itu bagai kemarau setahun yang terhapus hujan sehari, luar biasa bahagianya kami, sosok yang sangat kami hormati dalam keadaan sehat dan terlindungi dari maut.

Ujian kami tak berhenti di sini, pada saat itu tugas ayah bukan hanya pelindung NKRI dengan bertarung nyawa mencari segerombolan Gerakan Aceh Merdeka, namun ayah juga harus menjadi sukarelawan membantu menyelematkan korban bencana Tsunami dan membersihkan puing-puing bekas bencana, dengan berbekal ketulusan dalam menolong, semua dapat dijalankan dengan ikhlas dan penuh dengan tanggungjawab namun Allah SWT menguji dengan ujian yang lain, ayah harus terkena malaria dan sempat dirawat satu minggu di rumah sakit, namun tahukah kalian ikatan batin antara suami dan istri itu kuat?, tanpa komunikasi sama sekali, bunda mampu merasakan bahwa ayah sedang sakit, dengan berbagai cara bunda mencoba mendapatkan kabar keadaan ayah, namun semua kosong hasilnya karena komunikasi belum kembali normal, akhirnya hanya do’alah yang mampu menyampaikan bisikan hati bunda kepada ayahanda.

Selang berapa lama usai kami sholat malam, ayah pun menghubungi kami dan berkata “ma, papa sakit, nyuwun dongane”, tak ada airmata yang keluar, hanya ucapan dari bibir bunda “papa kuat, mama kaleh adik-adik berdo’a kagem papa”, saya tahu secara lahiriah memang bunda tidak menangis namun secara batin pasti bunda merintih, “andaikan bisa saya berada di sana dan merawatmu pa, pasti itu akan membuat sakitmu terasa hilang”. Dari Allah SWT ujian itu datang dan pasti dariNya obat itu datang, semalaman tidak tidur hanya untuk mendo’akan ayahanda di sana, dan alhamdulilah 1000 Al-Fatihah yang dibacakan bunda mampu membuka jalan kesembuhan untuk ayahanda di sana.

Setelah ujian demi ujian mampu kita lewati, sudah saatnya ayah kembali ke pelukan keluarganya, hari itu saya masih ingat sekali, hari senin pagi kami sekeluarga berangkat ke Surabaya untuk menjemput ayah yang pagi itu sudah tiba di batalyon, dengan hati yang deg-degan, haru, senang semua bercampur menjadi satu, ketika itu kami melihat semua pasukan Marinir berbaris tegap dan rapi, segerombolan truk banyak yang berlalu-lalang membawa pasukan, dan ketika tatapan saya berhenti pada seseorang yang baru saja turun dari truk sambil berlari menghampiri kami, bunda dan kedua adik berlari menghampiri sosok beliau yang tegap, pandangan penuh cinta dan kerinduan akan keluarga, tapi berbeda denganku, aku hanya mampu berdiri dan melihatnya dari kanan jalan, kakiku tak mampu melangkah karena kerinduan yang begitu dalam akan sosok yang berdiri di seberang jalan itu, dalam pikiranku, benarkah itu ayah yang selama ini sedang menjalankan pengabdian? ya seperti drama india saja ayah memeluk kami semua sambil berkata kepada bunda “mama berhasil menjadi mama yang baik untuk anak-anak dan mama berhasil menjaga kesetiaan mama untuk papa” dan pada saat itu pula mama berkata “tanpa kekuatan dari ayah dan tanpa anak-anak, mama tidak akan menjadi yang terbaik buat kalian semua”.

Waktu terus bergulir, ayah aktif di batlyon, semua pengalaman ayah membuat saya menjadi cinta dengan dunia militer, hal itu yang melahirkan semangat saya untuk menjadi prajurit wanita, meski mimpiku belum terwujud tapi aku masih mempunyai semangat untuk bisa meraih impian itu dan bisa bersama-sama berangkat dengan ayah ke tempat dinas sambil berkata “ayah, engkaulah komandan terhebat dan yang akan saya hormati sepanjang masa”. Restuilah saya untuk meraih cita-cita ini dan meneruskan titahmu menjadi abdi Negara.

Bukan emas permata dan harta yang melimpah aku kejar namun pengabdian dan memberikan manfaat untuk negeriku itu adalah hal yang terindah untukku, meski sekarang ayah belum merestui cita-cita saya ini, tapi suatu saat nanti katika saya sudah mencapainya, saya akan persembahkan keberhasilan itu untuk bumi pertiwi dan saya dapatkan semangat itu dari ayahanda saya terhebat.

Ayah meski baktimu masih sebatas prajurit namun tanpa adanya engkau, banyak hal yang pasti tak akan terlewati dengan makna. Bukan hanya untuk keluarga semoga ayah juga menjadi panutan untuk anggota yang lainnya.

Selamat ulang tahun ayahanda tercinta, semoga secarik tulisan ini menjadi kenangan dan kado terindah yang nanda persembahkan untuk ayah, dan saya ucapkan banyak terimakasih kepada semua Redaksi Marinir yang bersedia memuat tulisan ini, tulisan dari gadis desa yang ingin mempersembahkan satu karya untuk Ayahandanya tercinta.

Jayalah selalu pasukan Marinir di seluruh Indonesia, Jayalah untuk negerimu dan jadilah panutan untuk keluargamu, karena kalian adalah ayah terhebat.

Cerpen Karangan: Fariskharisma
Facebook: Risma Dari Kota Angin
assalammu’alaikum,
sahabat cerpenku smuanya, slamat membaca cerpen sya ya, smoga pngalaman yang saya lukiskan melalui tulisan ini bsa bermanfaat untuk kta smua terlebih untuk ayahanda yang sangat hebat

Cerpen Ayahku Prajurit Untuk Negara dan Komandan Bijak Keluarga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Cinta Untuk Ibuku

Oleh:
Ketika kecil ku selalu bahagia bersama ibuku kemanapun dia pergi ku selalu ikut di belakangnya, aku tak pernah dimarahinya apalagi dipukul, begitu besar kasih sayang ibuku kepadaku, ketika jam

Baju Lebaran Faiza

Oleh:
Idul fitri semakin dekat, hampir semua anak di TPA tempat Faiza mengaji membicarakan baju lebaran yang dibelikan orangtua mereka. Mereka semua girang, kecuali Faiza yang hanya termenung, kecewa karena

I am Stupid?

Oleh:
“Felly kemana, Bi?!,” tanya Anjani saat ia hendak pergi ke kentor. “Non Felly baru saja ke luar, Nyonya. Tadi, Non Felly membawa mobilnya sendiri dan menolak Pak Ridwan mentah-mentah

Friend and Boyfriend (Part 2)

Oleh:
Di kelas Hani masih memikirkan kata-kata Levin tadi. Memang benar Hani sangat membenci ibunya karena ibunya setahun yang lalu telah memarahi kakaknya yang gagal diujiannya dan membuat kakaknya bunuh

Nyanyian Cinta

Oleh:
Kembali berkisah…. Tentang sebuah cinta… Udara panas di siang hari menambah buliran-buliran keringat di keningnya. Jilbab biru yang dikenakannya terus berkibar tertiup angin sedari tadi. Wajahnya terlihat lelah. Namun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *