Because of Brother

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 August 2017

Chayra Salsabilla gadis kelas 2 SMA yang berparas cantik, namun tak cukup orang yang menyadari itu, termasuk dirinya sendiri. Chayra selalu beranggapan bahwa dia tidak begitu cantik padahal cantik itu sudah kodrat perempuan.
Chayra tinggal bersama kakak laki-lakinya yang tepaut 3 tahun lebih tua darinya, dia bernama Bagas Setya Alam, Bagas masih kuliah dengan jurusan Arsitektur. Ya memang cita-cita dari kecilnya. Dan beruntung dengan keadaan keluarga yang bisa dibilang keluarga berada. Hingga semua biaya kuliah bisa dengan mudah didapat. Dan karena itulah orangtua mereka jarang di rumah, namun, demi kemandirian anak-anaknya mereka tidak membayar asisten rumah tangga untuk mengurus rumah. Semua dipercayakan pada Bagas dan Chayra.

Chayra memang gadis yang polos, yang dia pikirkan adalah menjadi pelajar berprestasi, tanpa lirik kanan-kiri, dan yang lainnya urusan nomor sekian. Belajar, belajar dan terus belajar. Hingga tak aneh kalau dia tak begitu mempunyai banyak teman, hanya ada beberapa yang dekat dengannya. Bagas memang cukup heran dengan adiknya, tapi bagaimanapun dia tetap menghargainya.

“Ara buka pintunya!” terik Bagas dari luar yang membangunkan adiknya yang sedang tidur.
Tanpa berkata apa-apa Charya langsung bangun dan menuju pintu.
“iya, dari mana malem-malem gini baru pulang?” dengan wajah ngantuknya
“urusan cowok, cewek kaya loe ngak usah tau.” Langsung masuk dan setengah menabrak Chayra.
“aduh, gue males ribut.” Ucap Chayra.
“gimana mau ribut loe jalan aja setengah sadar.”
“hmm.” Tak mau memperpanjangnya, Charya pun kembali melanjutkan tidurnya yang terganggu.

Bagas memang begitu, lebih sering main di luar rumah dibanding teman-temannya yang datang ke rumah, karena Bagas menghargai adiknya, kalau rumah berantakan dia hanya sedikit membatu, selebihnya adiknya yang banyak bertindak. Mungkin itulah cowok, eh tapi tidak, karena dia malas itu saja.

“woy Bagas bangun, loe kuliah kan?” teriak Chayra dari dapur sambil menyiapkan makanan untuk sarapan.
“udah kali.” Ucap Bagas yang langsung keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi, dan bisa dibilang bergaya modis.
Chayra terus melihat gerak-gerik kakaknya itu, Chayra memang mengakui kakaknya itu ganteng jadi wajar aja banyak cewek yang naksir sama dia, tapi entah kenapa sekarang dia memutuskan untuk jomblo, entahlah Chayra tak mengerti. Chayra melihatnya cukup heran, bukan karena tampilan atau gayanya, tapi karena dia bisa bangun pagi dan sudah siap segalanya.

“loe kenapa liat gue segitunya?”
“kaga, gue heran aja loe udah siap sepagi ini.”
“oh, gue pikir loe terpesona liat gue.”
“dih amit-amit gue suka sama kakak sendiri.”
“ya secara gue kan keren, gak kaya loe.”
“heh, kenapa emang?”
“gak sih.”
“ya udah cepet sarapan!”
Sarapan mereka memang selalu berjalan dengan waktu yang cukup cepat, dan sudah menjadi kebiasaan meja makan ditinggalkan berantakan, dan akan bersih kembali siang setelah pulang sekolah Chayra.

“Ara loe gak berubah-berubah ya, bentar lagi mau 17 taun juga, tampilan masih berantakan kayak gitu pergi ke sekolah.”
“gue Ara bukan Bagas dengan sejuta tingkah.”
“apaan sih loe?, cepet masuk! mau diaterin kaga?” ucap Bagas yang sudah ada di dalam mobil.
“kalo loe gak iklas, mending jangan.” Kata Chayra namun tetap melanjutkan gerakannya hingga dia pun ada di dalam mobil.
“ngomongnya aja, masuk juga loe.” Ujar Bagas dan langsung menekan gas dengan cukup kecang.

“Bagas loe jalanin mobil kaya orang kesetanan, biasa aja kali gak bakalan telat juga.” Ucap Chayra dengan wajah memerah ketakutan.
“tenang aja kali udah biasa.”
“biasa apa? jangan-jangan loe suka balapan liar.”
“kalo iya kenapa?”
“loe stres ya kalo nambrak orang sampe mati gimana? Atau loe yang mati”
“cerewet.”
“eh gue bilangin loe ke mamah.”
“dasar tukang ngadu, ya kagalah.”
“awas aja kalo loe ketauan balapan liar.”

“turun udah sampe! Cepet kan kalo ngebut?”
“gila loe.” Kata Chayra dan menutup pintu cukup kencang.

Sepulang sekolah
Chayra menunggu mobil angkutan umum yang tak kunjung datang, namun, bagaimanpun tak ada pilihan lain selain tetap menunggu dan menahan panasnya sinar matahari. Kakaknya tak bisa diandalkan untuk menjemputnya, karena mungkin dia sedang asik bermain bersama temannya dan entah di mana tempatnya. Ya Chayra juga selalu mengatakan “gak mau ngurusin urusan cowok” termasuk kakaknya sendiri.

Tid… tid….
Suara klakson mobil yang sekarang mobil itu tepat berada di depan Chayra.
“Bagas, tumben siang-siang begini udah mau pulang?”
“jangan banyak tanya, mau tetap panas-panasan nunggu atau pulang bareng?”
“okeh. Dasar pahlawan kesiangan.”
“gue kaga telat karena nyatanya loe belum gosong kebakar sinar matahari.”
“karena gak secepat itu gue gosong.”
“anter gue jalan-jalan dulu ya Ara.”
“ke mana?”

Tanpa menjawab Bagas sudah membelokkan mobilnya dan menyimpanya di tempat parkir di depan sebuah mall.
“mau apa ke sini?”
“diem, ikut gue aja!”
Tak bisa menolak Chayra pun tetap mengikutinya.
Bagas tak ingin terlihat aneh dengan adiknya itu, Bagas pun menarik lengan adiknya agar jalan berdampingan.
“pelan-pelan Bagas.” Ucap Chayra setengah berbisik.
“coba loe pake!” kata Bagas sambil memegang sebuah dress berwarna merah marun dengan panjang di atas lutut.
“hei loe kenapa?”
“cepet pake!”
“kaga mau.”
“oke gue jelasin, nanti malem temen gue ulang tahun, dan buat yang punya pacar bawa pacarnya. Nah loe tau sendiri kan gue lagi gak punya cewek, ya sekalian juga ngajak loe berbaur sama orang-orang keren biar loe ketularan.”
“di sana loe ngakuin gue adik loe atau….”
“pacar gue, jadi sekarang cepetan pake ini cocok kaga di loe.” Serobot Bagas
“sebenernya gue kaga mau ikut, gue baik-baik aja jadi diri gue.”
“oke-oke gini aja loe sayang kaga sama kakak loe ini yang Cuma satu-satunya?”
“ya sayanglah, kalau loe mati pasti gue nangis.”
“nah mumpung gue belum mati, jadi bahagian gue ya Ara!”
“baiklah ini dengan alasan gue adik loe.”
Chayra pun memakainya.

“tuh kan bagus Ra, loe itu cantik kok, kalau bisa gaya sedikit.”
“hmm.”
“loe nyaman kaga makenya? Kalau kaga cari yang lain!”
“udah yang ini aja kalau menerut loe bagus dan gak bakal malu-maluin loe.”
“oke udah ini kita pulang.”

Di dalam mobil, perjalan pulang
“Kak jam berapa acaranya?”
“tumben panggil kakak, dan kayaknya loe gak sabaran pengen cepet-cepet ke acara.”
“gue jadi makin ragu deh.”
“pokoknya mau gak mau harus mau!”

Jam 7 malam
“Ra loe lagi ngapai?” tanya Bagas di depan pintu kamar Chayra.
“belajar.” Ucapnya dengan polos.
“gue beliin loe baju bukan buat jadiin pajangan, ngeliatin loe belajar.”
“oh iya gue lupa” langsung menutup bukunya dan mendorong Bagas keluar untuk berganti baju.

“udah? Ada yang ketinggalan?” ucap Chayra sambil memperlihatkan baju yang dipakainya.
“tadi gue lupa beli sepatu, tapi kayaknya ini cocok deh.” Sambil mengulurkan sepatu hitam tanpa hak.
“ya cocoklah, ini kan emang punya gue.” Sambil memakainya
“oke kita punya waktu setengah jam buat nyalon wajah kamu.”
“hey loe gila.”
“biar loe tambah cantik, dan loe sadar kalo loe melebihi dari cantik Ra.” Sambil menyeret Ara ke mobil.
“loe sadar gue adik loe, jangan loe gombalin.”
“siapa yang ngegombal loe aja yang ge-er.”

Dengan kecepatan kilatnya Bagas membawa mobil membuat perjalan lebih singkat.
Di salon tidak banyak yamg dilakukan hanya memoles wajah Ara dengan sederhana. Make up natural dengan warna lipstik peach dan rambut yang dibiarkan tergerai. Penampilan Ara di malam ini sungguh berbeda, jangankan orang lain Ara sendiri merasa itu bukan dirinya. Dan Ara sekarang benar-benar menyadari kecantikan dan keanggunannya sebagai seorang perempuan.
Dengan kebiasaannya Bagas dalam berkendara selalu menancap gas lebih, namun kenyataannya dia cukup lihai untuk mengendarinya dengaan baik.

Sesampainya di tempat
“loe harus bersikap kaya pacar gue, jangan ragu kalo mau bilang gue sayang. oke”
“lebay.”
“hai Bagas loe baru dateng?” sapa temannya yang bernama Rio dan terlihat akrab sekali dengan Bagas.
“iya, o maaf, biasa cewek dandannya lama.” Ucap Bagas yang seolah menyalahakan.
“apaan si loe?”
“haha iya-iya tapi kaga sia-sia kok, dia tampil cantik.” Ucap Rio
“jangan bilang loe suka, ini cewek gua.”
“haha kalopun gue suka, gue gak bakalan ngerebut kok.”
“bagus deh.”

Tiba-tiba ada orang yang nyerobot dateng dari kerumunan orang dan menyeret Bagas menjauh dari tempat itu.
“loe gila, gua tau itu adik loe.” Ucap Andi
“Cuma loe yang tau, jadi diem yang lain kan kaga.”
“eh ngomong-ngomong dia bener-bener cantik, kalo tampil kaya gitu.” Kata Andi
“dia emang cantik, kenapa loe suka?”
“boleh kali kalo loe kenalin.”
“oke.” Katanya dengan melambaikan tangan ke arah Ara dan menyeruhnya untuk mendekat.

“hai Andi.” Ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Sebelum menjawab dan membalas uluran tangan Andi Ara berbisik terlebih dahulu ke kakaknya itu. Bagas.
“jawab nama asli gue.”
“iya, dia tau kok loe adik gue.”
“Chayra.” Ucap Ara dengan menyambut uluran tangan Andi
Entah apa yang terjadi mereka saling menatap untuk sekian detik.
“oke, kayanya kalian butuh waktu untuk berkenalan lebih lanjut, gue ke dalem dulu, ngambil minuman, mau?” ucap Bagas
“gue satu.” Kata Ara.

Malam itu tepat hari ulang tahun Ara yang ke 17, dan perubahannya itu adalah kado terindah dari kakaknya. Ara sadar semua cewek itu memang cantik, dan sudah bakat alamiah cewek itu berdandan untuk mempercantik diri. Dan pelajar itu lebih indah jika bergaul.

Ara sekarang bukanlah Ara yang dulu yang penuh dengan kepolosan, yang dia tau hanya pelajaran. Tapi sekarang dia tau apa arti dari refresing.

Cerpen Karangan: Rena Siti Nurfalah
Facebook: Rena Nur Eka Shafar
Saya Rena Siti Nurfalah, pelajar kelas X di SMKN 1 Kadipaten dengan jurusan Akuntansi. Saya tinggal di kab.Sumedang. cerita di atas semuanya atas dasar imajinasi. Saya masih dalam tahap pembelajaran dalam hal kepenulisan. Jika ada kritik dan saran silahkan hubungi facebook atau email saya renasitinurfalah[-at-]gmail.com.

Cerpen Because of Brother merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Hujan (Part 2)

Oleh:
Tak beberapa menit kemudian ada invite di bbmku (ya pasti gue terima.) “Gimana es creamnya enak gak?” tanya ko nico dibbm. “Enak orang jelas kesukaan gue.” jawabku. “Besok pagi

Selembut Kain Sutra

Oleh:
Busana bermotifkan batik indah nan glamor adalah busana ciri khas yang dirancang oleh Septi. Tangannya yang lemah gemulai dalam membatik dan mewarnai batik dengan canting ia celupkan ke dalam

Cinta Semut Gula

Oleh:
Kenalin gue rian, gue anak yang lahir dari keluarga sederhana. Biar begitu keluarga gue cukup terhormat sob. So, bokap gua orang terpandang di mata masyarakat. Kata mereka sih, bukan

Ibu

Oleh:
Terkadang segala sesuatu itu tak semudah yang kita bayangkan. Kehidupan berjalan terasa begitu cepatnya. Awalnya aku merasa masih sangat muda tak terasa usiaku semakin bertambah. Aku takut tak bisa

Ku Kira itu Cinta

Oleh:
Aku memandang ponsel BBku dengan geram. Kini, ponsel bukanlah sarana penyemangat, hiburan ataupun komunikasi bagiku khususnya. BB ini menjadi suram bagiku. Dentingan dan LED BBku pun tak pernah ku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *