Because Time

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 5 May 2018

Duduk di kursi kamarku dengan alis berkerut. Seperti biasa, aku kembali dimarahi oleh ibuku yang galak ini. Tidak tau jelas apa kesalahanku padanya, hampir setiap hari ia memarahiku. Bahkan pernah memukulku hingga ku menanngis. Kapan semua penderitaan ini akan berakhir.

Hari ini aku pergi sekolah seperti biasa, namun hari ini aku tidak sarapan pagi, tidak menerima uang jajan darinya, bahkan tidak berpamitan kepadanya. Mungkin saja ia kecewa aku melakukan hal seburuk itu, tapi aku tidak peduli karena memang itu tujuanku. Sesampainya di sekolah aku duduk di kursi kelas tempat dimana aku biasa duduk. Namun, ada hal yang aneh hingga mengganggu pemandanganku. Seseorang yang duduk di sampingku mencium boneka kecil yang dipegangnya. Dia Aqila sang anak mami yang selalu membanggakan ibunya dan dibanggakan ibunya.

“Eh qila, lebay banget sih nggak malu sama seragam, katanya sudah murid SMA, tapi mainnya masih boneka” ledekku dengan mata sinis.
“Bukan lebay hanna, itu kado ulang tahunku dari ibu, kemarin ibu banyak memberi hadiah kepadaku ada kue, boneka, makanan kesukaanku, dan pelukan hangat darinya”
“Bla, bla, blaa… terserah kamu saja” sahutku dengan rasa iri.

Hari pun silih berganti tak terasa sekarang sudah di penghujung tahun, awal memasuki bulan Desember. Hari ini libur sekolah, saatnya membersihkan rumah. Kuawali dengan mencuci piring, setumpuk piring yang tergeletak di meja yang melelahkan pandanganku sebelum menyentuhnya. Tiba-tiba tanpa sadar aku menjatuhkan sebuah piring yang mengejutkan semua isi rumah.

“APA YANG KAMU LAKUKAN HANNA, APA YANG KAMU PIKIRKAN? Sudah sana biarkan ibu yang membersihkannya” teriak ibu.
Kurasa teriakan ibu terdengar sampai ke rumah tetangga, jika aku keluar rumah pasti semua tetangga melihatku dengan tatapan sinis. Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua siksaan ini. Aku berencana ingin mengetahui siapa diriku sebenarnya. Aku membuka segala berkas yang ada di lemari ibuku. Aku menemukan selembar kertas yang bertuliskan akta kelahiran. Perlahan aku membacanya. Baru saja membaca bagian atas dari akta itu, ibu langsung mengambilnya dengan keras. Akku terkejut dan merasa curiga pada ibu, sebenarnya siapa aku sebenarnya.

“Untuk apa kamu bongkar lemari ibu dan untuk apa kamu membaca berkas tanpa sepengetahuan ibu” bentak ibu hingga ku terkejut.
“Aku hanya ingin tau siapa sebenarnya aku bu, apa aku salah” jelasku dan mulai menangis.
“Mengapa tidak kamu tanyakan pada ibu saja, mengapa kamu harus baca berkas ini, ibu tidak suka dengan perilakumu seperti ini” sahut ibu dengan nada tinggi.
“Baiklah kalau begitu akan kutanyakan secara langsung pada ibu. Ibuu… apakah aku anak angkatmu, jika iya tolong kembalikan aku pada orangtua kandungku. Jika memang aku anak kandungmu, berikan padaku buktinya dan mengapa kau memarahiku” tanyaku sambil menangis.
Aku tidak menyangka kata-kataku tadi membuat ibu menangis dan mengusirku keluar dari kamarnya.
“SANA, LEBIH BAIK KAMU KELUAR” teriak ibu seraya mengusap air matanya.

Sikap ibu menambah kebingungan yang ada di pikiranku. Aku memutuskan untuk pergi ke rumah guru ngaji yang ada di kampungku, aku ingin berkeluh kesah padanya. Sesampai di rumahnya, ia menyambutku dengan senyuman ramahnya aku pun membalas senyum itu.
“Assalamu’alaikum ustadz, apa kabar” sapaku ketika hendak memasuki rumahnya.
“Wa’alaikumsalam. alhamdulillah baik, silahkan masuk nak” jawab ustadz.
“Ustadz, saya ingin bertanya, apakah di dunia ini ada ibu yang jahat padanya atau tidak menginginkan kehadiran anaknya lahir di muka bumi ini?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Tidak nak, tidak ada ibu yanng jahat pada anaknya, sekalipun anak angkat, ia mengasihinya, tetapi cara ibu untuk mengasihi anaknya berbeda-beda nak, memangnya mengapa ibumu?” jelas ustadz dengan lembut.
“Aku selalu dimarahi, dibentak oleh ibuku ustadz, apakah aku anak angkat, anak tiri, anak yang dipungut dari sampah atau kolong jembatan?” tanyaku mulai menjatuhkan air mata.
“Dia marah pasti ada alasannya, mungkin kamu tidak mematuhi perintahnya atau kamu pernah mengecewakannya, karena tidak mungkin seorang ibu memarahi anaknya tanpa alasan. Kamu harus berpikir positif terhadap ibumu mungkin itu cara dia mendidikmu agar kamu lebih disiplin lagi” jelas ustadz lagi.
Setelah mendengar nasihat ustadz, aku pamit dan berterimakasih pada ustadz. Walaupun aku belum menemukan jalan terang dari masalah ini tapi sedikitnya hatiku sedikit lebih tenang. Teka-teki status ini belum bisa depecahkan. Aku kembali berencana, dengan tujuan yang sama namun orang yang berbeda. Besok aku akan ke rumah Paman Dika untuk menanyakan bagaimana masa kecilku.

Sepulang sekolah, aku langsung pergi ke rumah paman, tanpa mengganti seragam terlebih dahullu. Aku pergi dengan kendaraan umum, seorang diri dengan tujuan yang jelas. Sesampainya di rumah paman, aku langsung menanyakan hal tentang diriku tanpa basa-basi.
“Assalamu’alaikum paman, maag menggangggu waktu paman, aku ingin bertanya tentang masa kecilku” tanyaku.
“Waalaikumsalam, iya kamu baru pulang sekolah?” paman menjawab salamku.
“Paman, aku tidak mau berbasa-basi, aku ingin tanya, apakah aku anak angkat, anak tiri atau bahkan anak pungut?”
“Hust ngomong apa kamu, kamu itu anak kandung Hanna…” jelas paman.
“Lalu mengapa aku selalu dimarahi, dibentak bahkan aku pernah dipukul, aku iri paman, semua orang selalu dikasihi ibunya sedangkan aku tidak pernah” aku kembali mulai menangis.
“Mungkin dia trauma” jawaban Paman membuat dahiku berkerut, setelah mengatakan hal itu paman masuk ke sebuah kamar tampaknya ia mengambil sesuatu di kamarnya itu.

“Ini dia” paman memegang buku tebal yang terlihat seperti album lama.
“Apa itu paman?” tanyaku penasaran.
“Ini foto keluargamu sewaktu kamu masih kecil, sebenarnya kamu ini anak kedua, kamu mempunyai kakak perempuan yang bernama Febi, dia meninggal ketika ia masih kecil, dia terlibat kecelakaan karena menolong ibumu. Maka dari itu jangan mengungkit masalah itu, karena ibumu bisa menangis terisak-isak karena mengingat hal itu” jelas paman seraya menunjukkan foto-foto kami.

Aku tertunduk dan menangis mendengar cerita paman. Sekarang aku mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku berpamitan pada paman dan aku akan menyayangi Ibu sampai nafasku berakhir. Itulah yang aku janjikan pada diriku sendiri.

Minggu depan adalah hari Ibu, untuk pertama kalinya aku akan memberi hadiah pada Ibu. Rencananya aku ingin memberi sebuah mukena dan sehelai saputangan bertulis namaku dan namanya. Tidak banyak yang aku harapkan lagi darinya, aku hanya ingin hidup bahagia bersama keluarga kecilku, bercanda gurau seperti layaknya keluarga yang lain.

Hari yang kutunggu pun sudah tiba, aku menuliskan sebuah kartu ucapan yang kuletakkan di samping tempat tidurnya, di dalam surat itu aku menuliskan agar bisa bertemu di sebuah taman.

Aku tersenyum menunggu di bangku taman seraya memegang kotak kado berwarna biru dengan pita putih di atasnya. Ibu yang kutunggu akhirnya datang dengan senyuman menghiasi pipinya. Tak berhenti aku memeluknya.

Sejak hari itu aku hidup bahagia bersama keluarga kecilku dengan penuh canda tawa hingga membuat temanku iri dengan kisahku sekarang

Cerpen Karangan: Febi Kurniawati
Facebook: Febi Kurniawati

Assalamualaikum wr.wb.
Menulis cerpen bukan hal yang asing lagi bagi saya, beberapa kegiatan saya ikuti dalam bidang bahasa indonesia diantaranya menulis resensi dengan judul buku “La Tahzan For Broken Heart Muslimah” dan judul resensi saya “No Word Galau For Muslimah” meskipun pada tingkat sekolah saya berhasil meraih juara 2. Selain itu saya pernah mengikuti lomba menulis cerpen dengan judul “Pengorbanan si Botak”.
Saya harap melalui cerpen ini bisa menginspirasi agar anak selalu menyayangi ibunya meski beribu kekurangan ibu, trauma lalu bisa jadi membuat sang ibu depresi.
Minat saya sangat besar dalam bidang jurnalistik saya ingin mengasah kemampuan saya dalam menulis cerpen. Jika cerpen ini dimuat, tentu saya sangat senang dan mencari ide cerpen lebih menarik. Jika tidak, mohon berikan saya saran dan masukan agar saya bisa meperbaiki dan menambah wawasan saya sebagai pelajar.
Biodata saya
Nama: Febi Kurniawati
Tempat/tgl lahir: Pangkal Pinang/22-02-2002
Alamat: Jl.Madrasah Desa Riding Panjang Kec.Merawang Kab.Bangka Prov.Bangka Belitung
Sekolah/kelas: SMA N 1 Merawang/10

Cerpen Because Time merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setetes Air Surga (Part 2)

Oleh:
Andrew menatap dalam-dalam. Matanya kelam. “SP yang kedua, seorang pelanggan komplain. Suatu hari saya tidak masuk karena tiba-tiba bayi saya sakit. Sehari sebelumnya saya sudah menitipkan tiket beliau di

Rania

Oleh:
Aku masih di sini. Bersama dengan Rania di sudut kantin sekolah. Tampak sekali sekitar kami sudah sepi. Yang memastikan bahwa hampir semua siswa SMA Pramudya Aksara sudah pulang ke

Sebatang Cokelat Dari Ayah

Oleh:
Ayahku adalah sosok yang kadang menyebalkan dan kadang menyenangkan. Aku tak mampu menceritakan apa yang membuat Ayah sedikit menyebalkan. Karena itu adalah rahasia bagi keluarga kami. Intinya, Ayah bersifat

No

Oleh:
Tampak dari kejauhan seorang laki-laki berjalan menggotong seikat eceng gondok. Tampak terlalu berat untuk laki-laki bertubuh kecil itu. Tingginya hanya kurang lebih 160 cm. dengan kaki dan lengan yang

Abu Ibu

Oleh:
Aku melamun di pinggir jendela kamar sembari mengingat peristiwa yang telah membuat kehidupanku menjadi kelam, gelap, tenggelam, hingga karam. Melihat anak-anak kecil mungil sedang bermanja-manja dengan ibunya, aku sempat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *