Bagaimana Jika Aku Tak Sepintar Albert Eistein

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 19 March 2016

Belajar, belajar, dan terus belajar. Hanya itulah kegiatanku di rumah setiap harinya. Sepulang sekolah jam tiga sore, sampai rumah pun setelah aku makan dan berganti baju, kegiatan selanjutnya yang harus dan wajib ku lakukan yaitu Be..La..Jar..!! “Bimo, sudah pulang? Sudah makan apa belum? Setelah makan jangan lupa belajarnya..” perintah ibu dari telepon rumah, setiap hari ibu pasti meneleponku dan selalu berkata yang sama. Setiap harinya ibu dan ayah memang tidak pernah ada di rumah mereka bekerja mulai dari pagi buta hingga larut malam. Bahkan aku anaknya pun jarang sekali untuk bisa ngobrol dengan mereka.

Jangankan ngobrol bertemu pun sulit. Mereka seperti layaknya robot yang dikendalikan oleh atasan mereka. Bahkan aku sering merasa iri dengan teman-temanku yang setiap harinya bisa diantar jemput oleh ayahnya, bisa membawa bekal makanan masakan ibunya, sedangkan aku, aku hanya setiap harinya di rumah bersama dengan perawatku bernama mbak Santi. Setiap hari aku diantar jemput olehnya dan membawa bekal makanan masakannya. Aku juga sering iri dengan teman-temanku yang bisa dengan mudah bercerita pengalaman yang terjadi di sekolah dengan ibu mereka masing-masing. Sedangkan lagi-lagi aku tak bisa melakukannya.

Aku hanya duduk dan terdiam, hanya itulah yang dapat aku lakukan di dalam kelas di sekolah yang kejam ini. Bagaimana tidak? Semua anak membenciku karena aku bodoh. Kini aku telah kelas lima sekolah dasar. Selama lima tahun aku bersekolah di sini selalu akulah yang mendapat ranking terakhir di kelas. Bahkan mereka menyebutku dengan sebutan si “Pandir” yang berarti bodoh. Itulah mengapa orangtuaku selalu menyuruhku belajar, belajar, dan belajar. Setiap harinya, hanya cacian dan hinaan yang ku dapat dari anak-anak lain. Aku juga tak pernah merasakan rasanya punya teman. Saat bel istirahat berbunyi semua anak berhamburan ke luar terkecuali hanya aku yang tersisa di ruangan yang bagaikan neraka ini, aku terduduk menunduk. Cukup lama aku terdiam di sini hingga pada saatnya aku merasa bosan, akhirnya aku putuskan untuk melangkah pergi ke luar kelas.

Dengan berjalan menunduk menyusuri trotoar kelas dan bertemu dengan para mulut kejam yang tak salah lagi sedang membicarakanku, aku tidak peduli aku tetap melanjutkan langkahku. Sampai suatu saat sesuatu mengenai kepalaku, benda itu terjatuh di bawah tepatnya di hadapan kakiku, ternyata itu hanya botol air mineral yang tak berisi, aku memungut botol itu dan memasukkannya ke dalam ember sampah yang berada di sampingku. Saat hendak memasukkan botol itu semua anak melempariku dengan tepung dan juga telur aku hanya terdiam menunduk pasrah menerima perlakuan mereka.

Tidak ada perlawanan sedikit pun dariku terhadap mereka. Menurutku dengan membalas perlakuan mereka sama saja dengan membalas kejahatan juga. Mungkin itulah sebabnya ibu dan ayahku tak pernah ada waktu untukku, mereka memilih bekerja cari uang daripada harus merawat anak bodoh sepertiku ini. Setiap pengambilan rapor ibuku atau ayahku tak pernah hadir, karena mereka malu. Aku selalu dipanggil pertama kali karena nilai nilaiku yang jelek. Setelah membaca semua raporku ibu pasti memarahiku dengan kata-kata kasar. Begitu pula dengan ayahku tak kalah marahnya, ia bahkan sering memukuliku sambil berkata tak kalah kasarnya dengan ibu.

“Lihat ini, rapormu nilainya merah semua. Kamu ini memang benar-benar bodoh, coba lihat semua teman-temanmu apakah ada yang sebodoh dirimu!!” bentak ibu padaku.
“Anak bodoh, tak tahu diuntung! Bisanya hanya membuat malu orangtua saja.” tambah ayah sambil memukuliku. Aku hanya bisa tertunduk diam membisu.
“Setiap hari kamu hanya suruh belajar, belajar, dan belajar untuk jadi pintar saja kok susah.” ucap ibu padaku.

Sampailah saatnya pada aku untuk pangambilan rapor yang menentukanku naik atau tidaknya ke kelas enam. Para guru pun harus lebih selektif dalam menentukan siswa yang harus naik ke kelas enam agar nanti lebih siap untuk menghadapi ujian nasional. Pahit ku terima memang, aku harus tinggal kelas. Sedangkan teman-temanku yang lain bisa lanjut ke kelas enam. Sampai di rumah mbak Santi langsung memberitahu pada ayah dan ibuku, kebetulan sekali pada saat itu mereka sudah ada di rumah.

“Bagaimana hasilnya Mbak.. Ada peningkatan?” tanya ibu pada mbak Santi.
“Em.. A.. An.. Anu.. Bu, Bimo ti.. Tidak naik kelas Bu.” jawab mbak Santi dengan gemetar dia takut kalau ibu dan ayahku nanti akan memukuliku lagi setelah mereka tahu ini.
“Apa! Bimo tak naik kelas? Dasar anak bodoh.. Percuma selama ini kamu sekolah menghabiskan biaya jika kamu tidak bisa pintar.” bentak ibu padaku.
“Maafkan aku Bu. Aku selalu mengecewakan Ayah dan Ibu.” jawabku sambil bersujud di kaki ibu dan menangis.

“Kamu tidak hanya mengecewakan Ayah dan Iu, kamu sudah membuat kami malu. Dasar anak bodoh, tolol, dan tak tahu diuntung, kami malu punya anak sepertimu.” tambah ayahku sambil memukul punggungku dengan hanger besi. “Ampun Yah.. Sakit.. Ampun..” pintaku menghiba.
“Kami tak pernah meminta dan menuntut kamu untuk apa pun, kami hanya ingin kamu menjadi pintar dan jadi juara kelas. Kenapa kamu begitu bodoh.” bentak ibu lagi.
“Sudah tidak perlu lagi anak ini disekolahkan, percuma otaknya memang bodoh. Pergi sana kau dan jangan kembali sebelum kau menjadi pintar dan sukses.” usir ayah padaku.

Atas perintah ayah, akhirnya aku pun benar-benar pergi dari rumah dan aku bertekad dalam hati bahwa aku akan kembali ke rumah itu setelah aku sukses. Dalam kepergianku aku belajar banyak hal tentang kehidupan ini. Singkat cerita aku akhirnya menjadi seorang novelis terkenal dan sekarang telah sukses, dan aku pun kembali ke rumah dengan kesuksesanku seperti yang diperintahkan ayah padaku dulu. Tapi, setelah ku kembali ke rumahku dulu ternyata rumah itu sudah beda penghuninya, bukan ayah dan ibuku lagi. Melainkan sudah berpindah hak milik.

“Apakah Anda tahu alamat penghuni rumah ini dulu?”
“Setahu saya rumah ini dulu milik pasangan suami istri yang mempunyai seorang anak yang pergi dari rumah, kalau alamat anaknya saya tidak tahu, tapi kalau pasangan suami istri tadi sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu.” jawab penghuni rumah yang sekarang.
“Apa? Sudah meninggal dua tahun lalu?”
“Iya.. Kalau gak salah akibat kecelakaan mobil. Saya juga tidak tahu makamnya di mana.” jawabnya lagi.

Aku benar-benar menyesal, aku belum bisa membuat ayah dan ibuku bangga dengan kesuksesanku ini, aku belum bisa menunjukkan pada ayah dan ibu bahwa Bimo si pandir atau bodoh itu kini telah bisa jadi seorang novelis terkenal dan punya banyak penggemar. Aku berdoa agar ayah dan ibuku bisa tersenyum bangga di sana atas usaha dan kesuksesanku ini. Aku yakin mereka sebenarnya sayang padaku, dan aku pun tersadar bahwa dulu tanpa ajaran dari ayah, mungkin aku tidak dapat berubah seperti sekarang, mungkin tanpa sebutan pandir yang selalu ku terima dari teman-temanku dulu aku tidak akan menjadi bangkit seperti sekarang. Mungkin juga tanpa itu semua Bimo yang bodoh, akan tetap menjadi bodoh.

Dan kini pun aku sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak, aku tidak akan memaksakan anakku untuk menjadi seorang yang jenius seperti albert eistein atau ilmuwan yang lain. Walaupun sebenarnya setiap orangtua pasti menginginkan setiap anak-anaknya untuk menjadi pintar dan jadi juara kelas agar kelak dapat menjadi seorang yang hebat, tapi ketahuilah bahwa setiap anak punya potensi masing-masing, punya keahlian di bidangnya masing-masing dan semua ada batasannya. Jangan memaksakan anak untuk melakukan hal yang dapat mengekang masa kecilnya. Karena sesungguhnya Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan peran orangtualah yang harus membantu anak untuk menggali dan mengembangkan kelebihannya itu.

Cerpen Karangan: Ravita Rahma
Facebook: Raviita Rahmaa
Nama saya Ravita Rahma, saya seorang pelajar sma di sebuah pinggiran kota. Berharap agar kelak hobiku menulis bisa membawa hal yang positif untuk masa depanku nanti.

Cerpen Bagaimana Jika Aku Tak Sepintar Albert Eistein merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I’m Telatan Not Teladan

Oleh:
Senin pagi seperti biasa Indah berangkat sekolah dengan tergesa-gesa. Karena, lagi-lagi dia harus mengalami suatu kejadian yang membuatnya gelisah, Terpepet Waktu! “Pukul 06.45,” desis Indah sambil mempercepat langkah setengah

My Girl Nina

Oleh:
Nina namanya, seorang gadis berwajah oriental yang selalu membuatku terpana melihatnya. Dia sering memanggilku โ€œRioโ€ sambil tersenyum. Aku memang baru mengenalnya, tapi dia begitu istimewa, sampai aku tidak bisa

Marsha And The Frog

Oleh:
“Frog.. Frog.. Frog di mana kau?” aku mencari binatang peliharaanku yang tiba tiba hilang. “kakak cari katak yang dekil itu ya, ada tuh di tong sampah.” sinis Genta, adikku

Ayah

Oleh:
Rintik hujan membasahi bumi. Seolah mengerti betapa kalutnya aku. Dengan angin yang menusuk kalbu. Yang temani hari itu. Indah memang bila ku lihat masa lalu. Masa dimana aku masih

Romansa Kehancuran

Oleh:
Hari itu, aku tertatih. Tidak jelas aku sedang berada di mana. Samar-samar seperti di tengah-tengah antara sorga dan neraka. Tunduk, tengadah, bahkan sesekali kepalaku menengok ke arah kanan, kiri

โ€œHai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?โ€
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Bagaimana Jika Aku Tak Sepintar Albert Eistein”

  1. Nanda Insadani says:

    Itu judulnya emang sengaja ditulis gitu atau gimana? Karena yang benar itu “Einstein” bukan “Eistein”.

  2. ravita rahma says:

    ohya..sebelumnya saya minta maaf sekali, buat penulisan nama ilmuwan albert einstein..
    terimakasih koreksinya,sangat membantu. ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *