Bayang Bayang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 February 2017

TIN-TIIINNN!!!
Ckiiiittt
BRUAGH!!

Disinilah aku. Berdiri di samping sesosok gadis yang tergolek lemas di tengah jalan. Dengan darah segar yang terus mengalir dari kepala dan tulang-tulangnya yang patah. Setelah sebuah mobil yang tengah melaju kencang menabraknya hingga terpental beberapa meter jauhnya. Terlihat dari sini, sebuah pohon ambruk dan menimpa mobil sedan hingga remuk. Meninggalkan aliran darah yang mengalir dari orang di dalamnya; cukup setimpal dengan apa yang ia perbuat kepada gadis di hadapanku ini. Mengingatkanku akan kejadian 3 bulan lalu. Di detik-detik terakhirku bersamamu, Dinda..

Flashback
“Rin, aku capek..” Gendang telingaku menegak saat sebuah suara akhirnya keluar dari anak yang duduk di sampingku.
Oh, syukurlah.. Setelah sekian lama diselimuti keheningan, akhirnya Dinda mau bicara juga. Membuat kekhawatiranku lenyap.
“Capek kenapa Din?” Tanyaku sembari tersenyum lembut, meskipun Dinda tak akan bisa melihatnya karena kepalanya terselip di antara lengannya di meja.
“Aku capek, Rin.. Capek banget..” Jawab Dinda dengan suara parau.
“Ya siapa coba yang gak capek dipuji-puji, trus dapet piala tiap hari,” Gurauku sambil tertawa renyah, berusaha menghibur hatinya-
“Capek banget.. hiks”
-atau malah menambah kesedihannya.
“Rin, asal kamu tau, lebih baik aku jadi anak paling bodoh sedunia, asalkan mama-papa bisa sayang sama aku,”
Astaga.
“Sedetik saja..” Lanjutnya, hampir tak terdengar.

Aku diam terpaku. Mencerna kata-kata Dinda yang serasa tak masuk akal bagiku.
Dinda.. Gadis ceria, murah senyum dan ramah. Predikat cerdas melekat di namanya yang sudah terkenal di seluruh sekolah. Bahkan semampukupun, aku tak bisa merebutnya hingga hanya menjadi yang kedua.

Sedetik saja dia bilang, Jadi selama ini apa? Perlu kuakui, akting dan topeng wajahmu itu patut diacungi jempol. Sampai-sampai sahabat sejatimu ini tak mengenalinya sama sekali.

“Dinda, jangan ngomong gitu.. Coba liat yang udah kamu dapet. Semua piala, tawaran beasiswa, pasti orangtua kamu bangga..”
Bungkam dan Murung, itu yang dihadiahkan Dinda kepadaku. Jika saja aku bisa menangkap sinyal itu.. Jika saja aku tau arti dari kebungkamanmu..

“DINDA, AWAAAAS!!!”
TIN TIN TIIIIN
BRUGH!

Pasti saat kini.. kita masih bersama.

Anyir darah menyeruak di tengah suasana yang sepi. Terbawa angin malam seiring cairan merah meluas melukis jalan.
Kunang-kunang terbang di pinggir trotoar. Menuntun tapak kaki seorang wanita untuk mendekat.

“haah..”
Kaget, itu yang kulihat dari raut wajahnya. Mata dan bibirnya terbuka. Badannya bergetar. Bahkan tas kerja di bahunya jatuh di atas jalan. Ia berjalan mendekati memdekati aku dan gadis di depanku dengan tergopoh. Memaksa kedua kakinya yang bergetar untuk berjalan.

Bruk
Dan ia pun jatuh terduduk di samping jasad kaku sang gadis. Tangannya kini terulur. Mencoba menggapai tangan gadis itu dengan gemetaran.

Krek
Jari-jari mungil itu gemeretak saat terangkat. Membuat wanita yang berusaha menggengam tangannya beku di tempat.
Panik, pasti wanita itu merasakannya. Di tengah malam buta, disaat dirinya harus pulang demi sang putri, dia malah menemukan sesosok gadis bersimbah darah. Mengingatkannya akan sang buah hati yang membuatnya tetap tegar meski ditinggal sang suami.

Mencoba tenang, wanita itu mendekatkan jemarinya untuk menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah gadis malang tersebut. Helaian hitam itu perlahan tersingkap. Menampakkan wajah yang membuatnya seketika mematung di tempat.
Gugur sudah harapannya selama ini.

Sosok ini..
Seorang gadis terbujur kaku karena tak kuat menerima beban disaat namanya yang terkenal di sekolah.
Gadis rapuh yang tak kuasa menanggung kerinduan hangatnya sebuah keluarga.
Sahabat setia yang begitu kehilangan teman baiknya.
Gadis yang tak kuasa menanggung semuanya dalam kebungkaman..
Akhirnya memutuskan bunuh diri.
Menerjang mobil bersopir mabuk, dan kini ia tergeletak tak bernyawa. Buah hatinya. Anak sematawayangnya..

Aku mulai beranjak, membalikkan badan. Melangkah pergi meninggalkan wanita yang sangat terguncang itu sendirian.
Hanya ditemani sang buah hati yang kini tengah tertidur lelap selamanya.

Kakiku berjalan hampa. 2 mataku bergulir menatap jalan yang kutapaki.
Kosong.
Tanpa segorespun bayangan menaungi keberadaan tubuhku.
Cahaya-cahaya mungil tiba-tiba mengelilingiku, membuatku terkejut.
Ah, benar.. Ini saatnya. Aku tau alam berkehendak membawaku ke sana.

Cahaya ini semakin merapat ke tubuhku. Sebentar lagi..
Aku berbalik. Menatap wanita yang sedang meraung-meraung sembari mendekap jasad anaknya di seberang sana.
Bibirku mulai bergumam. Sebelum akhirnya tubuhku lenyap.

Maafkan aku…

“AIRIIIIIN..!!!”

Ibu..

Cerpen Karangan: Lusi Andreana
Hay.. Aku masih baru di sini. Jadi masih belum tau apa2. Mohon bantuannya yaaah^^
#perkenalanmainstream

Cerpen Bayang Bayang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Need You

Oleh:
Namaku Kennie, seorang gadis remaja yang bersekolah di SMPN XX-1, sekolah favorit di sebuah kota kecil di wilayah Jawa Timur. Kata teman-temanku, hidupku yang bergelimang harta dan uang ini

Seseorang Di Atas Loteng (Part 4)

Oleh:
Jajaran porselen mahal yang tersusun rapi di dalam lemari, sofa-sofa besar, dan wallpaper-wallpaper cantik yang menghiasi dinding, sedikit demi sedikit mulai kehilangan keindahannya. Beberapa serpihan kaca kecil jatuh di

Surat Yang Tak Tersampaikan

Oleh:
Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya. Entah kenapa tidak ada yang membuatku tertarik untuk keluar, selain mencoret coret kertas di hadapanku dengan sebuah drawing pen. Sambil menegak

Mimpi

Oleh:
“ah, mimpi itu hanya bunganya tidur, dan gak ada di kenyataan hidup kita” Begitulah komentar Anis setelah mendengarkan cerita mimpi yang aku alami semalam tadi. Entalah, aku merasakan ada

Kelakuan Gue

Oleh:
Kenalin, nama gue Uyiz Dofukizi, murid SMP, dimana SMP itu mempunyai kesamaan seperti layaknya sinetron-sinetron zaman sekarang, yaitu motif baju yang selalu sama seperti hari kemarin dan sampai seterusnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *