Bahagia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 31 October 2014

“Kalau itu yang mau kamu, ya sudah silahkan angkat kaki dari rumah ini!!”
“Maafin Kiki Pi, Tapi Kiki tidak bisa menikah dengan wanita pilihannya Papi”.
“Sudahlah Ki, papi sudah tidak mau mendengar satu kata pun dari mulutmu itu”.
“Maafkan Kiki Pi, Kiki pergi!!”
Kiki pun berjalan keluar menuju pintu rumah. Hana pun mengejar Kiki.
“Mas jangan pergi! Kalau Mas pergi nanti aku mainnya sama siapa!!”
“Kamu kan bisa main sama bibi, Han mas boleh minta tolong ngak?”
“Apa?”
“Tolong jangan pernah sekalipun kamu melakukan hal yang sama seperti yang mas lakukan saat ini. Tolong jagalah Papi dan Mami, buatlah mereka selalu bahagia. Tanpa Mas kalian harus terus menjadi keluarga yang bahagia”
“Tapi Mas”
“Mas pergi dulu y…”
Kiki pun memeluk serta mencium adiknya yang masih berumur 7 Tahun itu.

10 Tahun kemudian.
“Nona Hana bangun… bangun sudah jam berapa iniii”
Hana segera terbangun setelah mendengar suara Bik Jum nan merdu upssss maksud gue cempreng memanggil namanya.
“Ya… YA nih gue bangun”

Setelah mandi, memakai baju, berias akhirnya Hana siap untuk turun ke ruang makan. Saat berjalan hendak menuju ruang makan tak sengaja Hana melewati kamar Mami. Dia melihat Mami sedang memandangi sebuah lukisan yang dia buat untuk Mami. Lukisan itu adalah gambar Hana dan Mas Kiki waktu Hana masih 7 tahun.
“Kasihan Mami..”
Karena tidak ingin mengganggu Maminya, akhirnya Hana lanjut pergi ke sekolah langsung..

Sesampainya di sekolah Hana langsung melangkahkan kakinya menuju kantin, maklum dia kan belum sempat sarapan tadi pagi. Tiba-tiba saja nafsu makannya langsung menurun gara-gara dia melihat Sandi sang idola sekolah sedang berada tepat di seberang meja makannya.
“Nafsu makan gue langsung hilang gara-gara ngelihat manusia landak pagi-pagi”.
“Loe ngeledek gue!!”
“emangnya siapa lagi manusia landak di sekolah ini selain loe?”
“Gue lagi ngak mood berantem ama loe, apa loe ngak bosan udah hampir 3 tahun sejak kita masuk sekolah ini berantem mulu”.
“gue juga udah bosan tauuu!!”
Hana langsung berdiri dari kursinya lalu pergi meninggalkan Sandi dan melanjutkan perjalanan meuju kelasnya tercinta.

“Coba gue tebak loe pasti habis ketemu sama pangeran Sandi?”
“Ya iyalah, siapa lagi yang bisa ngebuat gue bete!! Dan stop manggil Sandi PANGERAN”.
“Tapi kan dia emang Pangerannya sekolah ini, udah ganteng, populer, anak keluarga tajir plus terkenal lagi!!”
“Ada lagi?”
“Jago nyanyi lagi”.
“Tambah pusing gue ngelihat loe semua..”

Jam pulang sekolah Hana dipanggil oleh kepala sekolah.
“Selamat siang Pak!!”
“Siang, silahkan duduk Hana”
“Ada gerangan apa ya bapak manggil saya!”
“2 Minggu lagi akan diadakan lomba melukis antar sma Se DKI Jakarta”.
“Saya mau ikut kok Pak”.
“Kamu ngak keberatan? Sekarang kan kamu sudah kelas 3?”
“Ngak kok Pak, Saya masih tercatat sebagai siswa sekolah ini untuk itu saya masih berkewajiban untuk membanggakan sekolah ini pak”.
“Terima Kasih Ya Hana. Oh ya salah satu persyaratan lombanya, Lukisan yang kamu buat harus berlatarkan sekolah ini”.
“Sip… Sip Pak”.

Malam Harinya.
Hana sedang membaca sebuah novel di kamarnya, tiba-tiba Papinya masuk.
“Han”
“Ada apa pi?”
“Mau ikut ke pesta ulang tahun temannya Papi?”
“Kalau Mami ikut aku juga ikut”
“tenang aja Mami kamu ikut kok”
“ok deh kalau gitu aku siap-siap dulu ya”.

Keluarga kecil ini akhirnya datang ke sebuah rumah megah yang berada tidak jauh dari rumah mereka.
“Selamat Datang Mas Herman”.
“Selamat ulang tahun ya Nik”.
“Terima Kasih ya Man”.
“Perkenalkan ini istri dan anak saya Hana”.
“Wah anak sama istrinya cantik ya”
“Makasih OM”.
“Nah ini Sandi anaknya Om, ngak kalah gagah kan sam Om”.
“Loeee!!!”.
“Papa kok ngak bilang-bilang ngundang nih curut sih”.
“Kalian udah kenal ya? Bagus deh kalau gitu”.
“Kalian pasti satu sekolah?”.
“Iya Om”.

Semua orang sedang bersenang-senang di ruangan pesta, tapi Hana malah milih ke lapangan basket mini dibagian belakang rumannya Om Niko. Tak disangka ternyata disana ada Sandi yang sedang Main Basket.
“San ikuttan dong”.
“Loe mau main basket pakai sepatu tinggi kayak gitu?”
“Ok gue lepas deh sepatunya”.
Tumben-tumbennya mereka akur main basket bareng, walaupun keduanya bisa dikategorikan ngak jago-jago amat main basket tapikan tema main basket malam ini Cuma Seru-seruan doang kok. Akhirnya mereka lelah bermain dan memilih untuk beristirahat di tepi lapangan basket.

“loe dan keluarga loe kelihatan begitu dipenuhi kebahagiaan beda sama keluarga gue yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing”.
“Loe salah, keluarga gue cuma covernya doang bahagia tapi isinya hanya air mata nyokap gue”
“Kalau gitu kita senasib deh!”
“Ngak juga, keluarga loe masih lengkap. Tapi gue harus kehilangan seorang abang karena keegoisan Papi”.
“Ngak nyangka gue gadis kayak loe punya derita hidup kayak gini”.
“Jangan lebay deh”.

Keesokkan Harinya.
Hana sedang berjalan menuju mobilnya, tiba-tiba saja dia melihat Sandi sedang bernyayi sambil bermain gitar di taman sekolah.
“Gue ngelukis nih orang aja deh!”
Akhirnya Hana memilih untuk melukis Sandi sebagai lukisan yang akan perlombakan.

2 Minggu Berlalu akhirnya.
Hana dan teman-temannya sedang berada di depan Galeri lukisan tempat semua lukisan perlombaan ditampilkan. Hana sedang melihat sebuah Banner yang menuliskan nama semua juri perlombaan itu. Hana langsung tersenyum bahagia saat ia Melihat Nama Kiki Jashan, abang yang telah menghilang selama 10 tahun ini.
“Yuk Masuk, ada orang yang harus gue temui…”
Hana dan teman-temannya sedang berkeliling di galeri tersebut. Sampailah Hana di lukisannya sendiri. Tiba-tiba saja seorang pria berjas berdiri di sebelah Hana sambil memegang sebuah blangko penilaian.
“Suatu kehormatan lukisan saya bisa dinilai oleh salah seorang pelukis hebat”.
“Jangan terlalu berlebihan”.
“Masss”.
Mendengar kata-kata itu Kiki langsung teringat melihat nama pelukis lukisan tersebut ternyata ia melihat nama adiknya Hana.
“Hanaaa”
Kiki Langsung memeluk adik yang ia sayang itu.
“Mas pulang… Pulang Mass!! Kasihan Mami tiap hari saat dia sendiri dia selalu nangis sambil memandangi lukisannya Mas Kiki”.
“Mungkin memang sudah saatnya Mas Pulang”.

Malam Harinya
Hana dan Kedua orangtuanya sedang makan malam. Tiba-tiba saja Bibik datang.
“Maaf pak ada tamu, yang ingin bertemu dengan Nyonya besar!”
“Suruh saja dia masuk!”
Muncullah Mas Kiki
“Kikiii”.
“Mami”
Kiki langsung memeluk Maminya, tapi Papi hanya memilih pergi meninggalkan ruang makan.
“Sayang Mami mohon susul Papi kamu dan bicaralah dengannya”.
“Baiklah”.

Kiki menyusul Papinya ke ruangan kerja Papinya..
“Pi akuuu..”
Tanpa mendengar lanjutan kalimat Kiki Papi langsung memeluk Kiki.
“Maafkan Papi ya Ki, keegoisan Papi telah membuat keluarga ini hancur”.
“Maafin Kiki juga ya pi Kalau aku punya salah!”
Hana hanya bisa melihat kejadian itu dari balik pintu.
“Keluarga ini pun kembali bahagia!!!”

Keesokkan Harinya di sekolah.
Hana sedang berjalan menuju kelasnya, tiba-tiba saja Sandi Datang menghampirinya.
“Kok loe ngak bilang kalau loe jadiin gue objek lukisan loe?”
“Maaf deh”.
“Tapi loe menang kan?”
“Cuma juara 2”.
“Kalau gitu loe harus traktir gue…”
“Ya deh, karena gue udah mau traktir loe kita damai ya?”
“Boleh deh!!”

TAMAT

Cerpen Karangan: Clara Robert Pangestu
Blog: Clarapangestu.blogspot.com
@ClaraPangestu

Cerpen Bahagia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setitik Kenyataan Dalam Sebuah Mimpi

Oleh:
Ku jatuhkan tas besarku ke lantai. Ku rebahkan tubuhku di sofa ruang tengah. Punggung terasa pegal seperti habis membawa berkilo kilo batu. Sore ini aku benar-benar di gembleng dalam

Pelukan

Oleh:
Bahagia bukan kepalang jika seorang laki-laki dan perempuan yang dijalin hubungan suami istri mempunyai buah cinta. Apalagi buah cinta tersebut merupakan pertama kalinya yang lahir ke dunia. Suara azan

Aku Ingin Emak Masuk Surga

Oleh:
Hiks… hiks… Kulihat emak terisak di tepi ranjang di kamarnya, Aku tidak tahu apa gerangan yang membuatnya menangis sore ini. Kubiarkan dan Aku berlalu masuk ke kamarku, tentunya sambil

Kebahagiaan di Batas Maut

Oleh:
Keysha cawek cantik, bermata jernih, berambutnya lurus indah melambai-lambai jika terkena angin. Dia tumbuh di keluarga sederhana. Semenjak kecil hingga menginjak dewasa dia tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *