Bagian Dari Kejutan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 September 2017

Aku sheryl, gadis yang masih mengenakan seragam SMA. Hari ini adalah salah satu hari terbaik bagiku. 23 tahun yang lalu seorang gadis terlahir di dunia. Aku baru sadar hari ini, saat arloji di tanganku menunjukkan pukul 09:47. Aku melupakan hari yang bersejarah bagi kak selvi. Mungkin aku terlalu sibuk karena tugas yang begitu menumpuk. Bila aku tak mendengar temanku berbicara tentang ulang tahun, mungkin aku takkan mengingatnya.

Panas begitu membakar kulit, pantas saja Padang pasir begitu panas. Orang arab sudah terbiasa dengan panas yang bahkan lebih dari panas dari kotaku, Majalengka. Walau begitu, aku mengabaikan kulitku yang akan semakin berwarna gelap karena terkena sinar matahari. Aku tetap berjalan lebih cepat, tak berteduh seperti temanku yang takut kulitnya terbakar. Kak Nanda terlihat sudah menunggu di Taman kota, dengan handphone di genggamannya. Seakan dia tak ada di dunia ini, ia tak sadar dengan kehadiranku di sampingnya.

Matanya langsung saja melirik ke arahku, terlihat agak kaget karena aku pura-pura batuk. “Percaya atau tidak kakak kaget sher” ucap kak Nanda dengan wajah kagetnya. Kak Nanda adalah pacar kak selvi, calon kakak iparku. Aku hanya tertawa pelan. “Mau apa kak?” Tanyaku kemudian. “Tau sekarang hari apa?” Tanya kak Nanda kemudian. Aku mengangguk lalu menjawab “hari ulangtahun kak selvi”. “Ayo kita susun strateginya” lanjutku yang membuat kak nanda mengangguk-angguk dan tersenyum, tak perlu dia utarakan yang pasti ia ingin meminta bantuan menyusun strategi.

Kak Nanda sudah memesan sebuah kue. Nampaknya dia telah ingat jauh-jauh hari hari ulangtahun kak selvi, dibanding aku adiknya. Dia memang sangat mencintai kakakku, dan mustahil bila tak mengingat hari ulangtahunnya. Aku kalah oleh kak Nanda, melupakan hari itu. Tak hanya kue, dia pun sudah menghubungi sahabat-sahabat kak selvi dari kemarin untuk kejutan yang belum terencana. Namun dia tak ingin melakukannya sendiri, dia tak ingin mengatur strateginya sendiri, jadi tadi kami mengaturnya bersama-sama. Lalu setelah strateginya tersusun rapi, tak lupa kami menghubungi sahabat-sahabat kak selvi untuk memberitahukannya.

Kak selvi terlihat begitu bete. Mungkin karena aku dan kak nanda belum mengucapkan selamat ulang tahun. Kembali ia merasa bete, ibu dan bapak sedang pergi ke Bandung menengok nenek. Mereka pun mungkin tak akan mengingat hari ulang tahun kak selvi. “Hari ini, hari yang kau tunggu. Bertambah satu tahun usiamu, bahagia lah kamu..” dia menyanyikan lagu itu di depanku. Aku hanya pura-pura tak menyadari kode kerasnya itu. Aku hanya tersenyum menatap layar handphone, padahal aku tersenyum karena ulah kakakku itu.

Senja terlihat begitu Indah. Aku tak lagi menjadi kambing conge, untuk satu hari. Hatiku terasa senang melihat kak selvi yang terlihat makin bete. Ditambah obrolan mengenai kak hanifa, yang merupakan mantan kak nanda sekaligus kakaknya temanku. Aku dan kak Nanda mengobrol saja, mengobrolkan apapun tanpa mengijinkan kak selvi untuk bergabung dalam obrolan. Biasanya aku yang seperti itu, terdiam di jok belakang pula dan tak mengobrol dengan siapapun. Rencananya kami akan menengok bi Novi, yang dirawat di RSUD Majalengka. Bi Novi bukanlah bagian dari kejutan, mamang benar ia sedang sakit.

Tak butuh waktu lama untuk sampai di sana, karena ya memang jaraknya dekat. Kak selvi meminta untuk mengendarai motor saja, tapi kak Nanda beralasan kalau motornya sedang dibawa oleh adiknya. Kalau soal berbohong, itu memang bagian dari kejutan.

Baru beberapa menit kami berkunjung, ada telephon yang masuk ke handphone kak selvi. “Semoga” pintaku dalam hati, semoga sahabat-sahabatnya yang menelphone. Mereka akan memarahi kak selvi, dengan nada yang pastinya tinggi. Kak Nanda tersenyum bahagia, mengedipkan matanya padaku. Itu adalah bagian dari kejutan. “Bi kami pulang dulu ya, semoga cepat sembuh” kata kakakku. “Iya sel, amin. Kenapa buru-Buru?” Tanya bi novi. “Hoh, ih baru juga” ucapku yang pada rencananya menunjukkan wajah tak setuju. Kak selvi melotot ke arahku, sudah menjadi kebiasaan sebagai kode rahasia. “Kok melotot kak?” Tanyaku dengan wajah polos. “ya allah” ucap kak selvi pelan. “Hmm ada sesuatu bi. ya udah bi kami pamit asalamu’alaikum” ujar kak selvi kemudian dengan wajahnya yang terlihat semakin bete kuadrat.

Hampir setengah jam aku, kak selvi dan kak nanda menunggu di sebuah cafe di kawasan majalengka. Kak selvi menangis tanpa bercerita padaku atau pada kak Nanda. “Ish ada apa sih kak? pulang yu” rengekku. “Sana kalo mau pulang, naik angkot” jawab kak selvi dengan nada kesal. “Kamu kenapa sih, ditanya gak jawab. Malah marah sama sheryl” kak Nanda membelaku. Ini adalah bagian dari kejutan.

Lalu 6 orang sahabat kak selvi datang, memarahinya di depan umum di dalam cafe. Kak selvi hanya menangis, awalnya tak menjawab. “Aku gak pernah ngomong itu, seriusan” ujar kak selvi yang mulai membuka suara. kak selvi mencoba menjelaskan pada sahabat-sahabatnya, hal yang sebenarnya tak perlu dijelaskan. kak selvi sibuk melempar kata-kata bernada tinggi dengan sahabat-sahabatnya. Kak Nanda kemudian membawa kue ulang tahun ke mobil yang terparkir di depan. Beberapa menit kemudian, serempak kami menyanyikan lagu happy birthday. Kak selvi menangis sesegukan, kali ini menangis bahagia dan mungkin ada sedikit rasa kesal. Semuanya adalah bagian dari kejutan.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany

Cerpen Bagian Dari Kejutan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara Ayah, Ibu, Dan Anaknya

Oleh:
Seperti pelangi menunggu hujan reda, itulah sebuah gambaran perasaan Puput Sri Asrianti perempuan cantik beranak satu, ia dengan setia memandang langit Kota Makassar menunggu dengan sabar sang suami pulang

Menolong Tanpa Pamrih

Oleh:
Sikap tolong menolong, memang memberikan dampak positif bagi pelakunya. Siapapun yang telah menolong dia akan mendapatkan pertolongan dari orang lain walaupun bukan dari orang yang ditolongnya. Seperti yang dialami

Percayalah

Oleh:
Sayup-sayup sorotan cahaya itu mulai tampak di antara ribuan uapan air laut yang akhirnya menjadi rintikan air hujan. Sorotan cahaya itu tampak segera menghindar dan meneduh di teras rumah

Akhir UAS

Oleh:
“Selamat tinggal Ulangan Akhir Semester satu… bye…!!!” itulah kata terakhir yang aku ucapkan setelah selesai UAS. Ulangan UAS bikin aku jengkel. Mungkin kalau orang lain ditanya mana ulangan yang

Petualangan Aneh

Oleh:
Satu, dua, tiga… Cerita dimulai! Siang hari nampak terik. Satria melangkah menuju dapur. Dia lihat banyak sekali makanan enak. Bu Ratna ibu Satria memang pandai memasak. Tapi perut Satria

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *