Beautiful Life (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 April 2013

Sama seperti kalian semua… Aku terlahir sebagai anak perempuan, normal dan sehat. Aku tumbuh di keluarga yang berada. Papaku adalah seorang politikus dan ia bergabung dengan salah satu partai besar yang berada di Negeri ini. Mamaku seorang ibu rumah tangga yang merangkap sebagai pengusaha Agen minuman ringan yang terbesar di Pasar Senen pada saat itu. Agen minuman Mama sangat laku terjual, setiap hari Mama sibuk memasokan berbagai macam minuman ke warung-warung kecil, ke restorant-restorant hingga ke Hotel-hotel besar. Walaupun sangat sibuk Mama tetap memperhatikan anak-anaknya dan Suami yang sangat di cintainya.

Namaku Dina, aku tumbuh besar pada Era 80-90an menjadi anak kedua dan di besarkan oleh orang tuaku adalah sebuah anugerah yang sangat berarti bagiku. Aku mempunyai Kakak Perempuan bernama Ira dan seorang Adik laki-laki bernama Rudy. Jarak kami bertiga tidaklah jauh. Kami bertiga seperti teman yang seusia. Berbeda dengan Ira yang bertubuh langsing dan sangat cantik, Ia selalu menjadi rebutan cowok-cowok di sekolahannya. Sedangkan aku tumbuh sebagai anak perempuan yang berbadan tambun alias gendut. Aku selalu menjadi bahan olok-olokan teman laki-lakiku di sekolah. Yaa… menjadi Objek penderita adalah makanan aku sehari-hari, berbagai julukan datang kepadaku seperti gentong, broduser sampai benda-benda yang berukuran jumbo mereka memanggiku.

Papa yang selalu membesarkan hatiku jika aku bersedih. Papa berkata “Dina kamu anak Papa yang paling cantik dan pintar. Kamu selalu mendapat peringkat pertama di kelas. Papa sangat sayang sekali padamu, kamu harus buktikan pada dunia, meskipun kamu mempunyai kekurangan tetapi kamu harus bisa menghasilkan sesuatu yang bisa di banggakan, supaya orang-orang akan berpaling dan berbalik mengaggumi kamu”. Itulah yang selalu Papa ucapkan untuk membuatku gembira kembali. Aku sangat dekat sekali dengan papa sampai-sampai kedua saudaraku kadang iri melihatnya. Jika di hari libur Papa selalu mengajakku pergi ke Toko buku dengan Mobil kodoknya. Ia membelikan ku berbagai macam buku dari komik-komik hingga buku pengetahuan. Selain mengagumi Papa, aku juga sangat mengagumi mobil VW kodok berwarna kuning miliknya. Kadang aku suka merengek padanya. Meminta agar ia berjanji kepadaku, jika aku besar nanti mobil itu harus diberikannya untukku. Papa selalu tersenyum dan ia berkata, “Papa akan menabung dan membelikan kamu sebuah mobil yang lebih bagus dari ini, jika kamu bisa menjadi anak yang dapat membanggakan orang tua”. Itulah kata-kata Papa yang selalu membuatku semangat dan lebih termotivasi lagi untuk menjadi yang terbaik.

Dunia pasar tidaklah asing bagiku, aku sudah terbiasa dengan hiruk pikuk kehidupan pasar. Bermacam-macam orang yang berlalu lalang disana. Dari seorang pembeli, penjual, pengemis, pencopet bahkan preman berkumpul menjadi satu di pasar itu. Sebagaian hidupku berada di pasar, bisa di bilang juga aku besar di Pasar. Karena sehari-hari sehabis pulang dari sekolah aku suka membantu Mama di Agen Minumannya. Kadang aku ikut dengan karyawan Mama mengantarkan minuman ringan ketempat-tempat tertentu dengan menggunakan mobil pick up milik Mama. Aku tidak malu berkeliaran dan bergaul dengan orang-orang pasar, bahkan aku mempunyai sahabat kecil disana yaitu seorang anak buruh pengupas bawang. Nani namanya perawakannya sangat kurus, wajahnya manis bila ia tersenyum. Aku selalu bermain bersamanya ke pelosok-pelosok pasar, walaupun aku anak dari keluarga yang berada aku sangat nyaman bermain di pasar yang terkadang sangat becek bila sehabis hujan.

Aku sangat menikmati masa kecilku di pasar hingga aku lulus dari SMU. Dengan nilai di atas rata-rata aku Lulus dari sekolah itu. Papa sangat bangga terhadap anak kesayangannya, aku pun dapat masuk ke peguruan tinggi yang sangat Papa harapkan tanpa ikut test terlebih dahulu seperti anak-anak yang lainnya, Aku menjadi anak kebanggaan Papa saat itu. Aku teringat di suatu sore sehabis pulang dari kuliah, aku di kejutkan dengan sebuah Sedan mungil yang terpakir di halaman rumah. Papa tertawa terbahak-bahak ketika melihat mimic wajahku yang kesenangan, sewaktu aku mendengar bahwa sedan hitam itu menjadi milikku sekarang, aku loncat-loncatan tidak karuan, lalu aku memeluk ia erat-erat. “Terima kasih Pap kataku sambil mencium pipinya”. Ternyata Papa tidak lupa dengan janjinya sewaktu aku kecil yang sering merengek-rengek minta mobil kodok miliknya.

Kejadian di dalam kehidupanku mulai terbalik 180 derajat disaat aku memasuki tingkat dua di perguruan tinggi. Malam itu Mama menjerit-jerit sambil menangis tersedu-sedu ketika mengetahui Ira yang telah berbadan dua. Yaa… Ira hamil di luar nikah dengan seorang preman berwajah tampan yang suka berkeliaran di Pasar tempat Agen Mama berada. Pukulan telak itu tepat menghujam ke jantung kami semua. Papa, Mama bahkan aku sendiri tidak mengetahui jika diam-diam Ira berpacaran dengan Irwan. Ira menangis meminta ampun kepada Mama dan Papa sedangkan aku hanya terpaku melihat keadaan orang tua ku yang terus menerus meneteskan air matanya. Mengapa Ira tega mengecewakan papa dan Mama. Mengapa bisa dengan Irwan seorang preman yang putus sekolah, suka memalak orang dan hobby berjudi? Sungguh aku sangat kecewa dengan apa yang dialami dengan Ira sekarang.

Rudy langsung berlari kepasar setelah mengetahui kejadian itu, ia marah dan mencari-cari Irwan untuk meminta pertanggung jawabannya. Tiba-tiba Irwan menghilang dan tidak ada yang tau ia berada dimana sekarang. Keluargaku terus-menerus mencarinya, gossip pun telah menyebar seantero pasar dengan judul yang berbunyi “Seorang anak pengusaha agen minuman hamil diluar nikah dengan seorang preman pasar” … hmmm itulah yang berada di benakku kala itu. Dua bulan sudah kami mencari-cari Irwan, tetapi Irwan sangat sulit untuk di temui, perut Ira pun makin membuncit. Mama sangat kebingungan dan sedih melihat anak kesayangannya. Urusan Agen pun di serahkan ke tangan Rudy yang di percaya Mama sedangkan aku disuruh berkonsentrasi dengan kuliah ku oleh Papa.

Di Minggu pagi itu aku terbangun dari tidurku ketika tiba-tiba aku mendengar suara teriakan Mama dan Ira. Aku terhentak kaget dan langsung berlari keluar kamar mencari keberadaan Mama dan Ira saat itu. Aku pun menangis ketika mendapati Papa tidak sadarkan diri di pangkuan Mama.
“Papa.. ja…jatuh, Din kata Ira sambil menangis tersedu-sedu”.

Rudy lalu menggendong Papa dan membawanya ke rumah sakit terdekat bersama ku. Papa terserang Stroek dan sebelah kiri tubuhnya lumpuh tidak bisa di gerakan lagi. Aku sangat terpukul dan sedih melihat keadaan Papa sekarang. Ia hanya bisa terbaring lemah dan tidak berdaya. Mungkin banyak hal yang di pikirkan oleh Papa sampai-sampai darah tingginya kumat dan ia terjatuh. Keadaan perekonomian keluarga kami pun terguncang pada saat itu. Ingin rasanya aku bekerja membantu orang tua ku, tetapi Mama selalu melarang dengan alasan hanya akulah anak mereka satu-satunya yang di harapkan untuk meraih gelar sarjana dan berpendidikan tinggi.

Waktu dan Konsentrasi Mama tersita untuk merawat Papa, untungnya ada Rudy yang mengambil alih semua pekerjaan Mama. Ira pun rela dan pasrah ketika ia di jodohkan oleh seorang pria yang sudah lama berkerja dengan Mama. Untungnya laki-laki yang bernama Wendy itu bersedia menikahi Ira yang sedang mengandung anak Irwan. Aku pun bisa sedikit bernafas lega dan berharap kehidupan Ira akan menjadi lebih baik bersama dengan Wendy kelak. Tetapi ada kejadian yang sangat menyiksa diriku kembali di saat itu sebelum Ira menikah. Bukan untuk diriku sendiri, tetapi juga buat Ira dan Rudy. Mama memanggil kami bertiga tepat seminggu sebelum pernikahan Ira. Dengan tetesan air mata Mama meminta maaf kepada kami, lalu ia bercerita bahwa kami bertiga bukanlah anak kandung Mama dan Papa. Kami di adopsi oleh mereka sewaktu masih bayi karena Mama dan Papa tidak bisa mempunyai anak setelah sepuluh tahun lamanya mereka menikah. Bagaikan tersambar petir aku mendengar pengakuan Mama, hatiku hancur, aku tidak berdaya. Ingin rasanya aku menghilang dari dunia ini. Kami berempat saling berpelukan dan menangis.
“Kalian bertiga tetap anak Mama dan Papa, kami berdua sangat sayang pada kalian. Mama dan Papa membesarkan kalian dengan penuh kasih sayang, kalian semua sudah seperti anak kandung bagi Mama dan Papa jelas Mama sambil bercucuran airmatanya”.

Rudy masuk kedalam kamarnya, entah apa yang ada di pikirannya saat ini, sementara itu Ira masih saja bertanya pada Mama di mana dia di adopsi dan siapakah Mama kandung dia yang sebenarnya. Diam-diam aku melangkahkan kaki ini keluar rumah, tampak tujuan aku berjalan di tengah malam. Pikiranku kalut, aku tidak bisa berpikir jernih sekarang. Hati ini pun juga bertanya-tanya, aku ini anak siapa? Dimana orang tua kandungku sekarang berada? apakah Mama mengadopsi ku di pasar? apakah nasib ku sama dengan Nani yang orang tuanya begitu miskin, yang hanya menjadi buruh pengupas bawang dan tidak bisa membesarkanku? Atau kah aku hanyalah anak haram yang tidak diharapkan oleh orang tua kandungku sendiri? Pantas saja diantara kami bertiga tidak ada yang mirip dengan Mama dan Papa, Yaa… Tuhan begitu banyak pertanyaan yang ada di benakku saat itu.

Ingin aku berteriak… Tuhan tidak adil padaku, Langkahku pun terhenti ketika aku tiba di pasar. Aku terpana melihat pemandangan di Pagi-pagi buta itu. Disana sudah sangat ramai, banyak pedagang-pedagang yang mulai sibuk mempersiapkan barang dagangannya, ada juga buruh-buruh pasar yang berlalu-lalang memanggul karung-karung yang sangat berat. Pengemis-pengemis yang sudah siap dengan rintihannya memohon bantuan, mungkin ada ratusan orang yang berada disana. Aku pun bertanya apakah salah satu di antara mereka yang berada di pasar ini adalah orang tua kandungku. Airmata ini menetes kembali, ribuan pertanyaan di benak ini belum bisa juga terjawab olehku. Tiba-tiba ada seorang gadis yang menegurku. Dialah Nani teman dekatku di pasar ini.
“Lho… Kok subuh-subuh gini sudah berada di pasar Din, kamu mau belanja? Tanya Nani bingung”.
Nani bertambah bingung ketika melihat mataku sembab, lalu ia merangkulku dan mengajakku kelorong lorong pertokoan yang berada di belakang pasar. Nani membelikan aku segelas teh hangat.
“Ini kamu minum dulu teh nya, biar badan kamu hangat kata Nani sambil tersenyum melihatku”.
“Terima kasih Nan, jawabku sambil mengambil gelas pemberiannya”.
“Kamu kenapa Din, pasti kamu kabur dari rumah yaa, kenapa toh? Kali saja aku bisa bantu kamu Tanya Nani”.
Aku menangis dan mulai menumpahkan perasaan ini kepada Nani. Kulihat Nanti hanya tersenyum mendengar curahan hatiku saat itu.

“Seharusnya kamu bersyukur toh sudah ada yang mau membesarkan kamu dengan kasih sayangnya kata Nani sambil membelai rambutku”.
Aku terpana mendengar perkataannya.
“Iyah… Walaupun mereka bukan orang tua kandung kamu, tetapi mereka sangat sayang sama kamu kan? Mereka membesarkan kamu, mendidik kamu, menyekolahkan kamu sampai tinggi seperti anak kandungnya sendiri. Lihat aku, sebenarnya aku sangat iri sama kamu yang bisa berpakaian bagus, makan dan tidur enak, bisa pergi kemana-mana dan tidak perlu repot-repot mengupas ribuan bawang sampai mata ini pedih serta memikirkan hari ini bisakah aku makan enak atau bisa kah aku beristirahat sebentar saja. Tiap hari aku harus berlomba dan tertarung dengan waktu serta tenaga untuk bisa hidup, bukan hanya aku saja tetapi aku juga harus memikirkan keadaan orang tua aku yang mulai tua dan adik-adik aku jelas Nani sambil memandangku”.

Yaa… Tuhan, mengapa seorang anak yang tidak pernah mendapatkan pendidikan sekolah itu bisa menjawab pertanyaan aku ini. Aku takjub memandang Nani. Aku langsung bersyukur pada Tuhan, dan aku cabut kembali perkataan bahwa Tuhan sangat tidak adil padaku setelah aku mendengar penjelasan Nani. Yaa… aku memang harus bersyukur selama ini aku bisa hidup enak dan nyaman. Seandainya saja aku tinggal dengan orang tua kandungku sendiri, belum tentu aku bisa sekolah, berpakaian bagus seperti apa yang di katakan oleh Nani. Mungkin suatu hari aku bisa menemukan orang tua kandungku dan aku dapat membantu kehidupan mereka, setidaknya aku harus berterima kasih karena mereka telah melahirkan aku dan menitipkan aku dengan sepasang suami istri yang bisa membesarkan dan mendidik aku dengan kasih sayangnya. Nani memberhentikan sebuah bajaj lalu ia meyuruhku untuk cepat pulang kerumah.
“Salam untuk Mama dan Papa kamu yaa, kalau ada waktu nanti aku datang kerumah menjenguk Papa kamu ujarnya sambil tersenyum lalu ia menutup pintu bajaj yang aku tumpangi”. Aku pun tersenyum sambil menganggukan kepalaku.

Setiba di rumah aku langsung melangkahkan kaki ini menuju kamar Papa. Aku membuka pintu kamarnya perlahan-lahan, ku lihat Papa sedang tertidur pulas diatas ranjangnya. Aku mendekati Papa dan duduk di tepi ranjang. Aku memegang dan menciumi tangannya, air mata ini pun bercucuran kembali. Aku berjanji akan melindungi dan menjaga Mama dan Papa. Aku akan menjadi anak yang dapat mereka banggakan, aku akan mencurahkan kasih sayang untuk mereka melebihi orang tua kandungku sendiri. Itulah janjiku pada mereka mulai saat ini. Tiba-tiba Mama menepuk bahuku dengan lembut. Ku lihat Mama sedang tersenyum padaku, ia mengusap airmataku lalu Mama memelukku erat-erat dan ia berbisik, terima kasih kamu sudah menjadi anak Mama dan Papa yang baik. Kami berdua pun saling berpelukan.

Seminggu kemudian pernikahan Ira dan Wendy berlangsung. Seorang Wali Hakim yang menikahkan Ira. Pernikahan itu sangat sederhana. Mama hanya mengundang beberapa teman dekatnya dan Saudara. Hari-hari sangat cepat berlalu, akhirnya aku lulus dari perguruan tinggi dan mendapatkan Gelar Sarjana dengan nilai kumlot. Mama sangat bangga padaku, ia yang mengantarkan aku ke acara Wisuda dan melihat aku berpidato di depan teman-teman berbicara tentang keberhasilanku yang meraih nilai tertinggi seuniversitas. Sepulang dari acara wisuda, masih dengan mengenakan Toga aku pun berjalan menuju kamar Papa. Aku sudah tidak sabar untuk memperlihatkan padanya jika saat ini anak kesayangannya sudah meraih gelar sarjana. Mata Papa berkaca-kaca ketika ia melihatku berpakaian Toga, aku duduk disampingnya. Aku berkata bahwa aku telah memenuhi keinginan Papa. Aku meraih nilai tertinggi dan aku berjanji akan menjadi anak yang bisa membanggakan orangtua nya. Papa tersenyum. Aku yakin Papa bangga dengan ku saat ini, aku melihat dari sorot matanya meskipun ia tidak bisa berkata apa-apa.

Papa meninggalkan kami semua enam bulan kemudian setelah aku di wisuda. Aku sangat sedih dan Syok ketika itu, mungkin ini adalah jalan terbaik buat Papa. Sepertinya Papa menunggu aku lulus kuliah dulu sebelum ia pergi untuk selamanya, mungkin ia ingin melihat anak yang dibanggakannya berhasil di bidang pendidikan tidak seperti kedua saudaraku yang hanya lulus SMU dan enggan meneruskan pendidikannya. Setiap saat aku selalu merindukannya, ingin sekali aku kembali kemasa kecilku dan mengajaknya pergi ke toko buku dengan mobil kodoknya. Aku sangat kehilangan sosok Papa. Setiap kali aku mengendarai sedan pemberiannya, aku merasakan sangat dekat dengannya. Seperti ada energy lain yang membuatku tenang dan merasa nyaman di dalam mobil itu. Seolah-olah Papa duduk di sampingku dan menemaniku kemana saja aku pergi. Inilah satu-satunya peninggalan Papa yang aku miliki dan tak akan pernah aku lepaskan.

Sekarang aku bekerja di perusahaan besar dengan posisi jabatan yang lumayan bagus dan jenjang karir yang sangat menjanjikan. Aku pun meneruskan kembali pendidikan ku dengan mengambil Master Management di universitas yang sama. Sehabis pulang bekerja aku langsung lanjut untuk kuliah. Bobot badanku pun mulai menurun mungkin karena aku terlalu lelah dan banyak kegiatan yang harus aku ikuti sehari-hari. Tapi aku merasa senang bahkan senang sekali dengan menghilangnya sebagian berat badanku. Kini aku merasa mempunyai berat badan yang lebih ideal, tidak seperti gentong atau brudoser seperti dulu. Aku pun sekarang semakin percaya diri untuk bergaul dengan pria-pria yang berada di sekelilingku.

Hidup ini terasa indah sekali ketika ada seorang pria di kantorku yang menaruh perhatiannnya kepadaku akhir-akhir ini. Selama ini aku tidak pernah mengalami apa yang namanya jatuh cinta karena aku takut menyukai seorang pria. Namanya Kendy, aku memanggilnya dengan sebutan Ken, pria yang berperawakan tinggi besar, berkulit putih, dan berhidung mancung. Ken sangat sempurna di mataku, aku tidak pernah bermimpi bertemu dengan pria sebaik Ken seumur hidupku. Mungkin karena dahulu keadaan fisikku yang berlebihan yang membuat aku trauma dengan pria akan ledekan-ledekannya yang di tujukan kepadaku. Ken lah yang membuat hari-hari ku indah dan bahagia, aku sangat nyaman berada di dekatnya. Aku merasa ada yang menyayangi dan menjagaku saat ini. Kami berdua pun bertambah dekat dan tiga bulan kemudian kami berdua telah resmi berpacaran.

Seolah-olah hidup berada di alam mimpi, beruntun-runtun kebahagiaan itu datang kepadaku dari perhatian dan kasih sayang yang Ken berikan sampai promosi kenaikan jabatan yang di tujukan padaku. Aku sangat bahagia sekali pada saat itu, sampai-sampai aku lupa dengan keadaan keluargaku. Pada suatu malam sepulang dari kantor, sesampai di rumah aku di sambut dengan keadaan genting seperti perang dunia ke dua. Rudy dan Ira serta suaminya ribut besar. Aku terbengong-bengong melihat mereka beradu argumens di depan Mama. Rupanya mereka tengah memperebutkan Agen minuman milik Mama. Yaa Tuhan… mereka berdua sama-sama ingin memiliki dan menguasai Agen itu. Aku memandang Mama yang sepertinya bingung untuk memilih siapakah yang lebih berhak mendapatkannya. Aku tertunduk lesu, sepertinya masalah harta kekayaan menjadi obyek menarik setelah sepeninggalan Papa. Sungguh aku tidak berpikir sejauh itu untuk mendapatkan warisan yang akan di berikan padaku. Hatiku hancur melihat kedua saudaraku. Aku menarik nafas panjang lalu aku mencoba untuk mererai mereka.
“Jangan ikut campur loe Din, loe nggak ngerti masalah Agen bentak Ira kesal”.
“Gue bukannya mau ikut campur Ra, tapi loe berdua enggak kasihan melihat Mama teriakku”.
“Gue yang lebih berhak megang Agen punya Mama, karena gue anak cowo satu-satunya di keluarga ini Ra? Jelas Rudy sambil melototkan matanya”.
Plaakkkkkk… sebuah tamparan pun akhirnya mendarat di pipi Rudy. “Udah… Ra, loe jangan main fisik teriakku ketika Ira menampar Rudy”.
“Sudah… kalian jangan bertengkar lagi teriak Mama sambil menangis tersedu-sedu”.

Aku menghampiri dan memeluk erat Mama, sungguh aku sangat kasihan padanya.
“Loe berdua tega banget yaa sama Mama, harta aja yang loe pikirin teriaku kesal”.
Mama menyuruh kami semua duduk di hadapannya.
“Mama tidak bisa memilih siapa yang berhak memegang Agen itu diantara kalian berdua, kita jual saja rumah ini untuk membuka cabang Agen yang baru kata Mama yang masih saja meneteskan airmatanya”.
APA…? Enggak Mam, enggak… kita tidak boleh menjual rumah peninggalan Papa? kali ini aku yang berteriak memprotes keputusan Mama.
“Tidak ada jalan keluarnya lagi Din jawab Mama sesenggukan”.
“Itu memerlukan modal yang sangat besar Ma? Mama yakin mereka berdua bisa menjalankannya dan bertanggung jawab, nanti Mama mau tinggal dimana tanyaku memelas”.
“Gue setuju dengan keputusan Mama, tidak salah kan kita berkorban menjual rumah ini untuk kepentingan kita di masa depan kata Rudy”.
Aku menangis sambil menggelengkan kepalaku dan berharap Mama mau membatalkan keputusannya.
“Keputusan Mama sudah bulat, kita jual rumah ini saja dan kita buka lembaran yang baru kata Mama mantab”.
Aku menundukan kepala serta menyesali keputusan Mama.
“Sekarang kita hitung berapa bagian kita masing-masing kata Ira”.
“Ehhh… apa kata loe…, itung bagian masing-masing? Loe enggak mikirin setelah ini Mama mau tinggal dimana teriakku kesal”.
“Nanti Mama tinggal sama gue, loe enggak perlu khawatir jawab Ira”.

Akhirnya malam itu di putuskan Mama akan memberikan modal untuk membuat Agen baru buat Ira dari hasil menjual rumah Papa. Bukan sampai di sini saja pertengkaran kami bertiga terjadi, setelah rumah Papa laku terjual pertengkaran itu pun berlanjut lagi. Kali ini lagi-lagi Ira keberatan jika uang hasil dari menjual rumah itu dibagi tiga dan sama rata seperti yang di usulkan oleh Mama.
“Enggak bisa gitu dong Ma, kalau di bagi tiga sama rata uang Ira akan habis untuk modal Agen minuman saja…kata Ira?”.
“Lho… itu urusan loe dong Ra? Jawab Rudy”.
“Ehhh… Enak aja loe ngomong? Agen yang di Senen itu sudah jadi milik loe, terus loe dapat lagi uang dari rumah ini? Itu namanya tidak adil teriak Ira”.
“Ehh… Gue anak laki-laki, menurut hukum agama itu untuk anak laki-laki harus lebih besar? Ngerti nggak loe jelas Rudy”.
“Benar kata Rudy… Ra,… Lagi pula loe kan sudah punya suami? Hidup loe sudah ada yang tanggung bukan? kataku”.
“Gue tidak setuju… Gue mau pembagian ini di hitung dari pengeluaran kita masing-masing usul Ira”.
“Maksud loe apa? gue enggak ngerti, tanyaku sambil mengerutkan kening”.
“Maksud gue gini lho, contohnya loe Din? Berapa besar uang yang Papa dan Mama habiskan untuk membiayai loe kuliah dan ingat Papa tuh sudah membelikan loe Mobil kan? itu juga harus di hitung jelas Ira”.
“APA… loe sudah gila yaa, sekalian aja loe hitung pengeluaran Mama dan Papa buat ngasih makan gue dari kecil sampai sekarang teriakku kesal”.

Aku tidak mengerti apa yang ada di pikiran Ira saat ini, sekarang ia begitu tamak dan serakah. Benar apa kata orang jika uang itu tidak ada saudaranya, dan bagaimanakah dengan nasib kami bertiga yang bukan saudara kandung dan berlainan darah, mungkinkah sifat dan prilaku kami bertiga sekarang ini merupakan keturunan dari orang tua kandung kami masing-masing. Yaa Tuhan sangat mengerikan melihat keadaan keluargaku sekarang. Aku tidak tega melihat Mama, dia sudah cukup tua dan tidak berdaya untuk melewatkan permasalahan ini. Aku heran mengapa Mama menyetujui apa saja yang Ira usulkan, apakah Mama selama ini lebih menyayangi Ira.

Aku menyerah, aku tidak mau memperebutkan harta peninggalan Papa. Harta yang aku miliki sekarang hanyalah sedan hitam yang tidak akan pernah aku jual walau apapun yang terjadi, itu adalah keputusan aku. Akhirnya Ira mendapatkan 50% dari hasil penjualan rumah, Rudy 40% sedangkan aku hanya mendapatkan 10% dengan alasan karena aku sudah cukup mandiri, pekerjaan aku sudah mapan dan sudah banyak biaya yang Mama keluarkan buat kuliahku. Aku menerima semua itu dengan hati yang ihklas. Mama lebih memilih tinggal bersama dengan Ira dibandingkan denganku. Aku sangat kecewa sekali dengan keputusan Mama yang menolak ketika aku ajak untuk tinggal bersama. Mulai saat itu kami memilih jalan kami masing-masing. Aku membeli rumah mungil di pinggir kota dengan uang hasil penjualan rumah Papa sebagai uang mukanya. Aku bersyukur aku sudah menemukan tempat untuk berteduh walaupun harus mencicil setiap bulannya.

Kadang aku malu dan sedih dihadapan Ken. Aku selalu mencari alasan jika Ken menanyakan keadaan keluargaku. Selama ini Ken tidak pernah tahu kalau keluargaku sudah berantakan dan terpecah belah, Ken juga tidak tahu jika aku sebenarnya hanyalah anak adopsi Papa dan Mama. Aku takut untuk berbicara jujur padanya, aku takut ia kecewa lantas meninggalkanku. Aku selalu berbohong dan berkata kalau keluargaku sudah pindah ke luar kota dan tidak menetap lagi di Jakarta. Yaa Tuhan seberapa hina kah aku sekarang yang berprilaku seperti ini. Aku tidak tahu lagi mau berbuat apa jika Ken bertanya tentang keluargaku, aku selalu berusaha menghindar jika Ken memulai percakapan itu.

Aku selalu memantau keadaan Mama dari jauh, hampir setiap hari aku menelepon dan bertanya tentang keadaannya. Aku masih malas untuk mengunjungi Mama dan bertemu dengan Ira dirumah barunya pada saat itu, hatiku masih terasa perih dengan kata-kata Ira yang sangat menyakitkan dan membuat hancur hati ini. Untungnya kesehatan Mama selalu baik dan hal itulah yang bisa membuatku untuk bernafas lega. Aku selalu bertemu dengan Rudy, hanya dialah saudaraku satu-satunya yang masih bisa di ajak untuk berdiskusi. Aku bangga dengannya walaupun Rudy hanya lulusan SMU tetapi ia sangat bersemangat, tekun dan bertanggung jawab dengan Agen pemberian Mama. Agen itu pun bertambah maju dengan pesat.

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang[-at-]yahoo.com
Hi…. guys, selamat membaca cerpen baru ku ini yaa. Mudah-mudahan teman-teman menyukainya, cerpen ini terinspirasi oleh kehidupan seorang sahabat lama. Kalau ada kesalahan kata atau ejaan… Maaf yaaaa, terima kasih 🙂

Cerpen Beautiful Life (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dibalik Jeruji Besi

Oleh:
Terlihat seorang Mahasiswi yang baru pulang setelah melakukan PKL berupa melakukan sensus penduduk di Desa Sayang kecamatan Jatinangor. Perempuan berkacamata itu bernama Nisa Nurguspadita, seorang Mahasiswi jurusan Statistika Universitas

What’s Wrong With Me

Oleh:
Matahari hampir tenggelam, langit sudah berwarna oranye, hanya deburan ombak yang terdengar di telinga. Pantai ini sudah sepi, hanya ada aku dan sahabatku. Tapi, kami masih enggan meninggalkan tempat

Ada Rindu Di Balik Gunung Agung

Oleh:
Aku masih ingat, dua murid di SDN 03 Sebudi. Berada di desa kecil nan asri di lereng Gunung Agung Bali. Selalu kurindu sejak pertama kali meninggalkannya, beberapa tahun lalu.

Temanku Yang Pintar

Oleh:
Aku adalah seorang pelajar kelas V di salah satu sekolah dasar favorit di kota Jakarta. Namaku Ryan, setiap orang pasti mempunyai sahabat terbaik dalam hidup. Sahabat yang selalu ada

Ayahku (Bukan) Seorang Robot

Oleh:
Malam semakin larut namun suara deru mesin masih terdengar memecah kesunyian malam, aku berjalan menuju ke sebuah ruangan tempat ayahku bekerja menghidupi keluarganya padahal jam di dinding sudah menunjukkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *