Belajar Lebih Baik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 27 January 2014

Seorang gadis yang sangat cantik, tinggi dan berkulit putih, dia bernama Amalia Widiastuti. Dia tinggal sebuah kota di Jawa Timur yaitu Surabaya. Dia tinggal bersama bapak dan ibunya, bapaknya bernama Pak Sumarno dan ibunya bernama Bu Wahyuni. Untuk mencukupi semua kebutuhan hidup mereka, bapak Amalia bekerja sebagai buruh di pabrik dan ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga sehari-hari. Amalia anak yang baik, sopan, pintar, dan bisa menghargai orang lain itulah sifat yang dimiliki Amalia sebelum bapak dan ibunya bercerai karena masalah ekonomi. Tetapi sejak bapak dan ibunya bercerai sifatnya berubah menjadi angkuh, sombong, anak yang nakal, pembangkang, pemalas, dan tidak pernah menghargai apa yang dilakukan oleh orang lain meskipun itu untuk kebaikan dirinya.

Ibunya pernah menjelaskan masalah yang terjadi hingga bapak dan ibunya bercerai, penyebabnya adalah Amalia. Karena orangtua Amalia tidak bisa membayar tunggakan sekolah Amalia, akhirnya bapaknya merelakan istri tercinta menikah dengan orang lain. Bu wahyuni menikah dengan Pak Setiawan, Pak Setiawan sendiri sebenarnya saudara jauh dari Pak Sumarno jadi Pak Sumarno bukan orang asing lagi. Pak Setiawan bersedia menikah dengan Bu Wahyuni karena Pak Setiawan membutuhkan seorang ibu untuk mendidik anaknya karena istrinya sudah meninggal 5 tahun yang lalu karena menderita kecelakaan yang beliau alami. Amalia memilih tinggal bersama ibunya, sejak itu lah hubungan Amalia dengan bapaknya mulai berkurang. Ibu dan ayah barunya sudah sering menasihatinya agar dia mau bertemu dengan bapaknya dan tidak membencinya.

Suatu hari Amalia berada di kampus dan tiba-tiba bapaknya menelfon karena bapaknya rindu dengan Amalia, tapi sayangnya Amalia menjawab telfon dengan suara yang keras dan tidak sopan santun. “Ngapain kamu nelpon aku?, aku bukan anak mu lagi. Aku udah jadi anaknya Pak Setiawan, ayahku yang sekarang. Jadi nggak usah hubungi aku. Ngerti!”
“Ini aku bapakmu nak, bapak kandung kamu, kenapa kamu tidak pernah menghargai aku sebagai bapak kandungmu, nak? Bapak tau kamu sudah tinggal bersama Pak Setiawan, tapi kamu setidaknya ingat pada bapak. Bapak ini bapak yang merawatmu sejak kecil, bapak rindu padamu,”. Dengan sabar bapaknya menjawab dengan perlahan, ayahnya tidak mau Amalia semakin benci pada bapaknya. Pada saat itu Amalia langsung mematikan sambungan teleponnya, Amalia hanya berbicara baik kepada bapaknya jika dia lagi membutuhkan uangnya. Semua teman-temannya banyak yang memberi nasehat kepada Amalia, agar lebih sopan dan menghargai lain apalagi orangtua, semua temannya sangatlah prihatin kepada Amalia dengan sikapnya tersebut.

“Amalia, itu bapak kandung kamu. Kamu tidak sepantasnya berbicara kasar seperti itu meskipun bapakmu sudah bercerai dengan ibumu, bukan berarti dia bukan bapakkamu lagi. Kamu harus menghargainnya sebagai orang tuamu, jangan kamu anggap beliau seperti mesin atm, jika kamu butuh uang beliau harus mengeluarkan uang untukmu. Beliau sudah merawat dan mendidik kamu hingga kamu besar. Apalagi kasih sayangnya, besar banget buat kamu. Tapi kamu malah menyia-nyiakan semua itu. Dimana hati nurani kamu?”. kata temannya
“Tau apa sih kamu tentang keluarga aku, kamu itu sok tau ya, jadi orang jangan sok tau deh, urus aja sana keluarga kamu, udah benar apa belum. Lagian emang bener, dia itu cuma sekedar mesin atm buat aku. Urusan menghargai, aku bisa menghargai dia kalau dia terus memberiku uang yang banyak tapi kalau nggak ya aku nggak mau ngehargai dia.” jawab Amalia dengan nada enteng. “Kalau bicara yang benar, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Beliau pasti punya urusan atau kebutuhan yang lain, jadi beliau tidak selalu memberimu uang. Kamu harusnya bersyukur pada tuhan karena kamu masih mempunyai orangtua yang lengkap, tidak seperti Putri yang orangtua sudah tidak ada. Dia bekerja sambil kuliah. Sebaiknya kamu contoh dia, jangan kamu terus berpangku tangan pada orangtuamu.” ucap temannya.
“Terserah apa katamu.” jawab Amanda sambil pergi meninggalkan temannya.

Tiba-tiba Amalia menabrak seorang pemulung yang sedang memunguti sampah, dan berkata “Dasar pemulung, jauh-jauh sana. Bau tau.” Dan dia melanjutkan jalannya.

Malam harinya, Amalia pamit pada ibunya untuk pergi sebentar. Empat hari setelah kejadian itu, Amalia belum pulang ke rumahnya. Ibunya khawatir, apalagi bapak kandungnya. Mereka sudah mencari kemana-mana tetapi tidak ada hasil. Saat ibu dan ayah hendak keluar, tiba-tiba Amalia masuk rumah dengan langkah gontai. Lalu ibu bertanya dengan khawatir “Habis darimana kamu, nak? Apa kamu terluka? Mengapa kamu tidak memberi kami kabar? Tolong jelaskan pada ibu, ibu dan ayah sangat khawatir.”
“Amanda nggak papa, cuma capek aja. Udah ya, aku capek mau tidur.” Jawab Amanda enteng.
Paginya, ibu membangunkan Amalia dengan cara apapun tetapi Amalia tetap tidak mau bangun. Akhirnya, ibu mengambil segelas air dan menyiramkannya ke wajah Amalia lalu Amalia bangun dan berkata “Duh, apa-apaan sih. Masih ngantuk tau nggak.”
“Kamu tidak kuliah hari ini?” tanya ibu
“Amalia males, masih ngantuk mau lanjutin tidurnya lagian mata kuliah hari ini nggak penting jadi nggak masuk juga ngga masalah. Udah, ibu keluar sana. Jangan ganggu aku.” Terang Amalia
“Kamu ini apa-apaan, kamu harus belajar jangan meremehkan pelajaran seperti itu. Meskipun pelajaran yang di pelajari itu mudah atau tidak penting. Kamu harus tetap mempelajari itu. Sekarang cepat bangun, mandi dan berangkat kuliah.” Perintah ibu
“Nggak mau, bu. Kalau ibu maksa Amalia kuliah, mending ibu aja sana yang gantiin Amalia kuliah. Sekali Amalia bilang males ya males, dan ibu nggak usah maksa Amalia lagi. Keluar sana, Amalia mau tidur.” Jawa Amalia kasar. Ibu hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya yang semakin hari semakin buruk. Akhirnya ibu keluar dari kamar Amalia dan menuju ruang makan untuk meyiapkan sarapan untuk suaminya dan Sahila, anak suaminya itu. “Bagaimana Amalia? Kenapa tadi aku dengar dia teriak-teriak?” tanya Pak Setiawan.
“Amalia tidak mau bangun, dia malas untuk kuliah. Dia capek, begitu katanya.” Ibu menjelaskan sambil membantu Sahila memakan nasi gorengnya
“Mengapa anak itu tingkah lakunya makin hari makin buruk saja? Apa dari dulu sifatnya seperti itu?” tanya Pak Setiawan selaku ayahnya
“Dulu dia tidak seperti ini, dia berubah sejak aku dan bapaknya yang dulu bercerai. Padahal kita bercerai toh untuk kebahagiaan dia, tapi mengapa dia seperti itu? Dia tidak pernah menghargai keputusan yang kami ambil. Dan sekarang dia lebih tidak menghargai orang lain dan dia suka menghambur-hamburkan uang. Dia tidak bisa menghargai apa arti uang. Aku tidak tahu mengapa dia jadi seperti ini, bagaimana caranya aku mengembalikan Amalia yang dulu? Aku ingin Amalia yang dulu kembali, jika begini aku merasa telah gagal menjadi ibu baik untuknya.” Terang ibu sambil menangis
“Ibu, kenapa ibu menangis? Sahila nanti juga ikut sedih loh, sini-sini Sahila cium. Ciuman Sahila kata ayah bisa bikin orang senyum. Sekarang ibu senyum dong. Seperti sahila, sahila tidak pernah menagis, kata ayah kalau menangis sahila nggak dibeliin es krim. Nanti ibu juga nggak dibeliin es krim sama ayah. Jangan minta punya Sahila ya kalau ibu nggak di beliin eskrim.” Kata Sahila sambil senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang ompong dan sukses membuat ibu tersenyum. Menurut ibu, Sahila anak yang lucu, pintar, penurut, dan riang. Ibu selalu tersenyum melihat tingkah laku Sahila yang lucu.
“Sudahlah, nanti aku coba berbicara dengannya. Semoga dia mau mendengarkanku. Aku berangkat kerja dulu.” Kata ayah sambil mencium kening ibu dan menggandeng tangan Sahila.
“Ibu.. aku berangkat sekolah dulu ya..” Teriak Sahila sambil melambaikan tangan
Ibu sedang memasak makan siang untuk Sahila, tiba-tiba Sahila berteriak “Ibuuu, sahila sudah datang.” Sahila langsung menuju dapur untuk melihat ibunya.
“Lepas dulu sepatunya dan ganti baju dulu. Nanti ibu akan menyiapkan makanan untuk Sahila.” Terang ibu sambil mencubit pipi Sahila
“Ahh, ibu. Sahila ingin membantu ibu memasak.” Rengek Sahila
“Sahila boleh bantu ibu asalkan Sahila ganti baju dulu ya..” bujuk ibu dengan lembut.
“Baiklah, bu. Sahila ganti baju dulu ya.” Kata Sahila lalu pergi berlari menuju kamarnya

Tiba-tiba ada suara jeritan dan tangisan yang berasal dari tangga. Lalu ibu cepat-cepat melepaskan celemeknya dan lari menuju asal suara. “Makanya ati-ati dong. Kamu sih pakai acara lari-larian segala, jadi sobek kan rokku. Huh, dasar!” Amalia membentak Sahila
“Apa-apaan sih kamu ini, adiknya jatuh bukan ditolongin malah dibentak-bentak.” ibu marah pada Amalia karena dia tidak mau menolong adiknya yang jatuh.
“Dia yang nabrak aku, harusnya dia yang ibu marahin bukan aku. Lihat nih, rokku sampai robek gara-gara anak ini.” Tukas Amalia kasar
“Mau kemana kamu?” tanya ibu
“Mau pergi lah, bu. Ya udah aku pergi dulu.” kata Amalia sambil melengos pergi.
Melihat kelakuan anaknya seperti itu, ibu jadi menangis.
“Ibu jangan sedih.” Kata Sahila
“Ibu tidak sedih, sayang.” Jelas ibu sambil membantu Sahilah berdiri.

Pukul 18.00 ayah sudah pulang, berbarengan dengan masuknya Amalia.
“Darimana saja kamu?” tanya ayah
“Jalan-jalan, bosen di rumah.” Jelas Amalia
“Nak, tolong kamu berubah, kasihan ibu dan bapakmu. Mereka sudah mendidik kamu hingga besar, tapi kamu malah begini dan ayah mau kamu ke rumah nenek yang ada di Banyuwangi dan belajar disana.” Jelas ayah sambil ikut duduk di sofa
“Hah? Aku kan belum akrab sama nenek, aku jadi anak ayah aja baru 6 bulan terus sekarang di suruh tinggal sama nenek. Nggak mau ah, emang banyuwangi mananya?” kata Amalia
“Di desa Purwaharjo dusun Gumukrejo. Besok ayah antar kamu kesana, sambil liburan.” terang ayah
“Nggak mau, itu kan desa banget. Pokoknya aku nggak mau! Titik!” bentak Amalia
“Harus mau, lihat kelakuanmu, bicara dengan orangtua saja pakai bentak-bentak. Ayah ingin kamu menjadi anak yang baik. Sekarang waktuya makan malam.” Ucap ayah

Selesai ayah mandi dan ganti baju, ayah menuju ruang makan untuk makan malam bersama keluarga kecilnya.
“Oh iya, yah. Amalia besok nggak ikut ada acara di kampus.” ucap Amalia
“Nggak bisa, kamu harus ikut.” Paksa ibu

Selesai makan malam ayah dan ibu membereskan pakaian mereka untuk menginap beberapa hari di Banyuwangi. Pagi hari pukul 06.00 WIB, semua sudah siap berangkat termasuk Amalia. Perjalanan dari Surabaya menuju Banyuwangi kira-kira membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam, maka dari itu mereka memutuskan untuk berangkat pagi agar sampai disana sore hari. Sebelum melakukan perjalanan, mereka semua sarapan agar tidak mual. Sebenarnya Amalia malas untuk ikut tapi dia harus ikut. Selama di perjalanan, Amalia menyibukkan diri dengan mendengarkan musik, bermain handphone, sesekali makan camilan, dan tidur. Berbeda dengan Sahila, Sahila justru bernyanyi-nyanyi di dalam mobil hingga membuat ayah dan ibu tertawa.

Tak terasa mereka sudah tiba di Gunung Gumitir dan memutuskan untuk beristirahat di Cafe Gumitir untuk makan siang dan beristirahat. Selesai beristirahat mereka melanjutkan pejalanan menuju rumah nenek. Akhirnya mereka tiba di rumah nenek, dan di sambut senang oleh nenek. Saat makan malam telah usai, Sahila langsung bermain dengan Ori, temannya di desa dan Amalia memutuskan untuk mendengarkan musik di kamar. Langsunglah ayah mengungkapkan tujuan mereka datang.
“Sebenarnya kedatangan kita kesini untuk meminta ibu agar mendidik Amalia supaya menjadi gadis yang baik. Apa ibu bersedia mendidik Amalia?” jelas ayah
“Ibu mau tapi ambil semua barang elektronik yang Amalia punya.” Ucap nenek
“Apa itu harus, bu? Kan kasian jika semua barang elektronik Amalia diambil, nanti hiburan dia apa?” tanya ibu
“Yuni, tenang saja. Begitulah cara ibu untuk mendidik seorang anak yang susah diatur.” Terang nenek
“Ya sudah terserah apa kata ibu.” Jawab ayah

Setelah berada disana selama seminggu, akhirnya ayah, ibu dan Sahila kembali ke Surabaya tapi malam harinya ibu mengambil semua barang elektronik milik Amalia disaat Amalia tidur.
Mereka semua kembali ke Surabaya tanpa berpamitan pada Amalia. Ketika Amalia terbangun dari tidurnya, dia mencari-cari keluarganya tetapi tidak ketemu dan dia tidak sadar semua barang elektroniknya telah lenyap. Tiba-tiba nenek muncul “Keluargamu sudah pulang dari tadi.”
“Kenapa tidak membangunkanku?” tanya Amalia
“Itu salahmu, kamu bangun siang. Sekarang kamu mandi lalu ambil kayu bakar di gudang belakang.” Perintah nenek
“Hah? Nggak bisa gitu, nek.” Protes Amalia
“Ya sudah kalau begitu, kamu tidak usah makan.” Kata nenek sambil pergi meninggalkan Amalia yang berdiri di depan kamarnya.

Setelah selesai mandi, Amalia langsung menuju gudang penyimpanan kayu bakar, sebenarnya dia malas untuk mengambil kayu bakar karena banyak debu tapi mau bagaimana lagi kalau dia tidak mengambil kayu bakar itu, dia tidak makan. Dia hanya mengambil beberapa batang kayu bakar dan membawanya ke rumah.
“Nek, ini kayu bakarnya.” Kata Amalia

Akhirnya nenek memasak semua bahan yang sudah disiapkan, sekitar 30 menit makanan itu selesai di masak, Amalia terkejut sambil melihat lauk yang ada di atas meja
“Nek, ini apa? Kok cuma ini? Nggak ada yang lain?”
“Tidak ada, salah sendiri kamu mengambil kayu bakar hanya sedikit.” Jelas nenek
“Tapi kan nggak separah ini, nek. Masa’ cuma ada tahu, tempe, sayur kangkung sama nasi? Ayamnya mana?” tanya Amalia
“Jika kamu ingin makan ayam, kamu harus menyembelihnya terlebih dahulu. Kamu harus bisa menghargai usaha orang lain, bagaimana kamu bisa dihargai jika kamu tidak menghargai orang lain. Mulai sekarang kamu harus belajar menghargai orang lain karena itu sangat penting bagi kehidupanmu, apalagi kamu masih muda, masih banyak yang harus dijalani.” Jelas nenek

Hari demi hari dijalani Amalia, awalnya dia tidak suka dengan semuanya tapi lama-kelamaan dia menikmatinya. Selama 8 bulan dia berada di rumah nenek, dia banyak belajar bagaimana cara menghargai oranglain, disiplin, kesopanan, dan lain-lain. Kini Amalia sudah menjadi anak yang baik, penurut, mau menerima kekurangan atau kelebihan seseorang. Sekarang, ayah sudah menjemput Amalia dan waktunya Amalia kembali ke rumah.
“Ingat, terapkan semua apa yang sudah kamu dapatkan disini.” Pesan nenek sebelum Amalia kembali
“Iya, nek. Amalia pulang dulu ya. Nenek hati-hati di rumah.” Ucap Amalia
“Iya. Kamu hati-hati di jalan.” Jawab nenek

Di perjalanan pulang, Amalia menceritakan semua yang dilakukannya. Dari yang susah hingga sedih, kini Amalia menjadi anak yang baik. Sesampainya di rumah Amalia langsung mencari ibunya dan memeluknya sambil berkata “Maafkan Amalia ya, bu. Amalia sudah banyak membuat ibu menangis dengan perlakuan Amalia. Sekarang Amalia sudah menjadi anak yang baik, bu. Maafkan Amaliaya, bu.”
“Iya, nak. Ibu selalu memaafkan kamu sebelum kmu minta maaf pada ibu.” Jawab ibu sambil menangis
Lalu Amalia memeluk ayahnya dan meminta maaf atas kelakuannya selama ini dan dia sudah bisa menghargai orang lain. Sahila pun tak luput dari pelukan Amalia, Amalia juga minta maaf atas semua sikapnya pada Sahila selama ini. Dan dia ingin minta maap pada bapaknya lalu ayah mengantar Amalia ke rumah bapaknya,
“Bapak?” panggil Amalia
Tidak ada jawaban, pintunya terkunci rapat.
Tiba-tiba ada Bang Ucok, dia tetangga ibu dulu.
“Loh, Bu Wahyuni ngapain kesini?” tanya bang Ucok
“Mau cari bapak, bang. Bapaknya kemana ya?” tanya ibu
“Loh, ibu belum tau kalau mas Sumarno sudah meninggal 1 minggu yang lalu karena sakit keras.” Jelas bang Ucok
“Innalillahiwainnailaihi rajiun” ucap ibu sambil meneteskan air mata
“Nggak mungkin bapak meninggal, nggak mungkin bapak pergi secepat ini. Bapak sayang sama aku, aku belum sempat minta maaf pada bapak.” Kata Amalia sambil menangis
“Makamnya dimana ya?’ tanya ayah
“Bapak lurus aja, nanti ada pemakaman terus bapak masuk lalu ada pertigaan, nah disitu makam mas Sumarno.” Terang bang Ucok
“Terima kasih. Ayo kita ke makam bapakmu.” Ajak ayah

Sesampainya di makam, Amalia langsung memeluk gundukan tanah yang mengubur ayahnya sambil berlinangan air mata. “Bapak, maafkan Amalia. Amalia menyesal sudah tidak menghargai bapak sebagai bapak Amalia. Maafkan Amalia, pak.”
Amalia menyesal karena selama ini dia tidak menghargai bapaknya sebagaia orangtuanya, kini bapaknya sudah tidak ada lagi. Tetapi Amalia tetap melanjutkan hidupnya dengan baik. Kini Amalia telah bisa menghargai orang lain, Amalia sudah tau apa artinya menghargai orang lain dan dia hidup tentram bersama keluarganya.

Cerpen Karangan: Sari Mulianingrum
Facebook: Sari Mulianingrum Sari Mulianinrum
Namaku Sari Mulianinrum. Sekarang aku duduk dikelas 2 SMA di SMA Negeri 19 Surabaya. Aku anak pertama dari 2 bersaudara,

Cerpen Belajar Lebih Baik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga Terbuang

Oleh:
Sejenak kuhela nafas, sangat terdengar nafasku yang terengah-engah. Kulihat lagi kedepan, ternyata dia sudah sangat jauh. Ingin terus kukejar dia, tapi kakiku tak sanggup, luka ini belum sembuh penuh.

Pergi Tuk Selamanya

Oleh:
Mungkin tak semua orang sama dengan diriku. Aku berbeda sekali dengan mereka. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara sekaligus cucu pertama dari pihak ayahku. Keberadaanku sangat diharapkan oleh

Cinta Putri

Oleh:
Gue Putri biasa dipanggil Puput, seorang gadis berusia 21 tahun. Cowok gue namanya Kiki. Dia cowok yang paling gue sayang di dunia ini setelah bokap gue. Hubungan gue sama

Malaikat Tanpa Mata

Oleh:
Kehidupannya sekarang hanyalah malam dan akan selalu malam. Kegelapan, ketakutan, seakan sudah menjadi teman. 7 tahun telah berlalu dia hidup dalam kelam dan dalam gelap, yang dia tahu sekarang

Aku Selalu Menyayangimu

Oleh:
Berulang kali ku menghela nafas. Sudah lebih dari lima belas menit aku terkurung di dalam sekolah karena hujan deras sedang mengguyur belahan bumi tempat ku berpijak. Entahlah, meski sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Belajar Lebih Baik”

  1. yunita fatikhasari says:

    Jujur aku kurang suka kata penurut. Seakan anak cuma robot yang bisa disuruh. Anak juga manusia. Tolong penurut itu dijadikan bisa bekerjasama dengan orang lain. Tq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *