Badai Saat Memeluk Karang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 February 2014

“Bu Irma, Rayyan gak diajak nih?” Sapaku pada Bu Irma yang sedang merapikan baju yang akan dipakianya besok untuk kegiatan lapangan.
“Nggak bu, Rayyan lagi di rumah bapaknya. kalau di rumah nggak mungkin saya bisa nginap di kos ibu ni.” jawabnya dengan tanpa menatap.

Aku terheran-heran mendengar jawaban Ibu muda satu anak itu. panggilan Ibu biasa kami gunakan dalam percakapan kantor namun dalam keseharian juga ikut terbawa hingga kita tetap santai dipanggil ibu dengan usia yang masih belum ibu-ibu, toh nanti kan calon Ibu juga. Namun temanku satu ini memang sudah menjadi ibu untuk satu buah hatinya yang berusia hampir 4 tahun. Usia bu Irma masih muda lebih muda setahun dari usiaku saat ini 23.

“Rumah bapaknya?” kembali aku bertanya berusaha memperjelas maksud dari perkataan Bu Irma.
“Iya bu… Oh, ya aku belum pernah cerita sebelumnya ya?” Ada guratan sendu pada garis wajahnya
“Cerita soal apa ya bu?” aku semakin penasaran. Memang aku belum lama mengenalnya, maklum aku termasuk orang baru di kantor jadi wajar kalau aku tidak tahu menahu cerita orang per orang dalam kantor ini. Walaupun memang ada yang janggal selama aku mengenal bu Irma ia tidak pernah mengenalkan atau sekedar menceritakan perihal suaminya.

Kulihat matanya menerawang, ada gumpalan awan hitam yang menggantung di wajahnya, sendu seakan ada luka yang masih belum mengering namun ia membalutnya dengan senyum tulus.

“saya udah pisah sama bapaknya Rayyan dan dia telah beristri lagi” berat kalimat itu keluar dari bibirnya, namun sepertinya ia juga tidak bisa menahannya untuk berbagi.
“Astagfirullah,” kaget ku mendengarnya. “Maaf ya Bu, saya nggak tahu kalau begitu ceritanya.” aku merasa bersalah karena telah membuatnya mengingat masa sulit yang mungkin tengah berusaha ia lupakan.
“iya nggak papa bu, mungkin sudah saatnya ibu tahu.” senyum getir tersungging di bibirnya.

Kemudian ku terus menyimak kalimat-kalimat berikutnya yang keluar, dia pun menceritakan seluruh kejadian demi kejadian. sambil sesekali menyeka butir-butir airmata yang keluar. Aku tak menyangka di balik wajahnya yang ayu dan senyumnya yang tulus ternyata menyimpan cerita pahit yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ada kekaguman padanya betapa perempuan itu kuat menghadapi badai yang menerjang di masa-masa yang seharusnya menjadi saat yang membahagikan.

Cerita itu bermula
Irma yang saat itu masih berusia 18 tahun telah menautkan hatinya pada seorang yang lebih dewasa darinya Ferdi. Hari-hari mereka dijalani dengan penuh cinta dan bahagia sebagai sepasang kekasih. Hingga mereka telah yakin akan melabuhkan cinta mereka pada hubungan yang halal yaitu pernikahan.

“Ibu tak setuju kalau kau menikah dengan laki-laki itu.” bagai petir di siang hari kata-kata itu menyambar telinga Irma.
“Aku mohon bu, Irma hanya cinta sama kak Ferdi, Irma ingin menikah dengannya.” Irma yang baru lulus dari SMA itu membulatkan tekadnya dan berusaha meyakinkan kedua orangtuanya.
“Irma, dengarkan Ibu! kamu bisa mencari lelaki yang lebih baik darinya. pokoknya ibu tak setuju dengan rencana kalian!” suara ibu Irma semakin meninggi. Namun Irma tak bergeming.
“Atas dasar apa ibu tak suka dengan kak Ferdi bu? Dia baik bu, dia bisa menjaga Irma, Irma akan bahagia bersamanya.” Irma mencium tangan Ibunya dan bersujud memohon di kaki Ibunya.

Lambat laun ibunya pun luluh dengan berat hati mereka merestui pernikahan Irma dengan Ferdi. Kini kehidupan bersama yang mereka dambakan akhirnya terwujud. Angin kebahagiaan menerpa hidup mereka seiring sambutan hangat ucapan selamat dari kerabat, teman dan seluruh undangan yang hadir, bunga-bunga seakan merekah di sudut hati masing-masing.

Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama singgah dalam mahligai rumah tangga mereka. Genap sebulan pernikahan mereka Ferdi mengalami sakit, sejak itulah badai mulai mengusik karang yang tengah bermanja dengan ombak.

Ferdi kehilangan kontrol kesadarannya, dia sering melamun dan terkadang mengamuk tanpa alasan yang jelas. Pergi ke luar rumah tanpa tujuan yang jelas. Namun Irma dengan penuh sabar selalu melayani dan mengurusnya. Berbagai pengobatan telah dijalani. Irma dengan setia mendampingi orang terkasihnya itu, meski hasilnya masih nihil. Ferdi tidak bisa lagi bekerja, setiap hari dia semakin menjadi-jadi setiap subuh ia keluar rumah berjalan tanpa tujuan dan akan kembali ke rumah selepas tengah hari. Irma terkadang hanya berlinang-linang menyaksikan kelakuan suaminya.

Yang lebih menambah beban Irma dari keluarga Ferdi menyangka bahwa semua itu Irma lah penyebabnya.

Har-hari Irma dilalui dengan penuh kesedihan dan kerja keras untuk biaya hidupnya dan sekaligus mengambil alih tanggungjawab suaminya bekerja untuk pengobatan suaminya. Warung sembako kecil berdiri di depan rumah Ferdi. Selama menikah mereka tinggal di rumah orangtua Ferdi. Perhiasan-perhiasan yang tak seberapa pemberian orangtua Irma telah habis terjual demi untuk mengisi warung sembako penyambung hidup mereka.

Lima bulan berlalu pasca pernikahannya Irma merasakan ada yang aneh pada tubuhnya ia merasakan mual-mual dan pusing. Ia pun hamil. Bahagia karena buah cinta mereka akan segera hadir. Namun sedih karena ayah dari janin itu tak mau tahu dan tak peduli pada keberadaannya. Kini Irma mempunyai dua nyawa yang selalu butuh diperhatikannya yaitu janin yang ada dalam kandungannya dan suami yang menjadi tanggung jawabnya.

Pernah suatu ketika Ferdi pulang membawa perkakas onderdil motor, dia tak menjawab ketika ditanya darimana dapatnya. Dua hari kemudian seseorang datang menagih hutang atas barang-barang yang dibawa Ferdi. Irma hanya bisa tergugu, sembari menyerahkan sejumlah uang untuk melunasinya. Pengobatan yang dijalani belum menampakkan hasil sementara janin yang ada di kandungannya terus membesar. Beban berat yang dirasakan Irma semakin menggelayuti pundaknya. Airmata menjadi bumbu penguatnya.

“Kuat ya sayang… mama kuat karena ada kamu, kamu pun harus kuat demi mama…” ucapnya sembari mengelus perut buncitnya.

Irma tidak ingin menceriatakan apa yang dialaminya kepada keluarganya terutama kepada ibunya, ia yakinkan kepada beliau bahwa ia baik-baik saja. dan tengah berbahagia dengan kandungannya.

“kenapa kau tak pernah main ke rumah Ir?” tanya Ibu Irma dalam telepon
“maafkan Irma bu, Irma kan lagi hamil jadi gak boleh terlalu capek kemana-mana”. jawabnya dengan menggigit bibir ada perih yang dirasakan di ulu hatinya. Ia tak mungkin menceritakan yang sebenarnya karena pasti ibunya akan menyalahkannya karena tak mendengarkan nasihatnya waktu itu. Ia sangat mencintai Ferdi dan apapun yang terjadi saat ini ia menerima dengan sabar dan ikhlas.

Waktu melahirkan pun telah dekat seiring dengan perkembangan kondisi Ferdi yang mulai membaik. Namun tidak dengan sikap temperamennya. Terkadang dia lembut kadang juga sangat kasar seperti ada dua kepribadian ganda dalam dirinya.

“Ayo Irma yang kuat…” tangan kokoh Ibu Irma menggenggam jemarinya. Di ruangan yang putih bersih itu Irma sedang bertaruh nyawa demi buah hatinya, tak ada sosok khawatir suaminya disana hanya ibu dan kakaknya yang mendampingi proses melahirkan itu.

“sakit bu…” Irma pun mengerang kesakitan. Suster terus berupaya agar bayi itu segera keluar dengan selamat.

“Alhamdulillah… bayinya laki-laki bu, sehat dan tak kurang suatu apapun.” setelah sekian lama Irma berjuang akhirnya bayi mungil yang sehat itu telah berada di dekatnya.

Seakan tertebus segala kesakitan yang baru saja dirasakannya. Tangisnya pun pecah bersama dengan tangis pertama sang jabang bayi mungil itu. Tangis bahagia yang tiada tara.

Sehari pasca keluar dari rumah sakit Ferdi menjemput Irma di rumah orangtuanya. Sejak saat itu irma mengerjakan seluruh aktifitas rumahtangga dan mengurus bayi mungilnya sendiri.

Kalau ada yang tak sesuai dengan kehendaknya, tak jarang Ferdi marah-marah dan Irmalah yang menjadi sasaran kemarahannya.

Plaaakk… sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Irma, hanya karena kesalahan kecil berupa baju yang disetrika tak terlalu rapi. Irma hanya menangis menunduk sambil memegangi bayinya yang mulai mengerti isyarat keberadaan orangtuanya.

“sayang… ma maaf kan aku, kakak gak sengaja sayang…” Ferdi ikut menunduk memegangi pipi Irma, namun berusaha ditepisnya. ada rasa sesal yang membuatnya meneteskan airmata.

Irma pun luluh, dipeluknya suami yang dikasihinya itu, ia berharap sikapnya kan sebaik itu selamanya.

Namun harapan Irma seakan ia menggenggam angin, kosong… sikap Ferdi yang temperamen terus saja berlanjut, dan ia kan meminta maaf setelah melakukan kekerasan fisik, begitu seterusnya. Hingga anak mereka beranjak balita. Walau begitu Irma selalu memaafkan perlakuan kasar Ferdi.

Sampai pada klimaksnya, Irma tidak tahan lagi. kesabarannya pun mencapai titik batas yang ia sendiri tak bisa mengendalikannya. Irma ditinggalkan di jalan saat mereka pergi ke Apotik untuk membeli obat anaknya yang sedang sakit. Dengan bangganya Ferdi malah berlalu begitu saja dengan membonceng perempuan lain. Hati perempuan manapun tak mungkin bisa menerima kenyataan dan diperlakukan yang demikian menyakitkan itu.

Dengan berlinang airmata Irma berjalan menyusuri trotoar jalanan menuju rumah mertuanya. Sepi, tak ada siapapun di rumah, ia pun menghambur ke kamar memnguncinya rapat-rapat tak ingin terganggu oleh siapapun, ia pun tak peduli dimana suaminya. yang ia pedulikan hanya buah hatinya yang mulai mengantuk di pelukannya.

tiba-tiba pintu diketok-ketok dari luar

“Dik… buka pintunya dik… kakak mau masuk…” terus terdengar suara pintu yang semakin keras diketuknya.

Tak ada jawaban dari dalam Irma sesenggukan sembari memeluk erat Rayyan yang tak jadi memejamkan mata, ada nada polos yang keluar dari mulutnya

“ma, pintu ma… papa diluar.” Irma semakin berlinang ia tahu maksud Rayyan agar membukakan pintu untuk papanya.

“dik.. maafin kakak dik… kakak khilaf, maafin dik… kakak sayang sama adik, kakak janji tak akan mengulanginya lagi” suara meratap-ratap di balik pintu itu tak dihiraukannya. Kali ini pintu maaf buat Ferdi sepertinya telah terkunci. terlalu sering ia melakukan hal yang sama sesering ia minta maaf dan mengulanginya kembali.

Irma tak bergeiming didudukkannya Rayyan di ranjang dan ia mulai mengemas isi lemari pakaiannya dan pakaian Rayyan. setelah semua masuk dalam koper Irma menggendong Rayyan

“kita pergi dari sini nak…” ucapnya terbata. Dibukanya pintu kamar didapatinya Ferdi tertunduk di depan pintu. Melihat Irma keluar dengan koper besar dan Rayyan dalam pelukannya ia segera bengkit.
“Dik, kamu mau kemana? kamu nggak boleh pergi” Ditariknya tangan Irma dengan kuat irma pun menghentikan langkahnya.
“maaf kak, Irma tak tahan lagi, Irma akan pulang ke rumah ibu.”
“Tidak! kamu tak boleh kemana-mana!” suara Ferdi meninggi

Irma tak memperdulikannya, ia menepis tangan Ferdi dan berusaha untuk menuju pintu namun Ferdi tetap menariknya. Diambilnya pisau buah yang ada di meja makan dan diacungkannya ke arah Irma.

“kalau kau berani keluar rumahku, akan kuhabisi kau bersama anakmu.” entah setan mana yang merasuki Ferdi, tiba-tiba ia kalap dan terus mengancam Irma.

Irma pun gentar ia terkulai di pojokan dinding dengan mempererat pelukannya pada Rayyan. Rayyan mulai menangis ketakutan melihat papanya yang mengacungkan pisau.

“mama… takut…” pekiknya dengan membenamkan wajahnya kepelukan mamanya.
“Tenang sayang… ada mama.” Irma berusaha menenangkan Rayyan dengan terus mempererat pelukannya. Hatinya pun ketar-ketir kalaupun Ferdi nekat kala itu tak ada siapa-siapa di rumah. lebih baik ia yang terluka daripada anaknya.

Menyaksikan istri dan anaknya yang ketakutan dan sesenggukan, Ferdi melepas pisau dari genggamannya, ia menghambur ke arah mereka berdua dan memeluknya. kembali ia meminta maaf

“sayang… maafkan aku, kakak nggak mau kehilangan kalian bedua, kakak sayang sama kalian…” ucapnya dengan terisak. Ia pun membimbing Irma dan anaknya ke kamar, dan mengembalikan pakainnya ke lemari. Irma pasrah, ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk berontak.

Malam itu hening, seperti tak terjadi apa-apa. hanya dinding dan pisau yang tergeletak kembali ke meja yang menjadi saksi bisu kejadian itu. Namun tidak dengan hati Irma, ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk bisa keluar dari neraka yang diciptakan oleh keegoisan suaminya. Hatinya tidak bisa lagi mentolelir kejadian tadi membuatnya semakin yakin untuk mengakhiri kebersamaanya dengan orang yang selama ini diperjuangkannya.

Matahari mulai menampakkan ronanya kala Rayyan menggeliat dan memanggilnya.
“mama… Rayyan haus…” suara cedalnya membuatnya bangun. selepas subuh tadi Irma kembali merebahkan badannya di pembaringan karena rasa kantuk yang masih menggelayut akibat tak tidur semalaman.
“bentar ya sayang, mama ambilkan dulu di dapur..” ucapnya dengan mengelus kepala anak terkasihnya.
Irma keluar kamar dan di dapatinya Ferdi telah bersiap-siap akan pergi, ia pun berpamitan pada irma.
“Dik, kakak keluar dulu ya…”
“iya” jawab Irma datar. Ia pun tak menanyakan mau kemana suaminya pergi.

Mertuanya juga telah berangkat entah kemana, hanya ada dia dan Rayyan sekarang di rumah. selepas suaminya berangkat Irma segera mengambil telepon dan menghubungi kakaknya. Diceritakan semua kejadian yang menimpanya. Saat itu juga ia ingin kakaknya menjemputnya keluar dari rumah itu.

Dikemasinya kembali baju-baju Rayyan dan bajunya dalam koper. Matanya menerawang, kembali terputar adegan-adegan perjuangannya menemani masa-masa sakit suaminya yang kala itu ia tengah mengandung, bagaimana ia bertahan mencari penghidupan sendiri demi anak dan suaminya, matanya basah… dibelainya wajah Rayyan dan dikecupnya kening mungil Rayyan.
“engkaulah, kekuatan mama sayang…” Rayyan yang polos itu pun membalas pelukan mamanya.
“Selamat tinggal semua kepedihan. aku telah mantap untuk tak kembali lagi kesini.” berat kata-kata itu keluar, diusapnya linangan airmatanya.

“begitulah bu, sejak saat itu kami berpisah. dan tiga bulan kemudian ia telah beristri lagi” ucapnya menerawang.
Kupeluk erat bu Irma, tak bisa kutahan butir-butir bening itu menetes “ibu perempuan hebat…” ucapku di sela-sela isakan haru.
“penyesalan memang selalu datang di akhir bu, seandainya dulu saya mengikuti kemauan orangtua mungkin tak seperti ini kejadiannya”. ucapnya dengan nada sesal.
“sudah bu, tak usah lagi disesali, semua sudah terjadi. kalau tak terjadi kita tak akan bisa mengambil pelajaran. Insyaallah masa depan disana jauh lebih indah bu. Allah pasti punya rencana yang indah kalau kita mampu untuk bersabar atas ujiannya.”

Kami pun tersenyum dan saling berpelukan ada haru yang tak bisa terlukiskkan. Ada harapan yang menjuntai ingin digapai.

Cerpen Karangan: Lylik Choir
Blog: Lilikchoir89.blogspot.com
Facebook: Lylikchoir@yahoo.co.id

Cerpen Badai Saat Memeluk Karang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Abdiku Untukmu, Ibu

Oleh:
Aku terbangun di pagi itu dengan penuh kedamaian. Ku dengar kicau burung dan mentari menambah hangat sambutan pagi. Aku Silvia, umurku 17 tahun sekarang. Ibuku seorang single parent. Ya,

Ngebet Punya Pacar

Oleh:
Cik… Cik… Cik suara percikan air yang membangunkan aku setiap pagi. Inilah aktivitas rutin nyokap setiap membangunkan aku sambil ngomel lalu berkata “Anak cewek ngak boleh bangun kesiangan karena

Hadiah Itu, Kenangan Kita Teman…

Oleh:
Dulu aku tinggal di sebuah kota, dimana saat itu aku dipertemukan dengan seorang anak kecil seumuran ku bernama fadil dan rumah nya bersebelahan dengan ku . Disitulah dimana awal

Penyesalan

Oleh:
“kring…!!! kring…!!!” Seketika suara alarm jam itu mengagetkan Chiko, salah satu siswa SMA di Semarang yang saat ini duduk di bangku kelas 2 SMA dari tempat tidurnya. Biasanya, setiap

Bukan Ibu Cinderella

Oleh:
Malam ini begitu tenang, setenang tetesan mata air di puncak gunung. Namun tenangnya malam ini tak setenang hatiku. Di malam 7 hari kepergian almarhumah bundaku. Bunda yang amat aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Badai Saat Memeluk Karang”

  1. Amirah Lubis says:

    Bagusss… buuaangeeet…. :-):-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *