Bahagia Itu Indah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 May 2018

Saudara. Itulah kata yang mengadung penuh cinta dan kasih sayang. Saudara. Dimana kita bisa saling melindungi. Saudara. Benteng untuk dendam dan benci. Itulah makna saudara. Tapi tidak dengan pendapat Naha. Gadis berusia 17 tahun. Yang sejak kecil ditinggal mamanya. Mamanya meninggal dunia 10 tahun lalu, karena penyakit jantung. Sejak kepergian mamanya, ia hanya hidup dengan papanya. Pak Brabas Affandar. Dan diusianya yang ke-16 tahun papanya memutuskan untuk menikah lagi. Ia tak pernah setuju dengan keputusan papanya. Ia tak ingin mamanya tergantikan oleh perempuan lain. Tapi papanya tetap bertekad meyakinkan Naha. Bahwa ia juga butuh kasih sayang seorang ibu. Akhirnya Naha setuju, alasannya ia tak mau dipaksa terus oleh papanya. Selain kehadiran mama baru, Naha juga kehadiran saudara baru. Gadis cantik, lembut, dan juga manis. Yang seumuran dengan Naha. Kina namanya. Mereka satu SMA. Tapi Naha tak pernah berbicara dengan Kina. Bilapun mereka berbicara itu hanya sebentar dan singkat. Naha tidak suka dengan Kina, bahkan mama Kina. Yang kini menjadi mama Naha juga.

Pagi saat sarapan… Naha turun ke meja makan. Di sana sudah ada papa, mama, dan Kina.
“Naha. Ayo sarapan sayang! Mama udah masakin sarapan yang enak loh”
Naha tetap diam dan meminum jusnya dengan berdiri.
“Naha! Jawab donk tawaran mama, jangan diem aja!” perintah papanya.
“Aku nggak peduli! Ingat ya pa, aku nggak pernah mau menganggap mereka. Dan dia bukan mama aku!”
“Naha! (sambil berdiri menggebrak meja). Jaga omongan kamu!”
“Kenapa pa, papa marah? Terserah, papa juga nggak peduli sama aku. Papa cuma peduli sama mereka”
“Naha, kamu jangan ngomong gitu!” ucap Kina.
“Diam lo! Nggak usah ikut campur!”
“Naha, kenapa kamu jadi kasar gini nak?” keluh papanya.
“Papa tuh seharusnya udah tahu kenapa aku jadi kayak gini”
Naha keluar dan tidak mempedulikan mereka.

“Mas, maafin saya mas. Karena kehadiran saya dan Kina yang membuat Naha jadi kayak gini!”
“Nggak! Ini bukan salah kamu Ratna. Ini memang salah aku sendiri. Jadi aku mohon kamu dan Kina jangan merasa bersalah”

Di sekolah, SMA Adi Wijaya…
“Eh, tuh liat si cewek preman dateng!” ucap cewek bernama Steffa, saat melihat Naha datang.
“Iya, liat gaya jalannya aja kayak anak cowok! Pantes deh jadi preman!” tambah Ania
“Preman Pasar” celetuk Angel
Mereka bertiga tertawa puas. Mereka bertiga adalah geng. Yang ada di pikiran mereka hanyalah, merekalah cewek paling cantik. Cewek paling hits. Cewek yang selalu dikejar-kejar cowok ganteng.
“Kalian nggak punya kerjaan ya selain ngatain orang?”
“Eh, siapa nama lo? Na… Naha! Gue nggak ngatain kok emang lo tuh kayak preman!”
“Ha… Ha… Ha….!” tawa mereka.
“Iya, gue preman pasar… kalian yang ngemis-ngemis di jalanan” ucap Naha lalu pergi.
“Ihh… dasar ya lo, awas aja kalo ketemu!” balas Steffa
“Iuhh, kita ngemis-ngemis di jalanan. Nggaklah yauw…” kata Angel
“Secara kita anak pengusaha dan orang kaya” sombong Ania

Saat di jalan menuju kelas… Naha tak sengaja menyenggol seseorang.
“Eh, sorry. Gue nggak sengaja” pinta Naha
“Iya. Nggak papa” balas Andra, si cowok paling keren di SMA. Dan paling banyak yang nge-gebetin. Khususnya cewek-cewek kayak gengnya Steffa.
“Lo itu si…?”
“Cewek preman!” jutek Naha
“Bukan gitu maksud gue!”
“Udahlah, terus terang aja. Nggak usah pake basa-basi!”
“Sorry! Gue Andra!” Andra mengulurkan tangannya.
Tapi tak dibalas oleh Naha. Naha malah ingin pergi.

“Eh tunggu” Andra menghadang Naha.
“Apaan sih lo?” sambil mendorong Andra.
“Jadi cewek jangan kasar gitu donk!”
“Mau lo apa?”
“Cuma pengen tau nama lo aja!”
“Naha!”
“Naha siapa?”
“Naha ya Naha!” bentak Naha
“Nama lengkap!”
“Huh… ganggu aja, Jenaha Affandar!”
“Namanya sama kayak gue!”
“Nama lo kan Afandra Arnawarman! Ya jelas nggak samalah!”
“Lo tau nama gue?”
“Udahlah, sana!”
Naha segera pergi dari Andra.

Pulang sekolah….
Kina berjalan menuju parkir depan. Tidak sengaja ia bertemu gengnya Steffa.
“Eh… ada Kina nih. Lo tau nggak lo tuh beda banget sama saudara tiri lo itu!” kata Angel.
“Lo itu ya, cantik, lembut, manis, lugu, sopan” ucap Steffa
“Iya, betul itu. Kalo dibandingin sama siapa tuh… preman pasar. Ya beda jauhlah!” tambah Aina
“Maksud kalian, Naha?”
“Kalo bukan dia… siapa lagi!”
“Kalian jangan keterlaluan menghina Naha. Dia itu nggak seperti yang kalian pikirin!”
“Maksudnya? Dia lembut, manis, cantik gitu? Ya nggak mungkinlah”
“Kita nggak bakal percaya!”
“Bye dulu ya… Kina!”
Mereka pun pergi.

“Kenapa sih semua menganggap Naha itu anak yang kasar?” tanya Kina pada dirinya sendiri.
“Nggak kok! Nggak semua orang beranggapan gitu. Aku menganggap kalo Naha itu orang baik!”
Kina langsung berbalik.
“Bener? Kamu menganggap Naha baik?”
“Iya. Aku dulu waktu SMP pernah sekelas sama Naha. Dan aku pikir Naha anak yang baik, suka nolong orang lain, dan sering berbagi!”
“Apa? Kamu temen SMPnya Naha?”
“Iya. Aku Dino!”
“Kina!”

Saat di taman belakang sekolah. Tepatnya setelah semua siswa sudah pulang. Naha duduk sendiri di bangku taman. Menyendiri dalam keheningan.
“Naha! Ini untuk kamu!”
“Apaan sih lo Kina? Buat apa coba, ngasih kotak… hadiah… nggak berguna kayak gini!”
“Aku ngasihnya tulus sama kamu Naha! Karna pagi tadi aku merasa bersalah sama kamu!”
“Tulus? Lo udah hancurin hidup gue, bisa-bisanya lo ngasih gue hadiah. Gila ya lo!”
“Naha! Lo jangan ngomong sembarangan. Ini saudara lo!” tiba-tiba Dino datang bersama Andra. Sejak pertama masuk SMA Dino dan Andra sudah bersahabat.
“Ngapain lo ikut campur!”
“Di sini gue mau nyadarin lo kalo bukan Kina yang buat hidup lo hancur. Tapi justru lo sendiri penyebabnya!” ucap Dino.
“Lo tuh tau apa sih? Lo nggak tau apa-apa”
“Naha, maafin aku!”
“Maaf-maaf, bisanya cuma ngomong doank. Udah nggak nyadar diri, nggak punya malu, suka hancurin hidup orang. Seandainya gue nggak pernah ketemu lo. Gue bakal seneng banget, Kina! Dan gue jadi orang paling beruntung sedunia.”
“Naha!” Kina mulai meneteskan air mata.
“Udahlah, No… Naha biar gue yang urusin!” bisik Andra ke Dino.
“Ayo, Kina kita pergi!”
“Tapi Dino, Naha gimana?”
“Udahlah!”
“Baguslah kalo lo pergi” kata Naha.
Kina dan Dino telah pergi.

“Naha, (Andra duduk di samping Naha). Menurut lo, apa arti bahagia?”
“Nggak ada artinya”
“Coba deh pikirin lagi. Tapi antara pikiran dan hati lo jadi satu!”

Beberapa saat kemudian…
“Bahagia itu sederhana, dengan melihat orang yang kita sayang bahagia. Itulah kebahagiaan. Ketika kita melihat orang lain tersenyum bahkan tertawa, itulah bahagia. Disaat kita berani berkorban untuk orang lain, itulah bahagia”
“Jadi…?”
“Jadi, apa?”
“Lo bilangkan, kalo bahagia itu ketika melihat orang lain tersenyum, tertawa, senang. Tadi lo lihat Kina tersenyum nggak setelah lo bentak-bentak?”
Naha menggeleng.
“Coba lo pikir lagi, berapa kali lo bentak Kina?”
Naha terdiam.
“Banyak kan? Setelah lo bentak dia, apakah lo bahagia? Apakah lo puas?Lo nggak melihat dia sengsara! Ataukah lo malah melihat dia tersenyum?”
“Saat papa lo sama mamanya Kina menikah, lo lihat papa lo bahagia?”
“Iya! Bahkan sangat bahagia!”
“Papa lo adalah orang yang paling lo sayang. Dan papa lo bahagia saat menikah dengan mamanya Kina. Apa lo nggak bahagia melihat papa lo, orang yang paling lo sayang bahagia?”
“Gue… cuma… nggak ikhlas aja, papa mmenemukan pengganti mama kandung gue!”
“Apakah dengan menikah sama mamanya Kina… papa lo melupakan mama kandung lo? Enggak Naha, papa lo sayang banget sama mama lo. Saking sayangnya, papa lo mencari pengganti mama lo, cuma buat bahagiain lo. Kalo lo bahagia, almarhum mama lo pasti bahagia. Papa lo pengen, lo merasakan kasih sayang seorang ibu lewat mamanya Kina”
“Tapi kenapa gue tetep benci sama Kina dan mamanya?”
“Karena lo… belum buka isi hati lo!”
Beberapa saat, keheningan di antara mereka.

Naha menatap Andra.
“Makasih Andra!”
Naha bangkit dan pergi meninggalkan Andra.
“Sama-sama…. Naha!” sambil tersenyum.

Saat di rumah, Naha berjalan melewati pintu menuju ruang tengah. Di sana ada papa dan mama Naha sedang minum kopi.
“Naha, kamu udah pulang?” senang Kina.
“Papa. Ma… mama… dan Kina. Aku sadar, semua yang aku lakuin selama ini salah. Aku egois. Aku cuma mikirin diri aku sendiri. Aku nggak pernah mikirin kebahagiaan orang lain. Dan aku nggak pernah mau nerima kalian di rumah ini. Aku nggak pernah bersikap baik sama kalian. Kalian mau maafin aku!”
“Naha, kamu serius bilang gitu!” tanya papa Naha, yang kaget.
“Naha!” ucap mama Kina sambil menangis memeluk Naha. Sedangkan Kina tersenyum bahagia di samping papanya.

Hari-hari Naha lewati bersama Kina. Berangkat bareng. Pulang bareng. Main bareng. Ketawa bareng-bareng.
“Naha, kamu janji nggak akan ninggalin aku sendiri?”
“Iya, aku janji… Kina. Aku akan buat kamu selalu bahagia! Itulah tandanya saudara.”

Tiba-tiba…
“Nah, gitu donk! Kalo baikan jadi enak ngeliatnya!” ucap Dino yang datang bersama Andra.
“Makasih Andra, kamu udah nyadarin aku tentang kebahagiaan!” ucap Naha.
“Iya Naha, sama-sama!” tersenyum pada Naha.
Lalu Kina dan Dino berdehem bebarengan.
“Apaan sih kalian?” jengkel Andra.
“Tau, tuh!” tambah Naha.
Kina dan Dino langsung tertawa. Naha dan Andra pun ikut tertawa.

Cerpen Karangan: Binti Lestari
Blog / Facebook: Lestari Jiyong

Cerpen Bahagia Itu Indah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Soal UAS

Oleh:
Terlihat ada kerumunan siswa siswa di depan ruang guru SMP Ricci pagi ini. Mereka terlihat mencoba mengintip ke dalam ruang guru untuk melihat apa yang sedang terjadi. Alex yang

Tunas Kelapa Panduku

Oleh:
Hari Sabtu, tepatnya pukul 12.30 saatnya Gerakan Pramuka pulang. Nampak pula seorang anak yang bernama Permata yang sudah lelah dan letih itu terus saja berjalan menuju rumahnya yang agak

Sekilas

Oleh:
Sejenak ku luangkan waktuku untuk mengulang kembali rutinitas ini lagi. Ya, melukis. Dimulai dari menggoreskan setitik cat hitam pada kuas ini ke kertas kanvas tepat di hadapanku. Perlahan ku

Aku Rindu

Oleh:
Debu-debu berserakan, seakan menjadi penghias di kampung sudut kota. Menuangkan diri ke suasana desa yang cukup ramah dan penuh kesunyian. Entah apa yang para penduduk itu lakukan, mungkin sebuah

Cinta di Ujung Purnama

Oleh:
Cinta. Tak seorang pun tahu kapan ia akan merasakan nya, dengan siapa akan menjalaninya, dimana ia mendapatkannya dan bagaimana ia merasuk ke dalam hati. Mengusik usik otak ini, sehingga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *